11 Agt 2009

Bupati Enrekang dan Ketua PWI Ditipu Miliaran Rupiah

Makassar, Tribun - Bupati Enrekang Latinro Latunrung dan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan (Sulsel) Zulkifli Gani Ottoh dikabarkan menjadi korban penipuan cek kosong.

Namun baru Zulkifli yang melaporkan kejadian tersebut ke Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Makassar, Senin (29/6).
Pelaku yang dilaporkan adalah Direktur PT Famika Jaya Oichida. Total kerugian yang dilaporkan Zulkifli akibat kejadian ini mencapai Rp 800 juta.
"Cek yang diberikan Direktur Famika untuk pembelian tanah di Jl Perintis Kemerdekaan ternyata kosong," kata mantan Ketua Komisi Umum (KPU) Kota Makassar kepada wartawan, kemarin.


Sementara Lantinro megaku persoalan tersebut diurus oleh stafnya. Menurutnya, kasus tersebut melibatkan perusahaan yang dimilikinya.
Perusahaan Latinro dikabarkan dibayar dengan cek kosong senilai Rp 1,7 miliar. Namun, hingga kemarin Latinro belum melaporkan kasus ini ke polisi.

Kasus ini bermula dari jual beli tanah seluas lima hektare yang berlokasi di Jl Perintis Kemerdekaan. PT Famika selaku developer akan membangun perumahan Taman Goysen Indah di kawasan ini sejak tahun 2008 lalu.
Terdapat sejumlah pemilik lahan di kawasan ini. Zulkifli dengan areal seluas 4.000 meter persegi (m2), Latinro sekitar dua hektare, dan Pengurus Yayasan Makassar Maju bernama Juliadi.
Tanah Yayasan Makassar Maju (Sekolah Tinggi Ekonomi Makassar Maju) seluas sekitar tiga hektare dimiliki banyak pengurus yayasan termasuk Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional (Balitbang) Depdiknas RI Prof Dr Mansyur Ramly.
Tanah milik yayasan maupun pribadi seluas sekitar tiga hektare tersebut ditaksir mencapai Rp 3 miliar lebih. Sebelumnya, PT Famika (perumahan Gosyen Indah) berencana membeli tanah milik pengurus yayasan.
Namun, dalam perjalanannya developer ini belum menepati perjanjian pembayaran sehingga transaksi tersebut telah batal demi hukum.
"Julius yang tercacat sebagai pengurus yayasan juga melepas tanahnya. Namun enggan dibayar memakai cek dan memilih pembayaran kontan," kata sumber Tribun.
Ditimbun
Meski perjanjian jual beli belum tuntas, pengembang sudah melakukan penimbunan. Bahkan, sudah ditawarkan kepada ratusan calon user (konsumen).
"Jadi waktu itu dia (Oichida) hanya memberi tanda jadi kepada kami bertiga selaku pemilik lahan sebesar Rp 500 juta. Lalu tanahnya sudah ditimbun dan dijual ke user. Karena kesibukan dan masih melihat ada itikad baik saya biarkan. Namun lama kelamaan PT Famika mulai memperlihatkan gelagat mencurigakan dan mencoba menghindar," tambah Zulkifli.
Untuk menyelesaiakan pembayaran lahan, dilakukan pertemuan antara Ochida yang bermukim di Jl Veteran Selatan No 154 bersama pemilik lahan dan notaris Muin Marsidi, Rabu (24/6).
Dalam pertemuan ini, Ochida yang juga disebut sebagai pemilik Rumah Makan (RM) Gogohe dan Pemimpin Yayasan Sekolah Kesehatan (STIKES) Famika Gowa tersebut bersepakat membayar pelunasan tanah.
Pengusaha asal Sumatera ini membayar korban termasuk Zulkifli dengan memakai cek Bank CIMB-Niaga Tbk Kantor Cabang Makassar
Cek ini baru bisa dicairkan Jumat (26/6) apabila sertifikat yang dimiliki pemilik lahan sudah balik nama di Badan Pertanahan Negara (BPN).
Betapa kagetnya Zul, ketika ingin mencairkan duit tersebut di muncul surat keterangan penolakan (SKP) dari Bank Niaga. Keterangan penolakan ini langsung ditandatangani Manager PT Bank Niaga Tbk Kantor Cabang Makassar Arny Haerani.
"Tanggal 25 (Juni) ternyata sudah balik nama dan akte tersebut sudah dipegang notaris. Jumat saya pergi ke Bank Niaga ternyata kosong. Saya ditipu. Dia membayar dengan cek tidak ada dananya," jelas Zulkifli.
Secara terpisah Kepala Satuan Rerse dan Kriminal Polwiltabes Makassar AKBP Heri Tri Maryadi saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan, pihaknya akan memperoses kasus tersebut.
"Siapapun yang bersalah akan kami tindak, namun karena laporannya baru saja masuk, kami belum bisa memberi keterangan lebih banyak,"jelas Heri.(axa/mam/cr3)



22 komentar:

  1. bagaimana kelanjutan persoalan tersebut? mohon infonya, sebab sy salah satu user pembeli perumahan gosyen indah, sy sudah DP 70 juta selama 4 tahun tapi sampe sekarang bangunan belum ada yang rampung.

    BalasHapus
  2. mohon infonya ya apakah persoalan tersebut sudah rampung atau belum, krn sy juga sekarang kecewa dengan PT famika yang menjual perumahan di tanah tersebut, sejak 2008 sy DP 70 juta janjinya tahun 2009 rampung, tapi janji tinggal janji setiap sy tanyakan hanya disuruh sabar - dan sabar...... dan sekarang sudah menginjak tahun ke 5janji itu. mohon infonya apa sebenarnya penyebab perumahan itu tidak rampung2, apa karna tanahnya yang belum selesai masalahnya atua karna uangnya famika sudah habis.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Pembagunan taman gosyen perintis kemerdekaan mulai bergairah kembali.

    BalasHapus
  5. saya sangat kecewa dengan pengembang perumahan femika.thn 2010 saya membayar dp rumah blok C,no 06.Rp.87000.000 namun sampai saat ini belum ada kejelasan yang pasti dan saya di th 2012 telah melakukan untuk meminta uang saya kembali namun sampai hari ini belum ada realisasinya dan setiap saya tlpon dengan ALIANTO dan ROY jawaban yang di berikan tunggu dan sabar,kata dan jawaban yang sangat sederhana.ini masalah uang bukan daun kayu jadi tolong para penanggung jawab perumahan tsb segerah mengembalikan uang saya,

    Regards
    Harun

    BalasHapus
  6. pak harun... kayaknya harus didemo saja ini krn ini sudah termasuk kasus penipuan. sy juga sudah 2 tahun minta uang sy kembali tapi sampai saat ini blm ada . marketing lama sudah pada keluar semua, sementara bosnya kl ditelp gak pernah diangkat, sms gak pernah dibalas.

    BalasHapus
  7. Iyah mbak yuli saya setuju...
    demo aja tuh pt famika...
    saya sudah 5 tahun menunggu tapi rumahnya blum jadi2 juga,setidaknya mereka mengembalikan DPnya..

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. Sy jg mba sampai tahun 2014 skrg dana sy blm di kembalikan ayo kita sama saama prg ke kantornya..

    BalasHapus
  11. Sy selalu ke kantornya tp sy heran kenapa tdk ada user lain disana. Cek percek ternyata user yg satu dan yg lainnya tdk pernah di kasi ketemu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya saya setuju kita demo saja karna sy jg di tipu sm PT Famika thn 2008 sy Dp 32jt 500rb.tp sampe skrng tdk ad pembangunan...ayooo demooo secepatnya

      Hapus
  12. mab yul sudah adakah ke putsan dari pihak pengembang?/femika

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo menurut saya pak harun sebaiknya kita lapor sj ke polisi atau pengacara karna ini sudh tdk ada jalan keluarnya..di kantornya jg gak ada info ..apalgi pak ROY yg menangani maslh ini katanya udah berhenti di famika..jd sebaiknya kita rame2 lapor aja sampe DP rumah kita balik..

      Hapus
    2. Sy setuju, ayomi kt tuntut sj karena mgkn kt terlalu lemah selama ini makax mereka santai2 sj. Tolong kt hubungika klo mauki pergi melapor (081343991141) an/ Jasmin

      Hapus
  13. bu rasma..gimana perkembangan perumahan femika sekarang

    BalasHapus
  14. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  15. sdh 8 tahun tp kejelsannya belum ada sampe sekarang, famika dan bank mandiri harus tanggung jawab

    BalasHapus
  16. sdh 8 tahun tp kejelsannya belum ada sampe sekarang, famika dan bank mandiri harus tanggung jawab

    BalasHapus
  17. Assalamualaikum. Apakah sdh ada yg mendapat kejelasan mengenai pembangunan di sana.? Smpai skrg pak Roy tdk bisa di hub dan disana ada yg bernama pak Arnold yg bertugas sebagai pengawas lokasi yg sekrng menbantu untuk menyelesaikan urusan disana.

    BalasHapus
  18. Assalamualaikum. Apakah sdh ada yg mendapat kejelasan mengenai pembangunan di sana.? Smpai skrg pak Roy tdk bisa di hub dan disana ada yg bernama pak Arnold yg bertugas sebagai pengawas lokasi yg sekrng menbantu untuk menyelesaikan urusan disana.

    BalasHapus
  19. Kl ada no wa kirim ke saya sy.masuk kan group korban famika supaya bisa.kompak

    BalasHapus

Silahkan Isi Komentar: