About My Village

Posted by kpmmjogja.com 30 Juni 2009 0 comments
Enrekang mempunyai jargon, jargonnya Massenrempulu. Ada yang mengatakan kalau massenrenpulu artinya daerah yang ada dilereng gunung. Tak khayal, di sebagian daerah ini sangat sulit menemukan kawasan yang memiliki kerataan permukaan tanah. Untuk membuat lapangan sepak bola perlu pengerukan dan penimbunan pada masing-masing sisinya. Tanah yang berbatu dan gunung bebatuan mengkhiasi tanah garapan warga. Tanah yang bercampur batu digarap warga untuk ditanami berbagai tanaman hurtikultura. Walau tanah bercampur batu, daerah ini mampu menjadi pemasok sayur mayur dan sejenisnya untuk kawasan Sulawesi selatan dan sekitarnya. Selain hultikultura, komunitas hasil pertanian yang terpopuler adalah kopi arabika. Tahun 2008 lalu, kopi yang berasal dari daerah kami keluar sabagai juara 1 dan 2 tingkat nasional. Barometernya dilihat dari segi aroma dan cita rasanya.

Mobil truk tak henti hilir mudik dari bebukitan yang terjal dengan seongkok tumpangan dibagian belakangnya. Tidak ada ruang kosong yang tersisa, semuanya berisi hasil bumi masyarakat maspul. Maspul adalah kependekaan dari Massenrempulu. Kata maspul menjadi cara ringkas agar mudah diucapkan.

Walau hasil bumi melimpah para petani hanya dijadikan objek kekayaan para pengusaha dan pedagang. Terjadinya pasang surut harga membuat petani kadang gulung tikar. Pengeluaran tidak sebanding dengan hasil penjualan hasil bumi. Petani menjadi sulit memikul biaya operasional pembukaan lahan. Ditambah lagi dengan kecenderungan para petani menggunakan berbagai bahan kimia. Mulai dari festisida, pupuk kimia yang diyakini mampu mempersubur tanaman. Masyarakat hanya termakan dengan isu instant, padahal dibalik keinstantan itu, terdapat bahaya yang secara stimulus berdampak pada kerusakan ekosistem. Menyedihkan memang, tapi itulah kenyataannya, kita pun selaku konsumen secara tidak sengaja dirugikan oleh berbagai hasil bumi yang telah terkontaminasi dengan bahan kimia berbahaya.

Dari potensi wisatanya, Enrekang memiliki berbagai objek wisata, bahkan ada situs yang aneh. Seperti kuburan batu. Dikatakan guburan batu karena kuburan tersebut berada di atas tebing gunung batu. Jika dilihat sepintas, kuburan itu mustahil bisa ada, karena ketinggiannya ada di atas 30 meter dari permukaan tanah. Ditambah dengan kemiringan sekitar 89 derajat, hampir vertical. Tapi situs ini dibiarkan saja tanpa diurus atau diekspos ke luar. Mungkin pemda kami membiarkan seperti itu agar kelihatan alami. Saking alaminya, situs ini hanya menjadi pemandangan biasa bagi warga sekitar. Kadang menjadi tontonan yang mengundang cekap kagum, saat ada seseorang yang berkunjung dan berniat menelitinya.tapi sampai sekarang belum diteliti, mungkin proposalnya ditolak. Karena menjadi bahan tontonan, situs ini kemudian diberi nama Tontonan.

Pada masa penjajahan, daerah kami juga dikenal sebagai tempat persembunyian. Tempat yang paling tepat saat itu adalah gua. Sampai sekarang, gua-gua baru terus ditemukan warga. Beberapa tahun lalu, ditemukan gua yang sangat indah, namanya Loko’ Bubau. Loko’ sama halnya dengan gua, Bubau artinya Bau. Gua ini pada bagian dalamnya sangat luas, katanya seperti lapangan sepak bola. Di dalamnya terdapat mata air. Teman-teman yang dari sana mengangumi keindahannya. Tapi lagi-lagi, saya belum melihatnya, tapi suatu saat saya akan menginjakkan kaki ke sana dan menceritakan segalanya kepada dunia. Saat itu, aku masih umuran SMP, tak terbayang di kepalaku untuk rekreasi ke gua atau ke permandian sebagaimana lasimnya anak sekolah ketika merayakan kelulusan atau kenaikan kelas. Tidak kebayang karena hampir setiap hari, kami habiskan waktu pulang sekolah untuk bermain-main dengan air. Sambil bermain, kadang kami mancing dan hasil tangkapannya untuk lauk malam harinya. Malamnya kami goreng jika minyak gorengnya ada. Kami di sini adalah saya dan kakak saya …. Cerita ini saya sambung pada novel. Tidak terbayang bagi kami untuk mengunjungi gua saat liburan tiba, karena liburan bagi kami adalah masa-masa bermain sambil mencari uang jajan….ceritanya juga ada dinovel.

Ada yang mengatakan, masa paling indah adalah masa-masa di sekolah, tapi ini relative. Menurut saya, masa-masa paling indah adalah masa-masa susah dan masa-masa penuh masalah. Kenapa…? Karena ketika masa tersebut telah lewat, maka masa itu menjadi ingatan yang indah tiada tara ketika kita telah melewatinya dengan penuh kesabaran. Ini yang menjadi indah, mengenang perjuangan melawan peradaban dan ganasnya tantangan masa-masa kecil. Tidak jarang, orang-orang seusia kami harus putus sekolah gara-gara harus memikul beban keluarga, mungkin hampir sama dengan kisah film Laskar Pelangi. Tantangan yang lainnya dan lebih parah adalah prespektif keliru. “Sekolah tinggi atau tamat SD sama saja, sebentar juga jadi petani. Lihat anaknya si Fulan yang jauh-jauh sekolah, toh nyatanya jadi petani juga”. Atau, “kenapa harus sekolah jauh-jauh, di daerah kita kan juga ada?” kata-kata ini aku dengar saat mau kuliah di Yogyakarta ini, tapi kedua kuping ini kututup rapat-rapat dan kata itu hanya kuanggap angin yang lalu. Lebih parahnya lagi, bukan hanya orang yang tidak punya sekolah yang mengatakannya, tapi yang telah memiliki tittle sarjana. Tapi lagi-lagi, demi satu tujuan yang hendak kucapai, aku harus berangkat ke Jogja. Tak peduli ada biaya atau tidak. Kataku dalam hati. Tekad bercampur nekat, he…nekatnya. Nekat itu kan melakukan sesuatu diluar analisis. Ceritanya ada di novel.

Kadang mimpi itu jadi kenyataan, lihatlah sekarang, dari pulau K datang seorang pemuda desa. Kataku ketika telah mendaratkan kaki di Adisucipto Airport. Kayak mimpi, iya…,saya seperti ada di alam mimpi yang sedang menikmati suasana malam di Yogyakarta. Menikmatinya pertama kali. Adalah teman asrama yang membuatku menoleh kiri kanan dengan leluasa. Sesekali motornya berhenti saat lampu jalanan berwarna merah. Aku semakin bermimpi ketika melihat teman-teman satu kampong di asrama, ada yang sedang menempuh s3, s2, dan kebanyakan s1. Atmosfir keilmiahan tampak dari pergaulan dan pola pikir mereka. Kini saya sadar, saya berada di asrama tempat para calon-calon sarjana, yang akan merubah cara pandang terhadap dunia. Saya berada di kota pendidikan, kota yang merubah beribu-ribu pemuda jadi pemimpin. Pemimpin minimal untuk dirinya sendiri.

Read More..

Tentang Toraja (About Toraja)

Posted by kpmmjogja.com 29 Juni 2009 0 comments
Daerah Toraja tepatnya di atas gunung, untuk sampai ke sana, harus melewati terjalnya jalan dan curamnya bebukitan. Jalannya relatif sempit, jika ada mobil yang berpapasan, salah satunya harus berhenti, kalau jenis mobilnya seperti patas. Walau jalannya yang berkelok-kelok, tidak menyurutkan para pelancong untuk menikmati suasananya. Kadang kami asik melihat rentetan suara mobil turis yang biasanya berkerombol lewat di depan kami. Toraja merupakan kawasan pariwisata nomor 1 di Sulawesi Selatan.

Puncak keramaian daerah toraja jika ada raja atau tokoh yang meninggal. Bagi mereka orang yang meninggal harus diistimewakan. Harus dipestakan oleh para sanak familinya, mampu atau tidak mampu. Hewan yang biasanya menjadi tumbal pesta tersebut adalah kerbau atau kalau di sana dinamakan Tedong Bulan. Tedong artinya kerbau dan bulan artinya warna yang mirip bulan purnama, agak keputih-putihan. Acara seperti ini biasanya menjadi tontonan para pelancong.

Bukan hanya tradisi pesta kematian yang mengudang pelancong, alam yang indah, panorama yang alami masih sangat terasa di daerah ini. Konon, kata orang tua kami, banyaknya turis ke daerah toraja disebabkan mereka mencari jejak nenek moyangnya. Maka wajarlah kalau daerah ini mayoritas Kristen. Karena pada masa lampau, para missioner atau penyebar agama Kristen, mengincar daerah dataran tinggi untuk menyebarkan agamanya. Mungkin mereka sadar, kalau daerah pantai itu telah dikuasai oleh pedagang arab. Pedagang arab tidak hanya berdagang tapi juga menyebarkan agama Islam di daerah pantai-pantai.

Walaupun daerah ini sangat terkenal, saya sendiri belum pernah ke sana. Mungkin belum kepikir saat di kampung dulu, padahal jaraknya tidak terlalu jauh sekitar 3 jam naik bis. Tiga jam ini sama halnya dengan naik travel dari Jogja ke Surabaya, pusingnya minta ampun. Jalannya berkelok-kelok, tikung kiri kanan dan kanan kiri. Perlu ramuan khusus agar tahan tidak memuntahkan seluruh isi perut saat di jalan.






Read More..

Tentang Bugis (About Bugis)

Posted by kpmmjogja.com 28 Juni 2009 0 comments
Sekarang saya akan menyambung tentang bugis. Pada zaman belanda, bugis memiliki kerajaan, tapi kerajaan ini tidak sepopuler dengan kerajaan Gowa Tallo. Kerajaan bugis ini dipimpin oleh Arung Palakka. Kurang populernya disebabkan karena pada masa peperangan mereka bersekutu dengan Belanda untuk melawan kerajaan Gowa Tallo yang dipimpin Sultan Hasanuddin. Karena mereka bersekongkol, kerajaan Gowa Tallo yang juga merupakan kerajaan islam takluk. Sultan Hasanuddin kemudian diasingkan ke daerah terpencil.

Seperti yang saya tulis pada surat sebelumnya, bahasa Bugis adalah bahasa mayoritas yang digunakan warga Sulawesi Selatan yang terdiri dari 23 Kabupaten, saat belum dimekarkannya Sulawesi Barat. Di daerah Enrekang ada sebagian wilayah yang menggunakan bahasa Bugis. Tapi itu hanya di daerah perbatasan dengan kabupaten Rappang. Mungkin asing bagi Adik, tapi kalau kapan-kapan ke sana hal ini tidak akan asing lagi. Kawasan ini, sebelum saya ke Jogja kira-kira 3 tahun yang lalu, masih terkesan kampungan, sangat sunyi. Tapi setelah saya pulang beberapa bulan yang lalu, keadaannya telah berubah. Pinggir jalan telah dihiasi dengan pagar-pagar tembok dan lampu osram yang dulunya hanya dihiasi kunang-kunang yang hinggap di pohon sekitar jalan. Kadang kami takut, ketika lewat dibawahnya, apalagi kalau ada mitosnya. Terasa perubahan itu sangat cepat, Hidup ini hanya sesaat. Kata-kata ini menjadi pamungkas untuk menjawab semua perubahan tersebut.

Saya pernah membeli di sebuah warung, kalau ditempatku kata warung hanya dipakai untuk warung makan yang berskala besar. Tuannya bertanya, apakah di Sulawesi seramai di sini? Memang kalau dihitung jumlah penduduknya, Jawa masih lebih unggul, tapi seiring banyaknya anak muda yang menikah dini, penduduk pun hari demi hari semakin bertambah. Kalau di kampungku, jumlah anak dalam satu keluarga ada yang sampai satu keseblasan. Jumlah 5 anak masih dianggap sedikit. Dan rata-rata yang beranak dibawah 5 adalah yang berprofesi sebagai pengawai negeri. Itu di kampung kami karena orang tua kami berprinsip anak telah diatur reskinya oleh Allah, banyak sedikitnya tidak jadi masalah, makin banyak makin baik, biar ramai. Prinsip yang sebenarnya berlawanan dengan program KB. Tapi saya kasihan juga dengan program KB yang menganjurkan 2 anak cukup. Lebih parah lagi kalau di Negara barat sana, 1 anak cukup. Karena bagi mereka anak adalah menyangkut biaya. Banyak anak banyak biaya.

Bahasa bugis juga bervariasi, baik dari logatnya maupun pengucapannya ada yang keras dan halus. Mungkin tergantung geografis dan keadaan serta factor keturunannya. Daerah Bone dan Wajo bahasanya relatif lebih halus, mungkin karena masih kental dengan kerajaan. Sama halnya dengan Jogja dan Solo yang memakai bahasa Jawa halus karena faktor dekatnya dengan kerajaan. Di sekitar daerah kami, bahasanya lumayan kasar, butuh kesabaran ekstra ketika sapaan halus terasa gertakan. Tapi lagi-lagi, ini adalah relatif, tergantung orangnya. Tapi bahasa ini jarang kami dengar, hanya orang-orang pendatang yang menggunakannya. Bahasa kami beda, tapi dari segi rumpun kami masih satu rumpun dengan suku Bugis.

Read More..

Kerajaan Indonesia (Lanjut…!)

Posted by kpmmjogja.com 26 Juni 2009 0 comments

Weblog karajaan Indoensia yang di-link-an ke weblog kami kubuka. Saya tidak menemukan apa-apa. Karena saya termasuk orang yang mudah penasaran, maksudnya penasaran ingin tahu segala hal. Maka tanpa pikir, aku langsung mengirimkan alamat email ke email yang ditulisnya. Dari kode lokasi emailnya, saya tahu sedikit hal. Oh...sedikit aku tahu, kalau orang ini bukan orang Indonesia atau kalau orang Malaysia menyebut orang Indonesia dengan orang Indon. Teman saya pernah marah, ketika dalam tulisan saya mencantumkan kata orang Indon. Menurutnya, kata Indon itu merendahkan kita, kita tidak pantas dikatakan orang Indon, karena kata Indon itu berarti...... kurang tahu.... saya akan membahasnya pada surat mendatang, saya akan membuka emailnya dulu.

Beberapa saat setelah kukirim email, ternyata dia ingin mengirimkan daftar raja-raja yang pernah berkuasa di daerah Enrekang dan Sulawesi Selatan secara umum. Di bawah daftar raja-raja ada nama Mr......., bekerja di Badan Penelitian.... di Belanda. Aku mengomentari suratnya dan kutanyakan kepadanya, apakah dia bisa berbahasa Bugis? Bahasa bugis termasuk bahasa yang sulit dipelajari, karena ada aksara tersendirinya, mungkin sama dengan bahasa Jawa yang memiliki aksara Jawa. Kalau di Bugis namanya Lontara, dulu kami mempelajarinya saat SD dan SMP. Ternyata dia tidak bisa, tapi dia menyambungnya, ada teman saya di Swedia namanya Dr. bla...bla... yang bisa berbahasa Lontara, aku lupa semua namanya, habis nama Belanda sih... Saat itu aku baru sadar kalau lawan suratku adalah seorang Dr ataukah seorang Prof. risetnya tentang kerajaan-kerajaan di Enrekang dan Indonesia secara umum. Saya ingin tahu, gimana pandangan anda menyikapi banyaknya orang dari luar yang meneliti tentang budaya kita, sedangkan kita sendiri menganggap itu tidak penting. Apakah ada misi dibaliknya...?
Read More..

Teori Darwin…? (Lanjutan Salam untuk sahabat)

Posted by kpmmjogja.com 24 Juni 2009 0 comments
Teori ini masih terngiang-ngiang dalam pikiranku. Bagaimana tidak, setelah mempelajarinya 3 tahun di SMP, ternyata di SMA diulang lagi. Tapi kali ini dengan komposisi yang berbeda, lebih diperluas lagi. Entah kenapa, teori ini masih melekat dalam pikiran saya, mungkin karena saking bencinya. Oh…, saya pernah dengar bahwa Singapura bisa menjadi macan Asia, bisa menjadi kota tujuan nomor 1 para pelancong pada tahun 2006, 2007 dan 2008, kalau 2009 belum tahu. Konon, dulu singapura menghibah-hibah minta bantuan kepada Negara tentangganya, termasuk Indonesia, tapi semua Negara menolaknya. Akhirnya, mereka kembali. Konon juga, pimpinannya pada saat itu, dan yang menjadi presiden adalah seorang muslim keturunan Makassar, makanya, di Singapura dan Malaysia banyak Daeng-Daeng. Tapi berita ini belum saya recek. Panggilan Daeng adalah sapaan untuk bapak-bapak dan hanya dipakai bagi keturunan Bugis Makassar.

Pimpinanan yang berdarah Makasar kembali dan mengatakan “Tunggu suatu saat…!” mereka kemudian berpikir tidak ada yang bisa kita harapkan, luas lahan kita tidak seberapa, hanya seluas kota Yogyakarta bahkan kurang. Kita tidak mempunyai tambang minyak, tidak mempunyai hasil bumi, dan lain-lain. Tidak ada jalan lain, kecuali merubah orangnya. Hanya dengan merubah orangnya. Maka seiring berjalannya waktu, maka lihatlah Singapura sekarang ini, selain Negara tujuan nomor 1 para pelancong, saham BUMN kita banyak dimiliki mereka, Indosat, Telkomsel, XL. Ah…jadi bingung memikirkannya. Jadi intinya, hampir semua harta Indonesia telah dimiliki Negara Asing. Kita semakin bingung ketika mendengar utang Negara kita. Utang yang harus ditanggung oleh rakayat Indonesia yang berjumlah 200 juta lebih sebanyak 7, 5 juta per kepala. Sungguh mengherankan. Tapi saya rasa, itu bukan utang rakyat Indonesia, tapi utang para peminjam dalam hal ini yang membuat kebijakan, orang yang diberi amanah untuk mengelola Negara.

Dari penjelasan di atas, Singapura dapat menjadi Negara yang kuat, Negara yang berkembang pesat, bisa saja karena berawal dari penolakan terhadap Negara-negara yang dimintai pertolongan. Dan katanya, untuk menjadi warga Negara sana hanya ada dua syaratnya, yaitu seseorang adalah super…super…super kaya. Yang kedua, super…super… super ahli dibidangnya. Penolakan Negara-negara tetangga membuat mereka ‘membalas dendam’ dan ingin membuktikan bahwa mereka bisa setara dengan Negara-negara maju.

Berawal dari kebencian, seseorang dapat berbuat melebihi batas kemampuannya. Benci akan kemiskinan, membuat seseorang bekerja keras siang dan malam untuk merubah nasibnya. Benci akan kebodohan, membuat pelajar memeras otak agar kering, kayaknya otak tidak diperas tapi diinputkan data-data, kemudian diproses menjadi sebuah informasi. Benci akan penjajahan, membuat para pejuang kita mati-matian sehingga banyak yang mati benaran memperjuangkan kemerdekaan. Kemerdekaan dari penjajahan fisik.

Atas dasar kebencian, membuat saya tahu bahwa teori Darwin adalah teori yang sangat melenceng dari fitrah manusia. Manusia yang asalnya dari Allah yang dilahirkan melalui perantara hubungan Ayah dan Ibu. Bukan dari seokor kera yang berevolusi. Saya semakin yakin bahwa apa yang dipelajari di SMP dan SMA dulu adalah pembodohan dan pendangkalan akidah setelah menyaksikan film-film dokumenter Harun Yahya.Nama Harun Yahya diambil dari nama Nabi Harun dan Nabi Yahya, nama ini dipakai sebagai nama pena seorang berwarga negara Turki. Ingin rasanya meremuk mukanya seperti kriukan kerupuk, seandai saja ketemu dengannya. Tapi aku sadar, ini tidak mungkin karena dia telah berada di alam kubur, menanti pengadilan yang tiada cacatnya sedikit pun. Saya juga menyadari, gagasan harus dilawan dengan gagasan. Tapi gagasan itu masih belum terealisasi sampai sekarang. Saya ingin seperti Harun Yahya yang mampu membuktikan bahwa teori evolusi adalah sesat dengan ilmiah.


Read More..

Salam untuk Sahabat

Posted by kpmmjogja.com 23 Juni 2009 0 comments

Baik teman, saya akan memulai topik baru, tentang kampung halaman kita. Kampung nan jauh di seberang pulau K, bentuknya yang seperti huruk K. Dari peta, kampung kita berada di tengah-tengah huruf K, kalau digambarkan berada pada kedua garis miring tersebut. Bentuk peta kebupatennya seperti bentuk hati, unik bukan..! Tapi kata orang. Sebelum kita mengenal daerah itu secara jauh, saya terlebih dahulu melanjutkan cerita tentang kawasan Bugis dan Tana Toraja. Kedua daerah ini sangat mempengaruhi peradaban yang ada di Enrekang. Sebenarnya Enrekang dulunya terdiri dari kerajaan-kerajaan, tapi saya kurang tahu nama kerjaannya, soalnya tidak pernah dibahas dalam pelajaran SD, SMP, SMA dulu. Yang dipelajari justru kerjaan-kerajaan pra Islam, kerajaan hindia belanda, masa penjejahan belanda, Jepang, NICA. Itu pelajaran IPS saat masih di SD. Menginjak SMP, nah ini yang membingungkan, memutar fakta 180 derajat. Tentang teori Evolusi. Wah...dulu aku paling malas belajar pelajaran sejarah, karena yang dipelajari adalah manusia purba, termasuk manusia purba yang ada di Indonesia, Mojokertonisis, Soloensis, dll. Suatu pembodohan sejagat yang dimotori Darwin Cs. Saya yakin anda tahu tentang teori Darwin, karena teori ini erat kaitannya dengan jurusan yang ada logi-loginya.Tapi, ini hanya pendapat saya, karena saya sendiri kurang tahu dengan banyaknya cabang ilmu dibidang Sosiologi.

Berkaitan dengan kerajaan-kerajaan di Enrekang, kami juga tidak tahu persis, karena orang tua kami bukan keturunan raja atau bangsawan. Keturunan bangsawan di daerah Bugis biasanya diawal namanya ada title ANDI. Di samping itu, orang tua dulu tidak banyak bercerita tentang kerajaan, karena yang paling sering kami dengar adalah petualangan mereka saat mendaki gunung.., melewati lembah..., sungai mengalir indah ke samudra…bersama teman berpetualangggg... nana.. nana.. nana.. nana.. nanaaaa... lho kok malah nyanyi lagu ninja Hatori. Lanjut, masuk hutan, bersembunyi di dalam gua, berpindah dari tempat satu ke tempat lain untuk menghindari gerombolan. Nama gerombolan ini sering kami dengar, gerombolan berarti sekelompok orang penyerang. Gerombolan biasanya diidentik dengan penjajah Belanda, atau kalau nenek kami menyebutnya NIPPON. Beberapa bulan yang lalu, heranku bukan main, ketika seseorang mengisi pesan di guestbook weblog. Dalam pesannya dia meminta alamat email. Setelah kuterjemahkan bahasanya,. Kucoba kucari tahu, tapi aku hanya menemukan sebuah weblog yang dijudul bannernya tertulis KERAJAAN INDONESIA.

Read More..

ARTI HORMAT POLISI

Posted by kpmmjogja.com 18 Juni 2009 0 comments
Pagi-pagi udaranya segar, tidak banyak kendaraan yang hilir mudik. Hanya beberapa motor yang melaju kencang karena kurang hambatan. Pagi ini aku berangkat kuliah, di jalan sepintas mataku tertuju pada seseorang. Warna bajunya coklat muda, ditambah dengan celana coklat pekat. Bajunya agak ditutupi dengan rompi warna hijau terang, jika disorot sinar lampu pada malam hari, kelihatan seperti menyala. Pada rompi itu tertulis POLISI.

Pak Polisi, Pak Polisi, dimana rumahmu… itu nyanyian saat kami anak-anak dulu. Dulu kami sangat takut dengan pak polisi. Saking takutnya, mendengar namanya saja kami sudah lari terbirit-birit. Takutnya bukan pada Pak Polisinya, tapi Pistolnya. Belakangan baru aku tahu, tahu kalau kami ada teman, temannya malah yang sudah berstatus mahasiswa. Mahasiswa kadang lari terbirit-birit tanpa arah ketika dibubarkan Pak Polisi dari aksi demonya. Alasannya sederhana, mungkin mahasiswa ini masih mengidap penyakit nomor 14, alias masih anak-anak. Persis saat kami berusia sebelasan tahun. Tapi, syukurlah di sini, di Yogyakarta sangat langkah yang namanya mahasiswa demo, apalagi demo sambil berlari menghindari kejaran Pak Polisi, perisis kayak maling ayam yang ketahuan.

Oh…iya, topiknya kan tentang arti hormat polisi, kok malah membicarakan mahasiswa. Baik… sekarang kita bahas tema di atas. Pagi tadi saya memperhatikan seorang Pak Polisi yang sedang hormat pada pengendara sepeda motor. Motor pun berhenti karena dihadang pak polisi, saat motornya berhenti, pak polisinya hormat. Tapi anehnya, hormatnya itu kayak gimanaaa ya… menyeramkan pokoknya. Hormatnya disertai lototan pandangan, ditambah dengan kumis yang tebal. Kalau seperti ini, apa gunanya hormat itu? Hormat itu kan tujuannya untuk menghormati orang lain, hormat berarti memberikan kesan positif atau baik kepada orang lain. Tapi kalau hormatnya disertai dengan lototan padangan, wah…bukan kesan hormat yang kita terima, tapi kesan ingin mengeluarkan uang. Uang untuk membayar biaya tilang, kalau ditilang kan berarti menyangkut bayar membayar. Oh…iya, tahu tidak arti tilang. Nah…ini aku tahu ketika masih SD dulu, tilang adalah singkatan dari Bukti Pelanggaran. Lanjut…, ini kalau kita melihatnya dari sudut pandang orang yang dihormati. Tapi kalau dari sudut pandang Pak Polisi, mungkin mereka menghormati orang karena itu adalah kebiasaan mereka, karena itu adalah tuntutan mereka selaku pelayan masyarakat. Kalau dari sudut pandang agama, hormat itu dari dalam hati, kemudian direfleshikan dengan tindakan. Tindakan ini berwujud dengan cara menghargai orang lain, menghargai hak-hak mereka, menjaga sopan santun, bertutur kata baik, dan tidak mengambil atau merampas hak-hak mereka.


Read More..

SBY-BUDIYONO TIDAK POPULAR DI DUNIA MAYA

Posted by kpmmjogja.com 17 Juni 2009 1 comments
Tadi pagi, dosennya tidak masuk dan sebagai gantinya, dosennya memberi quiz. Soal quiznya sederhana, mencari tingkat popularitas antara Manohara dan Ibu Prita. Manohara yang kita kenal karena hampir setiap station TV menjadikannya sebagai headline, bahkan katanya, station TV rebutan ingin menayangkan female model itu. Sedangkan Ibu Prita, yang sempat ditahan karena dituduh mencermarkan nama baik rumah sakit OMNI International dan sempat dikenai pasal ITE yang berkaitan dengan transaksi elektronik.

Berangkat dari sana, timbul ide untuk mencari tingkat popularitas para capres kita di dunia maya. Mereka adalah Mega-Pro, SBY-Budiono, dan JK-Wiranto. Satu persatu nama tersebut kutulis di dalam kotak search Google Trends. Oh…iya, sekedar memperkenalkan, google trends berguna sekali apabila kita tertarik membandingkan popularitas 2 atau lebih search query. Search Query adalah Kata atau kunci pencarian yg kita pakai mencari menggunakan search engine seperti google, MSN, dan yahoo. Dan hasilnya adalah seperti berikut:
Nomor urut 1 : Mega-Pro


Nomor Urut 2: SBY-Budiono

Nomor Urut 3: JK-Wiranto



Pertayaannya kemudian, akuratkah data ini? Menurut Faq dan help page Google Trends, Seluruh hasil trends for website diambil dari kombinasi informasi yg berasal dari berbagai macam sumber traffik seperti Google search data, anonymous Google Analytics data, consumer panel data, dan third-party market research. Google menggunakan cara alexa yaitu membeli data data traffik konsumen ISP.

Saya hanya menyampaikan data ini dengan bantuan teknologi, dan saya tidak punya kepentingan politis di dalamnya. Saya teringat dengan kata-kata orang bijak, yang katanya seperti ini : Bicara masalah politik tidak akan ada habis-habisnya. Lagian kalau kita ingin menjagokan siapa yang terpilih, tetep saja yang diuntungkan pemenangnya… Sedangkan kita hanyalah sebagai objek, bisa menjadi objek bahagia, objek aman-aman saja, objek penderita, dan mungkin saja objek tidak tentu arah. Nah, daripada mikir yang bukan jangakauan kita, mendingan kita urus saja diri kita dan keluarga kita. Mengurus kesejahteraan hari ini lebih baik dari hari kemaren, dan kesejateraan hari esok lebih baik dari hari ini.



Read More..

SANTRI GEDONGAN (2)

Posted by kpmmjogja.com 06 Juni 2009 0 comments
Setiap senin sore, suasana pondok Bina Insani sontak ramai, suara riuh anak-anak TPA membuat kami harus mengeluarkan suara extra keras.
Kami : Tepuk satu…!
Santri : Tu…k,
Kami : Tepuk dua..!
Santri :Tuk…Tuk.. Tepuk pemansan ala anak-anak TPA.
Kami : Tepuk anak sholeh…! Tuk…a…ku anak, Tuk..Tuk..Tuk.. sholeh, Tuk…Tuk…Tuk rajin ngaji. Orang tua dihormati, cinta Islam sampai mati, lailaha illah Muhammadarruhsulullah, Islam…Islam Yes, Kafir…kafir No.

Islam adalah satu-satunya agama yang harus dipeluk oleh umat manusia. Agama tauhid yang ajarannya di sampaikan oleh Allah melalui Nabi-Nya Muhammad SAW. Dan orang yang tidak mengikuti agama islam adalah kafir. Itulah makna dari tepuk ini. Sederhana, tapi jika digali lebih mendalam maknanya sangatlah luas.

Pemanasannya telah usai, kini saatnya anak-anak TPA mengaji. Mengaji bukan hanya membaca Al Qur’an. Ini baru aku tahu ketika orang-orang jawa menyebut ngaji ketika hendak mengikuti ceramah. Mengikuti ceramah biasa juga disebut pengajian. Menulis al qur’an dan menghafal ayat-ayat bagian dari materi pengajian anak-anak TPA.

Anak-anak dibagi sesuai dengan tingkat keilmuannya. Yang agak mahir dipisah dengan yang Iqra, yang perempuan dipisah dengan laki-laki. Manajemen ini diterapkan sejak beberapa bulan yang lalu, dan ternyata efektif. Masing-masing ustadz diterjunkan untuk mendampingi dan mengajari anak-anak ini. Itulah kami santri gadungan yang bertidak sebagai tim perubahan anak-anak. Tugas kami sangat berat, dari beratnya itu sehingga diberi predikat mengajar adalah tugas mulia. Butuh kesabaran dan suara extra untuk mengajar bocah-bocah ini. Bocah-bocah dalam bahasa jawa bukan berarti anak kecil, tapi anak-anak yang usianya di bawah orang yang menyapanya. Bocah-bocah juga termasuk bahasa yang kasar, sebagai gantinya biasanya diganti dengan kata Ade’. Ade’ juga berarti anak, beberapa waktu lalu, teman kami sempat salah paham, gara-gara seorang ibu cantik menyebut anaknya dengan sapaan ade’. Padahal sepengetahuan teman ini, Ade’ itu adalah adik, kenapa kok dipanggil ade’, bukan anak. Begitu prasangkanya.

Untuk dapat mengajar anak TPA dengan baik, kami juga harus diberi inputan. Selepas mengajar TPA kami diajar oleh ustadz-ustadz yang lebih pintar. Beda dengan ustadz jaman dulu, kini ustadznya sudah modern, tidak perlu pakai sorban atau baju yang serba putih-putih, cukup dengan pakaian lengang panjang dan kopiah di kepala. Cukup itu. Kesederhanaan tampak dari penampilan mereka, tapi jangan salah, bisanya yang sederhana itu justru bijaksana. Kata dosen saya, namanya Pak Rianto, orangnya sangat kritis, saking kritisnya, beberapa kali komentar saya dijambanginya dengan sudut pandang yang ilmiah. Menurut dia. Pak Rianto berkata: orang yang sederhana beda dengan orang yang seadanya. Orang sederhana itu mempunyai sesuatu yang lebih tapi dia justru memilih yang apa adanya. Sedangkan seadanya itu karena mereka tidak punya pilihan untuk memilih.
++++Bersambung lagi++++++

Read More..

SANTRI GEDONGAN (1)

Posted by kpmmjogja.com 01 Juni 2009 0 comments
"Fajar karo Erpen, coba cek Kambing?" Perintah Pak Teguh.
"Kambingnya sudah mati belum...?" Tanya Pak Teguh sesampai mereka dari kandang.
"Iya, Pak. Sahut Fajar sembari melirik ke samping. "Iya, sudah, itu karena kurang makan.
Saya merasa tidak enak, itu amanah dari Nogotirto. Kalian mungkin mengerti, karena bukan kalian yang memikul amanah itu. Sambung Pak Teguh mencurahkan Isi hatinya kepada sekelompok santri gadungan." Itulah kami, dibilang Santri juga bukan, dibilang bukan padahal kami mondok.

Mondok adalah istilah yang sering digunakan orang Jawa untuk memberikan sebutkan kepada santri yang sedang menuntut ilmu di Pondok Pesantren. Beberapa tahun yang lalu, saya memutuskan untuk bergabung dengan santri Gadungan di Pondok pesantren Bina Insani. Saya mengenal pondok ini karena yang menjadi Kiyainya adalah dosen pendidikan agama waktu semester 1. Tidak kusangka, keberadaan saya di sini membuat perubahan pola pikir saya terhadap sesama, terhadap pesantren, dan terhadap lingkungan.

Menurutku dulu, pesantren adalah seperti yang ada di kampung kami, anak-anaknya disiplin ketat, tidak boleh keluar dari areal asrama. Kalau ada yang sampai melanggar, maka tidak tanggung-tanggung akan terkena hukuman. Kawasannya jauh dari pemukiman, di daerah pinggiran. Karena statusnya sebagai pesantren Modern, maka hanya kalangan tertentu yang bisa masuk, yang wong cilik jelas tidak mampu membiaya iuran per bulannya. Itulah yang dialami kemanakan saya, dia beberapa waktu lalu keluar dari pesantren dan memutuskan pindah ke SMP dekat kampung. Alasannya sederhana, biaya yang tinggi dan kualitas pendidikan yang hampir sama.

Tapi, lain di Jawa lain di Sulawesi. Pesantren di sini sama halnya seperti rumah sendiri. Sebuah keluarga yang terdiri dari tipe dan karakter anak yang berbeda-beda. Anak itu adalah santri Gadungan Bina Insani. Kiyai berpedan sebagai Bapak dalam keluarga pesantren. Saking kebapakannya, hampir setiap hari kami di perintah. Perintahnya pun bukan sembarang perintah, biasanya disertai dengan porakan , dalam bahasa Sulawesi berarti omelan. Pak Kiyai berperinsip, kalau anak-anak tidak disuruh, tidak ada yang mau bergerak. Mereka maunya bergerak kalau diterapkan manajemen mandor kawat.

Semalam, Santi gadungan belajar bareng. Belajar bahasa memang sulit, apalagi kalau menganggapnya susah.
Guru : "Mau ngak ta kasih nyanyian,"
Santri : "Mau."
Guru : "Nih, ikutin saya Huwa.. Huma Hum..."
Santri : "Huwa Huuummma hum.."
Guru : "Ah...salah, makanya dengarin dulu..,Huwaa.. Humaa...Hum.
Santri : Huwaa.. Humaa..Hum.
Guru : "Ya..bagus." Lanjutkan! Seperti kampanye SBY. " Hiya..Humaa Hunna".
Santri : " Hiya..Humaa Hunna".
Guru : "ya Bagus..". Anta... Antuma .. Antunna ..."
Santri : ". Anta... Antuma .. Antunna ..."
Guru : "Bagus".Anti... Antuma...Antunna...3x"
Santri : "Anti... Antuma...Antunna...3x."
Guru : "Sambung..., Anaa...Nahnu...!"
Santri : "Anaa...Nahnu..."
Bersambung....

Read More..

Warga Duri Ingin Pisah dari ENREKANG

Posted by kpmmjogja.com 14 comments
ENREKANG, BKM -- Keinginan warga Duri untuk memisahkan diri dari Kabupaten Enrekang semakin bulat. Bahkan desakan berpisah itu telah mendapat dukungan dari tokoh masyarakat yang juga mantan pejabat di Enrekang.

Diantaranya HM Lody Sindangan, H Amma Leha dan Banteng, beberapa mantan anggota legislatif dan anggota legislatif terpilih periode 2009-20014. Mereka secara aktif intens melakukan pertemuan yang membahas rencana pemekaran.

Minggu (31/5) kemarin, pertemuan digelar di Gedung Serba Guna Kalosi. Rapat koordinasi oleh pokja persiapan kongres masyarakat Tanah Duri tersebut, sebagai tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya di Belajen, Kecamatan Alla, 10 Mei lalu.
Pertemuan dipimpin Ketua Umum Abd Kadir Al Qidri. Yang dibahas sudah memasuki struktur organisasi dan rancangan program masyarakat Tanah Duri.

Tokoh masyarakat di delapan kecamatan dari 12 kecamatan di Kabupaten Enrekang antusias menghadiri pertemuan tersebut. Kedelapan kecamatan itu adalah Alla, Curio, Baroko, Masalle, Buntu Batu, Baraka, Malua dan Anggeraja.
Hartono, Sekjen Pokja Persiapan Kongres Masyarakat Tanah Duri yang ditemui usai rapat koordinasi, mengatakan pertemuan kali ini dalam rangka mengorganisir keinginan masyarakat Tanah Duri untuk berdiri di atas kaki sendiri alias menjadi Kabupaten Tanah Duri.

"Sebelum isu masyarakat yang ingin agar wilayahnya dimekarkan menjadi kabupaten berkembang luas, kami berinisiatif untuk memediasi dalam bentuk diskusi-diskusi. Disini dibahas apa yang menjadi keinginan mereka,'' kata Hartono.
Pada dasarnya, menurut Hartono, keinginan masyarakat untuk memekarkan wilayah karena persoalan pelayanan publik. "Pemekaran itu kan filosofinya untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Jadi wajar kalau masyarakat Duri mendesak dilakukannya pemekaran," terang Hartono.

Diakuinya, persoalan pelayanan selama ini dinilai belum maksimal diberikan kepada masyarakat Duri. Begitu pula potensi alam yang dieksploitasi dan dikelola, hasilnya belum dirasakan secara maksimal oleh warga setempat.

''Pendapatan dari hasil bumi wilayah Duri cukup beras. Sementara yang dinikmati masyarakat setempat sangat minim. Karena adanya diskriminasi dalam pembangunan, warga Duri kemudian meminta untuk berpisah dari Enrekang,'' jelasnya.

Hartono membantah kalau isu pemekaran hanya untuk politik praktis. Ia secara tegas mengatakan jika keinginan masyarakat untuk membentuk kabupaten baru, merupakan gerakan politik intelektual yang dibingkai dengan hati nurani rakyat.

Sebelum pertemuan ditutup, para peserta bersepakat untuk melakukan kongres masyarakat Tanah Duri pada tanggal 13 Juni mendatang. Kegiatan kongres tersebut akan dipusatkan di Kecamatan Anggeraja. ((K14/rus) )

Read More..