1 Apr 2009

Short Story in Enrekang


Enrekang bagi saya adalah daerah yang terindah di Sulwesi Selatan, cuma karena belunm di explore jadi terkesan kurang terkenal. Enrekang dibagi menjadi 3 wilayah yaitu Maiwa, Duri, dan Enrekang. Ini wilayah secara umum, namun sekarang sudah terpecah-pecah menjadi beberapa kecamatan baru.

Ketiga wilayah ini memiliki bahasa masing-masing, ada bahasa Maiwa, Enrekang, dan Duri. Tapi ketika seseorang berbicara, satu sama lain bisa mengerti. Namun, bahasa yang paling populer adalah bahasa Duri. Daerah Duri merupakan kawasan subur walau dikelilingi gunung batu, tapi disini, setahu saya belum pernah terjadi gunung meletus atau tanah longsor yang menelan korban banyak. Sebagian besar sayuran-sayuran dihasilkan di daerah Duri, seperti tomat, kol, buncis, bawang, kentang dan lain-lain. Hasil bumi tersebut diekspor ke daerah lain di Sulawesi, termasuk Kalimantan. Duri adalah daerah agropolitan dan memilih pasar agro satu-satunya di Sulawesi Selatan.


alau Enrekang, nah di sini pusat pemerintahan. Tepatnya disebelah utara kota makasar. Daerahnya tidak jauh beda dengan Duri, banyak bukit-bukit dan gunung. Tapi walau banyak gunung, udaranya tidak terlalu dingin, beda dengan daerah Duri yang dinginnya minta ampun. Ketika kita naik di atas gunung, Enrekang seperti sebuah lembah, kotanya dibelah oleh sebuah sungai yang lumayan besar, dan mampu menenggelamkan kota Enrekang jika tidak dirawat. Sungai ini dinamakan sungai Mata Allo.

Di sebelah barat kota Enrekang, panorama alam dengan gunung yang indah. Kami penasaran, apakah di sana ada kehidupan? Penasaran itulah yang membuat saya, ketika duduk di SMA mengajukan proposal untuk mengadakan lintas alam Enrekang dengan jalan kaki, tetapi batal jadi. Namun, saya dan kedua teman saya tetap berjalan ke sana, tetapi tidak berjalan seperti rencana semula, melainkan dengan mengendarai motor. Jalan mendaki, penurunan sangat membuat kami hati-hati, jalan yang kami lalui pun belum sepenuhnya diaspal, masih menggunakan batu. Makanya, orang di sekitar sana masih senang menggunakan kuda sebagai alat transportasi.

Perjalanan sudah sangat melelahkan, namun karena suasana yang begitu natural dan panorama yang indah, membuat kami meneruskan perjalanan. Sesekali kami harus turun dari motor, untuk memberi tanda jarak pada jalan. Panas terik matahari tidak begitu terasa, karena di sebelah kanan maupun kiri banyak ditemui pepohonan yang rindang.

Daerah maiwa, dikenal sebagai kawasan industri, dan sekarang dinamakan KIWA (Kawasan Industri Maiwa).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: