28 Jul 2009

SINOPSIS SERJANA SEPEDA

Liburan semester tiba, senang rasanya bisa mudik bersama teman-teman sekampung. Segalanya kami persiapkan, mulai dari perbekalan, tiket, dan yang lebih utama persiapan untuk tour ke sekolah-sekolah.
Ingin rasanya hari esok tiba, naik kapal, melewati selat Sulawesi, melihat lumba-lumba di tengah laut, melihat percikan ombak yang dihantam badan kapal. Tidak sabaran melihat perubahan kampung setelah kutinggal selama 3 tahun. Bangunan apa yang baru, apa ada perkembangan, bagaimana dengan sekolahku? Apa guruku masih mengajar? Seribu pertanyaan yang akan kujawab setelah sampai nantinya. Namun semakin dipikir rasanya waktu itu berjalan detik demi detik, sangat lama. Mungkin inilah yang dinamakan penyakit tidak sabar kami. Namun, kami sadar mengharapkan sesuatu belum pada waktunya bisa berakibat fatal.

Siang beranjak malam, semua teman-teman sibuk mempersiapkan diri. Saya mempersiapkan bahan presentasi tentang perguruan tinggi di Yogyakarta. Tugas ini diamanahi ke saya, karena dianggap pantas untuk berbicara di depan siswa SMA se-Kabupaten Enrekang. Bukan paling pantas, karena mungkin tidak ada yang lain. Alias mengambil sesuatu yang jelek diantara yang terjelek. Touring ke SMA telah menjadi rutinitas kami, jadi setidaknya kami mudik bukan hanya melepas kangen dengan sanak family, tapi melatih mental, melatih intonasi, melatih mimit, melatih logat. Nah logat inilah yang menjadi prioritas, kayaknya tidak pantas kuliah di Jogja kalau logat kampung masih dibawah-bawah. Logatnya tentu bukan logat Jakarte, gue, lho, mau kemane? Atau logat Kejawen, arep ngendi? Kowe, panjenengan, sko ngendi? Ataukah logat Melayu Nce, Mau kemane, ape ceite?
“Ayo…ayo… berangkat, sudah jam 8 nih…!” seorang teman memberi komando. He…he…, logatnya membuatku tertawa, logat yang tidak jelas logat Jawa atau Sulawesi. Aneh kedengarannya, tapi itulah persilangan bahasa antara Sulawesi dan Jawa. Unik.
“Kami berangkat dulu le…, jaga ki rumah baik-baik!” kalau guru bahasaku, guru bahasa saat SMP dulu mendengar ucapan ini, pasti aku sudah ditendangnya hingga tersungkur di lantai, karena dianggap memperkosa Bahasa Persatuan. Dia adalah seorang wanita yang menjadi penakluk para algojo kelas kami. Tidak ada yang berani melawan dia, semuanya diam saat dia menerangkan, “Kami Putra dan Putri Indonesia Mengaku Berbahasa Satu Bahasa Indonesia.” Sumpah pemuda, walau kadang hanya menjadi pelengkap saat upacara.
Kami pun beranjak dari tempat duduk, setelah sejenak khusuk memanjatkan do’a bepergian. Butuh konsentrasi khusus agar do’anya diijabah Biar di jalan tidak terjadi apa-apa. “Rabbana atina fiddunya Khasanah wafil akhriati khasanah wakina asabbnar”. Doa sapu jangat mengakhiri kekhusuan kami. Tas dipundak, kresek ditangan, ada lagi yang menjinjing kantong plastic, entah isinya apa? Oh…pakaian ganti, soalnya perempuan paling rawan masalah ganti mengganti. Dialah Hera, satu-satunya wanita yang ikut dalam rombongan kami.
Langkah kami terseok-seok menaggung beban masing-masing. Untung bawanya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 100 meter ke arah persimpangan lampu merah. Hanya beberapa saat menunggu, mobil berbentuk balok berhenti pas di depan kami. Lumayan, sopirnya agak kalem, dia berhenti agak lama memastikan penumpangnya naik dengan sempurna. Biasanya, angkot sejenis ini tidak sabaran, kita harus ekstra cepat kalau tidak ingin jatuh.
Mobilnya terus melaju, tidak ada yang bersuara, semuanya diam membisu. Hanya terdengar suara mobil yang umurnya sudah tidak layak operasi, kondisi mobilnya hampir sama di kampong kami. Mobil brbentuk balok persegi yang difungsikan membawa hasil kebun para petani. Suasana makin hening, ketika segerombolan laki-laki naik ke atas mobil, satu per satu mereka naik. “Hati-hati Mas”, kata konduktur sambil memengang lengan mereka. Tidak tampak dari raut mukanya kalau mereka ini seorang tuna netra, wajahnya cerah bersih, bajunya bersih lengkap dengan peci di kepalanya. Mungkin mereka dari pengajian.
Aku tercengang melihat mereka. Mereka terlihat tanpa ada raut penyesalan. Kebayang kalau saya seperti mereka, mungkin saya sudah gantung diri atau menyediri di dalam rumah. Untunglah Allah menimpakan cobaan sesuai dengan kadar kemampuan hambaNya. Timbul rasa syukur yang mendalam. Syukur masih diberi penglihatan. Kuambil kamera yang tersimpan di dalam kantong tasku, kucoba abadikan raut mereka untuk jadi renungan. Menjadi renungan betapa penting mata kita ini. Tanpa mata, kita tidak dapat melihat indahnya dunia ini. Tidak mampu membedakan warna pelangi, pelangi…pelangi alangkah indahmu, merah…kuning…hijau… di langit yang biru… jadi ingat lagu TK.
Sesaat kemudian, kami berganti mobil, mobilnya patas melaju melihtasi jalan menuju ke arah Surabaya. Melihat jalan-jalan menuju Surabaya, aku teringat semua tentang perjalananku hidupku. Perjalanan hidup di Jogjakarta yang penuh tawa saat suka dan penuh luka saat duka. Mengingat saat-saat genting yang hampir membuatku pupus harapan. He..he.. ingin rasanya tertawa. Menertawakan kisahku.
Kisah saat-saat menjadi master dispensasi, sebutan yang diberikan dosen kewirausahaan beberapa hari sebelum ujian. Master dispensasi menjadi julukan kami karena tiap semester harus antri bersama master dispensasi lainnya, berlari-lari mengejar dosen bagian kemahasiswaan yang cuek bukan main, karena tahu kalau kami ingin dispensasi. Kisah saat bersama anak santri lugu pondok bina insani, bersama anak-anak ini rasanya semua problem hilang sekejap. Kisah saat menjalin persahabatan terlarang yang membuatku memutar presepsi 180 derajat. Kisah saat jadi asisten lugu yang membuatku bercita-cita jadi seorang rektor. Rektor Universitas Hasanuddin yang bergelar Prof. Dr. Riandi Al-Buqizy, M.Kom, Ph.D. WAW. Gelar yang mirip dengan dosen Kalkulus kami, Dr. Suparman, M.Si.DEA. lulusan Prancis.
Kisah saat menjalin sahabat pena dengan seorang warga Jerman. Seorang warga Jerman yang ahli bahasa, Cina, Jepang, Inggris, Prancis, Indonesia, dan … dan …... yang membuatku harus berdebat tanpa ujung pangkal. Wah… hebat, aku jadi kagum bukan main. Kisah persahabatanku dengan Dewi Soloensis, kisah yang membuatku tahu bahwa untuk menjalin persahabatan yang sesungguhnya bukan dengan prinsip try and error. Kisah bersama sahabat karibku, sahabat yang kemanapun aku pergi dia mengiringi langkahku, dia tidak pernah mengeluh walau kadang tak kuhiraukan, dia tetap sabar, sabar, dan sabar sampai dia tergolek jatuh dan menjadi saksi sejarah hidupku, saksi sekaligus yang mengantarkanku jadi Sarjana. Ingin rasanya bernostalgia mengingat semua kisah. Kuambil sebuah pena dan kutulis semuanya. SARJANA SEPEDA, itulah judul yang kuberikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: