26 Jun 2009

Kerajaan Indonesia (Lanjut…!)


Weblog karajaan Indoensia yang di-link-an ke weblog kami kubuka. Saya tidak menemukan apa-apa. Karena saya termasuk orang yang mudah penasaran, maksudnya penasaran ingin tahu segala hal. Maka tanpa pikir, aku langsung mengirimkan alamat email ke email yang ditulisnya. Dari kode lokasi emailnya, saya tahu sedikit hal. Oh...sedikit aku tahu, kalau orang ini bukan orang Indonesia atau kalau orang Malaysia menyebut orang Indonesia dengan orang Indon. Teman saya pernah marah, ketika dalam tulisan saya mencantumkan kata orang Indon. Menurutnya, kata Indon itu merendahkan kita, kita tidak pantas dikatakan orang Indon, karena kata Indon itu berarti...... kurang tahu.... saya akan membahasnya pada surat mendatang, saya akan membuka emailnya dulu.

Beberapa saat setelah kukirim email, ternyata dia ingin mengirimkan daftar raja-raja yang pernah berkuasa di daerah Enrekang dan Sulawesi Selatan secara umum. Di bawah daftar raja-raja ada nama Mr......., bekerja di Badan Penelitian.... di Belanda. Aku mengomentari suratnya dan kutanyakan kepadanya, apakah dia bisa berbahasa Bugis? Bahasa bugis termasuk bahasa yang sulit dipelajari, karena ada aksara tersendirinya, mungkin sama dengan bahasa Jawa yang memiliki aksara Jawa. Kalau di Bugis namanya Lontara, dulu kami mempelajarinya saat SD dan SMP. Ternyata dia tidak bisa, tapi dia menyambungnya, ada teman saya di Swedia namanya Dr. bla...bla... yang bisa berbahasa Lontara, aku lupa semua namanya, habis nama Belanda sih... Saat itu aku baru sadar kalau lawan suratku adalah seorang Dr ataukah seorang Prof. risetnya tentang kerajaan-kerajaan di Enrekang dan Indonesia secara umum. Saya ingin tahu, gimana pandangan anda menyikapi banyaknya orang dari luar yang meneliti tentang budaya kita, sedangkan kita sendiri menganggap itu tidak penting. Apakah ada misi dibaliknya...?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: