LARANGAN BANTAH-BANTAHAN, BERDEBAT DAN LUDAD (BERMUSUHAN)

Posted by kpmmjogja.com 11 April 2010 0 comments
Allah SWT SWT berfirman,
“Dan diantara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikananya kepada Allah SWT (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah SWT tidak menyukai kebinasaan.” (Al-Baqarah: 204-205).
Dari Abu umamah, Rasulullah bersabda,
“Aku adalah pemimpin pada satu rumah didasar surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun dia pihak yang benar, juga pada satu rumah di surga bagian tengah bagi orang yang meninggalkan dusta, meskipun itu bercanda, dan pada satu rumah di surga paling atas bagi orang yang baik budi pekertinya.1

Al-Hafizh adz-Dzahabi, dalam kitab al-Kabair berkata, “Imam an Nawawi berkata, ‘ketahuilah, bahwa terkadang debat itu dengan kebenaran, dan terkadang dengan kebatilan. Allah SWT SWT berfirman,


“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.” (Al-Ankabut: 46).


“…dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (An-nahl:125)

“Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah SWT, kecuali orang-orang yang kafir.” (Al-Mu’min:4).

Imam an-Nawawi jugaberkata, “Jika debat itu untuk mengetahui kebenaran (al-haq) dan menetapkannya, maka debate tu menjadi terpuji. Namun, jika debat itu untuk menolak kebenaran atau perdebatan tanpa landasan ilmu, maka debate itu menjadi tercela. Atas uraian inilah, maka turun nash-nash yang membahas tentang diperbolehkan dan dicelanya debat.

Sebagian mereka berkata, “Aku tidak melihat sesuatu pun yang lebih menghilangkan agama, mengurangi muru’ah (kewibawaan), dan melalaikan hati daripada permusuhan.”

Dalam kitab al-Kabair juga disebutkan, termasuk yang tercela adalah orang yang menuntut haknya. Karena dia tidak sebatas pada kebutuhan saja, akan tetapi dia memperlihatkan permusuhan, kebodohan, penganiayaan dan pengedalian/penguasaan terhadap musuhnya. Begitu pula orang yang mencampurkan pada permusuhan itu kata-kata yang menyakitkan, padahal dia tidak butuh itu untuk bisa memperoleh haknya. Dan begitu pula orang yang terbawa kepada permusuhan oleh sebatas penentangan untuk mengalahkan musuh. Maka, orang semacam ini, adalah orang yang tercela.

Adapun orang teraniaya yang mendukung argumennya dengan cara syar’i, tanpa permusuhan dan pemborosan, dan tidak melebihi kebutuhan yang ia butuhkan, tanpa niat menentang dan menyakiti, maka tindakannya ini tidaklah haram. Akan tetapi, yang paling utama, adalah dia meninggalkannya selagi masih ditemukan jalan keluarnya. Karena, mengendalikan mulut untuk bertengkar pada batas yang adil, tidak bisa dilakukan (‘uzur), sedangkan pertengkaran bisa mengobarkan kemarahan dan memicu amarah. Jika kemarahan itu telah bergelora, maka mencullah kedengkian di antara keduanya, hingga salah satunya berbunga atas keterpurukan yang lainnya dan bersedih dengan kesenangannya, dan dia pula membiarkan mulutnya untuk mencelanya. Maka berangsiapa saling memusuhi, sungguh dia telah menghadang berbagai penyakit ini.”



0 comments:

Poskan Komentar

Silahkan Isi Komentar: