26 Agt 2009

Hari ke 3, Kick Prof. Pak Amien

Hari ke tiga, saya memutuskan untuk melepas kagen dengan maskam (masjid Kampus) UGM. Masjid yang tanpa alat pendingin, karena pendingin alami. Sepintas, rumah Allah yang satu ini beda dengan kebanyakan, dimana tidak ada dinding untuk membatasi pandangan jamaah dengan dunia luar. Yang ada hanya tiang-tiang yang menjulang tinggi, tingginya sekitar 20 meter. Tiang ini sebagai penyangga bangunan yang berlantai 2 ini.

Jamaahnya membludak, bahkan ada yang di luar, yang di luar menggunakan karpet plastik sebagai alas. Biasanya, kalau jamaahnya membludak, penceramahnya mesti yang top-top. Belum iqamah, jamaah sudah pada berdiri, mungkin beda dengan kabanyakan masjid, dimana jamaahnya baru berdiri setelah iqamaah didegungkan.

Ternyata benar, yang menjadi penceramah adalah seorang guru besar, seorang yang juga politikus ulung, seorang tokoh pergerakan yang tinggalnya di Yogyakarta, beliau adalah Prof. Dr. Amien Rais.

Sejurus kemudian, sang prof naik ke atas mimbar setelah sang protokoler selesai mempersilahkan. Bapaknya membuka dengan santai, mulainya -pelan dan lama kelamaan tendensinya dinaikkan.
“Bangsa ini dikaruniakan kekayaan yang melimpah, tapi kok masih terguyu-guyu sedangkan negara lain sudah maju. Karena kenapa? Karena kita mengamalkan Al Qur'an ala kadarnya, jadi kita diberikan reski ala kadarnya juga.” Kini Bapaknya berbicara politik, walau dia sedikit menjastifikasi bahwa dia telah pensiun dari dunia politik. Dia menyayangkan hasil pilpres beberapa waktu lalu, “Pilpres kali ini tidak dihuni eksponen-eksponen kalangan santri, tidak seperti 4 tahun lalu, saat saya kalah itu”. Sontak jamaah cekikikan. “saat itu, kalangan santri masih banyak, anak Pak Amien, ada Salahuddin Wahid dan ada Hamzah Haz. Sambung Pak Amien. “Saudara-saudara sebenarnya, kemarin itu yang dipasangkan adalah Hatta Rajasa, tapi karena pengaruh dari luar, pihak luar menginginkan kalau tidak mau kalau kalangan santri, maka dipilihlah Budiyono. Pak Budiyono tetangga saya di sana.” Kata bapaknya sambil menunjuk ke arah utara.

Saudara-saudara sekalian,
kemarin saya dari Malaysia dan ketemu dengan salah seorang menteri, seorang datuk yang paling berpengaruh ke tiga di sana. Setelah Perdana menteri dan wakilnya. Pak Amin, kulo sakeng Kulonprogo? Lho kok pakai bahasa Jawa. Ternyata dia adalah Cucu warga dari Wates. “Kalau Indonesia seperti Malaysia, kita sudah nomor wahid di Asia.

Simak ceramah Pak Amin di sini, silahkan didownload! Formatnya amr, kalau formatnya mau diubah, silahkan download converternya di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: