25 Agt 2009

MUI Pusat Dukung Fatwa Haram Mengemis

Liputan6.com, Jakarta: Sebuah peringatan bagi para pengemis diembuskan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumenep, Madura, Jawa Timur, mengeluarkan fatwa haram mengemis. Tindakan meminta-minta itu dinilai sebagai hal yang dilarang agama karena dapat merendahkan pribadi seseorang. Fatwa ini pun didukung MUI Pusat. "Tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah. Dalam pengertian, Islam tidak menyenangi orang yang meminta-minta," kata Ketua MUI Pusat, Umar Shihab, di Jakarta, Selasa (25/8).


Pengemis menjamur memasuki Ramadan ini. Pemandangan itu banyak menghiasi perempatan jalan di kota-kota besar, termasuk Jakarta. Sebagian pengemis membawa serta keluarga, terutama bayi di bawah lima tahun. Di beberapa masjid besar seperti di Masjid Istiqlal, Jakarta, pengemis banyak berkeliaran.

Sebelum muncul fatwa MUI, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan larangan mengemis, mengamen, atau mengasong dagangan sejak dua tahun silam. Pada Peraturan Daerah DKI Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum itu bahkan ditegaskan larangan membeli atau memberi kepada pengemis, pengamen, pedagang asongan, dan pengelap mobil. Ancaman hukumannya adalah denda maksimal Rp 2 juta atau kurungan maksimal 60 hari.

Departemen Sosial mempunyai beberapa cara mengatasi masalah ini. "Departemen Sosial mempunyai suatu program untuk membawa mereka ke perumahan, memberikan pendidikan ketrampilan kepada mereka agar mereka tidak mengemis lagi," jelas Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie.

Fatwa haram mengemis diungkapkan Ketua MUI Sumenep, Syafraji, pada 12 Agustus silam. Keputusan ini sudah lama diumumkan tapi banyak yang tak peduli. Mengemis dinilai menghinakan diri sendiri dan merugikan orang lain. Menurut Syafraji, mengemis juga termasuk aktivitas bermalas-malasan yang dilarang Islam. MUI Sumenep sudah menyebarkan fatwa haram mengemis pada jajaran MUI di tiap kecamatan. Nantinya, fatwa itu akan disebar lagi pada tokoh agama dan masyarakat. Simak video berikut.(AIS/LUC)




1 komentar:

  1. Tidak semua pengemis, mengemis karena malas, atau sengaja merendahkan diri, tapi karena keadaan yang memaksa, mereka juga pasti lebih suka hidup enak sama dengan tukang tunjuk itu daripada dijalan mengemis. Orang yang mengatakan haram, seharusnya berusaha membantu mereka, jangan hanya enak berada di atas mimbar dan menunjuk-nunjuk mereka sebagai pemalas dan haram, karena itu juga bukan perbuatan yang terpuji/ tidak sesuai dengan Agama - ingat/ perhatikan!!! Orang Yang menunjuk hanya gunakan 1 jari yang di arahkan pada pengemis/ orang lain, sedangkan 3 jari tangan orang itu yang menunjuk orang itu sendiri, jadi pengemis dimata orang itu berbuat haram/ merendahkan diri, tapi apakah tidak sebaiknya orang yang suka menunjuk itu berpikir sedikit tentang 3 jari yang menunjuk dirinya sendiri?! Jadi jangan mencap orang miskin langsung dengan kata haram/ pemalas, karena apa yang tukang tunjuk lakukan belum tentu mulia di mata Tuhan! Dan akan lebih parah lagi jika bertemu/ yang diceramahi orang-orang yang extrem tanpa gunakan otak dan hanya pikir kan kata "haram" orang extrem tadi pasti akan memperlakukan pengemis sama dengan anjing atau babi, mereka tidak akan pikir lagi bahwa pengemis itu juga manusia sama dengan mereka, karena dibenak mereka hanya ada kata; haram, pasti mereka akan membenci pengemis tanpa pikir panjang - jadi sangat bahaya menggunakan kata; haram! Kenapa tidak gunakan bahasa Indonesia saja (kata; terlarang atau dilarang karena merendahkan diri...), karena kata; haram meski artinya juga sama dengan terlarang, tapi ditelinga orang-orang, sepertinya akan berarti extrem sekali dan berbahaya!

    BalasHapus

Silahkan Isi Komentar: