26 Apr 2010

Fase demi Fase

Setelah duduk di bangku kuliah selama < 4 tahun, akhirnya hari ini (Sabtu,17/04)daku 'disahkan' menambah embel-embel di belakang nama pemberian orang tuaku > 20 tahun yang lalu. Tuk...,tuk...tuk..., "sidang upacara wisuda kami buka", kata punggawa kampus yang duduk di depan kami. Sebelumnya, mereka berjalan layaknya rombongan paus yang didampingi para petinggi-petingginya. Satu lagi, ada seorang layaknya guru kera sakti (yang bawa tongkat sakti):(

Upacara pun berlangsung hingga membuat kami keletihan. Satu per satu kami dilantik hingga membawa kami pada kesimpulan, 'jalan masih panjang, tantangan seluas samudra siap mengatar atau justru menenggelamkan angan-angan'.


25 Apr 2010

PELIHARALAH PERKATAAN KITA

LARANGAN BERKATA, “ORANG ITU PENGHUNI SURGA ATAU NERAKA,” DAN BERSUMPAH ATAS NAMA ALLAH SWT SERTA BERKATA, “BINASALAH MANUSIA.”
Allah SWT berfirman,
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengran, penglihatan dan hati, semuany itu akan diminta pertanggungjawabnya.” (Al-Isra’:36)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,
“Jika seseorang berkata, ‘binasalah orang-orang,’ maka dia adalah orang yang paling binasa di antara mereka.”


Dari Jundub bin Abdullah, Rasulullah bersabda,
“Bahwasanya ada seorang lelaki berkata, “Demi Allah SWT, Allah SWT Swt. Tidak akan mengampuni dosa si fulan,’dan bahwasanya Allah SWT berfirman, “Siapakah orang yang bersumpah atas namaKu agar Aku tidak mengampuni si fulan dan membatalkan amalanmu’.”
Atau, seperti yang telah disabdakan Nabi.
Dari Saad, dia berkata, “Aku tidak pernah mendengar Nabi berkata kepada seseorang yang berjalan di atas bumi ini bahwasanya dia termasuk penghuni surga, kecuali kepada Abdullah bin Salam.”
Rasulullah juga bersabda,
“Janganlah kalian menganggap suci diri sendiri, Allah SWT lebih tahu tentang ahli kebaikan daripada kalian.”
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,
“Dua lelaki Bani Israil saling bersaudara, salah satunya pendosa, sedang yang lainnya rajin ibadah. Orang yang rajin ibadah itu selalu melihat yang lainnya bergelimang dosa, lalu dia berkata, ‘behentilah.’ Lalu, pada suatu hari dia mendapatinya melakukan dosa, lalu dia berkata kepadanya, ‘berhentilah,’ lalu sipelaku dosa itu berkata kepadanya ‘Biarlah aku dan Tuhanku, apakah kamu diutus sebagai pengawasku?’ Lalu dia berkata,’Demi Allah SWT, Allah SWT tidak akan mengampuni dosamu,’ atau ‘Dia tidak akan memasukkanmu ke dalam surga,’lalu Allah SWT menggenggam ruh (mematikan) keduanya, dan keduanya berkumpul di sisi Tuhan semesta alam, lalu Allah SWT berkata kepada orang yang rajin beribadah ini, ‘Apakah kamu maha tahu kehendakKu, atau maha berkuasa atas apa yang ada di tanganKu?’ dan berkata kepada pendosa itu,’Pergilah, lalu masuklah surga dengan belas kasihKu,’dan juga berkata kepada yang lainnya, “Pergilah kalian bersamanya ke nereka.’”



LARANGAN BERSIFAT MUNAFIK

Munafik yang dimaksud di sini adalah munafik yang bersifat amali dan social (ijtima’i), mengingat munafik itu ada dua: I’tiqadi (bersifat keyakinan) dan amali.
Sungguh, Allah SWT telah mengharamkan kemunafikan dalam segala bentuknya. Dan, telah banyak nash-nash yang menyatakan hal itu. Diantaranya, adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya diantara orang yang paling jahat, adalah orang yang bermuka dua, yang mendatangi pihak ini dengan satu muka, dan pihak lainnya dengan muka yang berbeda.”
Dari Ammar, Rasulullah Saw bersabda,
“Barangsiapa bermuka dua di dunia, maka pada hari kiamat dia punya dua lidah dari api.”
Dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda,
“Perumpamaan seorang munafik adalah seperti seekor kambing yang bolak balik kebingungan diantara dua kambing. Sesekali dia pergi ke kambing yang satu dan sesekali dia pergi yang satunya. Dia tidak tahu manakah yang akan diikutinya.”

Sifat munafik ini sungguh telah menjadi pertanda yang sangat dominan di tengah masyarakat. Hal itu disebabkan karena ingin memperoleh uang. Maka, kamu bisa melihat fenomena-fenomena munafik ini di seluruh tempat. Menyatakan kebenaran dan hakikat pun menjadi perkara yang paling sukar. Orang-orang telah meninggalkan nasihat dan penjelasan, dan lebih interest kepada kemunafikan. Karena, mereka menganggap baik dan mudah jalan itu, serta menghemat banyak sekali tenaga, tanpa menyadari tentang kepayahan atau siksa di akhirat yang akan dialaminya.

“Dan sesungguhnya adzab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.” (Al-Qalam:33).
23 Apr 2010

Polisi merangkap Ustadz

Jumat kemarin, saya benar-benar berpikir kebalikan dari orang-orang pada umumnya, atau tidak sejalur dengan berbagai pemberitaan di media massa. Kisah pahit yang pernah kualami telah saya lupakan dengan kejadian siang ini. Sungguh sebuah cermin yang setidaknya dicontoh oleh kita semua. Terlepas dari maksud ataukah tujuan dibaliknya, yang jelas, saya kagum dengan adanya seorang polisi berpangkat AKP yang menjadi khatib jumat kali ini.

Polisi yang berpangkat AKP itu adalah kapolsekta Yogyakarta yang nama lengkapnya AKP Purnomo. Saya jadi kebayang, coba semua polisi-polisi seperti pak Purnomo ini, mungkin kita semua sependapat, bangsa ini akan makmur, sejahtera, tentram dan damai. Polisi bukan hanya sebagai pelindung masyarakat dari segi keamanan lahiriah, tapi meliputi segi spiritual. Hal ini semakin meyakinkan saya, bahwa itu bisa terwujud karena bapaknya terlihat gagah dengan balok berwarna kuning berjejer tiga di pundaknya. Wah...! itu baru balok, coba kalau bunga atau bintang...?

Saya juga yakin, dengan kekaguman ini, sebenarnya kita rindu seorang pemimpin yang sungguh-sungguh dalam melaksanakan tugasnya. Kita rindu seorang pemimpin yang mengayomi, kita rindu pemimpin yang disegani karena tabiat baiknya bukan karena balutan tahta dunia. Kita mendambakan pemimpin yang mengajari kita jalan yang benar, yang lurus, dan bersifat hakiki, bukan pemimpin yang mengajari fatamorgana, mengejar kekuasaan untuk diri sendiri.

Lantas, dari mana datangnya pemimpin itu? Pemimpin itu lahir dari diri kita sendiri. Sudahkah kita menjadi pemimpin minimal pemimpin diri sendiri? Marilah kita menjadi pemimpin sejati bukan pemimpi sejati.
11 Apr 2010

LARANGAN BANTAH-BANTAHAN, BERDEBAT DAN LUDAD (BERMUSUHAN)

Allah SWT SWT berfirman,
“Dan diantara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikananya kepada Allah SWT (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah SWT tidak menyukai kebinasaan.” (Al-Baqarah: 204-205).
Dari Abu umamah, Rasulullah bersabda,
“Aku adalah pemimpin pada satu rumah didasar surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun dia pihak yang benar, juga pada satu rumah di surga bagian tengah bagi orang yang meninggalkan dusta, meskipun itu bercanda, dan pada satu rumah di surga paling atas bagi orang yang baik budi pekertinya.1

Al-Hafizh adz-Dzahabi, dalam kitab al-Kabair berkata, “Imam an Nawawi berkata, ‘ketahuilah, bahwa terkadang debat itu dengan kebenaran, dan terkadang dengan kebatilan. Allah SWT SWT berfirman,


“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.” (Al-Ankabut: 46).


“…dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (An-nahl:125)

“Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah SWT, kecuali orang-orang yang kafir.” (Al-Mu’min:4).

Imam an-Nawawi jugaberkata, “Jika debat itu untuk mengetahui kebenaran (al-haq) dan menetapkannya, maka debate tu menjadi terpuji. Namun, jika debat itu untuk menolak kebenaran atau perdebatan tanpa landasan ilmu, maka debate itu menjadi tercela. Atas uraian inilah, maka turun nash-nash yang membahas tentang diperbolehkan dan dicelanya debat.

Sebagian mereka berkata, “Aku tidak melihat sesuatu pun yang lebih menghilangkan agama, mengurangi muru’ah (kewibawaan), dan melalaikan hati daripada permusuhan.”

Dalam kitab al-Kabair juga disebutkan, termasuk yang tercela adalah orang yang menuntut haknya. Karena dia tidak sebatas pada kebutuhan saja, akan tetapi dia memperlihatkan permusuhan, kebodohan, penganiayaan dan pengedalian/penguasaan terhadap musuhnya. Begitu pula orang yang mencampurkan pada permusuhan itu kata-kata yang menyakitkan, padahal dia tidak butuh itu untuk bisa memperoleh haknya. Dan begitu pula orang yang terbawa kepada permusuhan oleh sebatas penentangan untuk mengalahkan musuh. Maka, orang semacam ini, adalah orang yang tercela.

Adapun orang teraniaya yang mendukung argumennya dengan cara syar’i, tanpa permusuhan dan pemborosan, dan tidak melebihi kebutuhan yang ia butuhkan, tanpa niat menentang dan menyakiti, maka tindakannya ini tidaklah haram. Akan tetapi, yang paling utama, adalah dia meninggalkannya selagi masih ditemukan jalan keluarnya. Karena, mengendalikan mulut untuk bertengkar pada batas yang adil, tidak bisa dilakukan (‘uzur), sedangkan pertengkaran bisa mengobarkan kemarahan dan memicu amarah. Jika kemarahan itu telah bergelora, maka mencullah kedengkian di antara keduanya, hingga salah satunya berbunga atas keterpurukan yang lainnya dan bersedih dengan kesenangannya, dan dia pula membiarkan mulutnya untuk mencelanya. Maka berangsiapa saling memusuhi, sungguh dia telah menghadang berbagai penyakit ini.”



LARANGAN BERBANGGA DIRI DAN BERHIAS DIRI DENGAN SESUATU YANG TIDAK DIMILIKINYA

Telah banyak kita menyaksikan, dalam kehidupan kita sehari-hari, baik itu media cetak maupun elektronik seseorang yang membangakan dirinya. Seolah-olah sesuatu itu jadi/ berhasil karena hanya dengan kerja kerasnya semata, tanpa ada campur tangan manusia yang lain ataukah kehendak Allah SWT. Dia mengingkari semua itu ataukah pura-pura mengabaikan karena sikapnya yng berbangga diri.

Contoh ungkapan yang banyak kita dengar, misalnya “Gara-gara saya, kamu dapat seperti ini dan itu.” Atau ungkapan yang senada, “kalau bukan karena saya, ini tidak akan seperti begini.”
Allah SWT SWT berfirman:

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih. (Ali Imran:188)

Dari Asma ra. bahwasanya seorang wanita berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku dimadu. Apakah berdosa jika aku berbangga diri dengan sesuatu yang tidak baik diberikan suamiku kepadaku (di hadapan maduku)?” Nabi Saw bersabda,
“Orang yang berbangga diri dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, itu seperti pemakai dua pakaian palsu.”1
Imam an-Nawawi dalam kitabnya Ridaydhush Shalihin berkata ‘Al-Mutasyabbi’ adalah orang yang menampakkan kekenyangan, padahal dia tidak kenyang. Artinya, dia bahwa telah memperoleh keutamaan, padahal keutamaan itu tidak dia miliki. Kalimat labisu tsaubai zur artinya; pemalsu, yaitu orang yang mengelabui orang dengan memaki pakaian kaum zuhud dan alim atau orang kaya, agar dengannya orang lain tertipu, padahal dia tidak mempunyai sifat itu. Namun, menurut pendapat lain maknanya tidaklah demikian. wallahu a’alam.

Saya katakan, terkadang pura-pura kenyang dengan apa yang tidak diberikan itu dalam urusan-urusan duniawi. Semisal, seseorang menampakkan pada orang lain bahwa dia bekerja pada posisi yang lebih tinggi dari jabatan aslinya. Atau, dia mengaku kepada sebagian orang bahwa keluarganya punya pengaruh besar, atau mengaku-aku kepada sebagian orang bahwa dia punya wawasan banyak tentang suatu keahlian tertentu.

Boleh jadi seseorang dari mereka memperlihatkan sesuatu yang membuat si pendengar menyangka bahwa da punya banyak ilmu (all round). Contohnya, jika dia tanya soal kimia, dia tidak berkata. “saya tidak tahu,” akan tetapi dia berkata, “Ini jawabananya panjang, dan akan saya jelaskan pada pertemuan mendatang.”

Terkadang pura-pura kenyang dengan sesuatu yang tidak diberikan, itu juga dalam urusan-urusan akhirat. Ini lebih berat dan banyak dosanya. Bisa saja seseorang ditanya soal-soal agama dan dimintai fatwa-fatwa fikih, lalu dia berfatwa dengan tanpa ilmu, agar tampak bahwa dia adalah orang alim, dan bahwa ilmunya sangat banyak.

Boleh jadi seseorang dari mereka bertanya tentang sesuatu masalah pada kawan-kawannya, lalu orang yang paling sedikit ilmu fikihnya terburu menjawab dan berambisi menjawab, agar terlihat oleh mereka bahwa dia adalah orang yang paling pintar di antara mereka yang ada. Atau, salah seorang dari mereka mengeluarkan berbagai fatwa, dan di dalamnya memuat masalah-masalah fikih yang rumit, tanpa menyebutkan pemilik fatwa-fatwa itu, agar seseorang mengira bawha fatwa-fatwa itu berasal dari dirinya, dan agar diduga bahwa dia adalah seorang pakar fikih yang sangat luas pengetahuan fikihnya, dan seorang alim yang sangat luas wawasannya.