20 Sep 2009

Lebaran: Saatnya Mengikat Burasa

Lebaran kali ini menjadi yang ketiga buat penulis di kota pendidikan Yogyakarta. Kota Yogyakarta ditempuh selama lebih kurang 6 jam dengan menggunakan travel atau setengah jam dengan naik pesawat dari Surabaya. Kalau dari Makassar ke Surabaya bisa ditempuh selama 1 jam dengan pesawat atau 24 jam dengan kapal laut.
Kota Yogyakarta menjadi tempat tumbuhnya beberapa perguruan tinggi favorite di Indonesia. Seperti, UGM, UNY, UAJY, ISI, UAD dan lainnya. Dari segi jumlahnya, mencapai lebih kurang 50 perguruan tinggi swasta dan beberapa perguruan tinggi negeri.


Sebagian besar penduduk kota Yogyakarta boleh dikatakan pendatang. Dan sebagian besar pendatang tersebut adalah mahasiswa. Asal dari mahasiswa pun beragam, hampir seluruh daerah mengirimkan perwakilannya, termasuk ribuan mahasiswa asal Sulawesi Selatan. Mahasiswa asal Sulawesi Selatan sebagian besar di tampung di asrama-asrama. Di Yogyakarta ini ada sekitar 20 asrama mahasiswa yang disediakan baik oleh pemerintah propinsi maupun kabupaten/kota Sulawesi selatan. Untuk asrama propinsi ada 5 yang terletak di jantung kota Yogyakarta. Kelima asrama tersebut memiliki nama yang unik, nama yang menggambarkan daerah asalnya. Seperti, asrama Bawakaraeng, Latimojong, Merapi, Sawerigading dan Anging Mamiri. Sedangkan untuk asrama kabupaten/kota salah satunya adalah asrama kabupaten Enrekang yang diberi nama asrama Massenrempulu.
Warga asrama massenrempulu sebagian tidak mudik. Termasuk saya, yang harus bersabar menunda nikmatnya merayakan kemenangan bersama keluarga karena harus menggarap Tugas Akhir dalam tempo dekat ini.
Seperti biasanya, kami yang tidak mudik memiliki kebiasaan. Kebiasaannya membuat burasa atau buras. Mungkin ini dianggap tabuh oleh masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa kebanyakan membuat ketupat. Walaupun dari segi fungsinya sama, yaitu sama-sama mengenyangkan ketika disantap bersama sepupu dekatnya – lontong - , namun dari segi rasa tentu jauh beda. burasa rasanya lebih cepat larut dalam tenggorokan karena mengandung santan dan aroma khas daun pisang. Hal ini dimungkinkan karena bahannya terdiri dari beras, santan kelapa, dan dibungkus dengan daun pisang. Sedangkan ketupat,bahannya hanya beras yang kemudian dimasukkan ke dalam sulaman daun kelapa.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: