15 Jan 2010

Alif Wijaya (2)

Di asrama, saya satu kamar dengan 2 orang yang sedang menempuh kuliah S2 di UGM. Masing-masing, satunya menempuh mengister hukum dan satunya lagi mengambil sosiologi. Interaksi saya dengan keduanya cukup dibilang akrab bahkan sampai sekarang walau mereka telah bekerja. Kami sering berdiskusi tentang banyak hal. Tapi, diskusinya kadang berat sebelah, saya paling hanya bertanya sesekali dan kebanyakannya mendengar. Menjadi pendengar setia. Mungkin itulah yang kurasakan saat itu.

Kami makin akrab dan sesekali saya diajak keluar, keliling Jogja. Kadang naik angkot, becak, dibawa keliling ke Malioboro, Shooping (toko buku-maknanya kalau di Jogja). Itu ketika sudah beberapa hari, tapi seingatku, hari pertama di asrama, saya langsung diajak ke sebuah gedung berlantai 2. Gedung ini tidak jauh dari asrama, hanya berjarak 200 meter ke arah utara. Awalnya, saya tidak tahu diajak ke mana. ”Kita akan pinjam buku dulu.” Katanya singkat. Saya semakin bingung, namun saya hanya mengekor dan mengikuti langkahnya sembari menjadi pendengar sejati. Sesekali saya mengangguk tanda perhatian terhadap apa yang dibicarakannya. ”Kamu sering membaca?” pertanyaan ini tiba-tiba membuat shock. Saya diam sejenak dan berusaha mengeluarkan kata-kata sehingga tidak dikatakan ’alergi’ buku. ”Kita akan meminjam buku di perpustakaan.” lanjutnya mendahului jawabanku.

Tak berselang beberapa menit, sampailah kami di gedung yang didepannya tertulis ”PERPUSTAKAAN DAERAH YOGYAKARTA.” ”Gus, disinilah saya meluangkan waktu untuk membaca, meminjam buku, dan mempelajarinya.” Kami terus melangkah masuk setelah menaruh tas di tempat penitipan barang. Kita bisa masuk secara leluasa dan melihat rak-rak panjang dan tinggi yang dipenuhi puluhan ribu koleksi buku. Kepala saya mengeleng-ngeleng. Seumur-umur, baru kali ini saya masuk ke perpustakaan dan mencoba membuka lembar demi lembar sebuah buku. ”Gus, kalau mau pintar, kuncinya cuman satu, kita harus banyak membaca.” Kata orang, membaca membuat kita mengumpulkan ide-ide di kepala dan suatu saat ide-ide itu akan muncul dengan sendirinya., sadar atau tidak sadar.

Seakan kesengat listrik, bulu kuduk saya berdiri. Saya telah dihipnotis, didikte, didoktrin, ah.... entahlah apa namanya. Yang tepenting saya katakan, mulai saat ini saya telah berikrar bahwa saya harus membaca, membaca, dan membaca. Kenapa harus membaca, alasannya sederhana yaitu karena ingin pintar. Alasan kedua, karena saya ingin menjadi penulis. Menjadi penulis harus dimulai dari membaca. ”Bagaimana mungkin menjadi seorang penulis kalau membaca saja tidak pernah?” kutipan sebuah buku. ”Menjadi penulis itu pekerjaan mulia, mau membuktikannya, coba bayangkan kalau Thomas Alpa Edison tidak menulis idenya tentang lampu...! Coba bayangkan kalau mushab kita tidak dibukukan pada masa Sahabat nabi...! apa yang akan kita pelajari sekarang? Apa yang menjadi petunjuk kita pada masa ini? Kalau ingin dikenang oleh anak cucu kita, maka menulislah.” kata seorang trainer.

Dialah teman sekaligus partner of change yang memberi semangat saat malasku, mengobarkan semangat saat redupku, menasehati saat khilafku, dan dialah kepanjangan tangan sang penolongku. Tapi, ini tidak berlangsung lama, aku masih ingat saat dia mengatakan ”Belajarko baik-baik na..!” Subhanallah, hatiku seakan tinggal sebagian, sebagiannya telah masam, seakan tidak berfungsi dan berhenti dari fungsinya sebagai penetralisis jiwa dan ragaku. Kini, setelah berapa lama dia pergi, aku merasa menginginkannya, merindukan nasihatnya. Adakah yang sebaik dia? Aku terus mencari dan mencari bahkan sampai sekarang. Sungguh benar kata orang, kita baru merasakan keberadaan seseorang justru ketika orang itu telah tiada. Benarkah...? hanya orang yang pernah mengalami yang mampu memaknainya.

Orang yang baik selalu dikenang kebaikannya. Tapi, hanya orang baik yang mampu bersama dengan orang yang baik. Agar orang baik menjadi teman kita maka jadilah orang baik. Orang yang baik bukan berarti terlepas dari kesalahan. Justru, orang baik biasanya berlumur dengan kesalahan. Namun, dari kesalahan itu dia mampu mengenal dirinya dan berintrofeksi. Siapa sih yang tidak luput dari salah? Saya teringat kata bijak seorang penulis Cina, dia berkata: Orang bijak itu melakukan kesalahan, kesalahan, kesalahan dan kesalahan tapi terus berkurang, berkurang, dan berkurang. Tapi, menurutku ini hanya berlaku bagi orang yang terlanjur melakukan kesalahan. Orang yang terlanjur melakukan kesalahan dinamakan khilaf , ketika khilaf maka kita diwajibkan untuk sesegera mungkin bertobat. Tapi, bagi yang mampu menghindar dari kesalahan maka pertahankanlah hingga kamu mencapai manisnya iman itu.

Iman itu kayak kurva, kadang naik, kadang turun. he... kayak ekonom aja, pakai kurva-kurva segala. Tapi, bukan hanya ekonom yang menggunakan kurva, jurusan lain juga banyak yang memanfaatkannya. Saat iman naik, ini ma... tidak jadi masalah karena saat inilah kita merasakan kebahagian sebagai seorang yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Yang jadi masalah adalah ketika iman itu di bawah titik nadir, sehingga yang mengendalikan tingkah laku kita adalah hawa nafsu. Jika nafsu meningkat, maka kita melakukannya dengan sepenuhnya walau dengan menghalalkan segala cara, namun ketika nafsu itu tidak ada ataukah sudah kekenyangan, maka yang timbul adalah rasa malas, malas bergerak, malas belajar, malas beribadah dan paling sadis kalau malas bangun, jadinya turu meneh, kata orang Jawa. Maka apa yang bisa jadi kalau kerjanya hanya tidur. Maka jadilah seperti nyanyian mbah Surip, habis bangun tidur lagi..., liriknya lupa, lupa...lupa lagi syairnya. Iya, saya lupa liriknya. Soalnya, sejak kecil saya paling tidak suka yang namanya nyanyian. Nyanyian yang saya hafal paling lagu Indonesia Raya, Pancasila, Ibu Kita Kartini, dst. Lirik lagu ini nyangkut di kepalaku bukan karena kamuan, tapi mungkin lebih disebabkan keharusan untuk terhindar dari hukuman berdiri di depan kelas saat SD dulu. ”Sekarang mata pelajaran kesenian, ayo anak-anak...! Sapa yang mau menyanyi? Nyanyinya lagu wajib ya...!” Kata ibu Guruku waktu SD dulu. Tapi, bahasa dan logatnya bukan seperti itu. Bahasanya campuran antara bahasa Indonesia dengan logat Maroangin.

Ah..., ingin rasanya bernostalgia, mengingat masa-masa yang membuatku ketawa terbahak...bahak di alam pikirku. Peristiwa-peristiwa spontanitas yang justru mengelihkan ketika dikenang. Kenakalan-kenakalan yang justru dimaklumi dan ditertawakan saat diputar lagi di masa sekarang. Pernah suatu ketika, saat itu kelas tiga SD. Ketika kelas 3 SD, hampir setiap kali pelajaran bahasa Indonesia masuk, saya harus berdiri di depan teman-teman. Berdirinya bukan karena pintar lantas disuruh menerangkan atau bercerita. Tapi..... Ya...., berdiri kayak patung, selama berjam-jam. Sampai pelajaran usai. Why...why....? saya juga kurang tahu kenapa? Tapi menurut ingatanku, saat itu akulah satu diantara dua murid dalam satu kelas itu yang tidak bisa-bisa membaca huruf latin a sampai z.

Saya jadi miris melihat anak sekarang, apalagi ketika pulang kemarin dan mendengar anak paman yang masih kelas 1 SD yang sudah bisa membaca. Walau membacanya masih bu tambah di, ... Budi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: