22 Sep 2009

Susahnya menulis, kenapa?

Menjadi penulis sungguh sangat mulia. Dengan menulis, kita telah menyebarkan ilmu, manfaat kepada orang lain. Manfaat yang kita tulis akan dibaca oleh banyak orang, baik yang sekarang ini maupun yang akan datang. Tulisan kita juga akan dikenang oleh anak cucu kita. Alangkah bangganya cucu kita ketika mereka membaca buku, lantas yang dibacanya adalah karangan kakeknya. Wah…senangnya bukan main.
Belum lagi kalau kita berbicara royalti, baik royalti dunia maupun akhirat. Buku yang kita terbitkan akan dihargai oleh penerbit, apalagi kalau dicetak berulang-ulang kali. Tentu ini akan menjadi pasif income bagi kita. Harta kita bertambah tanpa harus mengeluarkan biaya sepersenpun. Mungkin prinsipnya seperti MLM, tapi ini bukan MLM, dimana kita tidak perlu bekerja untuk mendapatkan keuntungan, tapi yang bekerja adalah bawahan atau down atau relasi kita.
Bagi kita yang menyakini akan adanya hari akhir, maka dengan adanya tulisan kita akan mendapatkan amal jariyah, amal yang akan menyelematkan kita dari asap hari akhir. Amal yang akan bertambah pundi-pundinya walau kita telah meninggal dunia. Karena yang kita tulis telah bermanfaat bagi orang secara kontinu dan berkesinambungan.


Untuk menjadi penulis yang baik, sebaiknya menjadi membaca yang kritis dulu. Tidak usah terburu nafsu apalagi bermimpi di siang bolong menjadi seperti penulis Andrea Hirata atau Abdurrahman el Shirashy. Mungkin, semua penulis yang ngetop sepakat bahwa awal kita menjadi penulis adalah dengan banyak membaca. Dengan membaca kita memasukkan pundi-pundi pengetahuan. Pengetahuan tentang bagaimana cara menyampaikan ide, gagasan melalui tulisan, bagaimana alur ceritanya, bagaimana menyampaikan pesan moralnya dan sebagainya. Lantas, bagaimana menjadi pembaca yang kritis? Pembaca yang krtisi adalah pembaca yang mengetahui tujuan dari suatu tulisan. Misalnya opini, pembaca yang kritis mengetahui alur penulisannya. Pembaca yang kritis mengetahui bahwa opini itu awalnya berasal dari sebuah masalah social yang penting dan genting, kemudian ada analisisnya. Analisisnya bisa dari berbagai sudut pandang. Kemudian ada solusi yang ditawarkan. Sama halnya dengan novel, pembaca kritis mengetahui bahwa novel itu ada penokohan dan masing-masing tokoh mempunyai sifat dan karakter yang harus dipertahankan sampai ending cerita. Begitpun dengan ragam tulisan lainnya, baik yang non-fiksi maupun yang fiksi.
Setelah menjadi pembaca yang krtisi, tidak serta merta kita sudah menjadi penulis tanpa adanya hasil karya. Sedangkan adanya hasil karya pun belum tentu dikatakan penulis kalau karyanya belum diterbitkan. Olehnya itu, lakukanlah 5 langkah yang membawa orang jadi penulis. Apa lima langkah itu? Pertama adalah latihan. Latihan menulis, tulislah idemu sebanyak-banyaknya, jangan hiraukan kosa kata, tanda baca, titi koma, petik dan lain-lainnya. Biarkan tulisanmu amburadul yang penting kita masih bisa mengerti apa yang kita tulis. Kalau ada yang mencerca, cuek saja dan katakan dalam hati, saya mendingan ketimbang kamu, saya sudah bias menulis. Kamu mana?
Langkah Kedua, latihan. Lho… latihan lagi! Iya, langkah berikutnya latihan lagi. Ketika kamu sudah bisa menulis dengan banyak maka tahap selanjutnya adalah latihan menulis yang baik. Logikanya sederhana, ibarat kita belajar naik sepeda, awalnya kita latihan bagaimana caranya naik sepeda, kalau sudah naik sepeda dan kadang nabrak sana sini. Langkah selanjutnya adalah naik sepeda yang baik. Kitannya dengan latihan menulis yang baik, kita harus senantiasa mempertimbangkan sasaran yang hendak kita tuju, maksudnya segmentasi dari tulisan itu ke siapa. Apakah untuk mahasiswa, anak-anak, dewasa, ataukah segala umur boleh.
Langkah ketiga, latihan. Ah… bercanda nih, kok latihan lagi! Iya, tapi latihan ini beda dari latihan sebelumnya. Setelah kita membuat tulisan yang baik, maka kita harus latihan lagi karena belum tentu baik menurut kita baik juga menurut orang lain. Bisa saja terbalik. Nah, latihan kali ini adalah memahami tren yang sendang ada di pasaran. Buku apa yang sedang popular dan seterusnya.
Latihan keempat, latihan. Mudah-mudahan anda tidak bosan dengan latihan. Olehnya itu, langkah empat adalah latihan untuk terus melatih diri menjadi yang lebih baik. Jangan puas hanya dengan tulisan yang pernah anda buat. Teruslah menulis karena gagasan itu tidak pernah habis. Ilmu itu sangat luas dan butuh banyak ruang untuk menyampaikannya.
Latihan ke lima, latihan. Latihlah diri anda untuk menerima segalanya dengan penuh wara’, penuh rendah diri. Jangan menganggap diri kita lebih baik dari orang lain. Jangan menganggap rendah orang lain. Ingat, apa yang kita tahu belum tentu tidak ada yang tahu selain kita. Tapi, apa yang kita tidak ketahui mungkin saja ada yang tahu.
Terakhir, tulisan ini ditujukan untuk pecinta amal, pencintai ilmu, pecinta yang mencintai tulisan. Terutama diri penulis sendiri yang sedang dimabuk ingin menjadi penulis beken.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: