12 Jan 2010

Alif Wijaya (1)


Alif Wijaya (1)
Bingung…!, mau kasih judul apa. Pikir demi pikir maka ku pilihlah judul di atas. Judul di atas menajdi pilihan karena yang menjadi inspirasi adalah dia. Dia seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Makassar. Menurut pengakuannya, takdir yang membawanya kuliah di Makassar. Awalnya, dia sangat ingin kuliah di Jawa, terutama Jogjakarta. Sebagai ‘pelampiasan’ angan yang tertunda, dia mengirim sebuah message yang akan saya ulas secara berseri.

Wa'alaikum salam...!
Pertanyaan yang bagus dan pertanyaan ini mengingatkan saya pada saat semester awal di Jogja ini. Pada masa itu, boleh dibilang adalah masa krusial, apalagi melihat pola dan kecenderungan anak manusia untuk saling berinteraksi antar satu dengan lainnya. Ketika memutuskan untuk kuliah, kita akan diperhadapkan pada dunia yang benar-benar baru. Perandaiannya seperti burung yang keluar dari sangkarnya setelah terkurung sangat lama. Seluruh sekat-sekat, pengawasan dari orang terdekat (orang tua) yang dulunya mengikat, mengekang kebebasan kita waktu SMA, kini longgar selonggar-longgarnya. Kita akan dihadapkan pada pengendalian diri secara totalitas, siapa yang kuat maka akan kokoh menahan hantaman badai dari kiri, kanan, depan, dan belakang. Arah inilah tempat masuknya setan. Kecuali dua arah yaitu arah atas dan bawah. Kedua arah inilah yang aman ditempuh oleh anak adam. Arah atas memiliki penafsiran pengabdian diri kita sebagai hamba kepada sang Khalik – Sang Pencipta. Sedangkan arah bawah berarti penyerahan diri kepada Allah SWT. Ini menurut penafsiran sederhana saya.

Peran lingkungan sangat berpengaruh terhadap pola pikir, dari pola pikir akan memunuclkan sikap dan tingkah laku. Jika lingkungan yang kita tempati mendukung maju dan kembangnya kita ke arah yang lebih baik, maka tetaplah dan menyatulah dengan erat pada lingkungan tersebut. Lingkungan untuk kalangan mahasiswa dapat diartikan kos-kosan, organisasi kemahasiswaan dan lingkungan masyarakat tempat tinggal. Sebaliknya, lingkungan yang buruk akan membawa dan menjerumuskan kita, kalau kita beranggapan, ha… saya kan bisa menjaga diri! Kata orang, walau sekuat apapun kita jika lingkungan itu buruk, maka kita akan larut ke dalamnya secara perlahan-lahan. Ungkapan yang telah banyak kita dengar mengatakan; barangsiapa yang bersama dengan tukang minyak wangi, maka kita akan tertular wanginya dan barangsiapa yang bersama dengan pandai besi, bau besi akan melekat pada tubuh kita.

Kembali ke pertanyaan, pertanyaannya bagus dan pertanyaan ini mengingatkan saya pada saat semester awal di Jogja ini. Sekedar intermesso, saat itu saya datang dengan sebatang kara, tidak ada teman sebaya apalagi keluarga. Saya hanya berbekal alamat asrama yang menjadi tempat saya sampai sekarang. Saat pertama kali tiba, saya benar-benar kagum bukan kepalang dan penuh semangat sembari dalam hatiku kukatakan “SAYA HARUS BERHASIL, SAYA HARUS MENJADI SARJANA TEKNIK INFORMATIKA”.

Suasana Jogja benar-benar baru bagi saya, suasananya beda dari apa yang saya kira sebelumnya. Nuansa akademis terlihat sana sini (saat itu, entah sekarang bagaimana orang melihatnya, karena saat itu adalah kesan pertama saya). Itulah yang saya rasakan, Jogja memberi atmosfir cakrawala pikir saya. Mencerahkan hati bagi embun di pagi hari yang memberi kesejukan. Bak Bung Karno mengobarkan semangat kemerdekaan. Saking semangatnya, berjalan sejauh 7 KM dan mengayung onthel (sepeda kumbang) saat “krismon” jadi kenangan indah. Benar-benar indah jika kita mau mengambil hikmahnya.
Hati saya berdebar, seakan dilahirkan kembali ke dunia ini untuk yang kedua kalinya saat menginjakkan kaki di Airport Adisujipto, kalau yang ini bukan karena kagum, tapi gemetarnya masih kebawa-bawa saat di pesawat tadi. Saya gemetaran karena kali pertamanya naik yang namanya pesawat. :lol: Dalam kalbuku berbisik, “satu dari sekian banyak angan-anganku, angan-angan saat SD dulu sudah terpenuhi. Saat SD kami sering main layang-layang dan kapal-kapalan. Kami berfatamorgana terbang di angkasa dengan tangan melambai-lambai sambil berlari memperagakan pesawat yang sedang terbang. Kata mujarab untuk mengungkapkannya adalah “angan bisa jadi kenyataan” Do you believe it? Siapa pun mengatakan believe it. Nanti saya sambung lagi ….





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: