23 Jul 2009

Roket RX-420 & CN-235 Militer:Getarkan Australia, Singapura, Malaysia

Oleh Cardiyan HIS
Momentum ini harus dijaga terus dan ditingkatkan sebagai kebanggaan atas
kemampuan teknologi sendiri. Jangan sampai karya insinyur Indonesia ini
dijegal justru oleh orang Indonesia sendiri (biasa) para ekonom-ekonom
Pemerintah yang sering menganggap karya bangsa sendiri sebagai terlalu mahal
dan hanya buang-buang uang saja untuk riset ....! Inilah musuh yang
sebenarnya. Waspadailah kawan-kawan insinyur Indonesia.

Meski sudah berlangsung 2 pekan yang lalu, peluncuran roket RX-420 Lapan
ternyata masih jadi buah bibir. Anehnya bukan jadi buah bibir di Indonesia
yang lebih senang ceritera Pilpres, tetapi di Australia, Singapura dan tentu
saja di negara tetangga yang suka siksa TKI dan muter-muterin Ambalat yakni
Malaysia.

Seperti diketahui roket RX-420 ini menggunakan propelan yang dapat
memberikan daya dorong lebih besar sehingga mencapai 4 kali kecepatan suara.
Hal itu membuat daya jelajahnya mencapai 100 km. Bahkan bisa mencapai 190 km
bila struktur roket bisa dibuat lebih ringan. Yang punya nilai tambah tinggi
ini adalah 100% hasil karya anak bangsa, para insinyur Indonesia. Begitu
pula semua komponen roket-roket balistik dan kendali dikembangkan sendiri di
dalam negeri, termasuk software. Hanya komponen subsistem mikroprosesor yang
masih diimpor. Anggaran yang dikeluarkan untuk peluncurannya pun “cuma” Rp 1
milyar. Kalah jauh dengan yang dikorupsi para anggota DPR untuk traveller
checks pemenangan Miranda Gultom sebagai Deputi Senior Gubernur BI yang
lebih dari Rp. 50 milyar. Apalagi kalau dibandingkan dengan korupsi BLBI
yang lebih dari Rp. 700 trilyun.

Mengapa malah menjadi buah bibir di Australia, Singapura dan Malaysia?
Karena keberhasilan peluncuran roket Indonesia ini ke depan akan membawa
Indonesia mampu mendorong dan mengantarkan satelit Indonesia bernama Nano
Satellite sejauh 3.600 km ke angkasa. Satelit Indonesia ini nanti akan
berada pada ketinggian 300 km dan kecepatan 7,8 km per detik. Bila ini
terlaksana Indonesia akan menjadi negara yang bisa menerbangkan satelit
sendiri dengan produk buatan sendiri. Indonesia dengan demikian akan masuk
member "Asian Satellite Club" bersama Cina, Korea Utara, India dan Iran.

Nah kekhawatiran Australia, Singapura dan Malaysia ini masuk akal, bukan?
Kalau saja Indonesia mampu mendorong satelit sampai 3.600 km untuk keperluan
damai atau keperluan macam-macam tergantung kesepakatan rakyat Indonesia.
Maka otomatis pekerjaan ecek-ecek bagi Indonesia untuk mampu meluncurkan
roket sejauh 190 km untuk keperluan militer bakal sangat mengancam mereka
sekarang ini pun juga!!! Kalau tempat peluncurannya ditempatkan di Batam
atau Bintan, maka Singapura dan Malaysia Barat sudah gemetaran bakal kena
roket Indonesia. Dan kalau ditempatkan di sepanjang perbatasan Kalimantan
Indonesia dengan Malaysia Timur, maka si OKB Malaysia tak akan pernah
berpikir ngerampok Ambalat. Akan hal Australia, mereka ada rasa takutnya
juga. Bahwa mitos ada musuh dari utara yakni Indonesia itu memang bukan
sekedar mitos tetapi sungguh ancaman nyata di masa depan dekat.



CN 235 Versi Militer

Rupanya Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama “nyaho” kehebatan
insinyur-insinyur Indonesia. Buktinya? Tidak hanya gentar dengan roket
RX-420 Lapan tetapi mereka sekarang sedang mencermati pengembangan lebih
jauh dari CN235 versi Militer buatan PT. DI. Juga mencermati perkembangan
PT. PAL yang sudah siap dan mampu membuat kapal selam asal dapat kepercayaan
penuh dan dukungan dana dari pemerintah.

Kalau para ekonom Indonesia antek-antek World Bank dan IMF menyebut
pesawat-pesawat buatan PT. DI ini terlalu mahal dan menyedot investasi
terlalu banyak (“cuma” Rp. 30 trilun untuk infrastruktur total, SDM dan
lain-lain) dan hanya jadi mainannya BJ Habibie. Tetapi mengapa Korea Selatan
dan Turki mengaguminya setengah mati? Turki dan Korsel adalah pemakai setia
CN 235 terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya. Inovasi 40
insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 versi militer ini adalah penambahan
persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi
dan melumpuhkan kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat cukup ditambah satu
saja CN235 versi militer (disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang
ada) untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya.

Nah, jadi musuh yang sebenarnya ada di Indonesia sendiri. Yakni watak orang
Indonesia yang tidak mau melihat orang Indonesia sendiri berhasil. Karya
insinyur-insinyur Indonesia yang hebat dalam membuat alutsista dibilangin
orang Indonesia sendiri terutama para ekonom pro Amerika Serikat dan Eropa:
“Mending beli langsung dari Amerika Serikat dan Eropa karena harganya lebih
murah”. Mereka tidak berpikir jauh ke depan bagaimana Indonesia akan terus
tergantung di bidang teknologi, Indonesia hanya akan menjadi konsumen
teknologi dengan membayarnya sangat mahal terus menerus sampai kiamat tiba.

Kalau ada kekurangan yang terjadi dengan industri karya bangsa sendiri,
harus dinilai lebih fair dan segera diperbaiki bersama-sama. Misalnya para
ahli pemasaran atau sarjana-sarjana ekonomi harus diikutsertakan dalam team
work. Sehingga insinyur-insinyur itu tidak hanya pinter produksi sebuah
pesawat tetapi setidaknya tahu bagaimana menjual sebuah pesawat itu berbeda
dengan menjual sebuah Honda Jazz. Kalau ada kendala dalam pengadaan Kredit
Ekspor sebagai salah satu bentuk pembayaran, tolong dipecahkan dan didukung
oleh dunia perbankan, agar jualan produk sendiri bisa optimal karena akan
menarik bagi calon pembeli asing yang tak bisa bayar cash.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: