24 Agt 2010

KORUPSI MENDARAH DAGING: SEBUAH PEMBUKTIAN

Kemarin, saya mengalami peristiwa yang meyayat hatiku. Awalnya, saya diperintah ke kantor kelurahan, sebut saja kantor x. Saya pun ke sana dengan membawa beberapa lembar kertas yang judulnya tertulis, "SURAT KETERANGAN DESA."
Tidak berselang beberapa lama, saya pun sampai di depan kantor keluarahan x ini. Kantornya sederhana, seperti kantor desa pada umumnya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung masuk lewat pintu depan. Di samping kiriku, ada seorang wanita, dia tidak mengenakan pakaian dinas seperti seorang bapak-bapak yang ada di depanku, jaraknya sekitar 5 meter.

Aku pun menyodorkan map yang berisi beberapa lembar surat keterangan desa pada wanita ini. Wanita ini berkata, "Ke sana ki, kasi'i itu bapak." Katanya dengan logat Enrekang yang kental. "Ini pak." Cetusku singkat pada bapaknya yang sedang duduk di kursi plastik. "Apa ini?" Tanyanya penuh basa basi, sambil mebalik kertas yang kedua dan seterusnya. jumlah kertas itu ada 3 lembar.
"Masuki di sini!" ajak bapaknya, masuk ke dalam ruang. Ruang ini berisi satu meja, beberapa kursi dan 1 unit komputer lengkap dengan printer dan UPS-nya. Komputer di sini, harus memiliki UPS, sebab kalau tidak, lama kelamaan komputernya akan rusak akibat mati listrik yang sering.
Bapaknya tersenyum tipis melihat surat itu yang kedua kalinya. Senyum itu memperlihatkan kumisnya yang agak tebal, sepeti kumis Bejamin. "Siapa anu ini?" Tanyanya sambil memengang pulpen. Sebentar lagi dia akan menandatangani surat itu. "Anunya bosku, Pak. Pak Y..." Jawabku penuh percaya diri. Aku yakin dia mengetahuinya. "Oooo" Dia mengangguk, tanda dia mengenalnya dengan baik.
"Wah..., harus dibayar ini, bos." Aku sedikit shock mendengar kata ini. Awalnya, aku kira dengan dia mengetahui bosku, aku terbebas dari pungutan. "Berapa, Pak?" Aku mencoba memancingnya, apa benar dia serius dan sekaligus membuktikan bahwa apa yang sering dibicarakan orang, tentang moral pejabat/aparat yang bejat benar adanya. "banyak-banyak ini, karena proyeknya Pak Y." Dia berbicara pelan, mungkin takut kedengar oleh orang-orang yang ada di luar ruangan ini. Aku hanya tersenyum, berusaha menahan diriku, berusaha menenangkan emosiku.
Surat itu sudah ditandatanganinya, lengkap dengan capnya. Bapaknya diam sejenak, dia tidak menatap mataku, dia menghindari itu mungkin karena malu-malu kucing. "Ada uangmu 50.000,-." Mintanya sambil menahan suaranya, mungkin agar tidak terdengar oleh selain kami berdua. "Oh..., ada Pak." Aku pun mengambil uang itu dikocek celana depanku.
Aku pulang dengan penuh keyakinan, yakin bahwa apa yang dibicarakan orang tentang korupsi yang telah mendarah daging tidak salah. Hari ini aku telah membuktikannya. Aku terus melangkah pulang, menghampiri motor yang kuparkir di depan pintu masuk. Benakku terus berkecamuk, membayangkan kalau semua orang seperti bapaknya tadi. membayangkan kalau setiap orang yang akan mengurus sesuatu dikenakan biaya seperti itu. Walau biaya itu tidak begitu banyak. Aku terus berspekulasi, menenangkan hatiku, "Ah..., aku hanya memberikan uang itu karena kasihan." Kataku dalam hati. Aku kasihan melihatnya, dia bagai pengemis yang memakai seragam berwarna kuning kecoklat-coklatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: