8 Okt 2009

Enrekang Potensi Besar Kerajinan Tanah Liat


Kpmmjogja (9/10). Tulisan ini saya buat, saat berjalan-jalan mengitari desa SumberSari, Moyudan, Sleman Yogyakarta beberapa hari yang lalu. Saya terkesimak melihat pengrajin yang memanfaatkan sumber daya alamnya secara maksimal. Kondisi seperti ini mengigatkan saya pada kampung halaman yang tentunya mempunyai pontensi yang sampai sekarang belum terjamah.

Satu kata untuk menjawab kekaguman saya, "Orang Jawa memang kreatif." Bahkan, Setelah gempa melanda Jogja beberapa tahun silam, kreatifitas mereka tidak lantas redup, malah makin menjadi-jadi karena berbanding lurus dengan pesanan yang semakin meningkat. Hal ini bisa dimaklumi, orang-orang di sini lebih banyak menggunakan atap genteng ketimbang seng.

Genteng yang mereka buat dinamakan sokka. Sokka ini dilihat dari kualitasnya dibagi menjadi 2 jenis. Jenis pertama dihaluskan sebanyak 3 kali sedangkan jenis 2 hanya dihaluskan sebanyak 2 kali. Kualitas satu lebih halus dan tahan terhadap lumut karena air hujan langsung mengalir pada genteng ini. Sedangkan kualitas dua, lebih cepat berlumut karena permukaannya kasar dan berpori-pori.


Kembali ke Daerah Enrekang, Dilihat dari potensi yang ada, Enrekang tidak kalah dengan daerah yang saya sebutkan di atas. Enrekang memiliki beribu-ribu hektar lahan yang belum dikelola secara maksimal. Salah satu daerah tersebut adalah daerah Maiwa. Di daerah ini terdapat lahan siap garap yang jenis tanahnya cocok untuk kerajinan. Kerajian yang dihasilkan bisa bermacam-macam, seperti gerabah, genteng, list, sampai pada mug dan keramik.

Di samping itu, masyarakat masih banyak yang menganggur sedangkan lapangan kerja yang disediakan pemerintah sangat terbatas. Maka tidak mengherankan, banyak pemuda-pemuda angkatan kerja yang naas menjadi tukang ojek atau buruh harian ketika musim panen padi tiba.

Kita semua memiliki tugas untuk mengatasi pengangguran dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Masyarakat setidaknya harus dibekali keterampilan agar mampu mengolah tanah liat menjadi kerajinan yang bernilai jual tinggi. Pembekalan harus dilakukan oleh pemerintah dengan mendatangkan tim ahli dibidangnya. Setelah masyarakat memiliki keterampilan, pemerintah kemudian memberikan modal usaha. Modal usaha diberikan sebagai modal awal dan dikembalikan pada jangka waktu tertentu tanpa bunga. Dengan demikian, masyarakat dapat mandiri dan mampu mengolah setiap sumber daya alam yang dimilikinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: