21 Agt 2009

BEGIN, BEGAN, BEGUN, BANGUN SUBUH

Hari Ramadhan telah tiba, apa yang kita persiapkan? Siapkan segalanya, makan yang bergizi, mental, dan dana tentunya. Menu yang bergizi seperti makanan empat sehat lima sempurna. Tapi bagi kami, menunya lebih sehat lagi karena mengandung 3 t, Tahu, tempe, telur. Itulah menu kami, menu wajib yang tidak terlewatkan setiap kali menginputkan tenaga. Kalau tidak percaya, datanglah ke Jogja dan mampir di warung-warung makan yang bertebaran di pinggir jalan. Atau, kalau sedikit gengsi, cobalah mampir di warung lesehan. Dari nama lesehan, mungkin kita tahu, tahu kalau warung ini erat kaitannya dengan jalanan dan makan sambil duduk tanpa meja makan. Di warung lesehan, menu specialnya beragam, tapi yang paling banyak adalah pecel lele. Entah dari mana asal kata pecel lele..?

Sepintas, warung pecel lele terkesan sederhana, kami sempat heran, ketika hampir seluruh pinggir jalan dihiasi warung temporary yang paginya tidak terlihat lagi. artinya, warung ini hanya buka sekitar pukul 6 sore dan tutup pada jam 10 malam. Sangat singkat, hanya beberapa jam saja, beberapa jam melayani warga Jogja, warga yang mayoritas adalah pendatang dan sebagian besar pendatang adalah mahasiswa. Asal mahasiswa tentunya dari seluruh penjuru tanah air.



Harga makan di warung ini pun sangat murah, menu pecel lele hanya dihargai 5.000 rupiah, harga yang ketinggal jauh dengan di Sulawesi. Saya pernah mampir di salah satu warung di sana, saat hendak ke Makassar, daerahnya mungkin sekitar Pangkep. Harga ikan bandeng sekitar 8.000, itu hanya ikannya, tanpa nasi dan kol serta daun cemangi. Kol dan daun cemangi mentah adalah pasangan pecel lele, kayaknya bukan pecel lele kalau tidak disertai kedua tumbuhan ini, tumbuhan yang dihidangkan mentah-mentah, karena mentahnya disarankan untuk dicuci dulu sebelum menyatapnya. Atau kalau belum terbiasa, terbiasa memakan mentah kol, lebih baik dibuang saja karena aromanya yang agak gimana.

Kesederhanaan warung pecel lele, tidak lantas membuat pemiliknya berperilaku sederhana atau berharta seadanya. Bayangkan, kalau di Yogya ada sekitar 1000 pedagang pecel lele, dan setiap pecel lele laku 100 porsi, berapa omsetnya? Wah ora ngertos e…? sebagai bayangan, pedangang pecel lele berkumpul dalam suatu wadah, wadahnya dinamakan paguyuban. Orang jawa menyebutnya begitu, dan di sini, di Jogja hampir setiap acara ada panitinya, he…he… hal yang tabuh buat kita di Sulawesi. Bagaimana tidak tabuh, kalau pengatin saja harus ada panitianya, belum lagi kalau acara Ramadhan pastilah setiap masjid dipajang panitia Ramadhan masjid an…, al…

Tapi kalau kita telusuri lebih dalam, dari aspek perilaku manusia, memang sih, setiap kegiatan itu harus ada yang bertanggung jawab. Setiap pekerjaan itu harus diberikan pada ahlinya. Setiap pekerjaan itu harus dibagi-bagi, tidak kemudian dikerjakan sendiri-sendiri, kata populernya adalah gotong royong. Tapi, gotong royong harus ada batasnya. Kadang juga disalah artikan, misalnya gotong royong mengerjakan tugas, akhirnya semua tugasnya sama, yang beda hanya nama yang ada dicovernya.

Persiapan mental
Bulan puasa adalah bulan penuh berkah, bulan yang dipilih oleh Allah sebagai bulan pengabul do’a, penambah reski dan bulan penuh ampunan. Kelebihan inilah yang mendasari bulan Ramadhan disebut sebagai bulan suci. Dalam mengarungi bulan suci, mental kita harus dilatih, mental pejuang dan mental pemenang. Mental pejuang dibutuhkan saat kita menghadapi musuh-musuh kita, musuh kita bertebaran di sana sini, baik yang nampak maupun tidak. Musuh kita siap menerkam, menyergap, dan menjerumuskan kapan saja kita lalai. Ketika kita telah terjerumus ke dalam rayuan musuh itu, maka sangatlah sulit untuk keluar, kecuali dengan tekad yang sungguh-sungguh dan do’a kepada Allah. Ketika kita terlepas dari sergapannya pun, kita harus tetap hati-hati karena kata sang pejuang, mempertahankan lebih sulit daripada merebut. Kita bisa saja telah merebut iman dengan menjauhi musuh kita, tapi karena godaan yang tanpa kita sadari, kesadaran kita, kita umbar ke sana kemari sehingga timbullah ria. Ria sendiri menjadi maksiat baru.

Olehnya itu, kita selaku manusia yang beriman, senantiasa memperbaru taubat. Memperbarui taubat gunanya untuk menjernihkan hati kita setelah bermaksiat.Ibaratnya sebuah cermin, maksiat itu adalah debu yang menempel, tempelan debu itu akan terus memperkeruh cermin jika tidak dibersihkan. Nah... pembersih itu adalah dengan taubat. Taubat dari maksiat adalah pembersihnya agar sang cermin kembali bercahaya.

Maksiat sungguh berbahaya, kita bisa membayangkan, bayangkan detik berlalu, menit berlalu, jam berlalu, mustahil waktu itu terlewat tanpa adanya maksiat. Para orang alim sendiri, sering melakukannya (maksiat). Tapi, setelah melakukan maksiat, seketika itu, mereka segera bertaubat dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Inilah pembeda kita dengan orang-orang alim itu. Perbedaannya terletak pada kesadaran mengakui kesalahan dan sesegera mungkin bertaubat, sedangkan sebagian dari kita, sadar kalau kita melakukan maksiat, tapi enggan untuk bertaubat, sehingga yang terjadi adalah menumpuknya maksiat-maksiat itu.

Maksiat itu setiap saat kita lakukan, baik disadari maupun tidak. Tidak kita sadari juga ada beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah karena kita memang tidak mau tahu dan peduli. Kedua, karena tidak tahu sama sekali. Kalau kemungkinan pertama, ini yang namanya pembangkang, sudah tahu malah ngeyel. Kalau yang kedua, ini mendingan karena kemungkinan besar ketika dia tahu, maka akan menjauhi maksiat itu.



BEGIN RAMADHAN
Malam pertama tarawih, seperti umumnya di indonesia adalah saat-saat antri, berdesakan, dan ramai. Antri berwudhu dan memarkir kendaraan. Ramai para jamaah yang memedati seluruh ruang masjid. Suasana ini biasanya berlangsung selama tiga hari, setelah itu, safnya semakin maju, karena yang berjamaah tinggal 2 atau tiga saf.

Tarawih yang pertama ini, kami memutuskan untuk sholat di masjid gede kauman. ”Masjid kebanggan orang Jogja,” kata sambutan Sultan Hamengkubuwono yang dibacakan wakilnya. Masjid kebanggan karena mungkin bangunan ini menyimbolkan eksistensi umat islam di Jogja.

He..he.., kalau jalan ke kota-kota di indonesia, perhatikan baik-baik, ada beberapa hal yang lasim terjadi. Salah satunya sambutan, seperti marhaban ya Ramadhan. Kalau mengendarai kendaraan, anda harus antri markir dan pastikan membawa uang receh, habis markir, titipkan sepatu atau sandal anda di tempat penitipan barang. Sandal yang bagus akan menjadi perhatian, perhatian para tangan-tangan panjang untuk bereaksi. Masuk ke masjid, jangan lupa matikan handphone.
--------&&&---------

Sebelum masuk parkiran, kami telah disambut, disambut tulisan MARHABAN YA RAMADHAN. Saya sedikit bingung, masa bulan diselamati, bulan kan tidak bisa apa-apa, harusnya yang diselami adalah orang-orang yang beriman, misalnya Selamat Datang Wahai orang-orang beriman.

Satu hal yang tidak terlewatkan, saat mengendarai kendaraan dan markir di tempat keramaian. Tukang parkir dengan tergesa-gesa menyodorkan secarik kertas, tanda kami harus membayar uang parkir. He..., salah satu mata pencarian mereka. Tapi, saya sedikit heran, karena setahuku di daerah lain atau di negara lain tidak ada yang namanya tukang parkir apalagi menarik kontribusi. Kontribusinya pun tidak sedikit jika diakumulasi, rata-rata seribu per parkir. Kalau kita markir 10 kali dalam sehari, berarti kita harus mengeluarkan uang ekstra 10 ribu, kalau 30 hati....? tapi kasihan juga kalau tukang parkir tidak ada, tukang parkir ibarat polisi, polisi yang menjaga motor kita ada para penyolong.

Aku baru dua kali ke masjid ini dan baru kali ini masuk ke dalam ruang utamanya. Ternyata memang gede, pantaslah dinamakan masjid gede. Pertama aku kesini, awal tahun 2009, saat ada rekreasi bersama anak pa bina insani. Dan yang keduanya adalah hari ini. Padahal aku di Jogja sudah hampir 4 tahun. Aku seakan orang kampungan, karena sebagian daerah di Jogja belum kukunjungi, termasuk benteng vanberg. Benteng yang hanya berjarak beberapa kilo dari asrama. Benteng ini adalah salah satu situs kota Jogjakarta yang dikunjungi banyak pelancong.

Suasana di dalam ruang utamanya tidak jauh beda dengan masjid UGM. Masjid UGM merupakan salah satu masjid yang paling sering kutempati saat bulan puasa. Masjid ini banyak didatangi para tokoh-tokoh. Yang membedakan masjid gede dan UGM adalah arsitektur dan bahan konstruksinya. Hampir semua konstruksi masjid gede menggunakan kayu. Kayu yang mungkin sudah berumur ratusan tahun. Ini terlihat dari ukuran diameternya, hampir setengah meter dan saya yakin kalau kayu ini adalah kayu jati. Kayu yang tahan beratus-ratus tahun.

Ruang utamanya berbentuk persegi, dengan 4 tiang menjulang tinggi, tingginya sekitar 20 meter. 4 tiang ini merupakan tiang utama yang berada ditengah-tengah, yang menyangga bangunan dan balok sebagai penghubungnya. Setelah tiang utama, ada lagi tiang berikutnya yang berukuran sedikit kecil ketimbang 4 tiang utama tadi. Jumlahnya ada 12, cara hitungnya gampang, tinggal membuat kotak seperi di bawah, kemudian masing-masing sudutnya ditarik karis horizontal dan vertikal. Dengan cara ini, kita dapat menghitung jumlah tiang yang paling luar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: