1 Jun 2009

SANTRI GEDONGAN (1)

"Fajar karo Erpen, coba cek Kambing?" Perintah Pak Teguh.
"Kambingnya sudah mati belum...?" Tanya Pak Teguh sesampai mereka dari kandang.
"Iya, Pak. Sahut Fajar sembari melirik ke samping. "Iya, sudah, itu karena kurang makan.
Saya merasa tidak enak, itu amanah dari Nogotirto. Kalian mungkin mengerti, karena bukan kalian yang memikul amanah itu. Sambung Pak Teguh mencurahkan Isi hatinya kepada sekelompok santri gadungan." Itulah kami, dibilang Santri juga bukan, dibilang bukan padahal kami mondok.

Mondok adalah istilah yang sering digunakan orang Jawa untuk memberikan sebutkan kepada santri yang sedang menuntut ilmu di Pondok Pesantren. Beberapa tahun yang lalu, saya memutuskan untuk bergabung dengan santri Gadungan di Pondok pesantren Bina Insani. Saya mengenal pondok ini karena yang menjadi Kiyainya adalah dosen pendidikan agama waktu semester 1. Tidak kusangka, keberadaan saya di sini membuat perubahan pola pikir saya terhadap sesama, terhadap pesantren, dan terhadap lingkungan.

Menurutku dulu, pesantren adalah seperti yang ada di kampung kami, anak-anaknya disiplin ketat, tidak boleh keluar dari areal asrama. Kalau ada yang sampai melanggar, maka tidak tanggung-tanggung akan terkena hukuman. Kawasannya jauh dari pemukiman, di daerah pinggiran. Karena statusnya sebagai pesantren Modern, maka hanya kalangan tertentu yang bisa masuk, yang wong cilik jelas tidak mampu membiaya iuran per bulannya. Itulah yang dialami kemanakan saya, dia beberapa waktu lalu keluar dari pesantren dan memutuskan pindah ke SMP dekat kampung. Alasannya sederhana, biaya yang tinggi dan kualitas pendidikan yang hampir sama.

Tapi, lain di Jawa lain di Sulawesi. Pesantren di sini sama halnya seperti rumah sendiri. Sebuah keluarga yang terdiri dari tipe dan karakter anak yang berbeda-beda. Anak itu adalah santri Gadungan Bina Insani. Kiyai berpedan sebagai Bapak dalam keluarga pesantren. Saking kebapakannya, hampir setiap hari kami di perintah. Perintahnya pun bukan sembarang perintah, biasanya disertai dengan porakan , dalam bahasa Sulawesi berarti omelan. Pak Kiyai berperinsip, kalau anak-anak tidak disuruh, tidak ada yang mau bergerak. Mereka maunya bergerak kalau diterapkan manajemen mandor kawat.

Semalam, Santi gadungan belajar bareng. Belajar bahasa memang sulit, apalagi kalau menganggapnya susah.
Guru : "Mau ngak ta kasih nyanyian,"
Santri : "Mau."
Guru : "Nih, ikutin saya Huwa.. Huma Hum..."
Santri : "Huwa Huuummma hum.."
Guru : "Ah...salah, makanya dengarin dulu..,Huwaa.. Humaa...Hum.
Santri : Huwaa.. Humaa..Hum.
Guru : "Ya..bagus." Lanjutkan! Seperti kampanye SBY. " Hiya..Humaa Hunna".
Santri : " Hiya..Humaa Hunna".
Guru : "ya Bagus..". Anta... Antuma .. Antunna ..."
Santri : ". Anta... Antuma .. Antunna ..."
Guru : "Bagus".Anti... Antuma...Antunna...3x"
Santri : "Anti... Antuma...Antunna...3x."
Guru : "Sambung..., Anaa...Nahnu...!"
Santri : "Anaa...Nahnu..."
Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: