20 Nov 2010

BUDAYA MASSENREMPULU, KABUPATEN ENREKANG

Kurang jelasnya Identitas Budaya Massenrempulu Kabupaten Enrekang

Tepat pada tanggal 18 November kemarin, saya mengikuti acara silaturrahmi yang diadakan oleh IKA HPMM Kabupaten Enrekang. Sebenarnya, ada rangkaian acara lain, tapi saya tidak menyebutkannya karena saya hanya mengikuti acara silaturrahmi saja. Lumayan, bisa kenalan dengan sesepuh-sesepuh dan tokoh kabupaten Enrekang yang selama ini berkiprah, baik dikanca pendidikan, politik, ekonomi tingkat daerah, propinsi maupun nasional.

Dari sini, saya sadar sepenuhnya bahwa Kabupaten Enrekang memiliki potensi untuk maju setara dengan daerah lain. Enrekang memiliki cendekiawan dan pemuda yang cemerlang dibidangnya masing-masing. Bulu-bulu saya sempat berdiri saat dibacakan para pakar yang ada di kabupaten Enrekang, tentu tidak semuanya hanya sebagian kecil saja. Dari nama tersebut, ada beberapa yang mendapat gelar guru besar, seperti : Prof.Dr. Basri Wello, M.Pd, Prof. Dr. M. Natsir Mahmud, MA, Prof.Dr. H. Noor Bahry Noor, M.Sc, Prof. Dr. Oesman Lewangka, MA, Prof.Dr.H. Badron Zakaria, MA, Prof. Dr. Abubakar A. Tawali, Prof. Dr. Rahmad Baro, SH. MH, Prof. Dr. Mas Bakar, SH. MH.

Sebelum pulang meninggalkan acara - acaranya masih berlangsung dengan agenda lain - , ada beberapa pesan yang kucatat dan layak menjadi PR bagi warga Massenrempulu. Pesan yang kucatat itu dikemukakan oleh salah satu tokoh. Dia mengatakan dengan penuh semangat dan hikmat, seperti orang tua yang menasehati anaknya disaat malaikat akan menjemput. Sangat menyentuh dalam kalbu jika kita masih berdarah Massenrempulu. Pesan itu kuhalafalkan satu per satu, “Apa budaya asli Kabupaten Enrekang? Kalau ada, coba tunjukkan pada saya.” Katanya dengan fasih walau rambutnya tidak hitam lagi. Semua peserta diam, termasuk saya. “Apakah kita memiliki rumah adat?” Di Gowa sana, rumah adat Enrekang belum ada.” Lanjutnya dengan suara lantang. “Apakah kita memiliki bahasa asli?” Ini adalah pertanyaan saya, pertanyaan ini mengingatkanku pada masa SMP dulu. Kata Ibu Sejarah, Enrekang adalah daerah terjepit, budayanya pun terjepit dan kalau boleh dikatakan Banci. Dibilang orang bugis tidak, dibilang orang Toraja juga bukan. “Lantas, diamana identitas kita sebagai warga Massenrempulu?” Apakah kita akan menjadi warga tanpa budaya yang jelas? Inilah PR kita semua warga Massenrempulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: