23 Sep 2009

Susahnya Belajar, kenapa?

Susahnya belajar, kenapa? Mungkin judulnya tidak ada korelasinya dengan ibadah yang baru saja kita laksanakan. Dan mungkin Anda menganggap tulisan ini tidak ada manfaatnya. Haet…!, pikiran ini pernah merasut dalam benak siapa pun, termasuk penulis. Namun, setelah membaca buku salah seorang penulis ngetop, ternyata presepsi itu salah total, alias seseorang itu harus berpikiran bahwa apa yang ditulis seseorang itu ada manfaat yang terkandung di dalamnya. Tentunya kata manfaat dalam tanda kutip, karena ada juga tulisan yang sama sekali tidak bermanfaat. Sama dengan ilmu, ada ilmu yang tidak bermanfaat dan kita selaku umat Islam dilarang keras mempelajarinya, Ilmu apa itu? Ilmu yang membawa orang sengsara, ilmu santet, ilmu padoti, ilmu kekebalan, ilmu kesesatan dan sejenisnya. Tapi jangan salah dulu, nanti di akhir–akhirnya juga mengaitkan dengan ibadah yang paling lama dilaksanakan. Ibadah yang dilaksanakan selama 30 hari. Ibadah ini dikatakan ibadah yang butuh kesabaran dalam melaksanakannya, karena hanya kita dan Allahlah yang tahu.
Lantas, apa hubungannya puasa dengan belajar? Sebelum kita membahasnya, ini ada sedikit berita dari benua sebelah. Katanya, di benua sana yang puasa bukan saja umat Muslim tapi non muslim juga ikut-ikutan. Alasan mereka tentunya beda dengan kita, kalau kita melaksanakannya dengan keyakinan atau kepercayaan tapi kalau mereka bisa jadi hanya karena pengetahuan.

Perbuatan yang dilaksanakan berdasarkan keyakinan biasanya disebut sebagai ibadah. Puasa jika dilaksanakan dengan keyakinan maka dapat dikategorikan sebagai ibadah kepada Allah SWT. Sebagian dari kita memahami bahwa ibadah itu ada tata caranya. Makanya, ibadah itu harus dilaksanakan sesuai dengan tata cara atau aturan tersebut, jika menyalahi aturan – dikurangi atau dilebih-lebihkan – kalau dikurangi maka ibadah menjadi tidak sah. Sedangkan kalau dilebih-lebihkan maka ibadah tersebut dikatakan mengadung unsur bid’ah. Tapi, ibadah di sini adalah ibadah yang bersifat khusus, yaitu ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah dan telah ditetapkan aturannya dalam Al Qur’an dan dijelaskan dalam As Sunnah, misalnya puasa dan Sholat.
Untuk menguji ibadah puasa kita sudah diterima apa tidak, caranya gampang saja. Tinggal merenung sebentar, mengingat dan menghayati sembari bertanya dalam hati, “Apakah saya sudah lebih baik ketimbang tahun kemarin?” Nah, itu saja, kalau ternyata belum tahu. Bertanya lagi, “Apakah saya sudah menjauhi perbuatan yang sia-sia?” Perbuatan sia-sia yang tidak mendatangkan manfaat bagi diri saya dan orang lain. Perbuatan yang lebih banyak celakanya daripada manfaatnya. Mungkin salah satu contohnya adalah facebook-an. Tapi, ini hanya pendapat pribadi dan pengalaman pribadi penulis. Dengan facebook-an kita sering membuang-buang banyak waktu sekedar membaca dan menanggapi curhatan orang lain. Padahal, mungkin itu tidak bermanfaat buat kita. Bukan saja perbuatan sia-sia yang harus dijauhi, tapi termasuk pula perbuatan berlebih-lebihan alias banyak makan saat lebaran tiba. Kalau banyak makan, jangan-jangan kita hanya beribadah berdasarkan keyakinan tanpa adanya pengetahuan.
Orang yang melaksanakan ibadah dengan hanya berdasarkan pengetahuan berbeda dengan orang yang melaksanakannya karena keyakinan. Seperti yang dilakukan oleh non muslim tadi, mereka melaksanakan ibadah hanya karena berdasar pada pengetahuan. Katanya, mereka berpuasa itu karena dapat meningkatkan produktifitas dalam bekeja. Ketika puasa, mereka tidak memikirkan lagi untuk makan siang, untuk kelaur kantor mencari makan, mempersiapkan makan, mencuci tangan, dan sebagainya. Dari sini kita bisa melihat bahwa mereka melaksanakan puasa itu hanya karena pengetahuan. Pengetahuan bahwa puasa dapat meningkatkan produktifitas dalam bekerja bukan karena keyakinan.
Review Puasa Kita
Seperti yang kita lihat di masjid-masjid ketika bulan puasa hampir berakhir, safnya sudah agak maju, lebih-lebih kalau sudah minggu ketiga. Ibu jamaahnya sudah beralih ke mal-mal atau ke pusat perbelanjaan mempersiapkan kue lebaran. Bapak-bapak yang telah khatam Al Qur’an tidak lagi membaca Al Qur’an. Anak-anak tidak lagi ke masjid, tapi lari ke lapangan menenteng mercon atau membawa petasan. Padahal, minggu terakhir bulan puasa adalah saat-saat istimewa, yang seharusnya dimafaaatkan untuk berdiam diri, memperbanyak ibadah. Pertanyaannya, Ada apa dengan ini, adakah salah presepsi tentang ibadah itu sendiri?
Hendaknya, ibadah itu tidak hanya dijadikan sebagai ritual, kalau dijadikan sebagai ritual semata maka ibadah kita hanya dilandasi dengan keyakinan tanpa adanya unsur pengetahuan di dalamnya. Sehingga, implikasi dari ibadah itu hanya semata-mata menggugurkan kewajiban. Karena merasa kewajiban gugur, setelah tiba hari lebaran, maka tiba hari kemenangan menyantap hidangan, menyatap ketupat, menyantap kue dan jenisnya. Kesan yang timbul kemudian adalah sikap membalas dendam. Sikap membalas dendam atau berlebih-lebihan sangat menyalahi ilmu pengetahuan. Dimana ilmu pengetahuan memberikan kita isyarat untuk memenuhi kebutuhan diri sesuai dengan porsinya.
Begitupun ketika malaksanakan ibadah hanya didasarkan pada pada pengetahuan semata, maka ibadah itu hanya dijadikan sebagai pemenuhan kebutuhan dunia – mengejar dunia semata. Orang yang melaksanakan ibadah hanya didasarkan pada pengetahuan akan menjadi orang yang sia-sia. Ibadah tanpa adanya keyakinan ibarat orang yang berjalan tanpa penglihatan. Tidak ada yang dia dapatkan kecuali lapar dan dahaga.
Olehnya itu, idealnya seseorang melaksanakan ibadah berdasarkan pada keyakinan dan pengetahuan. Keyakinan dan pegetahuan harus berjalan sinergi, tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an “…dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang yang berilmu.” (al-Ankabuut:43). Dan di ayat yang lain Allah SWT berfirman : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (an-Mujaadilah:11). Sehingga, seseorang melakukan ibadah tidak hanya untuk mendapatkan surga di hari akhirat karena adanya keyakinan. Tapi, juga memperoleh kebahagian berupa kesehatan jiwa dan rohani di dunia ini karena adanya pengetahuan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: