17 Sep 2009

Bantahan untuk Mencari Benang Merah dari Persolaan Asrama KPMM Jogjakarta.

Di dalam pesan yang kemarin, pesan yang mempermasalahkan tentang asrama, ada tulisan yang mengarah ke kami, “Bagaimana Pemda mau bantuin”. Yang perlu digaris bawahi adalah kata mau bantuin. Sebenarnya, Siapa yang minta bantuan dan apa sebenarnya fungsi pemda dan apa hak dari rakyat? Marilah kita melihat duduk permasalahannya. Permasalahannya ada pada presfektif tentang bantuan, kemudian fungsi pemda dan hak rakyat.

Masalah bantuan, seseorang yang meminta bantuan tentu beda dengan menuntut hak. Dalam kaitannya dengan pengajuan proposal perbaikan asrama KPMM Jogjakarta, jika dilihat secara mendalam kami tidak minta bantuan tapi menuntut hak. Hak selaku warga Negara untuk mendapat penghidupan dan pendidikan yang layak. Bukankah fungsi dari pemerintah adalah melayani rakyat, kemudian menciptakan rasa aman, tentram atau kata populernya kesejahteraan rakyat. Kalau rakyat (kami) tidak merasa tentram tinggal di tempat ini, bukankah itu hak kami untuk menuntut hak!.
Uang yang datangnya dari rakyat dan dikelola oleh pemerintah memang sering dianggap sebagai bantuan, ketika disalurkan kepada rakyat. Padahal sejatinya, pemberian itu bukan bantuan tapi hak rakyat. Bukankah rakyat yang menggaji pemerintah dengan adanya pajak, retribusi dan lain-lain. Inilah sebenarnya yang harus ditanamkan sehingga pemerintah mengetahui fungsinya sebagai pelayan masyarakat bukan dilayani.
Lain lagi ceritanya ketika kita berbicara masalah penyalahgunaan kekuasaan, penyalahgunaan yang diterapkan dalam bentuk meminta bantuan gaya orang berdasi. Menurut penceramah yang kemarin kami dengar, peminta-minta itu ada dua, yang pertama yang sering kita lihat di jalanan yang sesungguhnya benar-benar miskin dilihat dari presfektif ekonomi. Yang kedua, orang peminta-minta yang berdasi, yang biasanya duduk manis di kursi yang empuk, yang ketika ada proyek dia meminta jatah berapa persen untuk pribadinya. Ini kan yang dinamakan mengemis alias meminta bantuan. Inilah yang saya amati ketika bersama dengan para kontraktor. Lantas bagaimana pekerjaan proyek bisa berjalan dengan baik kalau yang dikeluarkan untuk “ini” dan “itu” lebih besar ketimbang anggaran untuk alokasi pekerjaan.
Kemudian, ada lagi yang mengatakan bahwa mahasiswa harus kreatif. Seakan-akan kalimat ini semakna dengan ucapan “orang miskin itu karena malas” atau “orang bodoh itu karena tidak belajar”. Ya… memang kita sepakat dengan kata ini. Tapi, kalau kita merujuk pada referensi yang ada, maka kemiskinan itu bisa disebabkan oleh banyak faktor, bukan hanya karena malas. (faktor-faktor lainnya tidak usah saya bahas di sini, biarlah menjadi bahan TA saya nantinya). Kaitannya dengan hal di atas, maka perbaikan asrama sebenarnya bukan hanya karena kurangnya kreativitas kami, tapi ada faktor-faktor penghambat lainnya. Nah, faktor penghambat inilah yang berusaha kami integrasikan sehingga dapat mencapai jalan solusi. Tentunya, solusinya ada ditangan PEMDA.
Di lain pesan, ada yang menulis bahwa “Demikian juga tempat tinggal sendiri tidak perlu minta bantuan pemda”, seakan-akan ucapan ini semakna dengan kata bahwa urusan asrama adalah urusan orang yang ada di dalamnya, jadi perbaikannya ditanggung oleh orang yang menghuninya karena cukuplah pemeritnah menyediakan fasilitas. Betul, dan mungkin semua orang sepakat bahwa ketika naik mobil, maka terserah pengemudinya mau jalan di mana, apakah mau melewati jalan yang rusak atau jalan yang jelek. Kan pemerintah sudah menyediakan jalan!. Tapi masalahnya, semua jalan itu sudah jelek, tidak ada lagi yang layak untuk dilalui. Lantas siapa yang bertanggung jawab? Apakah pengemudi ataukah penumpang yang harus membawa linggis, cangkul, skop untuk membenahi jalan itu? Tentu bukan. Begitupun dengan pemeliharaannya, seharusnya pemerintahlah yang mempunyai wewenang untuk memperbaikinya. Sungguh naïf melihat ini semua. Mahasiswa yang seharusnya menuntut ilmu harus dibebani biaya rehabilitasi asrama.
Sekali lagi Pak, saya di sini berkoar-koar, berteriak-teriak supaya asrama segera diperbaiki tidak lain dan tidak bukan adalah untuk masa depan. Masa depan adik-adik kami yang akan melanjutkan kuliah di Jogjakarta ini. Bisa dibayangkan kalau misalnya asrama ini tidak ada, tentu kami tidak bisa saling mengenal dan berkumpul dalam rangka silaturrahim, berdiskusi, dan membicarakan apa yang harus kita sumbangkan untuk Enrekang. Walau kami sadari, belum banyak yang bisa kami lakukan untuk Enrekang, tapi setidaknya kami telah membawa nama Enrekang, bahwa di Jogjakarta ada warga Enrekang, ada mahasiswa Enrekang. Bukankah itu suatu kebanggaan? Saya mengatakan kebanggaan karena tidak semua orang berpikiran jauh, berpikir bahwa ilmu itu harus dituntut walau di seberang pulau. Jadi, kami selaku yang dipercaya sebagai panitia perbaikan asrama, berpikir objektif dan bukan subjektif.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: