24 Apr 2009

KRISIS AIR BERSIH DAN SOLUSI ISLAM TERHADAPNYA

Ketersediaan air bersih dari tahun ke tahun semakin berkurang akibat eksploitasi yang dilakukan penduduk. Di samping itu, yang menjadi penyebab lain adalah rusaknya lingkungangan untuk resapan air, pemanasan global, dan tingginya tingkat pemborosan untuk rumah tangga. Hutan sebagai peresap air mulai gundul ditebangi oknum-oknum yang hanya mau enaknya sendiri tanpa ada rehabilitasi. Seperti yang disampaikan Jacques Diouf, Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), saat ini penggunaan air di dunia naik dua kali lipat lebih dibandingkan dengan satu abad silam, namun ketersediaannya justru menurun. Akibatnya, terjadi kelangkaan air yang harus ditanggung oleh lebih dari 40 persen penduduk bumi. Kondisi ini akan kian parah menjelang tahun 2025 karena 1,8 miliar orang akan tinggal di kawasan yang mengalami kelangkaan air secara absolut. Kekurangan air telah berdampak negatif terhadap semua sektor, termasuk kesehatan. Menurut data BKKN tahun 2006, angka kematian akibat diare mencapai 100.000 baliata per tahun.

Hasil analisis menunjukkan rata-rata konsumsi air bersih rumah tangga adalah sekitar 147,74 1/orang/hari. Jumlah konsumsi air bersih untuk setiap keperluan antara lain: MCK sebesar 57,53%, wudhu 14,60%, mencuci pakaian 11,17%, memasak 9,01%, menyiram tanaman 4,33%, kebersihan rumah 3,73%, mencuci kendaraan 2,46% dan mengisi kolam atau akuarium 1,75%, serta minum 1,3%. Tingginya tingkat penggunaan air bersih ini, mengakibatkan sebagian masyarakat mengalami kekurangan. Sebagai contoh, di Jakarta sebanyak 83 persen dari 13 daerah anak sungai dan sembilan kawasan muara sungai dikategorikan tercemar berat. Dampak langsung dari pencemaran sungai ini, air bersih makin sulit di dapat karena fungsi daur ulang secara alami kian terganggu.

Indonesia memiliki enam persen potensi air dunia atau 21 persen potensi air di Asia Pasifik. Tapi ironisnya, setiap tahun Indonesia mengalami krisis air bersih secara kualitas maupun kuantitas. Sumber air alam semakin menyusut dan air bersih olahan semakin mahal. Berbagai masalah yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air yang buruk ini antara lain yang menempatkan Indonesia pada peringkat terendah dalam Millennium Development Goals (MDGs). Laporan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) tentang MDGs Asia Pasifik tahun 2006 menyebutkan, Indonesia berada dalam peringkat terbawah bersama Banglades, Laos, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Papua Niugini, dan Filipina

Semakin sulitnya mengatasi krisis air bersih, membuat pemerintah melakukan swastanisasi terhadap pengelolaan air bersih. Swastanisasi ini juga terbuka bagi asing (PMA) dengan dikeluarkannya Paket Deregulasi No.2 tahun 1995. Dengan swastanisasi ini, diharapkan PDAM dapat meningkatkan kuantitas, kualitas, kontinuitas, dan efisiensi penyediaan air bersih. Namun sampai saat ini, masyarakat masih mengalami kesulitan air bersih.

Apresiasi Islam Terhadap Air bersih
Melihat fenomena di atas, sudah sepantasnya semua umat manusia, terutama di Indonesia untuk kembali mengamalkan nilai-nilai Islam, dimana di dalamnya terkandung begitu banyak contoh teladan dan aturan-aturan yang mestinya diikuti oleh segenap umat manusia. Seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat al-Anbiya ayat 30. Ayat ini mengindikasikan pentingnya air (bersih) dalam kehidupan. Al Quran mengemukakan bahwa air bersih diturunkan Allah dari langit, membuat tanah yang kering menjadi subur. Pelestarian sumber daya air tak terlepas dari peran manusia, sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana yang disebut dalam QS Al-Baqarah: 30) (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.).

Gerakan Hemat Air
Rasulullah saw bisa mandi wajib dengan 1 gayung air atau 1 1/3 Liter air. Kalau cara ini diterapkan saat mandi, bayangkan berapa banyak air bersih yang bisa dihemat. Padahal, pemborosan yang paling banyak adalah untuk Mandi, Cuci, dan Kakus atau MCK yang mencapai 60%. Cara mandi nabi tersebut dapat dipraktekkan dengan menggunakan kain basahan. Kain tersebut dicelupkan ke dalam air kemudian diusapkan ke seluruh tubuh. Selain lebih bersih, air digunakan lebih hemat dibandingkan dengan shower sekalipun. Menggunakan shower ketimbang gayung menghemat air sekitar 400-800 liter untuk setiap kali mandi, dengan kain bahasan dipastikan lebih hemat lagi.

Sedangkan penjelasan tentang berwudhu, yang kita ketahui menyumbang 20% pemborosan air di Indonesia. Dalam kitab Al-As’ilah wa Ajwibah Al-Fiqhiyyah Al-Maqrunah bi Al-Adillah Asy-Syar’iyyah, terdapat penjelasan berapa takaran air yang dibutuhkan ketika berwudhu. Di situ diterangkan bahwa takaran air dalam berwudhu adalah satu mud (Satu mud sama dengan 1 1/3 liter - 2 liter). Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Anas, katanya, “Adalah Rasulullah ketika berwudhu dengan (takaran air sebanyak) satu mud dan mandi (dengan takaran sebanyak) satu sha’ sampai lima mud.” ) H.R. Muttafaq alaih.

Cara mengatur dan mengubah perilaku masyarakat dalam mengkonsumi air dapat dilakukan dengan gerakan penghematan air. Gerakan ini harus dimulai oleh pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Kebijakan tersebut dapat berupa sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya air bersih. Pendekatan yang paling baik dalam sosialisasi tersebut adalah dengan menanamkan nilai-nilai agama Islam sebagai agama yang paling banyak dianut oleh penduduk Indonesia.
Oleh : Agus Riandi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: