26 Apr 2009

Mendali Untuk Indonesia

Liputan6.com, Tangerang: Empat pelajar Indonesia yang berhasil menyabet medali emas dan perak Olimpiade Energi Teknik dan Lingkungan di Amerika Serikat, tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Mereka adalah Dede Chyntia, Evelyn Wibowo, Reza Dwi Aji, dan Luthfi Rais.
ADVERTISEMENT

Keempat pelajar tersebut mengharumkan nama bangsa dalam ajang International Sustainable World Energy, Engineering, and Environment Project Olympiad di Houston, Texas, AS, pada 15-20 April silam. Ada 60 negara peserta ditambah 40 peserta dari negara bagian AS.
Dalam presentasinya di bidang lingkungan, Dede dan Evelyn meneliti penggunaan debu terbang hasil pembakaran batu bara untuk mengurangi keasaman pada air hujan serta mengurangi polusi udara. Atas penelitian ini, Dede dan Evelyn diganjar medali emas.

Sedangkan Reza dan Luthfi meneliti bidang energi dengan tema memaksimalkan energi matahari untuk penggunaan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya menyabet medali perak atas prestasi ini. Selain medali dan hadiah uang, para pemenang juga mendapat beasiswa pendidikan senilai US$ 32 ribu dari Faith University.(TES/Abdul Rosyid)
24 Apr 2009

KRISIS AIR BERSIH DAN SOLUSI ISLAM TERHADAPNYA

Ketersediaan air bersih dari tahun ke tahun semakin berkurang akibat eksploitasi yang dilakukan penduduk. Di samping itu, yang menjadi penyebab lain adalah rusaknya lingkungangan untuk resapan air, pemanasan global, dan tingginya tingkat pemborosan untuk rumah tangga. Hutan sebagai peresap air mulai gundul ditebangi oknum-oknum yang hanya mau enaknya sendiri tanpa ada rehabilitasi. Seperti yang disampaikan Jacques Diouf, Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), saat ini penggunaan air di dunia naik dua kali lipat lebih dibandingkan dengan satu abad silam, namun ketersediaannya justru menurun. Akibatnya, terjadi kelangkaan air yang harus ditanggung oleh lebih dari 40 persen penduduk bumi. Kondisi ini akan kian parah menjelang tahun 2025 karena 1,8 miliar orang akan tinggal di kawasan yang mengalami kelangkaan air secara absolut. Kekurangan air telah berdampak negatif terhadap semua sektor, termasuk kesehatan. Menurut data BKKN tahun 2006, angka kematian akibat diare mencapai 100.000 baliata per tahun.

Hasil analisis menunjukkan rata-rata konsumsi air bersih rumah tangga adalah sekitar 147,74 1/orang/hari. Jumlah konsumsi air bersih untuk setiap keperluan antara lain: MCK sebesar 57,53%, wudhu 14,60%, mencuci pakaian 11,17%, memasak 9,01%, menyiram tanaman 4,33%, kebersihan rumah 3,73%, mencuci kendaraan 2,46% dan mengisi kolam atau akuarium 1,75%, serta minum 1,3%. Tingginya tingkat penggunaan air bersih ini, mengakibatkan sebagian masyarakat mengalami kekurangan. Sebagai contoh, di Jakarta sebanyak 83 persen dari 13 daerah anak sungai dan sembilan kawasan muara sungai dikategorikan tercemar berat. Dampak langsung dari pencemaran sungai ini, air bersih makin sulit di dapat karena fungsi daur ulang secara alami kian terganggu.

Indonesia memiliki enam persen potensi air dunia atau 21 persen potensi air di Asia Pasifik. Tapi ironisnya, setiap tahun Indonesia mengalami krisis air bersih secara kualitas maupun kuantitas. Sumber air alam semakin menyusut dan air bersih olahan semakin mahal. Berbagai masalah yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air yang buruk ini antara lain yang menempatkan Indonesia pada peringkat terendah dalam Millennium Development Goals (MDGs). Laporan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) tentang MDGs Asia Pasifik tahun 2006 menyebutkan, Indonesia berada dalam peringkat terbawah bersama Banglades, Laos, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Papua Niugini, dan Filipina

Semakin sulitnya mengatasi krisis air bersih, membuat pemerintah melakukan swastanisasi terhadap pengelolaan air bersih. Swastanisasi ini juga terbuka bagi asing (PMA) dengan dikeluarkannya Paket Deregulasi No.2 tahun 1995. Dengan swastanisasi ini, diharapkan PDAM dapat meningkatkan kuantitas, kualitas, kontinuitas, dan efisiensi penyediaan air bersih. Namun sampai saat ini, masyarakat masih mengalami kesulitan air bersih.

Apresiasi Islam Terhadap Air bersih
Melihat fenomena di atas, sudah sepantasnya semua umat manusia, terutama di Indonesia untuk kembali mengamalkan nilai-nilai Islam, dimana di dalamnya terkandung begitu banyak contoh teladan dan aturan-aturan yang mestinya diikuti oleh segenap umat manusia. Seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat al-Anbiya ayat 30. Ayat ini mengindikasikan pentingnya air (bersih) dalam kehidupan. Al Quran mengemukakan bahwa air bersih diturunkan Allah dari langit, membuat tanah yang kering menjadi subur. Pelestarian sumber daya air tak terlepas dari peran manusia, sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana yang disebut dalam QS Al-Baqarah: 30) (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.).

Gerakan Hemat Air
Rasulullah saw bisa mandi wajib dengan 1 gayung air atau 1 1/3 Liter air. Kalau cara ini diterapkan saat mandi, bayangkan berapa banyak air bersih yang bisa dihemat. Padahal, pemborosan yang paling banyak adalah untuk Mandi, Cuci, dan Kakus atau MCK yang mencapai 60%. Cara mandi nabi tersebut dapat dipraktekkan dengan menggunakan kain basahan. Kain tersebut dicelupkan ke dalam air kemudian diusapkan ke seluruh tubuh. Selain lebih bersih, air digunakan lebih hemat dibandingkan dengan shower sekalipun. Menggunakan shower ketimbang gayung menghemat air sekitar 400-800 liter untuk setiap kali mandi, dengan kain bahasan dipastikan lebih hemat lagi.

Sedangkan penjelasan tentang berwudhu, yang kita ketahui menyumbang 20% pemborosan air di Indonesia. Dalam kitab Al-As’ilah wa Ajwibah Al-Fiqhiyyah Al-Maqrunah bi Al-Adillah Asy-Syar’iyyah, terdapat penjelasan berapa takaran air yang dibutuhkan ketika berwudhu. Di situ diterangkan bahwa takaran air dalam berwudhu adalah satu mud (Satu mud sama dengan 1 1/3 liter - 2 liter). Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Anas, katanya, “Adalah Rasulullah ketika berwudhu dengan (takaran air sebanyak) satu mud dan mandi (dengan takaran sebanyak) satu sha’ sampai lima mud.” ) H.R. Muttafaq alaih.

Cara mengatur dan mengubah perilaku masyarakat dalam mengkonsumi air dapat dilakukan dengan gerakan penghematan air. Gerakan ini harus dimulai oleh pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Kebijakan tersebut dapat berupa sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya air bersih. Pendekatan yang paling baik dalam sosialisasi tersebut adalah dengan menanamkan nilai-nilai agama Islam sebagai agama yang paling banyak dianut oleh penduduk Indonesia.
Oleh : Agus Riandi
19 Apr 2009

Rebutan Gadis, Oknum Polisi-Pelajar Baku Pukul

ENREKANG, Upeks--Berjalannya waktu kasus perkelahian antara oknum polisi Polres Enrekang, dengan oknum pelajar SLTA setelah seminggu terjadi mulai menunjukkan rekonsiliasi.

Meski para pihak yang terlibat, khususnya dari keluarga oknum pelajar Akbar dan henrianto (Hendrik), dirasakan berlangsung berat sebelah.
"Perkelahian ini melibatkan oknum polisi dan pelajar, tapi hanya memberi penahanan sepihak tanpa menyertakan polisi untuk di tahan juga," ungkit NY, salah satu keluarga pelajar.

Keheranan warga pun menyeruak, atas perlakuan tebang pilih penahanan yang dilakukan Polres Enrekang. Dalam kasus ini, bermula perkelahian terbuka sekitar Masjid Taqwa Kota Enrekang, yang dipicu soal sepele saling rebut cewek.
Adalah Bripda Henrianto rekan-rekannya, yang baru keluar pendidikan polisi mulai unjuk diri berseteru dengan pelajar, Akbar, teman sejawat Eko. Dari informasi yang dihimpun, bermula dari cekcok mulut antara Bripda Henrianto dengan Akbar, yang bersaing memperebutkan perhatian cewek.
Dengan percaya diri, oknum polres itu mencaci maki Akbar dengan kata kotor, yang saat itu lagi bersama Eko. Perbuatan tidak menyenangkan itu, tak mendapat tanggapan serius, tapi berselang hari kelakuan sama diulang Bripda Henrianto. Provokasi merasa diremehkan, pelajar Eko dan Akbar yang lagi berkendara roda dua, terpaksa berhenti tepat di depan Masjid Taqwa.
"Provokasi oknum polisi itu berlanjut, malah akhirnya saling tinju dengan Eko",kata NY. Keributan pecah yang sempat dilerai massa, tak memuaskan Bripda Henrianto, selain melapor dipukul oleh pelajar juga mengundang sepickup petugas SPK polres untuk mengejar oknum pelaku.
Kini pelajar (Eko) yang diduga terlibat pemukulan, langsung dibekuk aparat dan sudah seminggu ditahan, warga tetap menyayangkan oknum polisi justru bebas sanksi.
Ambivalen polisi dalam penanganan kasus ini bagi pihak keluarga Akbar dilapor balik atas tindak perbuatan tidak menyenangkan. Saat dikontak, Kasat Samapta, AKP Sugianto, untuk dikonfirmasi terkait dugaan keluarnya aparat dari pos SPK Polres bersama dengan Bripda Henrianto, masih sibuk. "Dari upaya hukum itu malah Eko yang kini ditahan segera bebas dari sel tahanan polres, untuk persiapan ujian," katanya. (Syamsul Khaliq)

Indonesia Obyek Wisata Seks Populer Turis Arab

Ketika Indonesia menjadi obyek dakwah dan ladang persemaian gerakan-gerakan Islam yang berasal dari negara-negara Arab, di sisi yang lain Indonesia juga menjadi obyek "wisata seks" yang sangat populer bagi turis-turis Arab.

Dan lebih naifnya lagi, praktik ini dilegalkan oleh salah satu fatwa ulama mereka. Salah satu ulama yang melegalkan praktik demikian adalah Syaikh Abdullah bin Baz, ulama yang menjadi rujukan penting kalangan salafi-wahhabi.

Baru-baru ini, Kepala Bidang Pembimbingan Masyarakat (Qism ar-Ra'aya) Kedutaan Besar Saudi Arabia di Jakarta mendesak Badan Pembesar Ulama (Hay'ah Kubbar al-Ulama) kerajaan petro dollar tersebut untuk mengeluarkan fatwa yang menyikapi maraknya fenomena "pernikahan" para lelaki Saudi dengan perempuan Indonesia "yang diniatkan adanya talak (cerai) setelahnya" (nikah bi niyyat at-thalaq).

Khalid al-Arrak, Kepbid Bimas Kedutaan Saudi di Jakarta menyatakan, pihaknya khawatir jika fenomena yang marak di kalangan lelaki negaranya itu kian hari kian merebak dan tak dapat dikontrol.

Harian Saudi Arabia al-Wathan (16/4) melansir, fenomena "nikah dengan niat talak di belakangnya" yang dilakukan oleh para lelaki Saudi dengan perempuan Indonesia itu sangat populer.

Al-Arrak menyatakan, para lelaki Saudi yang melakukan praktik ini tidak lagi memperhatikan undang-undang yang berlaku terkait pernikahan, karena mereka justru menyandarkan perbuatan mereka terhadap salah satu fatwa ulama yang melegalkannya. "Mereka melakukan pernikahan ini dengan bersandar pada fatwa ulama yang membolehkan nikah dengan niat bercerai (nikah bi niyyat at-thalaq)," ungkap al-Arrak.

Sayangnya, dari pihak perempuan Indonesia sendiri menjadikan praktik ini sebagai ladang pekerjaan. Lagi-lagi kemiskinan dan susahnya hidup yang melilit mereka adalah dendang usang kaset lawas yang dijadikan dalih. "Perempuan Indonesia beranggapan jika menikah dengan lelaki Saudi, sekalipun kelak akan diceraikan, dipandang sebagai solusi sesaat untuk mendulang uang dan jalan pintas untuk dapat keluar dari jerat kemiskinan," tambah al-Arrak.

Yang lebih disayangkan lagi, di Indonesia sendiri banyak tersebar kantor-kantor "siluman" yang memfasilitasi praktik pernikahan edan ini, lengkap dengan modin, saksi, dan wali palsu dari calon pengantin perempuan.

Kedutaan Saudi di Jakarta sendiri telah mencatat setiaknya 82 pengaduan pada tahun lalu, ditambah 18 pengaduan tahun ini yang diajukan oleh para "mantan istri" perkawinan ini, yang ternyata menghasilkan anak.

Meski tidak tercatat secara resmi di Kedutaan, namun pihaknya siap untuk memfasilitasi anak-anak yang diadukan itu untuk dapat pergi ke Saudi, negara bapak mereka berasal, dengan memberikan tiket dan visa masuk gratis.

Tetapi, dalam banyak kasus, para bapak mereka (pria Saudi) tidak akan mengakui kalau anak-anak tersebut adalah darah daging mereka, karena tidak adanya bukti-bukti legal dan lengkap dari pihak keluarga perempuan di Indonesia.

Salah seorang korban dari paktik ini, Isah Nur (24), mengaku pernah dinikahi pria Saudi saat ia berusia 16 tahun. Sekarang ia telah menjanda, dan meneruskan profesi lamanya sebagai "istri yang dinikahi sesaat untuk kemudian diceraikan" dengan menjalani kehidupan malam.

Lebih naif lagi, Isah mengaku senang saat dulu dinikahi pria Saudi tersebut, karena orang-orang Saudi dipercaya memiliki dan membawa berkah. "Umat Islam di Indonesia menganggap orang Mekkah dan Madinah memiliki dan membawa berkah," katanya.

Isah juga menambahkan, mayoritas pria Saudi yang melakukan praktik pernikahan ini menyetorkan mahar sekitar Rp. 3 hingga 6 juta, atau setara dengan RS. 2300, jumlah yang sangat kecil sekali bagi ukuran pendapatan orang-orang Saudi, sebanding dengan uang saku anak sekolah. Namun, bagi penduduk Indonesia, jumlah tersebut sangat besar.

Pada mulanya, Isah dan keluarganya mengaku sama sekali tidak mengetahui jika pria Saudi yang menikahinya itu hanya akan menikmati tubuhnya saja, dengan berpedoman pada fatwa bolehnya "menikah dengan niat bercerai".

Pernikahan antara mereka sendiri hanya berlangsung beberapa saat waktu saja, untuk kemudian sang pria Saudi itu meninggalkan Isah bersama seorang anak kecil hasil hubungan mereka.

"Saat meninggalkan kami, pria itu hanya memberikan uang Rp. 3 juta," tutur Isah.

Kedubes Saudi juga menjelaskan, jika kasus pernikahan model demikian hanya terjadi pada 20% populasi pernikahan pria Saudi dengan wanita Indonesia.

"Selebihnya resmi dan legal," tutur al-Arrak.

Praktik "pernikahan dengan niat bercerai sesudahnya" ini benar-benar naif, dan lebih naif lagi dilegalkan oleh fatwa ulama. Indonesia adalah tempat terpopuler untuk obyek praktik ini bagi orang-orang Arab, karena dipandang paling murah dan paling mudah. Praktik demikian sejatinya tak jauh beda dengan prostisusi, prostisusi yang kemudian terlegalkan oleh fatwa ulama. dan salah satu lokasi wisata favorit bagi turis-turis Arab untuk melegalkan praktik tersebut adalah kawasan puncak dan sekitarnya. (eramuslim.com)
16 Apr 2009

Daftar Dendeng Mengandung Babi

Inilah lima merek dendeng yang positif mengandung DNA babi menurut Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hasil tes ini didapat setelah BPOM melakukan pengujian terhadap 35 dendeng dan abon yang diklaim diproduksi dari daging sapi.

Kelima dendeng merek ini ditemukan di sejumlah pasar tradisional di Surabaya, Bandung, Jakarta, Semarang, Jambi, dan Bogor.

Berikut kelima merek tersebut:
- Dendeng/abon Cap Kepala Sapi
- Dendeng/abon Cap Limas
- Dendeng/abon Cap ACC
- Dendeng Sapi Istimewa Beef Jerky Lezaaat
- Dendeng Sapi Istimewa Cap 999
15 Apr 2009

Mubes di Tengah Pemilu

Dua hari mubes diselenggarakan. Kegiatan tahunan ini dilaksanakan di daerah dataran tinggi Kaliurang yang terkenal sebagai kawasan wisata. Hampir sejam mobil yang kami tumpangi kelak-kelok menanjaki kawasan yang adem. Dari kejauhan tampak gunung merapi yang tahun lalu mengeluarkan hawa panasnya yang dikenal dengan whendus gembel. Suasananya hampir sama dengan kawasan Enrekang. Pengalaman, ketika malam tiba dinginnya bukan main, harus memakai seongkok selimut untuk menutup seluruh badan.
Mubes kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di depan kami telah hadir tokoh dan sesepuh HIKMA (Himpunan Keluarga Massenrempulu) Pak Azkari yang lengkap dengan kaca matanya mirip bang One. Beberapa saat kemudian, saat pak Azkari asyik-asyiknya berbincang, Pak Nur datang lengkap dengan pasangannya. Suaranya menggelegar, apalagi ketika sedang memberikan semangat kepada seluruh peserta mubes yang kebanyakan masih muda-muda.

Sungguh, mubes kali ini lain dari yang lainnya, berbagai kejadian-kejadian sedikit menggelitik walau sebenarnya tidak lucu, hanya saja sikap refleks yang suka menertawakan walau sebenarnya kesalahannya sepele. Ha… dasar, inilah salah satu mempererat kekeluargaan antara kita, saat kita tertawa dan bercanda ketika sebagian caleg setress menunggu penghitungan suara, ketika KPU tergopoh-gopoh menaggung malu karena logistik pemilu belum 100% disalurkan.

Adu argument sili berganti membuat suasana ramai mengusir ngantuk. Tak terasa jam 12 lewat, acara masih berlangsung. Tak jarang sebagian peserta terangguk-angguk seakan paham betul saat LPJ dibacakan ketua dan koordinator bidang, he…padahal ngantuk. Pimpinan sidang yang menjadi algojo pengambilan kebijakan mengetuk palu sebanyak 3 kali, tanda siding diskor keesokan harinya.

Sayup-sayup dedaunan diterpa embun pagi. Dari kejauhan tampak kokoh tumpukan tanah menandakan ke Esaan sang pencipta. Tak pernah berhenti menghembuskan hawa panasnya. Tak terbayangkan ketika murka-Nya melanda, Jogja dan sekitarnya bisa rata dengan tanah.

Sidang dilanjutkan, tiba-tiba tuuuuuuttttttt…, suara sampah spontan terdengar, ha…ha…., ai…siapa yang kentut…ha…ha… Acara dilanjutkan, pimpinan tak hentinya mengetuk palu, tanda pembahasan AD/ART telah sah. Gimana, sah… sah… tuk.

Tiba saat-saat menengangkan, saatnya memilih pemimpin yang akan menentukan arah organisasi ke depan, apakah organisasi tetap eksis atau malah melempem kayak kerupuk MURNI yang sering kita nikmati.

LANJUTKAN…! Spontan salah seorang peserta maju kedepan, tak ubahnya seorang tim sukses SBY. Coblos moncong putih, saat ibu ‘mega’ maju keputaran kedua pemilihan ketua.

Akhirnya, pemilihan berakhir dengan kemenangan saudara Jasman. Semoga KPMM Jogjakarta tetap eksis sebagai organisasi yang memiliki prinsip kekeluargaan, mengedapankan kebersamaan di kampungna tau. Organisasi yang memberikan andil pembelajaran bagi anggotanya, dan memberikan kontribusi kepada Pemda Enrekang, serta mempunyai sikap demi maju kembangnya bangsa Indonesia.
14 Apr 2009

Leiho, Datanglah Kebajikan (bagian 2)

Pada saat Nenek dan Kakekku menikah, Leiho telah dua tahun tinggal bersama keluarga barunya.
Ketika baru menikah, Kakek pernah berkata kepada Nenek kalau dia memiliki tiga orang saudara perempuan. Kakak perempuannya bernama Yen Ndui, masih tinggal di China dan seumur-umur belum pernah ditemuinya. Adik perempuannya ada dua orang yakni: Leiho dan Liming.
Awalnya, Nenek tidak pernah tahu bahwa salah satu adik iparnya merupakan anak angkat. Sampai pada suatu hari, tanpa sengaja Nenek mengetahuinya lewat peristiwa berikut.
"Hayo, Kau Ndui, lekas kemari dan makan! Aku akan menyuapimu," Leiho memanggil Liming. Kau Ndui—Gadis Gukguk adalah nama lain Liming.
"Tidak mau! Aku tidak mau makan!" seru Liming.
Kakek yang kebetulan lewat menegur adik bungsunya itu.
"Kau jangan bandel seperti itu, Kau Ndui. Ayo cepat duduk yang manis biar Ciecie Leiho menyuapimu."

Liming mendelik ke arah Kakek, tak senang. "Siapa bilang dia Ciecie-ku? Aku tak sudi punya Ciecie seperti dia!"
"Kau Ndui!!" seru Kakek dengan keras. "Jangan berkata seperti itu kepada Ciecie Leiho!"
Liming melihat ke arah Kakek dengan pandangan menantang dan tak takut sama sekali. "Lha, kenyataanya memang begitu, kan? Dia cuma anak pungut! Asal-usulnya tidak jelas entah dari mana!"
"Liming!" seru Kakek lagi. "Masih sekecil ini tabiatmu sudah seburuk itu! Aku akan memberimu 'sedikit pelajaran'!"
Kakek mengulurkan tangan hendak menjewer kuping Lnming, tetapi gadis cilik itu dengan cepat berkelit ke arah pintu. Sebelum sosoknya hilang, dia masih sempat berbalik dan melihat ke arah Leiho. Lalu, sambil nyengir dengan gaya kurang ajar, Liming menjulurkan lidahnya keluar mengejek Ciecie-nya itu.
Nenek terpana menyaksikan hal tersebut. Belum pernah dilihatnya bocah perempuan sekurang ajar Liming yang dengan tega mempermainkan kakak perempuannya. Dilihatnya wajah Leiho yang tertunduk lesu, diam-diam menyimpan kepedihannya sendiri.
Dari penampilannya, sukar dipercaya apabila mengatakan Leiho dan Liming bukan kakak beradik. Kedua saudari itu sama-sama berkulit hitam manis dan berperawakan kecil. Hanya saja, apabila dilihat dari dekat, mata Leiho memang lebih besar ketimbang Liming.
Sekarang, Nenek pun mengerti. Pantas saja ketika pertama kali bertemu Leiho, Nenek mendapati gadis itu berbicara terbata-bata sampai-sampai Nenek sempat mengira kalau adik iparnya itu gagap. Tetapi anehnya, terkadang jika sedang bersemangat, Leiho akan berbicara cepat dalam bahasa yang sama sekali tidak dimengerti oleh siapa pun. Diam-diam, Nenek menaruh perhatian terhadap Leiho.
Nenek memperhatikan kalau hanya Kakek Buyutlah yang paling memperhatikan Leiho. Sedangkan Nenek Buyut dan Liming tiada hari tanpa memarahi dan mengolok-olok gadis itu. Bukankah Kong Zi—Konfucius pernah berkata, 'Apabila setiap orang menganggap orangtua orang lain seperti orangtua sendiri dan anak orang lain sebagai anak sendiri, maka dunia yang diciptakan bagi semua orang ini pun akan menjadi harmonis'. Sungguh disayangkan apabila hanya karena statusnya sebagai anak angkat Leiho mesti menerima bual-bualan dari Ibu dan adik angkatnya.
Nenek berusaha menjalin hubungan baik dengan adik iparnya yang satu ini. Awalnya, Leiho tidak langsung percaya dan menjaga jarak sebab khawatir Nenek akan bersikap tidak ubahnya seperti Nenek Buyut dan Liming. Tapi lama-kelamaan, akhirnya Leiho mau bersahabat dengan kakak iparnya itu. Nenek membuktikan bahwa sikap tulus dan senyum tanpa pamrih bisa memenangkan kepercayaan dari seseorang.

***

Sewaktu memutuskan menikah dengan Kakek, Nenek tidak pernah tahu kalau ternyata calon Ibu Mertuanya itu seorang wanita tua yang kolot sekali.
Nenek Buyut masih memegang prinsip kuno orang Tionghoa bahwa seorang Ibu Mertua berkuasa penuh atas menantu perempuannya serta berhak memperlakukan menantunya itu dengan semena-mena, tanpa boleh dibantah.
Maka setelah menikah dengan Kakek, Nenek pun mulai mengalami hal-hal yang belum pernah dilakukannya sebelumnya. Nenek Buyut menyuruhnya memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Nenek yang sebelum menikah adalah putri orang kaya tak mampu melakukan semua itu. Ayah Nenek adalah seorang penjahit terkenal di pecinan, langganan para Meneer Belanda. Di rumahnya dulu Nenek memiliki banyak pembantu sehingga dia dan adik perempuannya tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga.
Ketika mengetahui hal itu, Nenek Buyut seakan memperoleh kesenangan baru dengan memarahi dan mengolok-olok menantunya itu.
"Orang-orang berkata bahwa aku tentunya beruntung memiliki menantu perempuan yang cantik, putih dan pintar. Tapi tahukah mereka kalau menantuku itu membersihkan rumah dan mencuci pakaian pun tak becus! Bahkan, memasang kayu bakar dan menanak nasi pun dia tak bisa! Haiya... bagaimana mungkin dia bisa disebut wanita sejati?" sindirnya lagi.
Nenek hanya terdiam menelan ludah.
"Ada pepatah lama yang mengatakan: 'Kalau menikah dengan anjing ikut anjing, kalau menikahi orang miskin ikut orang miskin'! Sayang sekali putraku tidak bisa seperti Ayahmu yang menyediakan lusinan pembantu sehingga tugas-tugas rumah tangga ini semuanya mesti kau kerjakan sendiri!"
Nenek mendengar kata-kata itu setiap hari, hampir beberapa jam sekali. Setiap kali apabila Nenek Buyut mendapati kesalahannya, Nenek pun akan memperoleh 'kata-kata mutiara' tersebut. Walau demikian, Nenek sama sekali tidak pernah membantah dan menerima begitu saja celaan-celaan itu.
Leiho terkesan oleh kesabaran Nenek. Karenanya, diam-diam dia membantu kakak iparnya itu. Leiho senantiasa mendampingi Nenek, mangajari serta menasehatinya.
"Shao Shao—Kakak Ipar, jangan membuat kopi dengan cara seperti itu, nanti aromanya akan hilang...."
Nenek mulai belajar sedikit demi sedikit apa yang diajarkan oleh Leiho.
"Shao Shao, coba pakai cara begini sewaktu menjemurnya! Aku pernah melihat Ibu melakukannya. Cara ini lebih praktis dan mudah...."
Nenek mulai beradaptasi.
"Shao Shao, jangan meletakkan barang itu di situ! Nanti Ibu akan memarahimu lagi...."
Demikianlah hubungan Nenek dan Leiho semakin akrab berkat bantuan-bantuan serta aneka tips rahasia yang diberikan olehnya. Lambat-laun, Nenek akhirnya terhindar dari omelan-omelan Nenek Buyut.
Pada akhirnya, Nenek pun mulai menganggap Leiho sebagai saudara sekaligus sahabat yang paling bisa diandalkan. Hubungan yang erat ini masih terus berlangsung sampai rambut keduanya beruban dan usia mereka bertambah tua.

***

Pada suatu siang, Nenek dan Leiho sedang duduk-duduk di dapur.
Sebagian besar tugas dapur hari itu telah selesai. Mereka tinggal menantikan mendidihnya air yang sementara direbus. Di dekat kompor kayu bakar kedua perempuan itu bercakap-cakap.
Pada kesempatan ini Leiho berkata, "Shao Shao, kudengar kau dulu adalah murid yang cerdas ketika bersekolah dulu. Maukah kau mengajariku membaca dan menulis mandarin? Aku sampai sekarang masih kesulitan berbicara dalam bahasa Guandong Khaiphing, apalagi mandarin...."
"Tentu saja boleh. Aku bersedia mengajarimu," jawab Nenek.
Leiho menggoyang-goyangkan kepala sambil berkata lagi, "Selama ini cuma Ayah dan Kokoh—kakak lelaki, yang mengajariku jika sedang tak sibuk. Ibu jarang peduli. Dia dan Liming malah menertawakanku setiap kali aku salah bicara sehingga aku malu dan takut salah."
Nenek mendengar sambil menggeleng-gelengkan kepala. Nenek jelas tidak setuju dengan orang-orang yang senang menertawakan kelemahan orang lain. Nenek lalu membesarkan hati Leiho.
"Kau jangan malu atau pun takut salah. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan sebelum dia menjadi mahir.Yang perlu kau lakukan hanyalah terus berlatih. Meski keliru pada awalnya tetapi itu masih lebih baik daripada tidak pernah mencoba sama sekali. Apa kau paham?"
Leiho mengangguk.
"Baiklah," lanjut Nenek. "Sebagai permulaan, sekarang apa yang hendak kau pelajari?"
Mata Leiho berbinar. "Aku ingin belajar menulis namaku sendiri!" sahutnya.
Maka, Nenek pun mengambil sebatang kayu bakar dari perapian yang ujungnya menghitam. Lalu, di atas dinding dapur yang kekuningan, Nenek menulis nama Leiho dengan kayu arang tersebut.
"Namamu terdiri dari dua kata, lei dan ho Dalam bahasa mandarin, kedua kata ini dilafalkan sebagai lai dan hao. Lei atau lai berarti datanglah, sedangkan ho atau hao berarti kebajikan. Kau dinamakan demikian dengan harapan agar kedatanganmu di rumah ini bisa membawa kebajikan dalam keluarga."
Leiho memandang tulisan namanya di dinding dapur dengan terkesima. "Ya," bisiknya. "Dulu Ayah juga pernah berkata seperti itu padaku."
Setelah memandang tulisan namanya selama beberapa saat, Leiho mulai menirunya. Sembari berusaha menulis kata lei, dia bertanya kepada Nenek.
"Shao Shao, tahukah kau mengapa Liming biasa dipanggil Kau Ndui—Gadis Gukguk? Bukankah itu personifikasi gonggongan anjing, dan maknanya kurang bagus? Masa anak perempuan panggilannya seperti anjing?"
Nenek tersenyum mendengar perkataan Leiho. Dia pun mulai bertutur kepada adik iparnya itu.
"Orang Tionghoa zaman dulu punya sebuah kepercayaan. Apabila seorang anak ketika kecil sering rewel dan sakit-sakitan, hal itu biasanya disebabkan oleh namanya yang bermakna terlalu tinggi. Konon, roh-roh jahat senang mengganggu anak-anak yang namanya indah-indah serta enak didengar. Arti nama Liming sesungguhnya adalah 'elok dan cerdas'. Aku pernah dengar dari Kokoh bahwa sewaktu kecil, Liming sering jatuh sakit. Itu sebabnya Ibu mengubah panggilannya menjadi Kau Ndui—Gadis Gukguk, dengan harapan supaya roh-roh jahat tidak mengganggunya. Ajaibnya, menurutk Kokoh, semenjak dipanggil seperti itu, kesehatan Liming berangsur-angsur pulih, bahkan sampai sekarang dia jarang sakit."
Leiho mendengar kisah itu dengan terkesima. Dengan mata membelalak dia berseru, "Benar-benar cara memberi nama yang aneh!"
Sejurus kemudian, Leiho kembali menekuni tulisannya. Kali ini dia tengah berusaha menulis huruf ho.
"Ayah biasa memanggilku dengan sebutan Ho Ndui—Gadis Bajik. Aku terkadang malu apabila dipanggil seperti itu. Sebab aku sangsi, apakah memang benar aku anak yang baik?"
Nenek tersenyum lagi sambil menyambung, "Tentu saja kau anak yang baik."
"Ayah juga biasa menyebut hiang kau padaku. Aku tak tahu apa artinya. Akan tetapi aku rasa itu juga berarti baik sebab Ayah mengucapkannya dengan penuh kegembiraan."
"Wah, itu memang pujian, Leiho. Hiang kau berarti penurut dan berbakti. Kau memang pantas disebut seperti itu."
Wajah Leiho memerah karena perkataan yang dilontarkan Nenek. Dia lalu menanggapi.
"Tapi Ibu sering memarahiku. Meski aku tak terlalu paham maksudnya, aku bisa melihat mimik wajahnya yang galak ke arahku. Kadang-kadang dia melontarkan kata-kata pun chuat dan mbo yong padaku. Shao Shao tahu apa arti dari kedua kata-kata itu?"
"Itu...," Nenek berhenti sejenak. 'Ah, kenapa kata-kata itu diucapkan kepada Leiho?' Nenek membatin. Namun tetap diungkapkannya juga dengan terpaksa. "Kedua kata itu maknanya kurang baik," ujar Nenek sedih. "Pun Chuat berarti 'tolol' atau 'bodoh'. Bahasa mandarinnya disebut pen tan. Sedang kata mbo yong, dalam bahasa mandarin disebut mei you yong, keduanya sama-sama berarti 'tidak berguna'."
Leiho berpikir sebentar guna mencerna perkataan Nenek. Tak lama kemudian dia tertawa-tawa sambil bergumam, "Pantas saja Ibu mengatakan itu setiap kali aku salah dalam melakukan sesuatu. Tidak heran pula kalau dia sering mengucapkan kedua kata-kata itu padaku sambil kesal dan menggerutu. Rupanya artinya seperti itu...."
Malamnya, Nenek mendengar pertengkaran antara Leiho dan Liming lagi. Seperti biasa, Liming si Anak Nakal itu tengah mempermainkan Leiho yang hendak menyuapinya. Bukannya duduk baik di atas kursi, Liming malah berlarian ke sana kemari sehingga Leiho mesti mengejar-ngejarnya.
"Aduh, Kau Ndui, jangan mondar-mandir begitu! Bagaimana aku bisa menyuapimu kalau kau berkeliaran terus...," keluh Leiho
Liming melihat ke arah Leiho dan mendengus, "Aku tidak minta kau untuk menyuapiku, kok! Aku kan sudah pernah bilang, aku tidak mau disuapi olehmu!"
Leiho gemas. Dia mulai berkata tegas, "Bisakah kau sesekali mematuhi aku? Kalau kau tidak mau makan, nanti aku yang akan dimarahi Ibu karena dikiranya aku tidak mengurusmu!"
Tingkah Liming semakin menjadi-jadi. "Untuk apa aku harus mematuhimu? Kau kan bukan Ciecie-ku!" Setelah berkata demikian, Liming menjulurkan lidahnya mengejek Leiho.
Kekesalan Leiho memuncak. Piring yang sedang dipegangnya dibanting ke atas meja hingga sendoknya terpelanting. Leiho berkacak pinggang. Kedua matanya dengan tajam memandang ke arah Liming lurus-lurus seolah hendak menelan anak itu bulat-bulat.
"Baiklah, kalau kau tidak mau makan! Biar saja kau kurus kering seperti anak yang kena cacingan! Aku sudah muak denganmu! Aku tak mau menyuapimu makan lagi!"
Liming terkejut dan terpana. Dipandangnya Leiho seolah tak percaya. Selama dua tahun ini Liming tak henti-hentinya mempermainkan, mengejek dan bahkan memarahi kakak angkatnya itu. Namun baru pada hari inilah Liming melihat Leiho tidak lagi menerima begitu saja perlakuannya. Dia melawan!
Leiho melanjutkan amukannya lagi. Dia berkata dengan suara keras, "Siapa juga yang mau punya Meimei—adik perempuan macam kau? Kau nakal, sering berkelakuan tidak sopan dan pembantah! Kau juga pun chuat—bodoh, dan..." Leiho memutar kedua bola matanya, mencari-cari kata-kata yang tepat. ".... Mbo yong—tidak berguna!" seru Leiho menyelesaikan kalimatnya.
Liming benar-benar shock! Matanya membelalak besar sekali dan mulutnya menganga. Beberapa saat kemudian, Liming menangis sembari mencari Nenek Buyut dan melapor.
"Huhuhu... Ibu... Leiho barusan memarahiku! Dia mengataiku.... Katanya... aku ini... 'tidak berguna'! Huhuhu....!"

***

Pada tahun 1941, Nenek melahirkan putra sulungnya, Paman Tertuaku.
Ketika Paman Tertua mulai belajar berbicara, Nenek pun mengajarinya memanggil nama-nama anggota keluarga.
"Papa, Mama...."
"Pap... pa, Mam... ma...."
"Akong, Ahu—Kakek, Nenek...."
"A... kung, A... fhu...."
Tiba-tiba Leiho melintas dan melambaikan tangan dengan jenaka ke arah Paman Tertua.
"Chie... Chie...," Paman Tertua mengumam sambil menunjuk ke arah Leiho.
"Siapa yang kau panggil Ciecie?" Nenek bertanya keheranan. Setelah melihat ke arah yang ditunjuk Paman Tertua, barulah Nenek mengerti.
"Oh, ternyata Leiho. Panggilannya bukan Ciecie—kakak perempuan, Nak. Semestinya Gei Ku—Bibi kedua dari pihak Ayah."
"Bukan...! Dia itu Chie Chie...," Paman Tertua bersikeras menolak mengubah panggilannya.
Nenek pada akhirnya menyerah pada keinginan putra sulungnya. Untuk selamanya, Paman Tertua memanggil Leiho 'Ciecie'. Kekeliruan ini diteruskan kepada Paman Kaseng, kemudian Paman Kedua, dan yang terakhir adalah Ayahku sendiri. Akhirnya, keempat putra Nenek tersebut tak ada satu pun yang memanggil Leiho dengan sebutan 'Bibi'.
Keempat putra Nenek sangat akrab dengan Leiho. Sejak kecil mereka sudah sangat dekat dengan 'Ciecie' mereka yang satu ini.
Sebaliknya dengan Leiho, hubungan antara Paman Tertua dengan Liming berlangsung dingin dan senantiasa dipenuhi pertengkaran. Ketika Paman Tertua lahir, Liming berusia sembilan tahun. Sewaktu mengetahui bahwa si Keponakan Baru ternyata lebih 'mencuri' perhatian seluruh keluarga ketimbang dirinya, muncullah perasaan iri dalam diri Liming. Sejak kecil Paman Tertua sering disakiti oleh Liming, terutama jika dia baru saja memperoleh hadiah atau pujian dari Kakek dan Nenek Buyut. Liming tidak segan-segan untuk mencubit, memukul, atau bahkan merusak hadiah Paman Tertua sebagai wujud dari kedengkiannya.
Ketika Paman Tertua mulai belajar bicara, Nenek mengajari Paman Tertua untuk memanggil Liming dengan sebutan Chiang Ku—Bibi Bungsu. Belakangan, ketika Paman Tertua sudah menguasai lebih banyak kata, dia menjuluki Liming dengan sebuah sebutan dalam bahasa mandarin yang dikarangnya sendiri: Siong Te Chiang Ku—Bibi Bungsu nan Galak!
Dan julukan tersebut diwariskannya pula kepada adik-adiknya, termasuk Ayahku.

***

Pada awal tahun 1940-an, Jepang menduduki kepulauan Nan Yang menggantikan orang-orang Belanda yang sudah hampir dua setengah abad menjajah daerah ini.
Meski pada awalnya tentara-tentara Jepang berlaku cukup ramah kepada para imigran Tionghoa di Nan Yang, namun para Huachiao—Tionghoa perantauan tersebut tetap waspada terhadap mereka. Meski terpisah ribuan kilometer dari tanah leluhur di China, para Huachiao yang bermukim di Nan Yang tetap tahu tentang kebusukan tindak-tanduk para prajurit Jepang, terutama setelah peristiwa pembantaian orang-orang China di Nanjing bulan Desember 1937. (Dunia internasional mengenalnya dengan insiden Nanjing Massacre atau Pembantaian Nanjing 1937).
Dan kecurigaan para Huachiao terbukti. Setelah para tentara Jepang menahan, menyiksa dan membunuh banyak sekali orang-orang Belanda serta peranakan Indo, mereka mulai melirik para Huachiao. Para prajurit Jepang terkenal amat membenci orang-orang terpelajar seperti cendekiawan dan guru. Di China, pada tahun-tahun penjajahan Jepang, orang-orang terpelajar mesti bersembunyi atau menyamarkan identitas mereka. Sebab jika ditemukan oleh tentara Jepang, mereka akan ditangkap dan disiksa tanpa ampun. Tak jarang sebagian besar dari mereka langsung menemui ajal usai penyiksaan itu. Pemerintah Jepang amat membenci kalangan ini karena dianggap sebagai akar pergerakan China melawan Jepang saat itu.
Maka, di Nan Yang para tentara Jepang mulai menangkap satu per satu Huachiao terutama yang berprofesi sebagai guru atau bekas karyawan perusahaan Belanda. Suami dari adik perempuan Nenek yang berprofesi sebagai guru adalah salah satu yang ditangkap, diinterogasi dan disiksa. Kakek juga turut diawasi. Kemampuan Kakek dalam menguasai Bahasa Belanda dan Inggris membuatnya dicurigai oleh para prajurit Jepang sebagai mata-mata. Meski demikian, kecurigaan itu sama sekali tidak pernah terbukti.
Bagi Kakek Buyut sendiri, kedatangan tentara-tentara Jepang merupakan momok, terutama di rumahnya yang memiliki dua orang anak gadis. Para prajurit Jepang senang mengincar anak-anak gadis yang belum menikah untuk dijadikan Jugun Ianfu—pelacur budak perang. Dan, Kakek Buyut sudah mendengar beraneka kekejaman yang dialami oleh para Jugun Ianfu.
Maka, pada tahun-tahun itu, Leiho dan Liming tidak pernah keluar rumah sebab dilarang oleh Kakek Buyut. Meski demikian, hati Kakek Buyut tetap waswas. Terutama jika memikirkan Leiho yang usianya telah menginjak remaja.
Pada tahun 1942, Kakek Buyut memutuskan menikahkan Leiho dengan seorang pengrajin emas bermarga Ciu (Zhou, dalam dialek Hanyu Pinyin). Pernikahannya berlangsung sederhana di tengah suasana penuh tekanan penjajahan. Meski demikian Kakek Buyut sudah merasa lebih lega. Paling tidak, Leiho sudah lolos dari incaran para prajurit Jepang.

***

Tahun-tahun berikutnya, Nenek tidak pernah melupakan jasa-jasa Leiho padanya.
Salah satu jasa Leiho yang paling melekat dalam ingatan Nenek adalah ketika Leiho menemukan putri Nenek yang bernama Cuan Ndui, yang semula dikira telah meninggal dan disemayamkan dalam kamar mandi, ternyata masih dalam keadaan hidup. Leiho senantiasa hadir pada saat Nenek dalam keadaan sedih maupun senang. Ketika kakak perempuan Kakek bertemu kembali dengan keluarganya, ketiganya langsung akrab. Dengan segera mereka dijuluki 'Tiga Serangkai dalam Keluarga'.
Dari pernikahannya dengan Ciukong (panggilan untuk suami Leiho), kedua suami-istri ini dikaruniai empat orang anak. Di kemudian hari, cucu-cucu Nenekku (termasuk aku), mengenal keempat bersaudara ini dengan sebutan: Paman A Fang (kelahiran 1943), Bibi Lingsiu (kelahiran 1947), Paman A Cok (kelahiran 1951) dan Bibi A Khau (kelahiran 1961).
Keempat putra-putri Leiho bergaul sangat akrab dengan keluarga Nenek.
Nenek bahkan pernah bercanda dengan mengatakan, "Siapa bilang aku cuma punya empat putra? Datanglah ke rumahku dan Anda akan melihat ada delapan orang anak dari yang umurnya paling besar hingga paling kecil, semuanya berkumpul di rumah!"

***

Makassar, pertengahan tahun 2001.
Paman Kaseng merupakan satu-satunya saudara Ayahku yang menetap di luar kota Makassar.
Beliau beserta seluruh keluarganya pindah ke Maumere, NTT, pada awal tahun 1970-an. Beliau dan istrinya yang kami panggil Seng Mbu—Bibi Seng, dikaruniai lima orang anak. Salah satu anaknya bernama A Lung.
A Lung adalah putra satu-satunya Paman Kaseng, kelahiran tahun 1971. Dia tinggal di Denpasar, Bali, dan memiliki usaha pembuatan cinderamata sendiri. Pada awal tahun 2000, A Lung adalah tipikal pemuda yang sesuai dengan sebuah pepatah kuno Tionghoa: San She Er Li—pada usia tiga puluh, seorang pria seharusnya sudah mandiri. Dia berwajah tampan dan bertubuh tegap, setidaknya begitulah menurut anggapan kami, para sepupu. Gelar dan ijazah sarjana sudah diperolehnya. Usaha sendiri juga telah memberikan penghasilan finansial yang bisa dibilang melebihi dari cukup. Lantas, apalagi yang kurang?
Yang kurang adalah sampai menjelang usia tiga puluh tahun A Lung masih membujang dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berkeluarga. Seluruh keluarga mulai cemas, terlebih Paman Kaseng dan Seng Mbu. Setiap kali jika A Lung berkunjung atau menelepon ke Makassar, dia akan diberondong pertanyaan-pertanyaan.
"Kapan nikahnya? Sudah punya calon? Siapa orangnya?"
Tapi A Lung hanya memberikan senyuman sambil menjawab, "Belum... belum punya calon. Orangnya belum ada...."
Dan pertanyaan berikutnya akan segera menyusul, "Mengapa? Masih tunggu apalagi, sih?"
Biasanya A Lung menjawab dengan masih tetap tersenyum, "Tunggu saja tanggal mainnya, ya?"
Lalu, pada pertengahan tahun 2001 itu, kami mulai mencium ada sesuatu yang disembunyikan A Lung. Dia rajin bolak-balik Denpasar-Makassar, terutama pada waktu weekend. Biasanya A Lung datang pada hari Jumat sore dan baru kembali ke Denpasar Minggu sore. Setiap kali kami menanyakan tujuan kedatangannya, A Lung menjawab kalau dia datang dalam rangka kunjungan bisnis. Anehnya, kami melihatnya datang dengan membawa bagasi yang sedikit sekali dan berpenampilan santai. Sama sekali bukan seperti orang yang hendak mengurus masalah bisnis.
Belakangan kami semakin curiga. Terlebih ketika salah satu dari kami, saudara sepupunya, memergokinya jalan berdua dengan seorang gadis di sebuah mal. Sayang sekali ketika sepupuku itu berusaha melihat lebih dekat gadis tersebut, keduanya telah menghilang masuk ke dalam taksi.
Kami mulai memberondong A Lung dengan pertanyaan-pertanyaan lagi, "Siapa cewek itu? Namanya siapa? Tinggal di mana?"
Namun A Lung tetap merahasiakan identitas gadis itu. "Ah, masih pedekate. Nanti ya, kalau tiba saatnya akan saya beritahu...."
Kami semakin penasaran. Misterius sekali ceweknya si A Lung ini!
Kemudian, penghujung Maret tahun 2002, bertepatan dengan waktu Ching Ming—ziarah kubur, A Lung datang lagi ke Makassar. Kali ini dia tidak sendirian. Ayah-Ibunya turut hadir dari Maumere dan seluruh saudara-saudara perempuannya turut berdatangan kemari. Kami melihat adanya indikasi peristiwa besar sebentar lagi akan terjadi.
"Jadi? Calonnya sudah akan diumumkan, nih?" Kami menggoda A Lung.
A Lung nyengir sambil berkata, "Iya...."
"Siapa? Siapa?"
Nyengir A Lung semakin lebar.
"Kalian kenal kok, orangnya.... Namanya Fonny...."
Kami terpaku mendengar nama itu disebut A Lung. Tiba-tiba salah satu dari kami bergumam, "Jangan-jangan, Fonny anaknya...." Suaranya direndahkan sehingga tidak terdengar jelas, tetapi A Lung sudah sempat menangkap maksudnya. Dia tertawa.
"Ya,betul! Itulah orangnya!"
Sepupu kami yang bergumam itu sontak terkejut, membekap mulutnya sendiri dan berseru, "Masa?! Astaga! Rupanya selama ini kalian berdua pintar sekali merahasiakannya, ya?"
A Lung terus saja tertawa. Dan ketika sepupu kami itu menjelaskan hal tersebut, kami semua bereaksi kurang-lebih sama dengannya. Kami semua terkejut, melayangkan protes ke arah A Lung lewat seruan-seruan.
"Wah! Ternyata...! Selama ini kalian main kucing-kucingan...! Curang! Tapi bagaimana pun, selamat, ya!"
Tentu saja kami mengenal Fonny, pacarnya si A Lung ini. Ketika kecil, kami biasa bertemu dan bermain bersama dalam acara-acara keluarga. Ayahnya adalah sepupu dari Ayah-Ayah kami, dan selama ini kami memanggilnya dengan sebutan: Shu Shu Cok—Paman A Cok. Neneknya juga sudah barang tentu kami kenal. Beliau kini menjadi salah satu tetua yang cukup dihormati di keluarga kami. Kami memanggilnya Ku Hu—Nenek, saudara perempuan Kakek. Dialah Leiho, adik angkat Kakek.

***

A Lung dan Fonny menikah pada penghujung bulan November tahun 2002. Resepsinya berlangsung meriah di dua kota: Makassar dan Denpasar.
Pada saat mereka menikah, keduanya dianggap sebagai pasangan yang serasi karena nama mereka sudah mengisyaratkan kalau mereka berjodoh. Nama A Lung berarti naga, sedang di dalam nama Fonny terkandung huruf Fong (Hong dalam bahasa mandarin Hanyu Pinyin), berarti burung phoenix. Naga dan burung phoenix adalah pasangan yang cocok. Kedua binatang ini merupakan mitologi dan simbol pernikahan China, mewakili mempelai pria dan wanita.
Hingga pada saat tulisan ini selesai kurampungkan, sepasang suami-istri itu tengah hidup berbahagia di Denpasar, Bali. Keduanya telah dikaruniai dua orang anak yang masing-masing bernama Kevin dan Karin.
Dengan adanya pernikahan antar anak-anak, hubungan antara Paman Kaseng dengan keluarga Paman A Cok dan Ibunya, Leiho semakin erat. Akan tetapi, Paman Kaseng masih belum bisa mengubah kebiasaannya untuk memanggil Leiho dengan Chin Cia—Keluarga Besan. Dalam beberapa kesempatan, kami justru mendapatinya masih keseleo memanggil Leiho dengan sebutan Ciecie—Kakak Perempuan.
Ehm, apa pun panggilannya, dia tetaplah Leiho, si Putri Adopsi, adik perempuan Kakek yang namanya berarti: Datanglah Kebajikan!
Dan sepertinya nama itu memang tepat dipilih untuknya! ©

DP4 Enrekang Amburadul

ENREKANG, Upeks--Panwascam Enrekang, menemukan ketidakakuratan data DP4 di Enrekang.

Ironisnya lagi, rekapitulasi data yang disebar KPUD Enrekang ini terhadap KPPS dan lembaga panwas Kecamatan Enrekang, berbeda jumlah suara pemilihnya.
"Rekapitulasi data DP4 dari KPUD yang diterima KPPS 430 jiwa, sedangkan data yang dikirimkan pada panwaslu untuk panwascam membengkak 463 jiwa," ungkit Ketua Panwascam Enrekang, M Haris Senin (6/4).
Pelacakan akurasi data DP4 yang sementara berjalan, merambah di Kecamatan Curio, Alla dan Enrekang, tampaknya mengindikasikan terkandung sejumlah persoalan invalid data.
Kategori dari data bermasalah yang telah dilakukan verifikasi bertitik tolak pada seputar 8 persoalan pemilih, yang terakomodir dalam DP4. Kategori itu seperti; perantau, terdaftar ganda, meninggal, nama fiktif, pemilih dari TNI/polri, terdaftar pada TPS berbeda, dan anak dibawah umur. Hal lebih fatal akan kerancuan data pemilih dobel, dengan nama berurutan yang ditemukan di Kecamatan Enrekang pada KPPS Juppandang, TPS XI. Dalam data itu, tak kurang 16 nama sama berulang, namun terdaftar dengan KTP yang berbeda.



"Nama sama tapi identitas alamat KTP berbeda yang satu Gowa danmuncul lagi KTP Enrekang," heran M Haris. Menyikapi temuan panwascam yang terus bergulir menjelang H pemilu legislatif, pihak Panwaslu Enrekang, membenarkan bukti autentik yang kini mengkhawatirkan banyak pihak. "Beberapa kecamatan akan data yang invalid sudah kita laporkan pada bawaslu dan KPUD Enrekang," jelas Ketua Mekanisme Bidang Pengawasan Panwas Enrekang, Lahaya SAg.
Penelusuran Upeks akan data DP4, yang dipersoalkan ini terdata sama persis dengan yang dipedomani KPUD Enrekang, PPK dan KPPS, meskipun kealpaan kurang terlacak.
Dari kedua persoalan itu, diyakini Ketua KPUD Enrekang sudah diantisipasi saat contreng, "pemilih tetap diverifikasi di TPS jika tak sesuai bisa dicoret PPS," kata Usman Abdullah di kantornya.
Didesak sikap KPUD Enrekang akan munculnya data pemilih beridentitas KTP ganda dipakai di TPS tertentu, belum bisa berbuat banyak, "ini masih masalah baru diketahui, jadi beri waktu dulu untuk dipikirkan," ujarnya. (Syamsul Khaliq)


7 Apr 2009

Leiho, Datanglah Kebajikan I

Bulan September tahun itu, Kakek Buyutku dari pihak Ayah, Ciang Wengwah, tengah berada di sebuah dataran tinggi yang jaraknya duaratus tigapuluh lima kilometer di sebelah utara kota Makassar. Dataran tinggi tersebut bernama Enrekang.

Semenjak bermigrasi dari Guandong, China, ke Makassar, Nan Yang, duapuluh tujuh tahun silam, Kakek Buyut telah puluhan kali menjejakkan kakinya ke bumi Massenrempulu ini. Beliau sering ke sana terutama untuk mencari barang-barang hasil hutan seperti rotan dan kayu untuk dibawa ke Makassar lalu ditawarkan kepada cukong-cukong pembuat mebel yang sebagian besar juga adalah para imigran Tionghoa dari propinsi Guandong.

Di Enrekang, Kakek Buyut punya seorang kenalan penduduk setempat, seorang pria yang bernama I Nuhung yang berprofesi sebagai pencari kayu. Dia sering keluar-masuk hutan untuk memperoleh bahan-bahan seperti yang diinginkan oleh Kakek Buyut. I Nuhung bisa berkomunikasi dengan Kakek Buyut dengan baik sebab dia fasih berbicara dalam bahasa Melayu ketimbang penduduk lainnya di daerah tersebut.


Setiap kali kunjungan Kakek Buyut ke Enrekang, beliau pasti akan menginap di rumah I Nuhung yang berupa rumah panggung sederhana dan keseluruhannya terbuat dari kayu. Setiap Kakek Buyut menginap, I Nuhung amat senang dan memperlakukan Kakek Buyut selayaknya tamu kehormatan.
Awalnya Kakek Buyut merasa tidak enak dengan perlakuan tersebut. Beliau merasa sungkan jika setiap kali kedatangannya, akan merepotkan I Nuhung dan keluarganya.
Namun, I Nuhung menepis anggapan Kakek dengan berkata, "Kalau Baba—Tuan, tidak mau tinggal di rumah saya selama berada di sini, itu sama dengan menolak kebaikan saya dan hal itu akan menyinggung perasaan saya...."
Maka Kakek Buyut pun akhirnya menerima undangan I Nuhung untuk menginap di rumahnya setiap kali beliau berkunjung ke Enrekang.
I Nuhung seorang duda. Istrinya meninggal ketika putri mereka satu-satunya, baru berusia setahun. I Nuhung memberi nama putrinya itu: Hasniah. Dan selama bertahun-tahun, tanpa menikah lagi, I Nuhung membesarkan putrinya itu sendiarian.
Kakek Buyut berpendapat Hasniah anak yang baik. Dia sangat patuh juga hormat kepada Ayahnya. Sehari-hari Ayah dan putri itu berbicara dalam bahasa Bugis dialek Enrekang yang artinya kurang begitu dipahami Kakek Buyut. Namun meski tidak menguasai bahasa Melayu sefasih Ayahnya, Hasniah tetap bisa berkomunikasi dengan Kakek Buyut setiap kali beliau datang berkunjung. Kadang-kadang antara tamu dan anak si Tuan Rumah tersebut perlu berbahasa isyarat untuk mempertegas hal-hal tertentu.
Namun, pada kunjungan bulan September tahun itu, Kakek Buyut mendapati keadaan I Nuhung berbeda dari biasanya. Pria pencari kayu itu sedang terbaring sakit. Dia demam dan sekujur tubuhnya menggigil hebat terutama di malam hari. Awalnya semua orang berpendapat kalau I Nuhung hanya sakit biasa. Pada hari ketiga, sakitnya tak kunjung sembuh juga sehingga dia pun pergi mengunjungi sanro (dukun) untuk berobat. Tetapi sepulangnya dari sanro, I Nuhung bukannya sembuh. Sebaliknya, kondisinya semakin parah.
Kakek Buyut melihat gejala-gejala sakitnya I Nuhung dan menarik kesimpulan. "Pak Nuhung, sebaiknya kita segera pergi ke rumah sakit buat memeriksa penyakitmu," ujar Kakek Buyut khawatir.
"Rumah sakit?" ujar I Nuhung dengan tidak percaya. "Di mana ada rumah sakit di Enrekang ini? Rumah sakit terdekat dari sini terletak di Parepare, dan jaraknya hampir seratus kilometer dari sini. Lagipula saya sudah diperiksa sanro. Jangan khawatir Baba, sebentar lagi saya pasti akan sembuh. Saya sudah biasa kena sakit begini!"
I Nuhung berkata di sela-sela usahanya menahan bunyi giginya yang bergemelutuk karena menggigil.
"Jangan menyepelekan sakitmu ini, Pak Nuhung. Kelihatannya, sanro pun sudah tak manjur lagi mengobatinya. Jika saya meilihat gejalanya, ini sepertinya malaria.... "
Namun I Nuhung bersikeras tidak mau berobat ke rumah sakit. Keesokan harinya, kondisinya semakin parah. Dia bahkan tak bisa lagi bangkit dari tempat tidurnya.
"Seluruh badanku terasa ngilu, Baba...." keluh I Nuhung dengan suaranya yang parau. "Baba benar, kali ini sanro sudah tidak mampan mengobati saya. Saya kira... 'waktunya' sudah hampir tiba...."
"Apa maksudnya 'waktunya' sudah hampir tiba? Pak Nuhung, jangan bicara seperti itu!" Kakek Buyut berujar. Tetapi diam-diam beliau mulai cemas memikirkan pembicaraan I Nuhung yang mulai ngelantur itu. Disemangatinya orang sakit itu. "Ingat, masih ada Hasniah, anak perempuanmu satu-satunya. Pak Nuhung harus bisa sembuh demi dia...."
Kakek Buyut sulit membayangkan Hasniah yang kelak akan menjadi yatim-piatu apabila I Nuhung benar-benar 'pergi' meninggalkannya. Memikirkan kemungkinan itu, Kakek Buyut teringat akan putri sulungnya, Yen Ndui, yang ditinggalkan oleh Nenek Buyut ketika masih berusia tigabelas tahun di Guandong.
"Itulah yang membuatku resah, Baba...." sahut I Nuhung. "Saya tak bisa pergi dengan tenang apabila belum mengetahui Hasniah akan tinggal dengan siapa. Saya sudah tidak punya sanak-keluarga buat menitipkan anak itu. Begini saja...." I Nuhung memandang Kakek Buyut dengan tatapan nanar. "Bersediakah Baba membawa Hasniah ikut bersama Anda untuk tinggal di Makassar, jika sesuatu terjadi dengan saya?"
Kakek Buyut semakin cemas. "Pak Nuhung, saya sudah bilang: 'jangan berpikir yang tidak-tidak'!"
I Nuhung mencengkeram erat pergelangan tangan Kakek Buyut sampai-sampai Kakek Buyut bisa merasakan telapak tangan yang basah dan dingin menekan kulitnya.
"Baba, saya mohon Baba mau berjanji...." ucap I Nuhung sambil tersengal-sengal. "Biarkan Hasniah ikut Baba... dia bisa bekerja di rumah Baba. Dia bisa menjadi pembantu yang baik...."
Hati Kakek Buyut pedih mendengarnya. "Saya tidak akan pernah menganggap atau memperlakukan putrimu sebagai pembantu, Pak Nuhung...," ujar Kakek Buyut. "Kalaupun kelak dia ikut bersama saya, saya pasti akan menjaga dan merawatnya seperti anak sendiri...."
I Nuhung melepaskan genggamannya dan mendesah lega. "Ah, Baba baik sekali...."
Kakek Buyut memperbaiki posisi tubuh I Nuhung, dan mendesaknya agar tetap berbaring.
"Saya akan ke Parepare sore ini juga buat membelikanmu pil kina. Obat itu paling mujarab untuk sakit malaria. Setelah memperoleh obat tersebut, saya akan segera kembali."
I Nuhung bergumam sesuatu dengan kalimat tak jelas. Kedengarannya dia hendak protes. Akan tetapi Kakek Buyut telah beranjak meninggalkannya.
Sore itu juga, Kakek Buyut berangkat ke Parepare untuk membeli pil kina bagi I Nuhung dengan menumpang sebuah bendi.

***

Kakek Buyut sampai di Parepare pada waktu tengah malam, dan baru bisa membeli pil kina di rumah sakit kecil milik orang Belanda keesokan paginya.
Usai memperoleh obat tersebut, Kakek Buyut buru-buru menumpang bendi kembali ke Enrekang. Selama perjalanan itu, Kakek Buyut tak henti-hentinya berharap agar dia lekas sampai ke rumah I Nuhung. Namun, jalan sempit berbatu yang dilalui, disertai jalur yang meliuk-liuk pegunungan, membuat perjalanan ini tidak secepat yang diharapkan Kakek Buyut.
Sesampainya Kakek Buyut di Enrekang, hari sudah sore. Ketika Beliau memasuki halaman rumah I Nuhung, Kakek Buyut sungguh terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya. Begitu banyak orang yang berkumpul di depan rumah panggung tersebut. Di halaman depan terdapat beberapa pria sedang membuat keranda dari bambu. Suara jerit tangis terdengar dari dalam rumah. Salah seorang tetangga I Nuhung berkata kepada Kakek Buyut.
"Baba, Anda terlambat kembali... I Nuhung sudah meninggal siang tadi seusai lohor...."
Kakek Buyut bergegas menaiki tangga kayu menuju atas rumah. Di ruang dalam rumah panggung tersebut, jenazah I Nuhung telah terbaring, sekujur tubuhya terbungkus oleh kain kafan putih.
"Pak Nuhung!" jerit Kakek Buyut seraya menghambur ke pinggir jenazah yang telah kaku tak bergerak itu. "Kenapa bisa begini...? Kenapa Pak Nuhung tidak menunggu saya pulang membawa obat...?"
Kakek Buyut diliputi keputusasaan. Beliau menyesal sekali mengapa beberapa hari sebelumnya beliau tidak memaksa I Nuhung pergi berobat atau pergi membeli pil kina lebih cepat. Semestinya Beliau tidak langsung mempercayai kata-kata I Nuhung bahwa kondisinya akan baik-baik saja, waktu itu.
Kakek Buyut menengadahkan kepalanya seraya memendam kesedihan di dalam dadanya. Di seberangnya, pada sisi jenazah I Nuhung, Kakek Buyut melihat Hasniah yang tengah menangis sedih. Melihat kondisi gadis itu, hati Kakek Buyut semakin berduka.

***

I Nuhung dimakamkan sore itu juga sebelum magrib.
Usai pemakaman, Kakek Buyut berbicara kepada Hasniah dalam bahasa Melayu yang dimengerti namun tidak bisa dijawab dengan fasih olehnya.
"Hasniah," panggil Kakek Buyut. "Kamu mau ikut dengan saya ke Makassar?"
Mata Hasniah membelalak tak percaya. "Ke... Makassar, Baba?" tanyanya gugup.
"Ya," Kakek Buyut menjawab. "Saya berencana mengangkatmu sebagai anak, Hasniah. Ini sudah saya janjikan kepada Ayahmu sewaktu dia sakit. Sekarang tinggal menunggu keputusanmu, Nak. Kalau kamu setuju, saya dengan senang hati mengadopsimu. Tetapi kalau kamu keberatan, saya tidak memaksa. Hanya saja, Ayahmu pernah bilang kalau kalian sudah tidak punya sanak-keluarga lagi. Jadi, kalau kamu tetap di sini, kamu akan tinggal dengan siapa?"
Hasniah mengangguk perlahan.
Kakek Buyut tak mau langsung menyimpulkan keputusan gadis itu. Ditanyainya lagi gadis itu dengan lembut, "Jadi, Hasniah betul mau ikut dengan saya ke Makassar?"
Hasniah mengangguk lagi. Kakek Buyut mendesah perlahan. Dielus-elusnya kepala Hasniah dengan perasaan sayang. Melihat Hasniah kala itu, Kakek Buyut kembali membayangkan putri sulungnya, Yen Ndui. Hatinya diliputi kerinduan.

***

Kakek Buyut membawa Hasniah ke Makassar seminggu usai pamakaman I Nuhung.
Perjalanan kali ini merupakan perjalanan terjauh yang pertama kali dilakukan Hasniah seumur hidupnya, waktu itu. Dia dan Kakek Buyut melewati banyak tempat. Begitu banyak hamparan sawah dan ladang yang dilihat Hasniah. Begitu juga dengan laut dan hutan. Karena selama ini Hasniah dan Ayahnya tinggal di dataran tinggi, melihat laut merupakan pengalaman pertama bagi Hasniah. Untuk pertama kali dalam hidupnya kala itu, Hasniah melihat hamparan air yang begitu luas, memantulkan warna langit biru di atasnya disertai bau hangat dan asin menerpa kulitnya.
Setelah tiga hari berjalan, sampailah Hasniah di rumah Kakek Buyut di kawasan pecinan, Makassar. Sewaktu melihat bangunan rumah itu, Hasniah sempat terheran-heran melihat bangunan bertingkat tiga dan hampir seluruhnya terbuat dari batu bata tersebut menjulang di hadapannya. Kakek Buyut membimbing Hasniah memasuki rumah dan bermaksud mengenalkannya kepada Nenek Buyut.
Nenek Buyut pada awalnya tidak terlalu menyukai Hasniah. Dia mencurigai Kakek Buyut
"Anak siapa dia? Apakah dia salah satu anak dari istri mudamu yang selama ini kau sembunyikan di luar kota?"
Kakek Buyut gusar sekali sewaktu mendengar tuduhan istrinya itu. Beliau menghentakkan kaki.
"Sudah berapa kali kubilang, aku bukan pria seperti itu! Kita sudah puluhan tahun menikah, masa sampai sekarang kau masih tidak mempercayaiku juga? Anak ini bukan anakku dengan wanita lain, tetapi anak salah satu kenalanku di Enrekang. Sebelum dia menjadi yatim-piatu seperti sekarang, aku telah berjanji kepada Ayahnya untuk merawatnya dan mengangkatnya sebagai anak."
Nenek Buyut memicingkan mata. "Oh,begitu?" sindirnya masih dengan nada sinis.
"Kau jangan bersikap penuh curiga seperti itu, Istriku," tegur Kakek Buyut. "Tidakkah kau bersimpati padanya? Mungkin ini sudah kehendak Lao Tian—Tuhan, untuk menitipkan anak ini kepada kita. Kumohon, Istriku, demi putri sulung kita yang dulu kau tinggalkan di Guandong, berbuat baiklah kepada anak ini dengan cara mengadopsinya."
Nenek Buyut menghampiri Hasniah dan memandangnya lekat-lekat dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Anak ini kurus sekali," ujar Nenek Buyut sambil memegang pergelangan tangan Hasniah. "Dan kotor pula...."
Kakek Buyut berkata kepada istrinya, "Harap kau memakluminya, Istriku. Anak ini kan tidak lahir di kota seperti kita, sejak kecil dia dan Ayahnya tinggal di daerah pedalaman yang jauh. Jangankan menyabuni badannya, barangkali mandi saja dia jarang...."
"Haiya, kalau mau menjadi putriku, dia harus rapi dan bersih!" seru Nenek Buyut.
Sejurus kemudian Nenek Buyut menarik Hasniah ke kamar mandi tanpa menghiraukan perkataan-perkataan Kakek Buyut selanjutnya. Di dalam kamar mandi Nenek Buyut mengguyur Hasniah dengan berember-ember air. Dia mulai menggosok kulit Hasniah keras-keras dan mencuci rambutnya sehingga gadis itu meronta-ronta. Hasnih menjerit-jerit dalam bahasa Bugis yang sama sekali tidak dimengerti oleh Nenek Buyut. Aroma wangi sabun mandi memang terasa sangat menyegarkan bagi Hasniah. Namun pengalaman pertama dimandikan oleh Nenek Buyut membuat Hasniah trauma dan tak ingin diulanginya untuk kedua kalinya!

***

"Mulai sekarang, panggil aku, Ayah," ujar Kakek Buyut kepada Hasniah usai gadis itu mandi dan mengenakan pakaian bersih. Rambutnya yang lebat dan panjang telah dikepang dua oleh Nenek Buyut. Dengan baju cheongsam yang dikenakannya, siapa pun tak akan menduga kalau gadis itu sesungguhnya bukan orang Tionghoa.
"Dan dia," Kakek Buyut menunjuk ke arah istrinya. "Mulai sekarang dipanggil Ibu."
Hasniah melihat sekilas ke arah wanita yang siang tadi telah menyeretnya dan memandikannya itu. Pandangan sangar wanita itu membuatnya bergidik.
"Nah, kalau ini, Kuangthing. Dia akan menjadi Kokoh—kakak lelakimu."
Hasniah mengikuti telunjuk Kakek Buyut ke arah seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun. Pemuda itu sedang tersenyum ke arahnya. Hasniah dengan canggung membalas senyum itu.
"Lalu, ini akan menjadi Meimei—adik perempuanmu."
Kakek Buyut menarik seorang bocah perempuan berusia lima tahun yang sedari tadi bersembunyi di belakang Nenek Buyut. Gadis cilik itu mencoba menggeliat dan berontak dari cengkeraman Ayahnya. Namun, Kakek Buyut berhasil merengkuh pinggang kecilnya dan menahannya.
"Sini, Liming! Ayo beri salam pada Ciecie—kakak perempuanmu!"
Liming berhenti bergerak dan mengerjap-ngerjapkan matanya memandang Hasniah. Beberapa lama kemudian, dia berteriak, "Aku tak mau memanggilnya Ciecie! Dia bukan Ciecie-ku!"
Hasniah tersentak dengan perkataan itu. Untuk pertama kalinya dia baru menyadari tentang kemungkinan penolakan yang akan diterimanya dari keluarga barunya ini. Dan baru saja calon adik barunya telah menolaknya!
Kakek Buyut berusaha menaklukkan Liming, "Gadis nakal, jangan berlaku tidak sopan terhadap yang lebih tua! Ayo lekas panggil dia Ciecie!"
Liming kembali menggeliat dan kali ini dia berhasil melepaskan diri.
"Tidak mau!" serunya keras kepala, lalu lekas-lekas lari bersembunyi.
Kakek Buyut menghela napas melihat kelakuan putri bungsunya itu. Ditegurnya Nenek Buyut yang sedari tadi tampak diam saja.
"Lihat kelakuannya! Ini akibat kamu yang terlalu memanjakannya, Istriku. Si Liming ini benar-benar mei you li mao—tak punya sopan-santun! Tidak seperti Yen Ndui dulu."
Nenek Buyut mendelik ke arah suaminya seraya berkata, "Lha! Dia kan putrimu juga! Bukankah kamu sendiri juga sering memanjakannya karena menganggapnya sebagai pengganti Yen Ndui? Mendidik anak bukan hanya tanggung jawab Ibunya seorang, Ayahnya juga turut berperan! Sekarang setelah kelakuannya seperti itu kau bisanya hanya menyalahkanku."
Kakek Buyut gondok karena kalah bersilat lidah dengan istrinya. Apa yang dikatakakan Nenek Buyut memang benar, beliau juga memanjakan Liming demi menebus penyesalannya terhadap putri sulungnya, Yen Ndui. Namun seperti kata orang-orang, 'terlalu memanjakan anak bisa berbahaya'. Di usianya yang baru lima tahun itu, Liming telah menjelma menjadi bocah perempuan pemberang dan nakal. Dia tidak akan sungkan-sungkan untuk ngambek apabila keinginannya tidak terpenuhi.
Kakek Buyut menghela napas dan berkata kembali ke arah Hasniah. "Maafkan kejadian tadi, Nak.Oh ya, ada sesuatu hal yang hendak aku sampaikan padamu. Karena sudah menjadi putriku, maka kamu akan kuberi nama baru. Keluarga kita bermarga Ciang, maka mulai sekarang margamu adalah Ciang. Nama Tionghoa yang akan kamu gunakan mulai sekarang sekarang adalah Leiho. Lei dalam bahasa Guandong Khaiphing berarti datanglah sedang ho berarti baik atau kebajikan. Jadi arti namamu adalah 'datanglah kebajikan'. Sebab aku berharap dengan kedatanganmu ini, ' segala kebajikan akan memenuhi keluarga kita'!"
"Bagaimana dengan tanggal kelahirannya? Kita harus menentukan apa shio—horoskop China Leiho, bukan?" Nenek Buyut menyelutuk.
"Ah, ya!" Kakek Buyut baru tersadar. "Nak, apakah sebelumnya Ayahmu pernah memberi tahumu kapan kamu dilahirkan?"
Hasniah menggeleng. "Bapak tidak pernah bilang...," ujarnya.
Maka Nenek Buyut pun berkata antusias, "Begini saja, karena tahun ini adalah tahun Ting Chou—Kerbau Api, maka kita anggap saja dia kelahiran tahun kerbau dan telah berusia tiga belas tahun. Itu berarti, Leiho lahir pada tahun Yi Chou—Kerbau Kayu (tahun 1925)."
Kakek Buyut mangut-mangut mendengar usul Nenek Buyut. "Ide yang bagus, aku setuju sepenuhnya dengan pendapatmu, Istriku."
Maka, sejak saat itu Hasniah telah berganti nama menjadi Ciang Leiho. Pada semua surat-surat dokumen, mulai dari KTP hingga Kartu Keluarga di kemudian hari, tertulis bahwa tahun kelahirannya adalah 1925.
Begitulah ceritanya sampai Kakek dan Nenek Buyut memiliki seorang putri lagi yang ber-shio Kerbau.©

(Bersambung ke 'Leiho, Datanglah Kebajikan' Bagian II)
1 Apr 2009

Short Story in Enrekang


Enrekang bagi saya adalah daerah yang terindah di Sulwesi Selatan, cuma karena belunm di explore jadi terkesan kurang terkenal. Enrekang dibagi menjadi 3 wilayah yaitu Maiwa, Duri, dan Enrekang. Ini wilayah secara umum, namun sekarang sudah terpecah-pecah menjadi beberapa kecamatan baru.

Ketiga wilayah ini memiliki bahasa masing-masing, ada bahasa Maiwa, Enrekang, dan Duri. Tapi ketika seseorang berbicara, satu sama lain bisa mengerti. Namun, bahasa yang paling populer adalah bahasa Duri. Daerah Duri merupakan kawasan subur walau dikelilingi gunung batu, tapi disini, setahu saya belum pernah terjadi gunung meletus atau tanah longsor yang menelan korban banyak. Sebagian besar sayuran-sayuran dihasilkan di daerah Duri, seperti tomat, kol, buncis, bawang, kentang dan lain-lain. Hasil bumi tersebut diekspor ke daerah lain di Sulawesi, termasuk Kalimantan. Duri adalah daerah agropolitan dan memilih pasar agro satu-satunya di Sulawesi Selatan.


alau Enrekang, nah di sini pusat pemerintahan. Tepatnya disebelah utara kota makasar. Daerahnya tidak jauh beda dengan Duri, banyak bukit-bukit dan gunung. Tapi walau banyak gunung, udaranya tidak terlalu dingin, beda dengan daerah Duri yang dinginnya minta ampun. Ketika kita naik di atas gunung, Enrekang seperti sebuah lembah, kotanya dibelah oleh sebuah sungai yang lumayan besar, dan mampu menenggelamkan kota Enrekang jika tidak dirawat. Sungai ini dinamakan sungai Mata Allo.

Di sebelah barat kota Enrekang, panorama alam dengan gunung yang indah. Kami penasaran, apakah di sana ada kehidupan? Penasaran itulah yang membuat saya, ketika duduk di SMA mengajukan proposal untuk mengadakan lintas alam Enrekang dengan jalan kaki, tetapi batal jadi. Namun, saya dan kedua teman saya tetap berjalan ke sana, tetapi tidak berjalan seperti rencana semula, melainkan dengan mengendarai motor. Jalan mendaki, penurunan sangat membuat kami hati-hati, jalan yang kami lalui pun belum sepenuhnya diaspal, masih menggunakan batu. Makanya, orang di sekitar sana masih senang menggunakan kuda sebagai alat transportasi.

Perjalanan sudah sangat melelahkan, namun karena suasana yang begitu natural dan panorama yang indah, membuat kami meneruskan perjalanan. Sesekali kami harus turun dari motor, untuk memberi tanda jarak pada jalan. Panas terik matahari tidak begitu terasa, karena di sebelah kanan maupun kiri banyak ditemui pepohonan yang rindang.

Daerah maiwa, dikenal sebagai kawasan industri, dan sekarang dinamakan KIWA (Kawasan Industri Maiwa).