18 Sep 2009

Sang Pejuang Islam : Shalahuddin Al Ayyubi (Bagian 1)

Uraian ini berisi kisah seorang tokoh yang penting dan mempunyai pengaruh. Ia juga mempunyai bobot yang besar dalam sejarah dunia, juga dalam kehidupan kaum muslimin. Kisah tentang seorang yang membangkitkan semangat generasi-generasi sebelum kita. Ia menjadi panutan bagi orang lain sekaligus pemimpin bagi pasukan kaum muslimin. Keutamaan serta kebaikan akhlaknya diakui oleh musuh maupun teman. Ia hidup untuk membela Islam dan memerangi musuh-musuh Islam. Ia mencegah ketamakan dan tipu daya pasukan musuh yang menyerangnya. Ia adalah pahlawan Islam.
Kita harus mengenang kehidupan orang-orang besar Islam. Salah satu orang besar dalam sejarah Islam itu adalah pejuang yang ikhlas dan pemimpin yang membawa kemenangan. Seseorang yang telah berhasil membebaskan Baitul Maqdis dan mengalahkan pasukan Salib. Ia adalah pahlawan Shalahuddin Al Ayyubi.


Kehidupan beliau menjadi teladan perilaku Islam yang sesungguhnya. Hubungannya dengan Allah sangatlah kuat, ia tidak pernah meminta pertolongan kecuali kepada Allah karena ia menyakini dengan sungguh-sungguh firman-firman Allah SWT. Sebagai berikut yang artinya “…Dan kami selalu berkewajiban menoong orang-orang yang beriman.” (ar-Ruum:47) surat yang lain, “…dan kemenganganmu itu hanyalah dari Allah…(Al Imran:126). “Idan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar…” (Al-Anfaal:17)
Kelahiran dan Pertumbuhannya
Di Utara Irak ada sebuah benteng, yaitu benteng Tekrit yang dipimpin oleh Najmuddin, Ayah Shalahuddin Al Ayyubi, benteng itu begitu aman. Najmuddin sendiri adalah seorang pemimpin yang mencintai rakyatnya. Mereka pun merasa bahagia dengan kondisi saat itu.
Al kisah, pada suatu pagi yang penuh berkah, pada tahun 532 H atau 1137 M lahirlah anak Najmuddin yang diberi nama Abul Muzhaffar Yusuf bin Najmuddin bin Ayyub bin Syaadi. Ia kemudian dikenal dengan nama Shalahuddin al Ayyubi. “Sebenarnya, nama asli dari Shalahuddin al Ayyubi adalah Abul Muzhaffar Yusuf, sedangkan bin Najmuddin adalah nama ayahnya, bin Ayyub adalah nama kakeknya, dan bin Syaadi adalah nama buyutnya. Nama yang panjang dan menyertakan keturunan memiliki makna dan manfaat tersendiri. Manfaatnya dapat menyegah seseorang melakukan hal-hal yang memalukan. Karena jika melakukannya maka bukan saja membuat malu dirinya sendiri tapi juga keturunannya. Hal ini dapat menjadi pelajaran bagi orang tua yang hendak memberi nama anaknya. Anak hendaknya diberi nama yang baik dan menyertakan nama ayah dan kakeknya.(perangkum).”
Namun, kondisi yang tentram yang dirasakan Najmuddin dan rakyatnya tidak berlansung lama. Dengan tiba-tiba datang keputusan dari penguasa di Baghdad untuk memberhentikan Najmuddin dari jabatannya sebagai penguasa benteng Tekrit. Setelah dipecat, Najmuddin pun membulatkan tekad untuk pergi ke tempat sahabatnya yang bernama Najumuddin Zenki di Musol. Berangkatlah keluarga Najmuddin bersama dengan saudaranya, Asaduddin. Mereka menempuh perjalanan yang panjang. Setelah beberapa hari, sampailah rombongan itu di Musol. Penguasa Musol yang baik hati yang juga teman dekat Najmuddin menyambut mereka dengan hangat dan bersahabat.
Waktu pun berlalu dengan cepat hingga Shalahuddin beranjak dewasa. Dalam pertumbuhannya menjadi pemuda yang dewasa, dia sering mendengar cerita-cerita sejarah dan keagungan masa lalu dari ayahnya. Dengan cerita-cerita itu terciptalah kecintaan untuk berjuang dalam hati Shalahuddin. Hal itu juga memupuk semangat patriotism dalam dadanya. “Cerita-ceita seperti itu sangat bermanfaat untuk masa tumbuh kembang otak anak-anak, tapi mana kala yang didengar anak-anak adalah cerita yang tidak bermanfaat, maka anak pun cenderung melakukan yang tidak bermanfaat.”
Semangat patriotisme dalam diri Shalahuddin semakin menggelora karena ia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Apalagi ia mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang pembesar, pamannya seorang pemimpin pasukan, dan teman ayahnya adalah seorang penguasa. Maka benarlah apa yang dikatakan orang cerdas, jika kamu bersama dengan tukang jual minyak wangi, maka rasa harum akan menyertaimu. Tapi, mana kala engkau bersama dengan tukang pandai besi, maka engkau akan merasakan panasnya.
Pendidikan yang Baik
Shalahuddin dididik dengan baik dalam keluarga yang dihormati. Dampaknya, ia dapat menghafal Al Qur’an pada usianya yang kesepuluh. Ia rajin hadir di majelis ilmu, fiqih, hadits, dan tafsir. Karena itulah ia dicintai oleh guru-gurunya. Pada dirinya tampak kecerdasan dan kejeniusan. Selain itu, ayah dan pamannya juga mengajarkannya ilmu kesatriaan, berenang, bela diri dan seni perang.
Ketika Imanuddin dapat menguasai kota Ba’labak dengan utuh pada tahun 543 H atau 1139 M, ia menyerahkan kota itu kepada Najmuddin. Najmuddin pun diangkat sebaga gubernur kota itu. Selama itu Shalahuddin hidup di samping ayahnya. Ia belajar seni-seni memerintah dan ahlak yang mulia. (Diringkas dari buku Shalahuddin Al-Ayyubi karya Muhammad Ash-Shayim. Gema Insani : 2006)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: