19 Des 2009

Kok Gas

Bersantai Sejenak
Seperti biasa, selepas sholat Dhuhur, kami langsung ke warung sebelah asrama untuk memesan makan siang. Kami tidak makan di warung itu, karena tempatnya sangat sempit. Warung itu beda dengan warung pada umumnya di tempat lain, warung disini hanya dikenali dengan berkerumunnya calon pembeli walau tanpa adanya reklame yang biasanya didominasi dengan warna kuning dan merah. Dulu, saya tidak habis pikir, kenapa setiap warung menggunakan kedua warna mencolok ini. Belakangan baru kutahu, kalau warna itu adalah warna yang mengundang, warna haus, sehingga orang akan bernafsu berada disitu. Coba kalau warung itu warnanya putih atau hijau, mungkin saja bagi sebagian orang cocok, tapi secara umum kedua warna itu hanya digunakan pada tempat ibadah, khususnya masjid karena melambangkan kesucian dan kesejukan.

Inilah salah satu kelebihan yang dimiliki kota ini. Kota ini sangat cocok bagi sebagian pelajar seperti saya yang berkantong tipis. Makanan yang dijual sesuai dengan kondisi keuangan, tidak lebih dan kadang-kadang kurang :) "Bu, nasi telur, ya...!" kataku ke Ibu penjual yang tak ubahnya seperti Ibu kami sendiri. Dia orangnya ramah seperti umumnya warga sekitar sini. Inilah salah satu daya tariknya sehingga kami jadi kerasan. "Ya...ya...!" Jawab ibunya dengan santai.

Saya pun menikmati hidangan siang ini dengan lahap, nasi telur ini, sebenarnya bukan hanya nasi telur, tapi ada juga sayurnya. Jadi, kalau disempurnakan nasi + telur + sayur. Kombinasi ini hanya dihargai 3.500,-. Harga yang sangat murah dibanding wilayah-wilayah lain yang pernah kudatangi.

"Bu, ini piringnya, minta airnya ya...Bu!" kataku sambil meletakkan piring yang tak tersisa sebutir nasi pun. Katanya, kita harus menghabiskan nasi yang terhidang dipiring tanpa sisa, karena bisa jadi yang disisa itu tersimpan barokah. "Itu..., sebentar ya! Mas..., ambilin gelas!" Teriak ibunya, memerintahkan suaminya yang ada di dalam rumah. "Kok, lama." Kataku ketika menunggu sekitar 5 menit."Mas, gelas untuk mas'e." Teriak ibunya lagi. Oh...,mungkin bapaknya lagi sibuk. Kataku dalam hati. Feelingku terbukti, beberapa saat bapaknya keluar dengan menjinjing gas isi 3 kg. Kebetulan, bapaknya juga termasuk pengecer gas 3 kg. "Mas, gelasnya." kata ibunya lagi. Bapaknya pun nongol dari belakang sambil berkata, "ini gasnya". "Lho, kok gas, Mas." Ha..ha...ha..., semua orang tertawa termasuk aku yang dari tadi menahan pedis. Bapaknya pun masuk dan sesegera mungkin menyodorkan gelas bening ke arahku.



2 komentar:

Silahkan Isi Komentar: