30 Jun 2009

About My Village

Enrekang mempunyai jargon, jargonnya Massenrempulu. Ada yang mengatakan kalau massenrenpulu artinya daerah yang ada dilereng gunung. Tak khayal, di sebagian daerah ini sangat sulit menemukan kawasan yang memiliki kerataan permukaan tanah. Untuk membuat lapangan sepak bola perlu pengerukan dan penimbunan pada masing-masing sisinya. Tanah yang berbatu dan gunung bebatuan mengkhiasi tanah garapan warga. Tanah yang bercampur batu digarap warga untuk ditanami berbagai tanaman hurtikultura. Walau tanah bercampur batu, daerah ini mampu menjadi pemasok sayur mayur dan sejenisnya untuk kawasan Sulawesi selatan dan sekitarnya. Selain hultikultura, komunitas hasil pertanian yang terpopuler adalah kopi arabika. Tahun 2008 lalu, kopi yang berasal dari daerah kami keluar sabagai juara 1 dan 2 tingkat nasional. Barometernya dilihat dari segi aroma dan cita rasanya.

Mobil truk tak henti hilir mudik dari bebukitan yang terjal dengan seongkok tumpangan dibagian belakangnya. Tidak ada ruang kosong yang tersisa, semuanya berisi hasil bumi masyarakat maspul. Maspul adalah kependekaan dari Massenrempulu. Kata maspul menjadi cara ringkas agar mudah diucapkan.

Walau hasil bumi melimpah para petani hanya dijadikan objek kekayaan para pengusaha dan pedagang. Terjadinya pasang surut harga membuat petani kadang gulung tikar. Pengeluaran tidak sebanding dengan hasil penjualan hasil bumi. Petani menjadi sulit memikul biaya operasional pembukaan lahan. Ditambah lagi dengan kecenderungan para petani menggunakan berbagai bahan kimia. Mulai dari festisida, pupuk kimia yang diyakini mampu mempersubur tanaman. Masyarakat hanya termakan dengan isu instant, padahal dibalik keinstantan itu, terdapat bahaya yang secara stimulus berdampak pada kerusakan ekosistem. Menyedihkan memang, tapi itulah kenyataannya, kita pun selaku konsumen secara tidak sengaja dirugikan oleh berbagai hasil bumi yang telah terkontaminasi dengan bahan kimia berbahaya.

Dari potensi wisatanya, Enrekang memiliki berbagai objek wisata, bahkan ada situs yang aneh. Seperti kuburan batu. Dikatakan guburan batu karena kuburan tersebut berada di atas tebing gunung batu. Jika dilihat sepintas, kuburan itu mustahil bisa ada, karena ketinggiannya ada di atas 30 meter dari permukaan tanah. Ditambah dengan kemiringan sekitar 89 derajat, hampir vertical. Tapi situs ini dibiarkan saja tanpa diurus atau diekspos ke luar. Mungkin pemda kami membiarkan seperti itu agar kelihatan alami. Saking alaminya, situs ini hanya menjadi pemandangan biasa bagi warga sekitar. Kadang menjadi tontonan yang mengundang cekap kagum, saat ada seseorang yang berkunjung dan berniat menelitinya.tapi sampai sekarang belum diteliti, mungkin proposalnya ditolak. Karena menjadi bahan tontonan, situs ini kemudian diberi nama Tontonan.

Pada masa penjajahan, daerah kami juga dikenal sebagai tempat persembunyian. Tempat yang paling tepat saat itu adalah gua. Sampai sekarang, gua-gua baru terus ditemukan warga. Beberapa tahun lalu, ditemukan gua yang sangat indah, namanya Loko’ Bubau. Loko’ sama halnya dengan gua, Bubau artinya Bau. Gua ini pada bagian dalamnya sangat luas, katanya seperti lapangan sepak bola. Di dalamnya terdapat mata air. Teman-teman yang dari sana mengangumi keindahannya. Tapi lagi-lagi, saya belum melihatnya, tapi suatu saat saya akan menginjakkan kaki ke sana dan menceritakan segalanya kepada dunia. Saat itu, aku masih umuran SMP, tak terbayang di kepalaku untuk rekreasi ke gua atau ke permandian sebagaimana lasimnya anak sekolah ketika merayakan kelulusan atau kenaikan kelas. Tidak kebayang karena hampir setiap hari, kami habiskan waktu pulang sekolah untuk bermain-main dengan air. Sambil bermain, kadang kami mancing dan hasil tangkapannya untuk lauk malam harinya. Malamnya kami goreng jika minyak gorengnya ada. Kami di sini adalah saya dan kakak saya …. Cerita ini saya sambung pada novel. Tidak terbayang bagi kami untuk mengunjungi gua saat liburan tiba, karena liburan bagi kami adalah masa-masa bermain sambil mencari uang jajan….ceritanya juga ada dinovel.

Ada yang mengatakan, masa paling indah adalah masa-masa di sekolah, tapi ini relative. Menurut saya, masa-masa paling indah adalah masa-masa susah dan masa-masa penuh masalah. Kenapa…? Karena ketika masa tersebut telah lewat, maka masa itu menjadi ingatan yang indah tiada tara ketika kita telah melewatinya dengan penuh kesabaran. Ini yang menjadi indah, mengenang perjuangan melawan peradaban dan ganasnya tantangan masa-masa kecil. Tidak jarang, orang-orang seusia kami harus putus sekolah gara-gara harus memikul beban keluarga, mungkin hampir sama dengan kisah film Laskar Pelangi. Tantangan yang lainnya dan lebih parah adalah prespektif keliru. “Sekolah tinggi atau tamat SD sama saja, sebentar juga jadi petani. Lihat anaknya si Fulan yang jauh-jauh sekolah, toh nyatanya jadi petani juga”. Atau, “kenapa harus sekolah jauh-jauh, di daerah kita kan juga ada?” kata-kata ini aku dengar saat mau kuliah di Yogyakarta ini, tapi kedua kuping ini kututup rapat-rapat dan kata itu hanya kuanggap angin yang lalu. Lebih parahnya lagi, bukan hanya orang yang tidak punya sekolah yang mengatakannya, tapi yang telah memiliki tittle sarjana. Tapi lagi-lagi, demi satu tujuan yang hendak kucapai, aku harus berangkat ke Jogja. Tak peduli ada biaya atau tidak. Kataku dalam hati. Tekad bercampur nekat, he…nekatnya. Nekat itu kan melakukan sesuatu diluar analisis. Ceritanya ada di novel.

Kadang mimpi itu jadi kenyataan, lihatlah sekarang, dari pulau K datang seorang pemuda desa. Kataku ketika telah mendaratkan kaki di Adisucipto Airport. Kayak mimpi, iya…,saya seperti ada di alam mimpi yang sedang menikmati suasana malam di Yogyakarta. Menikmatinya pertama kali. Adalah teman asrama yang membuatku menoleh kiri kanan dengan leluasa. Sesekali motornya berhenti saat lampu jalanan berwarna merah. Aku semakin bermimpi ketika melihat teman-teman satu kampong di asrama, ada yang sedang menempuh s3, s2, dan kebanyakan s1. Atmosfir keilmiahan tampak dari pergaulan dan pola pikir mereka. Kini saya sadar, saya berada di asrama tempat para calon-calon sarjana, yang akan merubah cara pandang terhadap dunia. Saya berada di kota pendidikan, kota yang merubah beribu-ribu pemuda jadi pemimpin. Pemimpin minimal untuk dirinya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: