2 Okt 2009

2 OKTOBER 2009 - HARI BATIK SEDUNIA ; Lanjutkan Tradisi dengan Sentuhan Kreatif

02/10/2009 08:29:46 Setelah seni budaya kita dirongrong bangsa lain, kini Indonesia boleh berbangga karena United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) mengakui eksistensi batik Indonesia sebagai warisan pusaka dunia. Peningkatan peringatan Hari Batik Nasional menjadi Hari Batik Sedunia pada 2 Oktober 2009 ini semestinya menjadi momen tepat untuk melanjutkan tradisi dengan sentuhan kreatif.
Batik khas Indonesia pada dasarnya merupakan karya seni tradisional. Menurut Ensiklopedi Indonesia (1980), batik adalah lukisan di atas kain yang diciptakan dengan cara melapisi bagian-bagian yang tidak berwarna dengan lilin (malam). Jika hendak membatik tangan, kain yang akan dilukisi itu dipasang pada rak. Cara membatiknya adalah dengan memakai canting (alat pencedok lilin yang sudah dipanaskan dengan api). Kain yang telah dilapisi lilin itu dicelup ke dalam zat pewarna sesuai yang dikehendaki. Lalu lilin dihilangkan dengan penggodokan atau dengan zat pelarut benzena. Proses itu diulangi untuk setiap warna yang akan digunakan.


Batik merupakan seni kerajinan khas Indonesia. Cara pemberian warna dalam proses pembatikan ini sudah dikenal sejak abad ke-8. Kerajinan batik telah lama berkembang di Pekalongan, Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Tegal, Ponorogo, Banyumas, dan juga Madura. Karena itu tidak fair jika negara tetangga kita mengklaimnya sebagai karya budaya asli mereka.
Sebagai seni lukis tradisional, batik Indonesia mempunyai rujukan-rujukan, pakem-pakem, material-material, dan visualisasi-visualisasi tertentu. Motif-motif batik Surakarta dan Yogyakarta misalnya, sudah mempunyai pola-pola khas yang khusus. Apalagi terkait dengan kebudayaan Jawa yang penuh simbol-simbol sarat makna.
Dinamika Batik
Sebagai karya seni dan bahan fesyen, batik berkembang mengikuti kemajuan zaman. Dari segi teknik pembuatan, di samping ada batik tangan ada pula batik cap. Dari segi motif gambar, juga berkembang terus. Menurut catatan kurator Inda C Noerhadi, perkembangan motif-motif batik di Indonesia dipengaruhi oleh budaya Cina, Hindu, dan Islam. Pada masa perjuangan kemerdekaan, pesan-pesan nasionalisme juga diungkapkan lewat batik. Dulu, Presiden Soekarno menjadikan batik sebagai busana nasional (kain panjang batik dengan kebaya pendek dari bahan renda, viole kembang, atau bahan tipis lainnya). Presiden Soekarno juga mendorong inovasi-inovasi batik lainnya.
Menurut Noerhadi, di Indonesia telah muncul banyak inovator seni batik. Bintang Sudibyo adalah seorang perancang kain batik yang berhasil menciptakan variasi baru pola-pola motif batik Vorstenlanden (kerajaan-kerajaan Jawa). Idenya terilhami dari relief candi-candi Hindu di Jawa. Sementara itu Harjono Gotik Swan (KRT Harjonagoro) memadukan gaya Vorstenlanden dengan gaya pesisir utara. Adapun Iwan Tirta terus mengembangkan variasi-variasi batik gaya kraton Cirebon.
Usaha untuk melanjutkan tradisi perbatikan di Indonesia sebenarnya cukup gencar dilakukan. Pada 1974 misalnya, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menyosialisasikan kemeja batik lengan panjang sebagai busana resmi. Pakaian resmi PNS yang dipakai pada era Orde Baru (baju Korpri) juga bernuansa batik. Sekarang, setelah batik dicoba diambil alih oleh bangsa lain, semestinya kita semakin gencar untuk mempopulerkannya di negeri sendiri.
Sekarang, tanpa sentuhan kreatif, batik tentunya sulit memenangi persaingan trend fesyen global. Majalah mode internasional seperti Elle dan Vogue yang diterbitkan dalam berbagai bahasa terus-menerus mempromosikan gaya busana internasional. Sementara anak-anak muda di seluruh dunia senantiasa tergiring mengikuti mode dunia yang paling mutakhir. Menurut catatan Naisbitt (1990), Cina yang semula sangat tertutup pun sudah dilanda trend mode dunia. Kini banyak wanita muda mengenakan spagheti-strap sundress, celana panjang, stoking, jeans, dan rok mini nan seksi.
Namun berbarengan dengan globalisasi mode, seluruh dunia sekarang meminati keunikan-keunikan fesyen. Buktinya sekarang butik dan distro produk fesyen “indi” merebak bak jamur di musim penghujan. Masyarakat tidak lagi suka dengan produk-produk yang umum di pasaran. Orang ingin menjadi unik dengan pakaian unik yang tidak mudah ditemui di pasaran. Ini merupakan peluang besar bagi seni fasyen batik, apalagi batik tulis dengan motif-motif unik yang jelas tidak bisa ditemukan duplikatnya. Kecuali itu, Naisbitt (1990) melihat adanya trend kebangkitan seni (renaisans seni) global pada era 2000-an. Karya-karya seni unik kini sangat laku dan diminati. Ketika seni batik dikembangkan dengan sentuhan kreatif, bukan hanya akan lestari tetapi bisa menjadi trend dunia. q - c. (1214-2009).
*) Livy Laurens SS MA, Praktisi Seni, Mahasiswa Pascasarjana
Program Studi Seni Pertunjukan UGM Yogyakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: