14 Jan 2009

Indonesia Pascaera Eropa/AS

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/01/13/ 00343575/ indonesia. pascaera. eropa/as

Tata tertib internasional sedang berubah. Makin lama makin cepat. Hampir 100 tahun lalu bangsa-bangsa Eropa menguasai dunia. Kini mereka kehilangan hampir semua jajahannya. Alasannya, mereka terlalu rakus dan saling membenci. Kini, tidak ada lagi monopoli kekuasaan satu benua.

Di hampir semua benua, ekonomi dan politik ditentukan oleh sejumlah negara besar. Apa posisi Indonesia sebagai negara berpopulasi keempat terbesar dunia?

Perang Dunia (PD) I memerosotkan kekuatan bangsa Eropa. Negara-negara Eropa menggunakan senjata pembunuh massal untuk menghancurkan saingannya. Sekitar 10 juta sipil dan tentara mati terbunuh.

Akibat PD I, semua negara Eropa lemah sekali, kerajaan Austria-Hongaria pecah dan Inggris kehilangan posisi negara adikuasa dunia, yang beralih kepada Amerika Serikat, ”anak” paling besar Eropa. Negara tetangga Jerman tidak hanya merebutkan semua koloni kerajaan itu, tetapi juga beberapa bagian negara Jerman atau tanah yang dihuni etnis Jerman. Kaisar Jerman terpaksa mengundurkan diri.

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/01/13/ 00343575/ indonesia. pascaera. eropa/as

Tata tertib internasional sedang berubah. Makin lama makin cepat. Hampir 100 tahun lalu bangsa-bangsa Eropa menguasai dunia. Kini mereka kehilangan hampir semua jajahannya. Alasannya, mereka terlalu rakus dan saling membenci. Kini, tidak ada lagi monopoli kekuasaan satu benua.

Di hampir semua benua, ekonomi dan politik ditentukan oleh sejumlah negara besar. Apa posisi Indonesia sebagai negara berpopulasi keempat terbesar dunia?

Perang Dunia (PD) I memerosotkan kekuatan bangsa Eropa. Negara-negara Eropa menggunakan senjata pembunuh massal untuk menghancurkan saingannya. Sekitar 10 juta sipil dan tentara mati terbunuh.

Akibat PD I, semua negara Eropa lemah sekali, kerajaan Austria-Hongaria pecah dan Inggris kehilangan posisi negara adikuasa dunia, yang beralih kepada Amerika Serikat, ”anak” paling besar Eropa. Negara tetangga Jerman tidak hanya merebutkan semua koloni kerajaan itu, tetapi juga beberapa bagian negara Jerman atau tanah yang dihuni etnis Jerman. Kaisar Jerman terpaksa mengundurkan diri.

PD II merupakan babak kedua keruntuhan bangsa-bangsa Eropa. Bangsa Jerman merasa terhina oleh perampokan tanah Jerman atau tanah yang dihuni etnis Jerman. Rasa hina dan haus balas dendam dimanfaatkan Hitler. Dengan semboyan populis dan rasialis dia membujuk bangsa Jerman untuk berperang lagi. Hitler juga bersalah memerintahkan pembantaian enam juta bangsa Yahudi. Saingannya, Stalin, bertanggung jawab atas korban lebih besar lagi. Dalam PD II, 60 juta orang mati, kebanyakan warga sipil. Banyak negara rusak. Jepang sudah membuktikan, negara Asia bisa sama brutalnya dengan Eropa.

Tahun 1945, saat perang usai, negara Eropa begitu lemah. Mereka tidak mampu mempertahankan tanah jajahan di luar benua. Beberapa tahun sesudah PD II, Eropa sudah kehilangan hampir semua koloninya. AS memanfaatkan kelemahan negara-negara Eropa dan menjadi kekuatan ”Eropa” nomor satu.

Kerakusan ekonomi AS

Babak terakhir kemerosotan orang bule adalah ledakan kemelut finansial AS yang baru terjadi. Kemelut keuangan AS adalah krisis kapitalisme, suatu jenis kapitalisme yang amat rakus. Bankir AS menciptakan ekonomi fiktif untuk memerah nasabah di negara sendiri, di Eropa, dan Asia. Mereka menipu dunia dengan derivatif dan instrumen keuangan lain, dengan modal semu triliunan dollar yang beredar secara bebas di seluruh dunia.

Namun, kali ini bankir AS terlalu rakus dan penipuan mereka terlalu berwawasan dangkal. Kemelut finansial AS segera menjadi kemelut ekonomi riil dan merembet ke seluruh dunia. Akibat kerakusan kapitalisme AS, negara itu kehilangan statusnya sebagai pemimpin pasar bebas. Dan, sebagai akibat perang-perang tidak adil (Vietnam, Irak, dan lainnya), AS kehilangan status sebagai pemimpin dunia bersusila. AS membuktikan diri sama rakus dan dungunya dengan negara-negara Eropa beberapa dasawarsa lalu.

Kini, negara Eropa dan AS kehilangan dominasi ekonomi dan politiknya. Selain itu, AS sedang berubah. Secara bertahap, populasi AS menjadi lebih Afrika-Asia- Amerika Latin ketimbang Eropa.

Seluruh dunia kini sedang mengalami transisi dari dominasi satu negara adikuasa dengan warga dari Eropa menuju situasi multipolar yang multibudaya. Tetapi, dalam situasi multipolar, hanya negara-negara yang kuat ekonomi dan militernya yang akan menentukan suasana. Tiap negara, termasuk Indonesia, harus melindungi dan membela kepentingannya sendiri. Presiden Obama yang sudah mengalami keramahtamahan Indonesia tidak akan memberi hadiah terima kasih kepada Indonesia.

Indonesia tidak membutuhkan hadiah luar negeri. Negara ini kaya raya sumber daya pertanian, perikanan, dan pertambangan. Selain tanah seluas 1,9 juta kilometer persegi, Indonesia juga mempunyai 5,8 juta kilometer persegi permukaan laut, seluruh wilayah Indonesia hampir sama luas dengan Australia. Sayang, kekayaan tanah dan laut Indonesia kurang dimanfaatkan.

Jika Indonesia mau, tak lama lagi negeri ini bisa menjadi juara dunia dalam ekspor perikanan dan hasil laut. Indonesia juga bisa menjadi satu dari produsen dan pengekspor bahan baku biofuel terbesar di dunia. Dengan menyempurnakan teknologi pertambangan laut dalam, Indonesia juga bisa maju sebagai pengekspor bahan pertambangan, gas, dan minyak bumi. Tentu Indonesia harus memperkuat pertahanannya guna membela kekayaan laut yang terluas di dunia.

Memang, semua kekayaan alam saja tidak cukup. Ada unsur-unsur penting lain. Pertama, tingkat pendidikan bangsa. Jepang, Korea Selatan, dan China sudah membuktikannya. Indonesia punya sumber daya manusia luar biasa, yaitu beragam, kreatif, murah hati, ramah-tamah, dan bertanggung jawab. Di sekolah, siswa-siswi Indonesia akan berhasil dengan baik jika pemerintah memenuhi kewajiban dan menciptakan wajib belajar yang terbaik.

Unsur penting lainnya, kemampuan pemimpin negara, terutama kemampuan presiden untuk memajukan negaranya. Pada tahun perubahan strategis 2009, Indonesia membutuhkan presiden seperti apa? Jawabannya: Presiden yang akan menempatkan Indonesia dalam kelompok 10 negara utama dunia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: