11 Apr 2010

LARANGAN BERBANGGA DIRI DAN BERHIAS DIRI DENGAN SESUATU YANG TIDAK DIMILIKINYA

Telah banyak kita menyaksikan, dalam kehidupan kita sehari-hari, baik itu media cetak maupun elektronik seseorang yang membangakan dirinya. Seolah-olah sesuatu itu jadi/ berhasil karena hanya dengan kerja kerasnya semata, tanpa ada campur tangan manusia yang lain ataukah kehendak Allah SWT. Dia mengingkari semua itu ataukah pura-pura mengabaikan karena sikapnya yng berbangga diri.

Contoh ungkapan yang banyak kita dengar, misalnya “Gara-gara saya, kamu dapat seperti ini dan itu.” Atau ungkapan yang senada, “kalau bukan karena saya, ini tidak akan seperti begini.”
Allah SWT SWT berfirman:

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih. (Ali Imran:188)

Dari Asma ra. bahwasanya seorang wanita berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku dimadu. Apakah berdosa jika aku berbangga diri dengan sesuatu yang tidak baik diberikan suamiku kepadaku (di hadapan maduku)?” Nabi Saw bersabda,
“Orang yang berbangga diri dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, itu seperti pemakai dua pakaian palsu.”1
Imam an-Nawawi dalam kitabnya Ridaydhush Shalihin berkata ‘Al-Mutasyabbi’ adalah orang yang menampakkan kekenyangan, padahal dia tidak kenyang. Artinya, dia bahwa telah memperoleh keutamaan, padahal keutamaan itu tidak dia miliki. Kalimat labisu tsaubai zur artinya; pemalsu, yaitu orang yang mengelabui orang dengan memaki pakaian kaum zuhud dan alim atau orang kaya, agar dengannya orang lain tertipu, padahal dia tidak mempunyai sifat itu. Namun, menurut pendapat lain maknanya tidaklah demikian. wallahu a’alam.

Saya katakan, terkadang pura-pura kenyang dengan apa yang tidak diberikan itu dalam urusan-urusan duniawi. Semisal, seseorang menampakkan pada orang lain bahwa dia bekerja pada posisi yang lebih tinggi dari jabatan aslinya. Atau, dia mengaku kepada sebagian orang bahwa keluarganya punya pengaruh besar, atau mengaku-aku kepada sebagian orang bahwa dia punya wawasan banyak tentang suatu keahlian tertentu.

Boleh jadi seseorang dari mereka memperlihatkan sesuatu yang membuat si pendengar menyangka bahwa da punya banyak ilmu (all round). Contohnya, jika dia tanya soal kimia, dia tidak berkata. “saya tidak tahu,” akan tetapi dia berkata, “Ini jawabananya panjang, dan akan saya jelaskan pada pertemuan mendatang.”

Terkadang pura-pura kenyang dengan sesuatu yang tidak diberikan, itu juga dalam urusan-urusan akhirat. Ini lebih berat dan banyak dosanya. Bisa saja seseorang ditanya soal-soal agama dan dimintai fatwa-fatwa fikih, lalu dia berfatwa dengan tanpa ilmu, agar tampak bahwa dia adalah orang alim, dan bahwa ilmunya sangat banyak.

Boleh jadi seseorang dari mereka bertanya tentang sesuatu masalah pada kawan-kawannya, lalu orang yang paling sedikit ilmu fikihnya terburu menjawab dan berambisi menjawab, agar terlihat oleh mereka bahwa dia adalah orang yang paling pintar di antara mereka yang ada. Atau, salah seorang dari mereka mengeluarkan berbagai fatwa, dan di dalamnya memuat masalah-masalah fikih yang rumit, tanpa menyebutkan pemilik fatwa-fatwa itu, agar seseorang mengira bawha fatwa-fatwa itu berasal dari dirinya, dan agar diduga bahwa dia adalah seorang pakar fikih yang sangat luas pengetahuan fikihnya, dan seorang alim yang sangat luas wawasannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: