7 Feb 2011

Aku Orang - "Suku" Maroangin

Aku Orang - "Suku" Maroangin
Entah siapa yang pertama kali memberikan nama daerah ini “Maroangin”. Maroangin jika dipenggal ,menjadi 2 kata, yaitu Maroa dan Angin. Saya masih ingat persis saat guru saya berkata,”Maroangin memang Maroa angin.” Saya pernah bertanya-tanya, Kenapa orang-orang menggambarkan kondisi daerah ini seperti namanya? Apakah hanya sekedar mitos? Rasa ingin tahuku semakin dalam ketika seorang blogger menulis, Maroangin memang Maroa angin. Ada apa dengan kata Maroangin? Padahal, pengambaran dan tulisan blogger itu tak pernah terbukti. Namun, bisa juga karena saya tidak terlalu peduli, maklum masih kanak-kanak.

Maroangin merupakan salah satu Ibu Kota kecamatan di Kabupaten Enrekang. Kecamatan yang satu ini adalah sebuah kerjaan pada masa lalu. Namun, sekarang ini sangat sulit menemukan jejak-jejaknya karena telah binasa ditambah lagi tidak adanya kesadaran untuk melestarikan budaya oleh warga setempat.
Daerah paling Selatan Kabupaten Enrekang dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Sidrap ini, dapat ditempuh sekitar 45 menit dari kota Rappang (Ibu Kota Kab. Sidrap) atau sekitar 1 jam menumpang mobil dari Ibu Kota Kabupaten Enrekang. Untuk sampai ke daerah ini, kita hanya dapat menempuhnya melalui jalur darat. Hanya satu itu karena laut tak menampakkan pantainya di seluruh wilayah Maroangin. Begitupun dengan jalur udara. Jangankan bandara, suara pesawat saja hampir tak pernah terdengar, kecuali pesawat kesasar. He..he… Tapi, menurut pengamatanku, jika kelak Enrekang membangun Bandar Udara, maka daerah inilah yang paling cocok. Hanya daerah maroangin yang topologi tanahnya rata. Beda dengan daerah lain di Kabupaten Enrekang yang penuh dengan bebukitan. Daerah yang cocok menurut surveiku dan impian sejak kecil adalah di Desa Buttu Mallangga dan Desa Pattondon Salu. Kedua desa ini mempunyai luas padang ilalang relative rata yang luasnya cukup.
Dilihat dari sudut pandang budaya, Maroangin lebih diidentik dengan "suku" bugis. Begitupun dengan bahasanya yang banyak mengadopsi bahasa yang paling banyak digunakan di Sulawesi Selatan. Namun, jika digunakan di lain daerah dalam lingkup kabupaten Enrekang, orang-orang cukup mudah memahaminya.
Maro angin atau angin rebut, apakah sebuah mitos? Untuk menjawab pertayaan ini, saya mengambil kisah beberapa waktu lalu. Saat pamanku menyanyikan lagu anak-anaknya. Menurutnya, maroangin itu tukang cemburu atau paccimburuang. Waw… benarkah demikian? Kejadian kemarin cukup membuatku puas, ketika teman serumahku mendapat terror dari warga setempat. Terror itu muncul seketika bagai hujan di siang bolong, tanpa awan dan kabut. Orang yang meneror muncul saat sebuah item pekerjaan proyek hampir selesai. Saya jadi berkesimpulan sementara bahwa kampong halamanku semasa kecil memang maroangin dalam pengertian tersirat.
Note:
Tulisan ini hanya pendapat saya semata, tidak ada unsur pelecehan di dalamnya. Tulisan ini hanya sebagai gambaran bahwa setiap daerah memiliki karakter tersendiri dan ketika karakter itu mendominiasi maka itulah yang dikenal orang lain.

7 komentar:

  1. moroangin suku y? baru tau sy.......

    BalasHapus
  2. Bru tahu juga klo maroangin it suku. Hahahaha itu ma nama kota dari kecmatan maiwa salah satu kecmatan di enrekang.
    Klo memang mw dikatakan suku bgsny suku maiwa, bhsny juga namany bhs maiwa.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. Kelompok etnik atau suku bangsa adalah suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama.[1] Identitas suku ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut seperti kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku, dan ciri-ciri biologis.

    BalasHapus
  5. Suku maroagin. Mungkin butuh antropolog menjelaskan

    BalasHapus

Silahkan Isi Komentar: