1 Mei 2009

Kegalauan Pemilu

Dampak dari pemilu banyak mengisahkan tragis. Berbagai masalah muncul di tengah permasalahan bangsa yang belum terpecahkan. Krisis global yang telah banyak membuat rakyat menderita sebab tingginya harga bahan pokok. Dengan adanya pemilu, rakyat disungguhkan ‘pesta’ demokrasi. Demokrasi yang ideologinya dari rakyat untuk rakyat masih perlu dipertanyakan. Dari rakyat memilih tapi kepentingan bagi segelintir orang.

Rakyat ‘berpesta’ demokrasi, berbagai cara dilakukan oleh para caleg untuk menarik simpatisan. Rakyat disuguhkan ‘pembodohan’ dengan berbagai hiburan, seperti dangdutan, pawai, dan sejenisnya. Setelah tiba masa pencoblosan, berbagai pelanggaran muncul baik dari ketidaksiapan penyelenggara pemilu maupun ketidaksiapan mental para caleg untuk kalah. Obsesi para caleg harus menang untuk memperjuangkan pengembalian harta yang telah dibuang-buang saat kampanye. Berbagai media sibuk menayangkan berita tentang pemilu, seakan-akan tiada hari tanpa berita pemilu, begitupun media cetak tak ketinggalan headlinenya dengan pesta demokrasi.

Belum selesai pengumuan final KPU, banyak para caleg yang langsung stress melihat suaranya kurang. Seperti yang diberitakan salah satu media, ada seorang caleg yang bahkan nekat bunuh diri karena kalah 10 suara. Di lain tempat, bangsal-bangsal rumah sakit jiwa penuh, rumah sakit rujukan kedatangan banyak pasien untuk berkonsultasi.

Pertanyaannya, benarkah system yang kita anut ini membawa perubahan ke arah yang lebih baik? Ataukah ini tanda bahwa system yang kita anut memang system yang buruk? Sepatutnya kita merenungi hal tersebut. Sekarang bukti yang bicara. Dan meyikapi banyaknya kasus dampak pemilu, pemerintah telah menyiapkan berbagai klik dan rumah sakit. Ormas Islam mepersiapkan anggotanya untuk melayani pasien yang datang.

Kalau kita melihat, apakah pemerintah telah berbuat yang benar, yaitu ingin menyembuhkan penderitaan dan beban psikologis yang di alami oleh caleg yang kalah, ataukah itu sebagai ketidakmampuan pemerintah dalam mengurus rakyatnya. Ketika caleg dirumahkan atau dititipkan di bangsal, bersama dengan ratusan orang yang memiliki kendala yang sama, maka apa yang akan terjadi, apakah mereka akan cepat sembuh? Ataukah malah bertambah parah karena bersama dengan orang-orang yang senasib. Seharusnya ini menjadi perhatian yang serius, selayaknya semua elemen memperhatikan hal ini.

Solusi Ibnu Qayyim

Ada sebuah penelitian, seorang dokter meneliti beberapa pasiennya yang menderita penyakit jiwa. Beberapa pasien disimpan dalam tempat yang biasanya (bangsal yang umum digunakan penderita sakit jiwa) dan yang sebagiannya diberi penyerahan rohani dengan cara islami. Hasilnya, mereka yang diberi penyerahan rohani dengan bangun jam 4 pagi untuk shalat dan melakukan rutinitas islami 70% sembuh. Sedangkan mereka yang ada dibangsal hanya 15%.

Bergaitan dengan ini, Ibnu Qayyim telah menyinggung tentang kesehatan jiwa secara gamblang. Point-point penting tentang hal tersebut terangkum sebagaimana berikut:

* Ilmu dan Keinginan

Ilmu dan keinginan merupakan dua hal yang tidak bias terpisahkan dari individu yang ingin mencapai kesehatan jiwa dan telah mencapai kesehatan jiwa. Menurut Ibnu Qayyim “Ketika jiwa memiliki dua energi potensial, yaitu ilmu dan distingsi (kemampuan membedakan); keinginan dan cinta, maka kedua energi itu akan menciptakan jiwa yang sempurna dan sehat dengan hal-hal yang berguna serta menimbulkan rekasi positif perasaan sehat dan bahagia. Jiwa akan sempurna dan sehat serta memfungsikan energi dan ilmu untuk mengetahui kebenaran dan kemampuan membedakan antara hak dan batil, serta menggunakan energi keinginan dan cinta untuk mencari, mencintai, dan lebih menyukai kebenaran dariapda kebatilan.

Dalam hal ini Ibnu Qayyim memposisikan ilmu tentang ketuhanan (Allah) dan ajaran-Nya sebagai jenis ilmu yang paling tinggi. Sedangkan keinginan yang dimaksud adalah keinginan yang bertanggung jawab, bukan keinginan yang terbuka bebas tanpa batas. Keinginan tersebut melebur dan ikut bersama dengan Allah

* Tawakal

Ibnu Qayyim menegaskan pentingnya peran iman, percaya dan prasangka baik kepada Allah dalam mencerahkan jiwa dan menggapai ketenangan. Beliau menjelaskan bahwa hakikat tawakal memiliki beberapa tingkatan yang sistematis. “Tawakal merupakan kondisi jiwa yang tersusun dari sekumpulan unsure yang membuatnya lebih sempurna yaitu: Mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya, mengukuhkan sebab dan musabab yaitu sebab yang dapat menuntun individu pada tujuannya dan mencegah hal-hal negative yang tidak diinginkan. Memantapkan hati dalam proses ketauhidan.

* Tafakur

Tafakur atau berpikir dapat menuntun seseorang kepada iman, tidak seperti amalan semata. Sebab, melalui proses tafakur, seseorang dapat mengetahui esensi segala sesuatu serta dapat membedakan tingkatan kebaikan dan keburukan, mengetahui hal yang utama dari yang tidak utama, yang terburuk dari yang terburuk, factor-faktor penyebab yang menuntun kepadanya dan yang bertolak belakang dengannya, mencegah resiko buruk yang akan muncul, membedakan antara yang patut dilakukan dengan yang tidak patut dilakukan. Pada intinya, esensi ketaatan adalah berpikir, dan dasar dari segala kemaksiatan adalah muncul dari berpikir.

* Memperhatikan Nutrisi Jasmani dan Rohani

Ibnu Qayyim sering kali menekankan pentingnya memberikan asupan nutrisi jiwa dengan ilmu dan iman, tanpa mengesampingkan urgensi asupan nutrisi tubuh secara seimbang. Menurut beliau, nutrisi jiwa adalah mengenal sang Pencipta, mencinta-Nya, bersegera menjawab seruan-Nya, bahagia dengan-Nya, senang dengan mencintai-Nya, ridha dengan-Nya, bertawakal kepada-Nya, mencintai dan membenci karena-Nya. Serta tidak merasa nikmat, senang dan bahagia, jika tidak bersama-Nya. Itu semua merupakan nutrisi kesehatan, dan kehidupan bagi jiwa. Jika tidak terpenuhi, maak kegelisahan, kekalautan, dan kesedihan akan segera dating dari segala arah.

Sedangkan nutrisi tubuh adalah makanan dan minuman yang bias mengembalian energi dan temperature tubuh – kebutuhan dasar yang mempertahankan eksistensinya - . jika asupan makanan melebihi kebutuhan, maka tubuh tidak akan sanggup mengolah sisa makanan, yang justru berubah menjadi materi-materi berbahaya yang merusak tubuh dan menimbulkan berbagai penyakit.

* Evaluasi

Muhasabah atau evaluasi menurut Ibnu Qayyim adalah system control diri terhadap tindakan, ucapa, dan keyakinan, guna mengetahui baik buruknya sebuah hasil(prestasi). Kalau hasilnya baik maka harus ditingkatkan, namun jika hasilnya buruk maka harus dihindari dan diperbaiki.

Lanjut Ibnu Qayyim, muhasabah merupakan lafazh yang mencakup perencanaan (planning) sebelum bertindak, pengontrolan terhadap jalannya program, dan pengevaluasian dan pengevaluasian setelah melaksanakan program. Seharusnya para caleg memperhatikan hal ini, sehingga ketika kalah tidak justru merugikan orang lain, merepotkan keluarga dan membuat masyarakat resah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: