16 Feb 2009

Pendapat Ulama Soal Kepercayaan Masyarakat Terhadap Ponari

Karena dianggap mampu memberikan kesembuhan atas berbagai penyakit, Ponari, bocah kelas III SD asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, memang telah menjadi sebuah fenomena. Karena sejak diserbu masyarakat pada 17 Januari 2009 lalu, hingga saat ini, sudah ada ratusan ribu warga dari berbagai daerah yang datang untuk meminta kesembuhan.
Sejumlah alim ulama menganggap, kepercayaan masyarakat terhadap seorang Ponari adalah hal yang wajar. Hanya saja perlu digarisbawahi, bukanlah Ponari yang mampu memberikan kesembuhan. Bukan juga batu sebesar kepalan tangan bocah yang kini dianggap batu bertuah tersebut. ''Ditinjau dari segi agama, yang bisa memberikan kesembuhan hanyalah Allah," ungkap pengasuh Ponpes Paculgowang, Diwek, KH Azis Mansyur, kemarin (8/2).

KH Azis menegaskan, tidak ada masalah jika masyarakat menganggap Ponari dan batunya bisa membantu kesembuhan seseorang. Hanya saja, jika memang benar Ponari bisa menyembuhkan, Ponari tetaplah sebagai perantara. Termasuk batu milik si bocah yang hingga kini belum dapat dipastikan jenisnya. Ibaratnya, lanjut KH Azis, Ponari dan batunya adalah jamu atau obat. Untuk orang yang sakit, jamu atau obat memang bisa memberi kesembuhan. Tetapi KH Azis mengingatkan, agar masyarakat tidak sampai terjebak pemahaman yang syirik. Misalnya jika menganggap batu milik Ponari itu memiliki kekuatan. ''Jika beranggapan bahwa batu itu memiliki kekuatan, itu sudah termasuk syirik," ungkap KH Azis ketika dihubungi via ponselnya, kemarin.

Hal senada disampaikan oleh Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jombang, KH Abdul Choliq. Pria yang juga salah satu tokoh Nadhatul Ulama (NU) ini menyatakan, dalam ajaran Islam, apa yang dialami Ponari disebut Ma'ziah. Artinya, bisa saja Ponari dianugerahi oleh Allah kelebihan di luar kemampuan manusia biasa. Namun masyarakat diimbau agar tidak salah penafsiran, sehingga menimbulkan hal-hal yang syirik. Choliq juga menambahkan, selain berusaha, seseorang juga harus selalu berikhtiar dan tawakal kepada Allah dalam menghadapi segala cobaan. Sehingga sah-sah saja masyarakat datang ke tempat Ponari. Asalkan niatnya untuk meminta kesembuhan kepada Allah, melalui si bocah sebagai perantara. ''Artinya, masyarakat jangan menganggap Ponari dan batunya yang memberikan kesembuhan," tegasnya.
Sementara itu, Ketua PD Muhammadiyah Jombang, dr Hadi Rachmat Santosa SpA, juga mengimbau kepada masyarakat untuk lebih bersikap cerdas dan rasional, serta tetap memegang teguh akidah Islam. Agar jangan sampai terjebak ke arah syirik. Pria yang dokter spesialis anak ini menjelaskan, pengakuan sejumlah pasien yang sembuh melalui media batu yang dicelupkan ke dalam air mineral tersebut, secara medis memang sulit untuk dijelaskan. Pasalnya, proses pengobatan alternatif yang nampak tak lazim itu erat hubungannya dengan sugesti. Di dunia kedokteran, lanjutnya, komunikasi dan memberi semangat pasien untuk sembuh adalah satu bentuk membangun sugesti. Sugesti sendiri memang bisa berperan dalam kesembuhan seseorang. ''Jika ada yang mengaku sembuh setelah minum air dari Ponari, selain dari sugesti mereka, itu memang karena kekuasaan Allah,'' terangnya.

Rachmat juga mengingatkan agar kebebasan Ponari jangan sampai terampas, karena setiap harinya harus melayani puluhan ribu orang. Dengan kata lain, Ponari tetap harus diberi kebebasan dalam mengeyam pendidikan, sekaligus bermain layaknya teman-teman usianya. Praktek pengobatan alternatif itu pun bisa diatur sesuai dengan waktu senggang si bocah. Karena jika Ponari terus dipaksa untuk melayani seluruh pasien yang datang, dikhawatirkan akan terjadi eksploitasi terhadap si anak. ''Kami mengimbau kepada pihak keluarga agar selalu memperhatikan hak-hak Ponari sebagai anak," pungkasnya. (doy/nk)

sumber : http://www.radarmojokerto.co.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: