6 Jun 2009

SANTRI GEDONGAN (2)

Setiap senin sore, suasana pondok Bina Insani sontak ramai, suara riuh anak-anak TPA membuat kami harus mengeluarkan suara extra keras.
Kami : Tepuk satu…!
Santri : Tu…k,
Kami : Tepuk dua..!
Santri :Tuk…Tuk.. Tepuk pemansan ala anak-anak TPA.
Kami : Tepuk anak sholeh…! Tuk…a…ku anak, Tuk..Tuk..Tuk.. sholeh, Tuk…Tuk…Tuk rajin ngaji. Orang tua dihormati, cinta Islam sampai mati, lailaha illah Muhammadarruhsulullah, Islam…Islam Yes, Kafir…kafir No.

Islam adalah satu-satunya agama yang harus dipeluk oleh umat manusia. Agama tauhid yang ajarannya di sampaikan oleh Allah melalui Nabi-Nya Muhammad SAW. Dan orang yang tidak mengikuti agama islam adalah kafir. Itulah makna dari tepuk ini. Sederhana, tapi jika digali lebih mendalam maknanya sangatlah luas.

Pemanasannya telah usai, kini saatnya anak-anak TPA mengaji. Mengaji bukan hanya membaca Al Qur’an. Ini baru aku tahu ketika orang-orang jawa menyebut ngaji ketika hendak mengikuti ceramah. Mengikuti ceramah biasa juga disebut pengajian. Menulis al qur’an dan menghafal ayat-ayat bagian dari materi pengajian anak-anak TPA.

Anak-anak dibagi sesuai dengan tingkat keilmuannya. Yang agak mahir dipisah dengan yang Iqra, yang perempuan dipisah dengan laki-laki. Manajemen ini diterapkan sejak beberapa bulan yang lalu, dan ternyata efektif. Masing-masing ustadz diterjunkan untuk mendampingi dan mengajari anak-anak ini. Itulah kami santri gadungan yang bertidak sebagai tim perubahan anak-anak. Tugas kami sangat berat, dari beratnya itu sehingga diberi predikat mengajar adalah tugas mulia. Butuh kesabaran dan suara extra untuk mengajar bocah-bocah ini. Bocah-bocah dalam bahasa jawa bukan berarti anak kecil, tapi anak-anak yang usianya di bawah orang yang menyapanya. Bocah-bocah juga termasuk bahasa yang kasar, sebagai gantinya biasanya diganti dengan kata Ade’. Ade’ juga berarti anak, beberapa waktu lalu, teman kami sempat salah paham, gara-gara seorang ibu cantik menyebut anaknya dengan sapaan ade’. Padahal sepengetahuan teman ini, Ade’ itu adalah adik, kenapa kok dipanggil ade’, bukan anak. Begitu prasangkanya.

Untuk dapat mengajar anak TPA dengan baik, kami juga harus diberi inputan. Selepas mengajar TPA kami diajar oleh ustadz-ustadz yang lebih pintar. Beda dengan ustadz jaman dulu, kini ustadznya sudah modern, tidak perlu pakai sorban atau baju yang serba putih-putih, cukup dengan pakaian lengang panjang dan kopiah di kepala. Cukup itu. Kesederhanaan tampak dari penampilan mereka, tapi jangan salah, bisanya yang sederhana itu justru bijaksana. Kata dosen saya, namanya Pak Rianto, orangnya sangat kritis, saking kritisnya, beberapa kali komentar saya dijambanginya dengan sudut pandang yang ilmiah. Menurut dia. Pak Rianto berkata: orang yang sederhana beda dengan orang yang seadanya. Orang sederhana itu mempunyai sesuatu yang lebih tapi dia justru memilih yang apa adanya. Sedangkan seadanya itu karena mereka tidak punya pilihan untuk memilih.
++++Bersambung lagi++++++

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: