18 Jun 2009

ARTI HORMAT POLISI

Pagi-pagi udaranya segar, tidak banyak kendaraan yang hilir mudik. Hanya beberapa motor yang melaju kencang karena kurang hambatan. Pagi ini aku berangkat kuliah, di jalan sepintas mataku tertuju pada seseorang. Warna bajunya coklat muda, ditambah dengan celana coklat pekat. Bajunya agak ditutupi dengan rompi warna hijau terang, jika disorot sinar lampu pada malam hari, kelihatan seperti menyala. Pada rompi itu tertulis POLISI.

Pak Polisi, Pak Polisi, dimana rumahmu… itu nyanyian saat kami anak-anak dulu. Dulu kami sangat takut dengan pak polisi. Saking takutnya, mendengar namanya saja kami sudah lari terbirit-birit. Takutnya bukan pada Pak Polisinya, tapi Pistolnya. Belakangan baru aku tahu, tahu kalau kami ada teman, temannya malah yang sudah berstatus mahasiswa. Mahasiswa kadang lari terbirit-birit tanpa arah ketika dibubarkan Pak Polisi dari aksi demonya. Alasannya sederhana, mungkin mahasiswa ini masih mengidap penyakit nomor 14, alias masih anak-anak. Persis saat kami berusia sebelasan tahun. Tapi, syukurlah di sini, di Yogyakarta sangat langkah yang namanya mahasiswa demo, apalagi demo sambil berlari menghindari kejaran Pak Polisi, perisis kayak maling ayam yang ketahuan.

Oh…iya, topiknya kan tentang arti hormat polisi, kok malah membicarakan mahasiswa. Baik… sekarang kita bahas tema di atas. Pagi tadi saya memperhatikan seorang Pak Polisi yang sedang hormat pada pengendara sepeda motor. Motor pun berhenti karena dihadang pak polisi, saat motornya berhenti, pak polisinya hormat. Tapi anehnya, hormatnya itu kayak gimanaaa ya… menyeramkan pokoknya. Hormatnya disertai lototan pandangan, ditambah dengan kumis yang tebal. Kalau seperti ini, apa gunanya hormat itu? Hormat itu kan tujuannya untuk menghormati orang lain, hormat berarti memberikan kesan positif atau baik kepada orang lain. Tapi kalau hormatnya disertai dengan lototan padangan, wah…bukan kesan hormat yang kita terima, tapi kesan ingin mengeluarkan uang. Uang untuk membayar biaya tilang, kalau ditilang kan berarti menyangkut bayar membayar. Oh…iya, tahu tidak arti tilang. Nah…ini aku tahu ketika masih SD dulu, tilang adalah singkatan dari Bukti Pelanggaran. Lanjut…, ini kalau kita melihatnya dari sudut pandang orang yang dihormati. Tapi kalau dari sudut pandang Pak Polisi, mungkin mereka menghormati orang karena itu adalah kebiasaan mereka, karena itu adalah tuntutan mereka selaku pelayan masyarakat. Kalau dari sudut pandang agama, hormat itu dari dalam hati, kemudian direfleshikan dengan tindakan. Tindakan ini berwujud dengan cara menghargai orang lain, menghargai hak-hak mereka, menjaga sopan santun, bertutur kata baik, dan tidak mengambil atau merampas hak-hak mereka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: