24 Jun 2009

Teori Darwin…? (Lanjutan Salam untuk sahabat)

Teori ini masih terngiang-ngiang dalam pikiranku. Bagaimana tidak, setelah mempelajarinya 3 tahun di SMP, ternyata di SMA diulang lagi. Tapi kali ini dengan komposisi yang berbeda, lebih diperluas lagi. Entah kenapa, teori ini masih melekat dalam pikiran saya, mungkin karena saking bencinya. Oh…, saya pernah dengar bahwa Singapura bisa menjadi macan Asia, bisa menjadi kota tujuan nomor 1 para pelancong pada tahun 2006, 2007 dan 2008, kalau 2009 belum tahu. Konon, dulu singapura menghibah-hibah minta bantuan kepada Negara tentangganya, termasuk Indonesia, tapi semua Negara menolaknya. Akhirnya, mereka kembali. Konon juga, pimpinannya pada saat itu, dan yang menjadi presiden adalah seorang muslim keturunan Makassar, makanya, di Singapura dan Malaysia banyak Daeng-Daeng. Tapi berita ini belum saya recek. Panggilan Daeng adalah sapaan untuk bapak-bapak dan hanya dipakai bagi keturunan Bugis Makassar.

Pimpinanan yang berdarah Makasar kembali dan mengatakan “Tunggu suatu saat…!” mereka kemudian berpikir tidak ada yang bisa kita harapkan, luas lahan kita tidak seberapa, hanya seluas kota Yogyakarta bahkan kurang. Kita tidak mempunyai tambang minyak, tidak mempunyai hasil bumi, dan lain-lain. Tidak ada jalan lain, kecuali merubah orangnya. Hanya dengan merubah orangnya. Maka seiring berjalannya waktu, maka lihatlah Singapura sekarang ini, selain Negara tujuan nomor 1 para pelancong, saham BUMN kita banyak dimiliki mereka, Indosat, Telkomsel, XL. Ah…jadi bingung memikirkannya. Jadi intinya, hampir semua harta Indonesia telah dimiliki Negara Asing. Kita semakin bingung ketika mendengar utang Negara kita. Utang yang harus ditanggung oleh rakayat Indonesia yang berjumlah 200 juta lebih sebanyak 7, 5 juta per kepala. Sungguh mengherankan. Tapi saya rasa, itu bukan utang rakyat Indonesia, tapi utang para peminjam dalam hal ini yang membuat kebijakan, orang yang diberi amanah untuk mengelola Negara.

Dari penjelasan di atas, Singapura dapat menjadi Negara yang kuat, Negara yang berkembang pesat, bisa saja karena berawal dari penolakan terhadap Negara-negara yang dimintai pertolongan. Dan katanya, untuk menjadi warga Negara sana hanya ada dua syaratnya, yaitu seseorang adalah super…super…super kaya. Yang kedua, super…super… super ahli dibidangnya. Penolakan Negara-negara tetangga membuat mereka ‘membalas dendam’ dan ingin membuktikan bahwa mereka bisa setara dengan Negara-negara maju.

Berawal dari kebencian, seseorang dapat berbuat melebihi batas kemampuannya. Benci akan kemiskinan, membuat seseorang bekerja keras siang dan malam untuk merubah nasibnya. Benci akan kebodohan, membuat pelajar memeras otak agar kering, kayaknya otak tidak diperas tapi diinputkan data-data, kemudian diproses menjadi sebuah informasi. Benci akan penjajahan, membuat para pejuang kita mati-matian sehingga banyak yang mati benaran memperjuangkan kemerdekaan. Kemerdekaan dari penjajahan fisik.

Atas dasar kebencian, membuat saya tahu bahwa teori Darwin adalah teori yang sangat melenceng dari fitrah manusia. Manusia yang asalnya dari Allah yang dilahirkan melalui perantara hubungan Ayah dan Ibu. Bukan dari seokor kera yang berevolusi. Saya semakin yakin bahwa apa yang dipelajari di SMP dan SMA dulu adalah pembodohan dan pendangkalan akidah setelah menyaksikan film-film dokumenter Harun Yahya.Nama Harun Yahya diambil dari nama Nabi Harun dan Nabi Yahya, nama ini dipakai sebagai nama pena seorang berwarga negara Turki. Ingin rasanya meremuk mukanya seperti kriukan kerupuk, seandai saja ketemu dengannya. Tapi aku sadar, ini tidak mungkin karena dia telah berada di alam kubur, menanti pengadilan yang tiada cacatnya sedikit pun. Saya juga menyadari, gagasan harus dilawan dengan gagasan. Tapi gagasan itu masih belum terealisasi sampai sekarang. Saya ingin seperti Harun Yahya yang mampu membuktikan bahwa teori evolusi adalah sesat dengan ilmiah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: