19 Nov 2009

Guru Madrasah Swasta Digaji Rp 5.000

Republika--Guru madrasah swasta di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, hanya digaji Rp5.000 per bulan, bahkan ada yang tidak menerima gaji sama sekali.

"Gaji Rp5.000 itu merupakan gaji rutin tiap bulan, kadang kalau lembaga ada biaya tambahan saya menerima gaji hingga Rp7.000," kata guru Madrasah Diniyah Islamiyah, Dusun Sumber Anyar, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Mohammad Ghozi, kepada ANTARA, Rabu.

Dalam seminggu, ayah empat orang anak ini mengajar di lembaga tersebut selama dua kali. Ghozi mengajar ilmu Fiqh (hukum Islam) dan Tajwid (kaidah membaca Alquran).

Meski hanya digaji Rp5.000 per bulan, tapi alumnus Pesantren Nurul Djadid ini mengaku tidak keberatan. Sebab hal itu dilakukan untuk membantu nasib anak-anak keluarga miskin yang ada di wilayah tersebut.

"Saya tidak bisa menuntut lebih banyak kepada lembaga. Sebab saya tahu sendiri sumbangan dari murid-murid hanya Rp500 per bulan," katanya. Lembaga pendidikan Islam yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren As-Zubair, asuhan K.H. Mahrus Ali ini, kondisinya memang sangat memprihatinkan.

Ruang kelas yang mereka tempati untuk belajar sangat tidak layak sebagai sebuah lembaga pendidikan. Selain belajar di lesehan layaknya sistem pembelajaran kuno, lantai dan ruangan sekolah juga retak-retak. Bahkan sebagian di antara para siswa khususnya untuk siswa kelas akhir terpaksa belajar di musalla.

Ghozi, bukan satu-satunya guru Madrasah Diniyah di Pamekasan yang hanya menerima gaji sangat kecil, namun hal itu dialami guru madrasah lain di Pamekasan secara khusus dan umumnya di Madura.

Matnin misalnya. Guru Madrasah asal Desa Grujugan, Kecamatan Larangan, Pamekasan ini justru tidak mendapat bayaran sama sekali di lembaga tempat ia mengajar. Padahal jarak tempuh tempat Matnin mengajar mencapai 53 kilometer, tepatnya di Pesantren Sumber Mas, Desa Rombiya, Kecamatan Ganding, Sumenep.

Setiap kali mengangar, mahasiswa pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya ini harus menyisihkan sejumlah uang untuk membeli bensin.

"Saya hanya menerima honor di akhir tahun pelajaran berupa sejumlah uang dan seragam guru," katanya. Meski demikian ia mengaku tidak mempersoalkan jumlah honor yang ia terima. Selain karena ingin mengabdi kepada lembaga yang membesarkannya saat belajar di lembaga tersebut, profesinya sebagai guru, hanya sampingan saja.

"Bagi saya ini mengajar di madrasah ini bukan pekerjaan yang pokok. Niat saya hanya membantu saja. Karena saya tahu seperti apa kondisi pendidikan pesantren yang sebenarnya," tutur Matnin.

Meski demikian, ia berharap ke depan pemerintah bisa memberikan memberikan perhatian terhadap para guru yang mengajar di pesantren. Sebab tidak sedikit di antara guru pesantren yang memang berprofesi sebagai guru, bukan hanya sebagai pekerjaan sampingan.

"Banyak di antara guru di sana yang memang fokus mengajar, bukan seperti saya ini. Kan mereka kasihan jika tidak mendapat perhatian. Padahal, mereka sangat berjasa bagi para generasi muda khususnya dari kelompok masyarakat dengan labat belakang ekonomi rendah," kata Matnin, yang pegawai salah satu bank syariah di Pamekasan itu. ant/pur



1 komentar:

  1. mulia banget tu bapak.
    padahal banyak tu guru2 yang minta kenaikan gaji, truz sering bikin les2 yang ongkosnya lumayan mahal.

    BalasHapus

Silahkan Isi Komentar: