21 Des 2009

Desa Enrekang, Potensial Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro


kpmmjogja.com--Ada yang tahu ngak, kapan pemadaman listrik bergilir di Enrekang berakhir? Belum cukup sebulan yang lalu, saya sempat pulang ke Enrekang, sungguh miris melihat kondisinya. Paginya saya masih bisa nonton TV dan main komputer. Beranjak siang, ketika saat-saat aktivitas mulai bergerak sibuk, tiba-tiba "Ah... mati lampu lagi." Spontan aktivitas berhenti, terutama peralatan seperti, Komputer, mesin fotokopi dan sejenisnya. Berapa kerugiannya? Tentu tidak bisa dibayangkan, baik kerugian waktu dan kerugian materi. Ironisnya, di tengah pemadaman yang dirasakan setiap hari-tiap hari biasanya sampai 3 atau 4 jam, kalau 'beruntung'x 2- justru pembayarannya membengkak, jauh dari normal.

Siapa yang disalahkan? Mungkin saja masyarakat sudah mahfum -paham betul- sehingga mereka tidak berani mengeluarkan kata-kata lagi. Mereka sudah yakin bahwa ini adalah kesalahan sistemik. Ternyata bukan hanya pengurusan negera yang mengalami kesalahan serupa tapi juga sektor lain, sektor yang sangat vital.


Ditengah pemadaman bergilir yang terjadi 3 sampai 4 jam sehari itu, dan kadang 2 kali sehari, sebagian masyarakat beralih ke gengset-gengset yang berbahan bakar solar maupun bensin. Ini terjadi di daerah pusat pemerintahan kabupaten Enrekang. Kalau di desa-desa, pemadaman bergilir masih bisa diatasi dengan pelita, yang menjadi alat penerang warisan nenek moyang dulu.

Tapi, beda di Enrekang beda di Dusun Kali Pondok, Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah. Masyarakat di dusun ini telah memanfaatkan air sebagai sumber tenaga listrik sederhana. Saat ini terdapat sekitar 30 kincir air sederhana milik warga, yang menjadi sumber listrik bagi 59 keluarga di kampung yang berada di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut itu.

Satu kincir air dapat menyuplai 2-4 rumah dengan daya antara 400 watt sampai 900 watt. Kincir-kincir itu kini juga menjadi sumber listrik bagi sejumlah penginapan di obyek wisata Curug Cipendok.

Kestabilan aliran sungai-sungai dari lereng Gunung Slamet sepanjang tahun membuat kincir air selalu berputar. Listrik pun dapat dinikmati warga secara gratis selama 24 jam penuh.

Bagaimana dengan Enrekang? Enrekang banyak menyimpan potensi pembangkit listrik tenaga air sederhana ini. Sebagai misal, di daerah Maiwa ada air terjun Batu mila yang dari kejauhan bisa terlihat bahwa itu air terjun. Ada lagi air terjun Lassalasang di daerah Tapong. Air terjun di daerah Malauwe, dan masih banyak lagi. Di kebun saya juga ada, he..:) makanya saya posting tulisan ini sebagai bahan referensi. Ada yang mau usul? ataukah ada yang mau kerjasama? Silahkan contact me..!
referensi: newritasharon.multiply.com
gambar: aemcake.blog.friendster.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: