17 Des 2009

EFEK NEGATIF TAYANGAN TV TERHADAP MASA DEPAN INDONESIA

EFEK NEGATIF TAYANGAN TV TERHADAP MASA DEPAN INDONESIA

Menjijikkan…! Ingin rasanya muntah saat melihat sebuah tayangan disalah satu statiun TV swasta. Sebut saja statiun TV berinisial x ( takut, tar kena undang-undang kayak Bu Prita). Adengan yang diperakan sangat jauh dari kesan mendidik apalagi syar’i. Tawa, lelucun, teriakan, hinaan tampak jelas dari layer-layer ceritanya. Sesekali juga, aku melihat seorang anak yang asik, dengan mata melolot menikmati suguhan itu.

Apakah tidak ada acara lain? Apakah tidak ada cerita yang lebih mendidik? Sayang sekali, mereka yang membuat cerita itu tidak mengindahkan efek negatifnya. Salah satu efeknya adalah hilangnya waktu bagi anak-anak usia sekolah untuk belajar pada jam tersebut. Bayangkan, tayangan itu mulai pada jam 7 sampai jam 9 sore. Coba kalau waktu itu digunakan untuk belajar, berapa rumus yang bisa diingat, berapa kosakata yang bisa dihafal, berapa soal-soal yang bisa dikerjakan? Ini hanya pada sore menjelang malam, lain lagi ketika pagi, siang, sore. Tayangan yang disuguhkan hampir mirip dan seragam. Kalau bukan tayangan lawak, mesti sinetron pacar-pacaran. Kalau bukan film khayalan, apalagi kalau bukan film kekerasan.


Telah banyak berbagai artikel, kajian, penelitian yang menunjukkan bahwa TV pada kenyataan sekarang ini dapat menimbulkan efek negatif terhadap perkembangan psikologis anak. Anak yang sering menonton TV akan cenderung mengikuti apa yang dilihatnya. Kalau yang dilihatnya sinetron pacar-pacaran, maka jangan heran jika hampir seluruh waktunya hanya untuk bercengkrama dengan lawan jenis. Motif cengkramanya pun macam-macam seiring canggihnya dunia informasi dan komunikasi. Mulai dari telepon-teleponan, sms-an, sampai pada chatting-an lewat jejaring yang lagi booming sekarang ini.

Apa jadinya Indonesia 5, 10 tahun yang akan datang? Kalau kebebasan terus dijunjung dengan berdasar pada hak asasi yang kebablasan dan demokrasi yang mengcrasy-kan, maka bukan tidak mungkin Indonesia pada masa 5 atau 10 tahun akan datang mirip dengan negara Amerika sana. Kita ketahui, bahwa Amerika adalah negara yang menjunjung tinggi hak asasi, sehingga kebebasan menjadi hal mutlak. Karena kebebasan ini, warga amerika dapat melakukan hubungan seenaknya. Akibatnya, tingkat perceraian semkin meraja lela. Tahun 2009 bisa dibilang sebagai tahun perselingkuhan kaum selebriti. Tapi urusan ini juga sesungguhnya menimpa orang-orang biasa. Berbagai penelitian menunjukkan kisaran dalam jumlah laki-laki yang menikah di Amerika berselingkuh sebanyak dari 15 sampai 40 persen dan wanitanya mulai dari 5 sampai 25 persen).Dari mereka yang bercerai di Amerika, 40 persen menyebutkan perselingkuhan sebagai sebabnya. Konselor perkawinan mengatakan bahwa trauma dari sebuah perselingkuhan mempunyai efek yang sama persis dengan perkosaan, bahkan kadang-kadang lebih buruk.
Kalau kita membaca teori konspirasi, bisa dikatakan bahwa apa yang sering dilihat dan saksikan sekarang ini, baik itu melalui cetak dan terutama audio visual adalah bagian dari sebuah proyek. Dalam proyek itu dinamakan sebagai proyek tata dunia baru. Dimana agenda mereka adalah apa yang telah dicantumkan di lembaran satu dollar AS, yakni “Novus Ordo Seclorum” atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai “The New World Order”. Kita menyebutnya sebagai “Tata Dunia Baru”. Pelaksanaan menuju ke arah itu disebut sebagai Globalisasi.

Novus Ordo Seclorum merupakan Satu tatanan dunia baru di mana mereka sebagai TUAN sedangkan orang di luar mereka sebagai budak. Tata Dunia Baru yang sepenuhnya sekular (seclorum) dimana semua agama langit hancur (yang ada cuma sebatas ritual dan atribut-atribut luarnya, sedangkan esensi agama itu sendiri musnah. Kaum Muslimin cuma mengerjakan sholat, puasa, pergi haji, zakat dan sedekah, dan hanya mencantumkan Islam di KTP-nya, namun lalai dalam berjuang menegakkan tauhid di muka bumi dengan sebenar-benarnya tauhid, menyerahkan loyalitas sepenuhnya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan bukan kepada sesama manusia). Di dalam tatanan baru itu, semua agama langit tinggal sekadar kulit luarnya, dan mayoritas manusia telah memeluk agama baru yakni “Pluralisme” yang dianggap universal.

Referensi: eramuslim.com
http://www.swaramuslim.com/ebook/html/020/index.php?page=gal-sun_god


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: