28 Jun 2009

Tentang Bugis (About Bugis)

Sekarang saya akan menyambung tentang bugis. Pada zaman belanda, bugis memiliki kerajaan, tapi kerajaan ini tidak sepopuler dengan kerajaan Gowa Tallo. Kerajaan bugis ini dipimpin oleh Arung Palakka. Kurang populernya disebabkan karena pada masa peperangan mereka bersekutu dengan Belanda untuk melawan kerajaan Gowa Tallo yang dipimpin Sultan Hasanuddin. Karena mereka bersekongkol, kerajaan Gowa Tallo yang juga merupakan kerajaan islam takluk. Sultan Hasanuddin kemudian diasingkan ke daerah terpencil.

Seperti yang saya tulis pada surat sebelumnya, bahasa Bugis adalah bahasa mayoritas yang digunakan warga Sulawesi Selatan yang terdiri dari 23 Kabupaten, saat belum dimekarkannya Sulawesi Barat. Di daerah Enrekang ada sebagian wilayah yang menggunakan bahasa Bugis. Tapi itu hanya di daerah perbatasan dengan kabupaten Rappang. Mungkin asing bagi Adik, tapi kalau kapan-kapan ke sana hal ini tidak akan asing lagi. Kawasan ini, sebelum saya ke Jogja kira-kira 3 tahun yang lalu, masih terkesan kampungan, sangat sunyi. Tapi setelah saya pulang beberapa bulan yang lalu, keadaannya telah berubah. Pinggir jalan telah dihiasi dengan pagar-pagar tembok dan lampu osram yang dulunya hanya dihiasi kunang-kunang yang hinggap di pohon sekitar jalan. Kadang kami takut, ketika lewat dibawahnya, apalagi kalau ada mitosnya. Terasa perubahan itu sangat cepat, Hidup ini hanya sesaat. Kata-kata ini menjadi pamungkas untuk menjawab semua perubahan tersebut.

Saya pernah membeli di sebuah warung, kalau ditempatku kata warung hanya dipakai untuk warung makan yang berskala besar. Tuannya bertanya, apakah di Sulawesi seramai di sini? Memang kalau dihitung jumlah penduduknya, Jawa masih lebih unggul, tapi seiring banyaknya anak muda yang menikah dini, penduduk pun hari demi hari semakin bertambah. Kalau di kampungku, jumlah anak dalam satu keluarga ada yang sampai satu keseblasan. Jumlah 5 anak masih dianggap sedikit. Dan rata-rata yang beranak dibawah 5 adalah yang berprofesi sebagai pengawai negeri. Itu di kampung kami karena orang tua kami berprinsip anak telah diatur reskinya oleh Allah, banyak sedikitnya tidak jadi masalah, makin banyak makin baik, biar ramai. Prinsip yang sebenarnya berlawanan dengan program KB. Tapi saya kasihan juga dengan program KB yang menganjurkan 2 anak cukup. Lebih parah lagi kalau di Negara barat sana, 1 anak cukup. Karena bagi mereka anak adalah menyangkut biaya. Banyak anak banyak biaya.

Bahasa bugis juga bervariasi, baik dari logatnya maupun pengucapannya ada yang keras dan halus. Mungkin tergantung geografis dan keadaan serta factor keturunannya. Daerah Bone dan Wajo bahasanya relatif lebih halus, mungkin karena masih kental dengan kerajaan. Sama halnya dengan Jogja dan Solo yang memakai bahasa Jawa halus karena faktor dekatnya dengan kerajaan. Di sekitar daerah kami, bahasanya lumayan kasar, butuh kesabaran ekstra ketika sapaan halus terasa gertakan. Tapi lagi-lagi, ini adalah relatif, tergantung orangnya. Tapi bahasa ini jarang kami dengar, hanya orang-orang pendatang yang menggunakannya. Bahasa kami beda, tapi dari segi rumpun kami masih satu rumpun dengan suku Bugis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: