29 Sep 2009

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck - HAMKA

Sinopsis
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Desa Batipuh, di Minangkabau terbayang-bayang di matanya setiap masa. Setelah sekian lama, Zainudin memasang niat untuk melihat kampung halaman arwah ayahnya, Pendekar Sutan, telah menikam bapak saudaranya, Datuk Mantari Labih yang selalu menghalangnya daripada mendapat harta warisan keluarganya. Akibat tindakannya yang menurut hati yang muda, Pendekar Sutan dibuang negeri dari Ranah Minang, tanah tumpah darahnya. Pendekar Sutan dibuang negeri dan terdampat di Mengkasar. Di sana, Pendekar Sutan dijadikan anak menantu seorang mubaligh Islam. Daripada isterinya yang bernama Daeng Habibah, Zainudin lahir di sana.

Kerana berhasrat benar untuk pulang ke kampung halaman arwah ayahnya, Zainudin menyampaikan hasratnya itu kepada Mak Base, orang tua angkatnya di Mengkasar. Sejak kematian kedua-dua orang tuanya, Zainudin diasuh dan dibela oleh Mak Base sampai dia bujang teruna.


Di Padang Panjang, Zainudin jatuh hati kepada seorang anak gadis yang bernama Hayati. Hukuman yang ditimpakan arwah ayahnya amat berat dirasai Zainudin. Kerana itulah, maka hubungan kasih kedua-dua Zainudin dan Hayati terpaksa diputuskan. Dianggap sebagai orang asing, kepulangan Zainudin di Ranah Minang tidak dterima sebagai anak negeri. Dia lalu pergi menetap di Kota Padang Panjang. Sura-surat Batipuh dan Padang Panjang antar kedua-dua anak muda itu melambangkan kesetiaan cinta mereka berdua.

Sewaktu berada di Padang Panjang, Hayati menginap di rumah sahabatnya, Khadijah. Aziz, abang Khadijah tertarik dengan Hayati. Maka cinta Zainudin mendapat saingan. Kemiskinan Zainudin pada mulanya menjadi penghalang bagi Hayati untuk meneruskan cintanya dengan Zainudin. Dengan mendengar hasutan Khadijah, Zainudin dibuangnya jauh daripada rasa kasihnya. Zainudin pada masa yang sama, menerima harta dan kekayaan dari Mengkasar setelah ibu angkatnya, Mak Base meninggal dunia. Namun dalam surat lamarannya kepada Hayati, Zainudin tidak mengungkitkan hal dia sudah menjadi kaya-raya itu. Namun, Aziz lebih dahulu melamar Hayati. Lamaran Aziz diterima kerana dia dikatakan orang berkedudukan jika dibandingkan dengan Zainudin yang bukan anak Ranah Minang lagi miskin.

Penolakan lamarannya membuat Zainudin hanya berputih mata pada saat itu. Muluk, anak wanita tuan rumah tempat dia menginap di Padang Panjang itu menjadi sahabat karib Zainudin. Muluk menjadi orang kepercayaannya. Hayati juga etrpaksa menurut apa-apa sahaja kehendak orang tuanya dan cintanya kepada Hamid dikuburkan dengan segera.

Zainudin yang jatuh melarat kerana menanggung hati setelah Hayati yang dia kasihi sudah menikah dengan Aziz, dinasihati Muluk agar melupakan masa lalunya dan membina kehidupan yang baru. Dengan usul Muluk, Zainudin berpindah ke Jakarta. Zainudin memulakan pekerjaan baru dengan menjadi seorang penulis yang berjaya dan akhirnya dia dan Muluk berpindah ke Surabaya. Kemahsyuran Zainudin juga kerana dia seorang hartawan yang dermawan.

Kehidupan pasangan Aziz dan Hayati melarat hingga mereka berpindah ke Surabaya. Aziz yang bertabiat buruk sejak watu bujangnya tidak dapat mengawal rumah tangga dan akhirnya mereka berdua hidup miskin. Akhirnya, mereka terpaksa menumpang di rumah Zainudin. Kedua-duanya berasa malu atas hidup menumpang di rumah lelaki hartawan yang baik hati itu. Aziz hidup menganggur hingga saat itu.

Aziz tanpa pengetahuan sesiapa meninggalkan Hayati di rumah Zainudin lalu peri ke Banyuwangi. Dia mengutuskan dua pucuk surat memohon maaf dan meminta agar Zainudin mahu menerima Hayati semula. Pesanan-pesanan dalam surat itu disusuli dengan kematian Aziz yang meragut sendiri nyawanya.

Namun Zainudin enggan menerima Hayati apa lagi mendapat tahu bahawa Aziz telah membunuh diri. Keputusan Zainudin itu adalah kerana dendamnya kepada Hayati selama ini. Hayati lalu merajuk dan berangkat pulang ke Sumatera dengan menaiki kapal Van Der Wijck.

Zainudin mula sedar kesilapannya setlah Hayati meninggalkan rumahnya. Dia sedar bahawa dia masih mengasihi Hayati. Zainudin lalu mahu meyusul Hayati setelah membaca surat peninggalan Hayati yang amat menyentuh hati kasihnya. Namun, tersebar sebuah berita bahawa “Kapal Van Der Wijck Tenggelam” dalam sebuah akhbar di Surabaya. Dari Tuban, Zainudin dengan diiringi Muluk bertemu dengan Hayati yang sedang dirawat di sebuah hospital di Lamongan. Namun, pertemuan itu adalah pertemuan kali bagi kedua-dua pasangan kekasih itu. Setelah dapat berbual beberapa ketika, Hayati menghembuskan nafasnya yang terakhir di dalam dakapan Zainudin.

Pemergian Hayati dituruti Zainudin tidak lama kemudian. Muluk menguburkan jenazah Zainudin di sisi pusara Hayati.


Gamelan Malaysia Mirip Milik Indonesia



VIVAnews - Pemerintah Malaysia mulai mematenkan berbagai warisan kebangsaan dari mulai makanan, kesenian, hingga kebudayaan. Selain sudah mematenkan ketupat dan nasi tumpeng, Malaysia juga sudah mendaftarkan Wayang Kulit dan Gamelan.

Berdasarkan penelusuran VIVAnews di situs resmi pemerintah Malaysia warisan.gov.my, warisan kebangsaan Malaysia yang sudah dimasukkan dalam Statistik Daftar Warisan dan Warisan Kebangsaan terbagi menjadi tiga kategori.


Namun demikian, Gamelan yang dipatenkan milik Malaysia itu, memiliki kemiripan dengan gamelan yang berasal dari Jawa. Alat-alatnya terdiri dari Gong Agong, Gong Sawokan, Gendang Ibu, Gendang Anak, Saron.

Gamelan Malaysia bila dilihat dari sejarahnya, kali pertama diperkenalkan di Pahang, saat pemerintahan Sultan Ahmad Muaddzam Shah. Permaisurinya, Fatimah dan istri kedua Sultan, Che Bedah ikut berperan menyebarkan gamelan.

Sekitar tahun 1913, gamelan menyebar ke Terengganu,dibawa oleh putri Sultan Pahang, Mariam yang menikah dengan Sultan Terengganu saat itu, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah.

Sultan Sulaiman bahkan menciptakan berbagai lagu dan tarian, termasuk lambang sari, geliung, ketam renjong, togok, gagak seteru, lancang kuning dan sebagainya.

Berikut daftar kesenian dan budaya Malaysia yang didaftarkan pada 23 Februari 2009:

1. Boria

2. Tarian Zapin

3. Gamelan

4. Tarian Bhangra - Kaum Sikh

5. Tarian Bharata Natyam - Kaum India

6. Gendang Dua Puluh Empat Perayaan (Gendang Cina)

7. Dikir Barat

8. Pantun Melayu

9. Syair

11. Tulisan Jawi

12. Wau Malaysia

13. Congkak

14. Gasing

15. Wayang Kulit, didaftarkan pada 26 Februari 2009




27 Sep 2009

MUI Solo Gelar Tabligh Akbar Islam Bukan Teroris

Solo (Arrahmah.com) - MUI kota Surakarta menggelar Tabligh Akbar bertema Umat Islam Memberitahu Dunia bahwa Terorisme Bukan Islam, Jumat, 25 Desember di Lapangan Kota Barat Solo. Ribuan umat Islam Solo dan sekitarnya dari berbagai elemen dan ormas Islam menghadiri tablihg akbar ini di tengah terik matahari yang menyengat.

Sejumlah tokoh umat Islam Surakarta seperti Ketum MUI Solo, Prof. Zainal Arifin Adnan, Ketum MTA Ustadz Ahmad Sukino,tokoh masyarakat Mudrick Sangidoe, Direktur Ponpes Al Mukmin Ustadz Wahyudin dan tokoh umat Islam lain tampak hadir.

Demikian pula nampak hadir para pejabat dari kalangan pemerintahan Walikota Solo Joko Widodo, Kapolwil dan dan kapoltabes Surakarta.

Dalam sambutannya, Ketum MUI Solo Prof. Zainal Arifin Adnan menegaskan bahwa kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi pada masyarakat Indonesia dan dunia bahwa Islam bukanlah identik dengan terorisme. Sehingga pengindentikan madrasah, pesantren dan berbagai atribut keislaman lainnya dengan terorisme adalah salah besar. MUI kota Solo menghendaki agar kepolisian bertindak profesional dalam upaya penanganan masalah tindak terorisme.

Dalam orasi pertama yang disampaikan Mudrik M. Sangidu, isu terorisme seperti ini menjadi bahan adu domba terhadapa umat Islam. Masyarakat harus menilai secara benar makna terorisme tersebut. Jika terorisme identik dengan kekerasan, maka Israel dan Amerika yang melakukan penjajahan terhadap berbagai negara di dunia ini hakekatnya juga merupakan teroris.

Demikian pula melihat dampak yang terjadi hampir sama dengan tindak terorisme, maka para koruptor dari kalangan birokrat yang tidak amanah tersebut sama dengan tindakan teroris karena mengakibatkan kelaparan bagi rakyat.

Sementara itu dalam orasi yang kedua yang disampaikan Ustadz Wahyudin menyampaikan bahwa salah satu sebab adanya terorisme adalah keidakadilan. Islam adalah agama yang menjunjung prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan. Beliau menegaskan bahwa kepolisian hendaknya bertindak profesional dalam menangani kasus terorisme ini dan menggunakan prinsip keadilan.

Dalam orasi yang terakhir yang disampaikan Ketum MTA (Majelis Tafsir Al Quran) Ustadz Ahmad Sukino kembali menyampaikan bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin, sehingga menuntut penganutnya untuk selalu berbuat kebaikan dan berdakwah rahmatan lilalamin dengan makna yang sesungguhnya. [muslimdaily.net]



Terungkap, Komputer Rahasia Microsoft

JAKARTA (Arrahmah.com) - Detail super komputer sangat rahasia muncul di internet, lengkap dengan gambar bahkan video yang menunjukkan cara kerjanya. Komputer tablet itu bukan dikembangkan oleh Apple, tapi datang dari pesaingnya Microsoft.

Komputer itu semestinya sangat dirahasiakan sehingga banyak perusahaan yang tidak mengetahuinya. Perangkat yang diberi nama Courier itu muncul di berita utama situs Gizmodo.com dengan judul "First Details of Microsoft's Secret Tablet” (Detail Pertama Tablet Rahasia Microsoft)."



Tapi Microsoft tidak mengkonfirmasi maupun menyangkal keberadaan perangkat itu. “Kami tidak mengomentari produk yang belum dirilis,” kata jubir Microsoft, Doug Free.

Ia bahkan tidak mengatakan apakah benar Microsoft sedang mengerjakan tablet, tipikal komputer yang menggunakan jari dan atau stylus untuk memasukan informasi langsung di layar. ”Selalu ada produk baru yang sedang dikerjakan,” kata Free.

Banyak yang percaya, tablet yang ditampilkan oleh Gizmodo itu benar. "Jika itu tipuan, mereka harus membuatnya menjadi nyata," kata analis Allan Krans dari Technology Business Research.

"Kelihatannya seperti persilangan antara Kindle, iPhone dan tablet," tambahnya. Courier berbentuk tipis dan cara membuka layarnya yang berukuran tujuh inci seperti notebook.

Video berdurasi dua menit yang ditampilkan Gizmodo dimulai dengan menampilkan desainer furnitur sedang membuka buku alamat di sebelah kiri layar tablet, sementara peta ditampilkan di sisi kanannya. Dengan jarinya (dalam bentuk animasi) ia kemudian mengubah buku alamat menjadi agenda rapat dan peta yang langsung menunjukan lokasinya.

Kemudian ia mengorganisir contoh dan materi lainnya untuk rapat dan dengan stylus ia menulis catatan tentang apa yang ditemukannya. Semuanya dilakukan dengan jari atau stylus tanpa menggunakan keyboard.

Pengenalan tulisan tangan tidak ditampilkan dalam video. Akan tetapi Windows 7, sistem operasi baru Microsoft yang akan dijual bulan depan dilaporkan memiliki fitur pengenalan tulisan tangan.

Beberapa komputer tablet telah dipasarkan beberapa tahun terakhir, tapi tidak ada yang cukup memuaskan pengguna. Krans mengatakan ukuran tablet terlalu besar. "Tidak ada teknologi yang dapat membuat tipis atau portable seperti yang diperlukan," katanya.

Apple juga menyembunyikan rahasia komputer tabletnya. Rumor yang beredar, perangkat tersebut akan debut di bulan Februari. Namun beberapa minggu yang lalu ada rumor yang mengatakan bahwa perangkat tersebut akan diluncurkan bulan ini. (inlh/arrahmah.com)



Semua Kecamatan di Enrekang Dapat Ambulans

Enrekang, Tribun - Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung, Senin (7/9), menyerahkan masing-masing satu unit ambulans untuk 12 kecamatan di daerah itu. Ambulans diserahkan melalui camat masing-masing.

Penyerahan dilakukan setelah upacara bendera. Bantuan ambulans ini merupakan bagian dari program kesehatan gratis yang diperuntukkan bagi puskesmas pembantu (pustu) di tiap kecamatan.
Staf Humas Pemkab Enrekang, Eka Febrianzah, dalam rilisnya, kemarin, menyebutkan, ambulans tersebut terdiri atas dua jenis, yaitu dua unit Mazda 4X4 dan 10 unit Toyota Hilux.
"Setelah penyerahan, dilanjutkan dengan rapat teknis dengan instansi terkait dan kembali diusulkan penambahan kendaraan operasional pelayanan kesehatan masyarakat sebanyak tiga unit tahun depan," ujarnya.
Selain itu, biaya operasional untuk 12 ambulans tersebut, juga akan dianggarkan pada APBD tahun 2010 mendatang.
"Pak Bupati mengatakan, sementara ini semua biaya operasional ambulans tersebut ditanggung oleh Yayasan Halal Centre," tambah Eka.
Yayasan Halal Center adalah yayasan pribadi milik La Tinro yang dikelola pihak kerabatnya.
Operasional ambulan tersebut nantinya seperti mengantar pasien dari pustu ke puskesmas atau rumah sakit. (rip)






23 Sep 2009

Susahnya Belajar, kenapa?

Susahnya belajar, kenapa? Mungkin judulnya tidak ada korelasinya dengan ibadah yang baru saja kita laksanakan. Dan mungkin Anda menganggap tulisan ini tidak ada manfaatnya. Haet…!, pikiran ini pernah merasut dalam benak siapa pun, termasuk penulis. Namun, setelah membaca buku salah seorang penulis ngetop, ternyata presepsi itu salah total, alias seseorang itu harus berpikiran bahwa apa yang ditulis seseorang itu ada manfaat yang terkandung di dalamnya. Tentunya kata manfaat dalam tanda kutip, karena ada juga tulisan yang sama sekali tidak bermanfaat. Sama dengan ilmu, ada ilmu yang tidak bermanfaat dan kita selaku umat Islam dilarang keras mempelajarinya, Ilmu apa itu? Ilmu yang membawa orang sengsara, ilmu santet, ilmu padoti, ilmu kekebalan, ilmu kesesatan dan sejenisnya. Tapi jangan salah dulu, nanti di akhir–akhirnya juga mengaitkan dengan ibadah yang paling lama dilaksanakan. Ibadah yang dilaksanakan selama 30 hari. Ibadah ini dikatakan ibadah yang butuh kesabaran dalam melaksanakannya, karena hanya kita dan Allahlah yang tahu.
Lantas, apa hubungannya puasa dengan belajar? Sebelum kita membahasnya, ini ada sedikit berita dari benua sebelah. Katanya, di benua sana yang puasa bukan saja umat Muslim tapi non muslim juga ikut-ikutan. Alasan mereka tentunya beda dengan kita, kalau kita melaksanakannya dengan keyakinan atau kepercayaan tapi kalau mereka bisa jadi hanya karena pengetahuan.

Perbuatan yang dilaksanakan berdasarkan keyakinan biasanya disebut sebagai ibadah. Puasa jika dilaksanakan dengan keyakinan maka dapat dikategorikan sebagai ibadah kepada Allah SWT. Sebagian dari kita memahami bahwa ibadah itu ada tata caranya. Makanya, ibadah itu harus dilaksanakan sesuai dengan tata cara atau aturan tersebut, jika menyalahi aturan – dikurangi atau dilebih-lebihkan – kalau dikurangi maka ibadah menjadi tidak sah. Sedangkan kalau dilebih-lebihkan maka ibadah tersebut dikatakan mengadung unsur bid’ah. Tapi, ibadah di sini adalah ibadah yang bersifat khusus, yaitu ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah dan telah ditetapkan aturannya dalam Al Qur’an dan dijelaskan dalam As Sunnah, misalnya puasa dan Sholat.
Untuk menguji ibadah puasa kita sudah diterima apa tidak, caranya gampang saja. Tinggal merenung sebentar, mengingat dan menghayati sembari bertanya dalam hati, “Apakah saya sudah lebih baik ketimbang tahun kemarin?” Nah, itu saja, kalau ternyata belum tahu. Bertanya lagi, “Apakah saya sudah menjauhi perbuatan yang sia-sia?” Perbuatan sia-sia yang tidak mendatangkan manfaat bagi diri saya dan orang lain. Perbuatan yang lebih banyak celakanya daripada manfaatnya. Mungkin salah satu contohnya adalah facebook-an. Tapi, ini hanya pendapat pribadi dan pengalaman pribadi penulis. Dengan facebook-an kita sering membuang-buang banyak waktu sekedar membaca dan menanggapi curhatan orang lain. Padahal, mungkin itu tidak bermanfaat buat kita. Bukan saja perbuatan sia-sia yang harus dijauhi, tapi termasuk pula perbuatan berlebih-lebihan alias banyak makan saat lebaran tiba. Kalau banyak makan, jangan-jangan kita hanya beribadah berdasarkan keyakinan tanpa adanya pengetahuan.
Orang yang melaksanakan ibadah dengan hanya berdasarkan pengetahuan berbeda dengan orang yang melaksanakannya karena keyakinan. Seperti yang dilakukan oleh non muslim tadi, mereka melaksanakan ibadah hanya karena berdasar pada pengetahuan. Katanya, mereka berpuasa itu karena dapat meningkatkan produktifitas dalam bekeja. Ketika puasa, mereka tidak memikirkan lagi untuk makan siang, untuk kelaur kantor mencari makan, mempersiapkan makan, mencuci tangan, dan sebagainya. Dari sini kita bisa melihat bahwa mereka melaksanakan puasa itu hanya karena pengetahuan. Pengetahuan bahwa puasa dapat meningkatkan produktifitas dalam bekerja bukan karena keyakinan.
Review Puasa Kita
Seperti yang kita lihat di masjid-masjid ketika bulan puasa hampir berakhir, safnya sudah agak maju, lebih-lebih kalau sudah minggu ketiga. Ibu jamaahnya sudah beralih ke mal-mal atau ke pusat perbelanjaan mempersiapkan kue lebaran. Bapak-bapak yang telah khatam Al Qur’an tidak lagi membaca Al Qur’an. Anak-anak tidak lagi ke masjid, tapi lari ke lapangan menenteng mercon atau membawa petasan. Padahal, minggu terakhir bulan puasa adalah saat-saat istimewa, yang seharusnya dimafaaatkan untuk berdiam diri, memperbanyak ibadah. Pertanyaannya, Ada apa dengan ini, adakah salah presepsi tentang ibadah itu sendiri?
Hendaknya, ibadah itu tidak hanya dijadikan sebagai ritual, kalau dijadikan sebagai ritual semata maka ibadah kita hanya dilandasi dengan keyakinan tanpa adanya unsur pengetahuan di dalamnya. Sehingga, implikasi dari ibadah itu hanya semata-mata menggugurkan kewajiban. Karena merasa kewajiban gugur, setelah tiba hari lebaran, maka tiba hari kemenangan menyantap hidangan, menyatap ketupat, menyantap kue dan jenisnya. Kesan yang timbul kemudian adalah sikap membalas dendam. Sikap membalas dendam atau berlebih-lebihan sangat menyalahi ilmu pengetahuan. Dimana ilmu pengetahuan memberikan kita isyarat untuk memenuhi kebutuhan diri sesuai dengan porsinya.
Begitupun ketika malaksanakan ibadah hanya didasarkan pada pada pengetahuan semata, maka ibadah itu hanya dijadikan sebagai pemenuhan kebutuhan dunia – mengejar dunia semata. Orang yang melaksanakan ibadah hanya didasarkan pada pengetahuan akan menjadi orang yang sia-sia. Ibadah tanpa adanya keyakinan ibarat orang yang berjalan tanpa penglihatan. Tidak ada yang dia dapatkan kecuali lapar dan dahaga.
Olehnya itu, idealnya seseorang melaksanakan ibadah berdasarkan pada keyakinan dan pengetahuan. Keyakinan dan pegetahuan harus berjalan sinergi, tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an “…dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang yang berilmu.” (al-Ankabuut:43). Dan di ayat yang lain Allah SWT berfirman : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (an-Mujaadilah:11). Sehingga, seseorang melakukan ibadah tidak hanya untuk mendapatkan surga di hari akhirat karena adanya keyakinan. Tapi, juga memperoleh kebahagian berupa kesehatan jiwa dan rohani di dunia ini karena adanya pengetahuan.



22 Sep 2009

Susahnya menulis, kenapa?

Menjadi penulis sungguh sangat mulia. Dengan menulis, kita telah menyebarkan ilmu, manfaat kepada orang lain. Manfaat yang kita tulis akan dibaca oleh banyak orang, baik yang sekarang ini maupun yang akan datang. Tulisan kita juga akan dikenang oleh anak cucu kita. Alangkah bangganya cucu kita ketika mereka membaca buku, lantas yang dibacanya adalah karangan kakeknya. Wah…senangnya bukan main.
Belum lagi kalau kita berbicara royalti, baik royalti dunia maupun akhirat. Buku yang kita terbitkan akan dihargai oleh penerbit, apalagi kalau dicetak berulang-ulang kali. Tentu ini akan menjadi pasif income bagi kita. Harta kita bertambah tanpa harus mengeluarkan biaya sepersenpun. Mungkin prinsipnya seperti MLM, tapi ini bukan MLM, dimana kita tidak perlu bekerja untuk mendapatkan keuntungan, tapi yang bekerja adalah bawahan atau down atau relasi kita.
Bagi kita yang menyakini akan adanya hari akhir, maka dengan adanya tulisan kita akan mendapatkan amal jariyah, amal yang akan menyelematkan kita dari asap hari akhir. Amal yang akan bertambah pundi-pundinya walau kita telah meninggal dunia. Karena yang kita tulis telah bermanfaat bagi orang secara kontinu dan berkesinambungan.


Untuk menjadi penulis yang baik, sebaiknya menjadi membaca yang kritis dulu. Tidak usah terburu nafsu apalagi bermimpi di siang bolong menjadi seperti penulis Andrea Hirata atau Abdurrahman el Shirashy. Mungkin, semua penulis yang ngetop sepakat bahwa awal kita menjadi penulis adalah dengan banyak membaca. Dengan membaca kita memasukkan pundi-pundi pengetahuan. Pengetahuan tentang bagaimana cara menyampaikan ide, gagasan melalui tulisan, bagaimana alur ceritanya, bagaimana menyampaikan pesan moralnya dan sebagainya. Lantas, bagaimana menjadi pembaca yang kritis? Pembaca yang krtisi adalah pembaca yang mengetahui tujuan dari suatu tulisan. Misalnya opini, pembaca yang kritis mengetahui alur penulisannya. Pembaca yang kritis mengetahui bahwa opini itu awalnya berasal dari sebuah masalah social yang penting dan genting, kemudian ada analisisnya. Analisisnya bisa dari berbagai sudut pandang. Kemudian ada solusi yang ditawarkan. Sama halnya dengan novel, pembaca kritis mengetahui bahwa novel itu ada penokohan dan masing-masing tokoh mempunyai sifat dan karakter yang harus dipertahankan sampai ending cerita. Begitpun dengan ragam tulisan lainnya, baik yang non-fiksi maupun yang fiksi.
Setelah menjadi pembaca yang krtisi, tidak serta merta kita sudah menjadi penulis tanpa adanya hasil karya. Sedangkan adanya hasil karya pun belum tentu dikatakan penulis kalau karyanya belum diterbitkan. Olehnya itu, lakukanlah 5 langkah yang membawa orang jadi penulis. Apa lima langkah itu? Pertama adalah latihan. Latihan menulis, tulislah idemu sebanyak-banyaknya, jangan hiraukan kosa kata, tanda baca, titi koma, petik dan lain-lainnya. Biarkan tulisanmu amburadul yang penting kita masih bisa mengerti apa yang kita tulis. Kalau ada yang mencerca, cuek saja dan katakan dalam hati, saya mendingan ketimbang kamu, saya sudah bias menulis. Kamu mana?
Langkah Kedua, latihan. Lho… latihan lagi! Iya, langkah berikutnya latihan lagi. Ketika kamu sudah bisa menulis dengan banyak maka tahap selanjutnya adalah latihan menulis yang baik. Logikanya sederhana, ibarat kita belajar naik sepeda, awalnya kita latihan bagaimana caranya naik sepeda, kalau sudah naik sepeda dan kadang nabrak sana sini. Langkah selanjutnya adalah naik sepeda yang baik. Kitannya dengan latihan menulis yang baik, kita harus senantiasa mempertimbangkan sasaran yang hendak kita tuju, maksudnya segmentasi dari tulisan itu ke siapa. Apakah untuk mahasiswa, anak-anak, dewasa, ataukah segala umur boleh.
Langkah ketiga, latihan. Ah… bercanda nih, kok latihan lagi! Iya, tapi latihan ini beda dari latihan sebelumnya. Setelah kita membuat tulisan yang baik, maka kita harus latihan lagi karena belum tentu baik menurut kita baik juga menurut orang lain. Bisa saja terbalik. Nah, latihan kali ini adalah memahami tren yang sendang ada di pasaran. Buku apa yang sedang popular dan seterusnya.
Latihan keempat, latihan. Mudah-mudahan anda tidak bosan dengan latihan. Olehnya itu, langkah empat adalah latihan untuk terus melatih diri menjadi yang lebih baik. Jangan puas hanya dengan tulisan yang pernah anda buat. Teruslah menulis karena gagasan itu tidak pernah habis. Ilmu itu sangat luas dan butuh banyak ruang untuk menyampaikannya.
Latihan ke lima, latihan. Latihlah diri anda untuk menerima segalanya dengan penuh wara’, penuh rendah diri. Jangan menganggap diri kita lebih baik dari orang lain. Jangan menganggap rendah orang lain. Ingat, apa yang kita tahu belum tentu tidak ada yang tahu selain kita. Tapi, apa yang kita tidak ketahui mungkin saja ada yang tahu.
Terakhir, tulisan ini ditujukan untuk pecinta amal, pencintai ilmu, pecinta yang mencintai tulisan. Terutama diri penulis sendiri yang sedang dimabuk ingin menjadi penulis beken.




20 Sep 2009

Lebaran: Saatnya Mengikat Burasa

Lebaran kali ini menjadi yang ketiga buat penulis di kota pendidikan Yogyakarta. Kota Yogyakarta ditempuh selama lebih kurang 6 jam dengan menggunakan travel atau setengah jam dengan naik pesawat dari Surabaya. Kalau dari Makassar ke Surabaya bisa ditempuh selama 1 jam dengan pesawat atau 24 jam dengan kapal laut.
Kota Yogyakarta menjadi tempat tumbuhnya beberapa perguruan tinggi favorite di Indonesia. Seperti, UGM, UNY, UAJY, ISI, UAD dan lainnya. Dari segi jumlahnya, mencapai lebih kurang 50 perguruan tinggi swasta dan beberapa perguruan tinggi negeri.


Sebagian besar penduduk kota Yogyakarta boleh dikatakan pendatang. Dan sebagian besar pendatang tersebut adalah mahasiswa. Asal dari mahasiswa pun beragam, hampir seluruh daerah mengirimkan perwakilannya, termasuk ribuan mahasiswa asal Sulawesi Selatan. Mahasiswa asal Sulawesi Selatan sebagian besar di tampung di asrama-asrama. Di Yogyakarta ini ada sekitar 20 asrama mahasiswa yang disediakan baik oleh pemerintah propinsi maupun kabupaten/kota Sulawesi selatan. Untuk asrama propinsi ada 5 yang terletak di jantung kota Yogyakarta. Kelima asrama tersebut memiliki nama yang unik, nama yang menggambarkan daerah asalnya. Seperti, asrama Bawakaraeng, Latimojong, Merapi, Sawerigading dan Anging Mamiri. Sedangkan untuk asrama kabupaten/kota salah satunya adalah asrama kabupaten Enrekang yang diberi nama asrama Massenrempulu.
Warga asrama massenrempulu sebagian tidak mudik. Termasuk saya, yang harus bersabar menunda nikmatnya merayakan kemenangan bersama keluarga karena harus menggarap Tugas Akhir dalam tempo dekat ini.
Seperti biasanya, kami yang tidak mudik memiliki kebiasaan. Kebiasaannya membuat burasa atau buras. Mungkin ini dianggap tabuh oleh masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa kebanyakan membuat ketupat. Walaupun dari segi fungsinya sama, yaitu sama-sama mengenyangkan ketika disantap bersama sepupu dekatnya – lontong - , namun dari segi rasa tentu jauh beda. burasa rasanya lebih cepat larut dalam tenggorokan karena mengandung santan dan aroma khas daun pisang. Hal ini dimungkinkan karena bahannya terdiri dari beras, santan kelapa, dan dibungkus dengan daun pisang. Sedangkan ketupat,bahannya hanya beras yang kemudian dimasukkan ke dalam sulaman daun kelapa.




18 Sep 2009

Aku Ingin Seperti Air

Aku ingin seperti air yang mengalir tanpa henti
Yang mengalir tanpa henti mencari tempat yang terendah
Segala yang dilaluinya jadi bahagia
Begitupun dia, bahagia mengalir tanpa balik menoleh
Terus mengalir, mengalir dan mengalir

Ketika dibendung pun dia tetap mencari celah
Celah untuk tetap mengalir menyebarkan manfaat-Nya
Dia tanpa puas walau telah menjadi hunian biota-biota

Ketika dibekukan dia tidak ambil pusing
Dan suatu saat akan mencair sedia kala
Dia pemaaf, ketika marah suatu saat akan redah



Air…air…air tanpamu sesumber kehidupan akan lenyap, semua akan bergelimpangan, pohon-pohon akan tumbang, rontok. Engkau adalah pahlawan. Engkau adalah darma bagi mereka. Berjuanglah wahai airku, wahai diriku, wahai jiwaku.




Sang Pejuang Islam : Shalahuddin Al Ayyubi (Bagian 1)

Uraian ini berisi kisah seorang tokoh yang penting dan mempunyai pengaruh. Ia juga mempunyai bobot yang besar dalam sejarah dunia, juga dalam kehidupan kaum muslimin. Kisah tentang seorang yang membangkitkan semangat generasi-generasi sebelum kita. Ia menjadi panutan bagi orang lain sekaligus pemimpin bagi pasukan kaum muslimin. Keutamaan serta kebaikan akhlaknya diakui oleh musuh maupun teman. Ia hidup untuk membela Islam dan memerangi musuh-musuh Islam. Ia mencegah ketamakan dan tipu daya pasukan musuh yang menyerangnya. Ia adalah pahlawan Islam.
Kita harus mengenang kehidupan orang-orang besar Islam. Salah satu orang besar dalam sejarah Islam itu adalah pejuang yang ikhlas dan pemimpin yang membawa kemenangan. Seseorang yang telah berhasil membebaskan Baitul Maqdis dan mengalahkan pasukan Salib. Ia adalah pahlawan Shalahuddin Al Ayyubi.


Kehidupan beliau menjadi teladan perilaku Islam yang sesungguhnya. Hubungannya dengan Allah sangatlah kuat, ia tidak pernah meminta pertolongan kecuali kepada Allah karena ia menyakini dengan sungguh-sungguh firman-firman Allah SWT. Sebagai berikut yang artinya “…Dan kami selalu berkewajiban menoong orang-orang yang beriman.” (ar-Ruum:47) surat yang lain, “…dan kemenganganmu itu hanyalah dari Allah…(Al Imran:126). “Idan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar…” (Al-Anfaal:17)
Kelahiran dan Pertumbuhannya
Di Utara Irak ada sebuah benteng, yaitu benteng Tekrit yang dipimpin oleh Najmuddin, Ayah Shalahuddin Al Ayyubi, benteng itu begitu aman. Najmuddin sendiri adalah seorang pemimpin yang mencintai rakyatnya. Mereka pun merasa bahagia dengan kondisi saat itu.
Al kisah, pada suatu pagi yang penuh berkah, pada tahun 532 H atau 1137 M lahirlah anak Najmuddin yang diberi nama Abul Muzhaffar Yusuf bin Najmuddin bin Ayyub bin Syaadi. Ia kemudian dikenal dengan nama Shalahuddin al Ayyubi. “Sebenarnya, nama asli dari Shalahuddin al Ayyubi adalah Abul Muzhaffar Yusuf, sedangkan bin Najmuddin adalah nama ayahnya, bin Ayyub adalah nama kakeknya, dan bin Syaadi adalah nama buyutnya. Nama yang panjang dan menyertakan keturunan memiliki makna dan manfaat tersendiri. Manfaatnya dapat menyegah seseorang melakukan hal-hal yang memalukan. Karena jika melakukannya maka bukan saja membuat malu dirinya sendiri tapi juga keturunannya. Hal ini dapat menjadi pelajaran bagi orang tua yang hendak memberi nama anaknya. Anak hendaknya diberi nama yang baik dan menyertakan nama ayah dan kakeknya.(perangkum).”
Namun, kondisi yang tentram yang dirasakan Najmuddin dan rakyatnya tidak berlansung lama. Dengan tiba-tiba datang keputusan dari penguasa di Baghdad untuk memberhentikan Najmuddin dari jabatannya sebagai penguasa benteng Tekrit. Setelah dipecat, Najmuddin pun membulatkan tekad untuk pergi ke tempat sahabatnya yang bernama Najumuddin Zenki di Musol. Berangkatlah keluarga Najmuddin bersama dengan saudaranya, Asaduddin. Mereka menempuh perjalanan yang panjang. Setelah beberapa hari, sampailah rombongan itu di Musol. Penguasa Musol yang baik hati yang juga teman dekat Najmuddin menyambut mereka dengan hangat dan bersahabat.
Waktu pun berlalu dengan cepat hingga Shalahuddin beranjak dewasa. Dalam pertumbuhannya menjadi pemuda yang dewasa, dia sering mendengar cerita-cerita sejarah dan keagungan masa lalu dari ayahnya. Dengan cerita-cerita itu terciptalah kecintaan untuk berjuang dalam hati Shalahuddin. Hal itu juga memupuk semangat patriotism dalam dadanya. “Cerita-ceita seperti itu sangat bermanfaat untuk masa tumbuh kembang otak anak-anak, tapi mana kala yang didengar anak-anak adalah cerita yang tidak bermanfaat, maka anak pun cenderung melakukan yang tidak bermanfaat.”
Semangat patriotisme dalam diri Shalahuddin semakin menggelora karena ia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Apalagi ia mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang pembesar, pamannya seorang pemimpin pasukan, dan teman ayahnya adalah seorang penguasa. Maka benarlah apa yang dikatakan orang cerdas, jika kamu bersama dengan tukang jual minyak wangi, maka rasa harum akan menyertaimu. Tapi, mana kala engkau bersama dengan tukang pandai besi, maka engkau akan merasakan panasnya.
Pendidikan yang Baik
Shalahuddin dididik dengan baik dalam keluarga yang dihormati. Dampaknya, ia dapat menghafal Al Qur’an pada usianya yang kesepuluh. Ia rajin hadir di majelis ilmu, fiqih, hadits, dan tafsir. Karena itulah ia dicintai oleh guru-gurunya. Pada dirinya tampak kecerdasan dan kejeniusan. Selain itu, ayah dan pamannya juga mengajarkannya ilmu kesatriaan, berenang, bela diri dan seni perang.
Ketika Imanuddin dapat menguasai kota Ba’labak dengan utuh pada tahun 543 H atau 1139 M, ia menyerahkan kota itu kepada Najmuddin. Najmuddin pun diangkat sebaga gubernur kota itu. Selama itu Shalahuddin hidup di samping ayahnya. Ia belajar seni-seni memerintah dan ahlak yang mulia. (Diringkas dari buku Shalahuddin Al-Ayyubi karya Muhammad Ash-Shayim. Gema Insani : 2006)




17 Sep 2009

Belajar dari orang pintar

Seseorang mahasiswa hendak bertamu di ruang dosen. Dosen ini adalah seorang yang dikenal pintar, dia lulusan Prancis jurusan matematika terapan. Mahasiswa ini kemudian masuk, tanpa basa-basi berdiri pas depan dosen tadi. Belum sempat mengucapkan satu kata, dosennya langsung berkata “Saya lagi sibuk, kenapa?” belum sempat dijawab mahasiswanya, dosennya lantas menyambung, “besok aja ya…, besok agak sore.” Mahasiswa ini pun keluar tanpa mengeluarkan kata-kata. Terlihat dari mukanya kalau dia sedikit kecewa, kecewa karena dianggap sebagai seseorang yang sedang menganggu.


Seharusnya, sebagai seorang yang pintar, sang dosennya berhenti sejenak, bertanya maksud dan tujuan mahasiswa itu, walau tidak harus dijawab dan ditanggapi saat itu juga. Setidaknya, sang dosen menampakkan perhatiannya kepada mahasiswa itu.
Inilah menjadi hikmah bagi mahasiswa, jangan sekali-kali ke ruang dosen kalau terlihat sedang sibuk. Karakter dosen tentu berbeda-beda, tapi kebanyakan super sibuk, baik sibuk mengurus proyek, mengurus mahasiswa, mengurus keluarga dan lain-lain. Jadi, jadilah mahasiswa yang pengertian, mengerti saat-saat yang tepat untuk menemui dosen yang pintar.



Belajar Dari Sampah

Seseorang teman berkata kepada temannya “tanaman saya banyak ditumbuhi ilalang, jadinya tanamannya tumbuh kerdil dan kelihatan lesu” salah seorang kemudian berkata: “Teman, jangan salahkan ilalang karena gara-gara ilalang yang menurut kita sampah bisa membuat orang kaya raya.” “Ah…kamu ini, saya sedang serius, tahu.” Kata orang yang pertama. “wahai teman, coba perhatikan penjual racun festisida yang ada di pasar, berapa banyak keuntungan yang diperoleh hanya dengan menjual racun yang sering kita beli? Tentu mereka tidak akan menjual lagi kalau tidak ada keuntungan buat mereka. Belum lagi, kalau kita berpikir pabriknya, tentu sang pemilik pabrik bisa meraut banyak untung.”


Kadang kita menganggap sesuatu itu sampah, tapi dari sampah justru membuat orang lain menemukan ide kreatif. Maka tidak heran kalau focus lomba kreativitas adalah masalah pemanfaatan barang bekas atau sampah. Dan kalau kita melihat diri kita, sampah atau kotoran yang ada pada tubuh kita telah memunculkan berbagai macam produk, mulai dari yang paling atas, ada sampoo, pembersih muka, pasta gigi, pembersih telinga, sabun, dan masih banyak lagi.



Bantahan untuk Mencari Benang Merah dari Persolaan Asrama KPMM Jogjakarta.

Di dalam pesan yang kemarin, pesan yang mempermasalahkan tentang asrama, ada tulisan yang mengarah ke kami, “Bagaimana Pemda mau bantuin”. Yang perlu digaris bawahi adalah kata mau bantuin. Sebenarnya, Siapa yang minta bantuan dan apa sebenarnya fungsi pemda dan apa hak dari rakyat? Marilah kita melihat duduk permasalahannya. Permasalahannya ada pada presfektif tentang bantuan, kemudian fungsi pemda dan hak rakyat.

Masalah bantuan, seseorang yang meminta bantuan tentu beda dengan menuntut hak. Dalam kaitannya dengan pengajuan proposal perbaikan asrama KPMM Jogjakarta, jika dilihat secara mendalam kami tidak minta bantuan tapi menuntut hak. Hak selaku warga Negara untuk mendapat penghidupan dan pendidikan yang layak. Bukankah fungsi dari pemerintah adalah melayani rakyat, kemudian menciptakan rasa aman, tentram atau kata populernya kesejahteraan rakyat. Kalau rakyat (kami) tidak merasa tentram tinggal di tempat ini, bukankah itu hak kami untuk menuntut hak!.
Uang yang datangnya dari rakyat dan dikelola oleh pemerintah memang sering dianggap sebagai bantuan, ketika disalurkan kepada rakyat. Padahal sejatinya, pemberian itu bukan bantuan tapi hak rakyat. Bukankah rakyat yang menggaji pemerintah dengan adanya pajak, retribusi dan lain-lain. Inilah sebenarnya yang harus ditanamkan sehingga pemerintah mengetahui fungsinya sebagai pelayan masyarakat bukan dilayani.
Lain lagi ceritanya ketika kita berbicara masalah penyalahgunaan kekuasaan, penyalahgunaan yang diterapkan dalam bentuk meminta bantuan gaya orang berdasi. Menurut penceramah yang kemarin kami dengar, peminta-minta itu ada dua, yang pertama yang sering kita lihat di jalanan yang sesungguhnya benar-benar miskin dilihat dari presfektif ekonomi. Yang kedua, orang peminta-minta yang berdasi, yang biasanya duduk manis di kursi yang empuk, yang ketika ada proyek dia meminta jatah berapa persen untuk pribadinya. Ini kan yang dinamakan mengemis alias meminta bantuan. Inilah yang saya amati ketika bersama dengan para kontraktor. Lantas bagaimana pekerjaan proyek bisa berjalan dengan baik kalau yang dikeluarkan untuk “ini” dan “itu” lebih besar ketimbang anggaran untuk alokasi pekerjaan.
Kemudian, ada lagi yang mengatakan bahwa mahasiswa harus kreatif. Seakan-akan kalimat ini semakna dengan ucapan “orang miskin itu karena malas” atau “orang bodoh itu karena tidak belajar”. Ya… memang kita sepakat dengan kata ini. Tapi, kalau kita merujuk pada referensi yang ada, maka kemiskinan itu bisa disebabkan oleh banyak faktor, bukan hanya karena malas. (faktor-faktor lainnya tidak usah saya bahas di sini, biarlah menjadi bahan TA saya nantinya). Kaitannya dengan hal di atas, maka perbaikan asrama sebenarnya bukan hanya karena kurangnya kreativitas kami, tapi ada faktor-faktor penghambat lainnya. Nah, faktor penghambat inilah yang berusaha kami integrasikan sehingga dapat mencapai jalan solusi. Tentunya, solusinya ada ditangan PEMDA.
Di lain pesan, ada yang menulis bahwa “Demikian juga tempat tinggal sendiri tidak perlu minta bantuan pemda”, seakan-akan ucapan ini semakna dengan kata bahwa urusan asrama adalah urusan orang yang ada di dalamnya, jadi perbaikannya ditanggung oleh orang yang menghuninya karena cukuplah pemeritnah menyediakan fasilitas. Betul, dan mungkin semua orang sepakat bahwa ketika naik mobil, maka terserah pengemudinya mau jalan di mana, apakah mau melewati jalan yang rusak atau jalan yang jelek. Kan pemerintah sudah menyediakan jalan!. Tapi masalahnya, semua jalan itu sudah jelek, tidak ada lagi yang layak untuk dilalui. Lantas siapa yang bertanggung jawab? Apakah pengemudi ataukah penumpang yang harus membawa linggis, cangkul, skop untuk membenahi jalan itu? Tentu bukan. Begitupun dengan pemeliharaannya, seharusnya pemerintahlah yang mempunyai wewenang untuk memperbaikinya. Sungguh naïf melihat ini semua. Mahasiswa yang seharusnya menuntut ilmu harus dibebani biaya rehabilitasi asrama.
Sekali lagi Pak, saya di sini berkoar-koar, berteriak-teriak supaya asrama segera diperbaiki tidak lain dan tidak bukan adalah untuk masa depan. Masa depan adik-adik kami yang akan melanjutkan kuliah di Jogjakarta ini. Bisa dibayangkan kalau misalnya asrama ini tidak ada, tentu kami tidak bisa saling mengenal dan berkumpul dalam rangka silaturrahim, berdiskusi, dan membicarakan apa yang harus kita sumbangkan untuk Enrekang. Walau kami sadari, belum banyak yang bisa kami lakukan untuk Enrekang, tapi setidaknya kami telah membawa nama Enrekang, bahwa di Jogjakarta ada warga Enrekang, ada mahasiswa Enrekang. Bukankah itu suatu kebanggaan? Saya mengatakan kebanggaan karena tidak semua orang berpikiran jauh, berpikir bahwa ilmu itu harus dituntut walau di seberang pulau. Jadi, kami selaku yang dipercaya sebagai panitia perbaikan asrama, berpikir objektif dan bukan subjektif.




16 Sep 2009

Adaikan Hati Sepotong Tahu


Adaikan hati sepotong tahu, tentu tidak akan merasakan apa-apa. Dia tidak akan merasa sedih, dia tidak akan merasa teriris-iris walau sedang dipotong-potong. Dia akan tetap tegar dan sabar menerima segala yang diperlakukan tuannya, dia akan tetap bertahan walau sedang dipanggang dalam tunggu yang menyala-nyala. Ketika dimakan pun dia tetap tidak berkutip, hanya diam membisu. Dia tidak akan merasakan sakitnya dipukul-pukul, dia tidak pernah merasa bagaimana rasanya sakit… sakit apa? Sakit hati…! Hati kadang sedih, kadang senang. Hati kadang benci, kadang suka. Sungguh hati adalah sesuatu yang mudah terbolak-balik. Seperti tahu, kadang basa kadang kering, kadang empuk kadang keras tergantung dari sang tuannya yang mengolah.



Orang Indonesia lebih berhati?


Orang Indonesia lebih berhati?
Dalam pergaulan sehari-hari di Indonesia kita sering mendengar kata hati. Hati-hati, perhatian, hati-hati ya…! Tapi kalau kita mendengar ucapan orang barat, maka yang sering kita dengarkan adalah saya pikir, saya pikir, I think.
Orang Indonesia dalam menghadapi suatu masalah cenderung menggunakan hati ketmbang rasio. Hal ini bias kita lihat dalam perkataannya, misalnya; saya rasa dari rasanya makanan ini menggunakan penyedap rasa. Beda lagi kalau orang barat, saya pikir anda berpikiran seperti seorang pemikir.


Lantas, apa perbedaan orang yang menggunakan hati dengan pikiran dalam menyelesaikan masalah? Orang yang menggunakan hati cenderung cepat, tanggap dan rela mengambil resiko. Tapi kalau menggunakan pikiran, maka cenderung lamban karena harus berpikir resiko, dampak, dan manfaatnya yang bisa muncul dari tindakannya tersebut. Wallauhu’alam
Idealnya, kedua pola antara hati dan pikiran harus berjalan bersama-sama sehingga pimpinan dapat menjalankan tugasnya dengan cepat, tepat dan penuh pertimbangan.



10 Sep 2009

Hati-hati dengan Cookies

Cookies adalah sarana penyimpanan informasi yang dibuat oleh suatu web site untuk menyimpan informasi tentang user yang mengunjungi situs yang bersangkutan. Fasilitas ini dapat mempercepat proses akses dan download. Namun, dapat pula merugikan. Seperti yang saya alami beberapa bulan lalu. Bulan itu FB saya dicrack dan profilnya diganti dengan gambar senonoh. Agar terhindar, pastikan hapus history web browser yang digunakan. Atau restart saja komptuternya.





5 Sep 2009

Hidupku=Hidupmu=Hidup mereka=Hidup Kita

Hiduplah apa adanya karena kita lahir seadanya

camkan dalam hati amalkan sampati mati

Abaikan kebatilan agar tidak terabaikan

Amalkan Kebaikan tuk jadi keabadian

Sucikan hati sebening katun karena kita mati membawa kafan


Hak cipta ...dilindungi Allah SWT, tidak dilarang keras menyebarluaskannya. Bila menyebarluaskannya maka akan dikenakan pahala berlipat. (Maturnyumun=nuhun pisan=kurru sumanga')






Polda Ambil Alih Kasus Dana Bencana

ENREKANG -- Kasus dugaan penyimpangan dalam pengelolaan dana pascabencana alam di Kabupaten Enrekang yang diterima sejak tahun 2006 hingga 2008 dengan total Rp 47,5 miliar, kini ditangani tim tindak pidana korupsi (Tipikor) Polda Sulselbar.

"Penangan kasus diambil alih Polda. Sebelumnya memang ditangani Polres Enrekang," kata Kasat Reskrim Polres Enrekang, AKP Muh Natsir Syafri, Minggu, 30 Agustus. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas Pekerjaan Umum (PU) Enrekang, Abdul Hafid, mengakui sudah pernah dimintai keterangan di Mapolda Sulselbar Makassar. Sebagian besar dana pascabencana ini ditangani Hafid yang menjabat sebagai Kasubdin Pengairan Dinas PU Enrekang.



"Saya sudah dua kali diperiksa di Polres Enrekang dan satu kali di Polda, Selasa (1 September, red) saya dipanggil lagi ke Polda untuk dimintai keterangan," ungkap Hafid sembari menambahkan bahwa penggunaan dana pascabencana tersebut telah diaudit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Hafid menjelaskan, megaproyek untuk dana pascabencana alam antara lain proyek revitalisasi Sungai Mata Allo, Sungai Saddang, dan Sungai Salo Dua. Dari Rp 47,5 miliar dana pascabencana yang diterima Pemkab Enrekang, Rp 19 miliar di antaranya mengalir ke Sungai Saddang.

"Untuk sungai Saddang, pada tahun 2006 dialokasikan sebesar Rp 9 miliar untuk pengerukan dan pemindahan alur sungai. Tahun 2007 dialokasikan lagi sebesar Rp 10 miliar untuk pengecoran atau penembokan sisi alur sungai dan pengerjaannya masih berjalan sampai saat ini," jelasnya.

Sungai Mata Allo yang pengerjaannya sudah rampung, kata Hafid, menelan anggaran Rp 2 miliar yang dialokasikan pada 2006. Sedangkan Salo Dua masing-masing tahap pertama tahun 2008 sebesar Rp 12,5 miliar kemudian tahap kedua 2008 sebesar Rp 4 miliar. "Selebihnya, dana bencana itu digunakan untuk perbaikan jalan yang rusak akibat bencana," ungkapnya. (kas)


La Tinro Mengaku Terpojok, Buntut Terkuaknya Hasil Audit BPK

ENREKANG -- Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung mengaku terpojok akibat terkuaknya di media massa terkait kerugian daerah berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan penggunaan dana pascabencana alam yang kini diusut Polda Sulselbar. La Tinro menegaskan, kasus tersebut berdampak munculnya opini publik yang cenderung memojokkan dia selaku bupati.


Hal itu disampaikan La Tinro saat menggelar konferensi pers di kantornya, Senin, 31 Agustus. Dia menjelaskan, berita soal temuan kerugian daerah sesuai hasil audit BPK yang jumlahnya mencapai Rp 18 miliar itu telah menimbulkan opini publik yang dinilai seolah-olah dana itu telah dikorupsi.

"Padahal yang sebenarnya, temuan tersebut muncul hanya karena persoalan administrasi, termasuk ada denda pihak ketiga dan tagihan pinjaman dana KUKM. Ada pula karena pembayaran gaji honorer yang double (ganda, red). Itu semua yang terakumulasi dalam temuan Rp 18 miliar," kata La Tinro.

Dia mengatakan, sesuai laporan Badan Inspektorat Enrekang, dari akumulasi temuan tersebut, hingga kini sisa Rp 7,7 miliar yang belum terselesaikan. Sebanyak Rp 10 miliar lebih telah diselesaikan dan dikembalikan ke kas daerah.

"Sebagian besar temuan yang sudah ditagih tim tindak lanjut itu seperti denda pihak ketiga, tunggakan dana pinjaman KUKM. Jadi dana itu bukan hilang atau diselewengkan," paparnya. Sementara untuk dana pascabencana alam sebesar Rp 47,5 miliar, La Tinro menegaskan bahwa tidak ada penyimpangan dalam penggunaan dana tersebut. Bahkan, kata dia, masyarakat seharusnya melihat manfaat dari revitalisasi Sungai Saddang, Sungai Mata Allo, dan Sungai Salo Dua.

"Silakan tanya masyarakat yang telah menikmati manfaat proyek revitalisasi itu. Sekadar diketahui, sebagai rasa bersyukur masyaralat di sekitar bantaran Sungai Mata Allo, mereka meminta agar tanggul Sungai Mata Allo diberi nama tanggul La Tinro, tapi itu saya tidak inginkan," tegasnya.

Di tempat yang sama, Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekkab) Enrekang, M Amiruddin, menambahkan bahwa tim tuntutan perbendaharaan dan tuntutan ganti rugi (TPTGR) beserta tim tindak lanjut telah menyurati seluruh unit kerja sesuai hasil temuan BPK. Temuan kerugian daerah tersebut harus dikembalikan paling lambat 14 September. "Kalau tidak, maka akan diserahkan ke kejaksaan," janji Amiruddin. (kas)



1 Sep 2009

Defenisi Hostname

Pemberian nama spesifik untuk satu komputer tertentu saja dalam suatu jaringan. Karena sifatnya yang unik, maka dalam satu jaringan tidak boleh ada 2 atau lebih hostname yang sama. Jika terjadi penamaan yang sama, maka sistem akan memberitahukan bahwa telah terjadi duplikasi nama. Tapi jika komputer tidak saling terkoneksi ke jaringan, memberikan nama komputer yang sama tidak masalah.


Hari ke-11, Ust. Abu Bakar Ba'asyir

Kedatanan Ust. Abu Bakar Ba'asyir membuat jamaah masjid Syuhada membludak. Masjid yang berlantai 2 ini penuh sesak, hampir tidak ada ruang yang tersisa. Bahkan, sebagian jamaah ada yang sholat di tangga naik masjid. Para Jamaah berbondong-bondong ingin menyaksikan secara langsung ceramah yang disampaikan oleh Amir Majelis Mujahidin Indonesia ini. Amir yang pernah ditangkap beberapa tahun lalu karena dianggap sebagai teroris.

Bulan Ramadhan adalah pahalanya lebih besar dari bulan biasa. Olehnya itu, kita usahakan semaksimal mungkin melaksanakan semua amal sesuai dengan kemampuan kita. Kita melaksanakan sholat jamaah di masjid dan melaksanakan sholat sunnah. Sholat sunnah lebih baik dilaksanakan di rumah. Para sahabat sangat gembira ketika datangnya bulan Ramadhan tetapi ketika akan berpisah mereka menangis. Kenapa mereka menangis? Karena mereka merasa kehilangan, kehilangan kesempatan yang sangat luar biasa untuk melaksanakan ibadah. Belum tentu tahun depan diberi kesempatan. Sambutan pimpinan Pondok Ngruki ini.

Allah memberi hikmah kepada semua hambanya yang Dia kehndaki. Ukuran Allah memberi kebaikan kepada hambanya bukan dengan ukuran nikmat di dunia ini. Bukan harta, bukan jabatan, bukan anak. Justru ketika harta dunia itu diberikan kepada orang kafir, maka itu bukan kebaikan.Bukan. Orang kafir diberi harta itu bukan nikmat dari Allah melainkan siksa di dunia.

Kebutuhan pokok kita bukan hanya kebutuhan perut, makan, minum. Tapi kebutuhan pokok bagi kita umat Islam adalah mengerti Islam. Tentunya sesuai dengan kemampuannya masing-masing, tidak semuanya harus jadi kiyai. Dan bencana yang paling besar bagi kita, bukan tsunami, bukan angin topan, tapi bagi umat Islam adalah bodoh, bodoh tidak mengerti pokok-pokok Islam, jadinya amalnya amburadul.


Untuk lengkapnya silahkan download di sini, formatnya .amr, untuk mengkonversinya ke mp3 atau wav, silahkan download conventernya di sini.