31 Des 2008

Studi Islam di Barat?

Oleh:Nuim Hidayat
(Peneliti INSISTS dan Dosen STID M Natsir)

"Ilmu bukanlah banyaknya riwayat, tapi ilmu adalah cahaya yang bersinar dalam hati," kata Ibnu Mas'ud sebagaimana dikutip Imam Al Ghazali dalam karyanya Ihya' Uluumiddin.*

Saat ini "Islamic Studies" menjadi subjek kajian yang sangat penting di dunia pendidikan, baik di dunia Islam maupun Barat. Di Leiden, Chicago,London, dan lain-lain didirikan insititut atau universitas yang mengajarkan 'studi Islam' yang diajar oleh profesor-profesor Muslim dan non Muslim. Mereka-mereka yang belajar di Barat, biasanya menunjukkan rasa bangganya karena lebihanalitis dan unggul dalam metodologi.



Selain banyak anak-anak cerdas Indonesia yang belajar 'studi Islam' di
Barat, banyak juga mereka yang belajar di Timur. Kairo, Mekkah-Madinah,
Damaskus, Tripoli dan lain-lain adalah diantara kota-kota yang menjadi
idaman mahasiswa-mahasiswa Muslim Indonesia. Di Kairo saja mahasiswa
Indonesia yang belajar S1-S3 mencapai ribuan orang, begitu juga di
Mekkah-Madinah.

Sekembali mahasiswa-mahasiswa itu ke Indonesia, kebanyakan mereka berperan
dalam masyarakat. Apakah sebagai dosen, guru, peneliti, manajer dan
lain-lain. Ada yang menjadi tokoh yang kepribadian dan pemikirannya
berpengaruh luas di masyarakat dan ada yang menjadi orang yang biasa
saja. Tergantung
pada kepribadian, keseriusan dalam belajar, tradisi ilmu dalam
lingkungannya, niyat ketika belajar, pengalaman organisasi/hidup dan
lain-lain.

Di antara mereka yang belajar studi Islam di Barat, misalnya beralasan,
bahwa beberapa tokoh Islam seperti Sayid Qutb, Prof. Mustafa Azami dan
Profesor Rasjidi belajar di Barat, tapi mereka justru menjadi penentang yang
lantang kepada Barat.

M Hilaly Basya seorang mahasiswa yang studi S2 di Universitas Leiden Belanda
misalnya menulis di Majalah Madina edisi Desember 2008 dengan judul *Belajar
Islam di Barat, Kenapa Tidak?* Ia mengutip pernyataan dosennya, Prof. Busken
(guru besar Antropologi) yang mengajar perkuliahan *Methods and Theories of
Islamic Studies*: "Mata kuliah saya tidak berpretensi menjadikan Anda
sebagai *alim* (jamak Ulama). Karena saya tidak akan mengajarkan Anda
tentang ilmu-ilmu Keislaman/keagamaan *(uluum ad-diin)." * Profesor Busken
menambahkan bahwa Islam hanya diposisikan sebagai objek studi dan
penelitian. Sedangkan ilmu-ilmu yang yang diwariskan kepada mahasiswanya
adalah sosiologi, anthropologi, ilmu sejarah, arkeologi dan filologi. **

Dengan demikian, kata Basya, tujuan program Islamic Studies di
universitas- universitas Barat adalah melahirkan ilmuwan, entah itu
sejarawan, sosiolog, antropolog atau filolog yang bidang kajiannya adalah
Islam dalam segala dimensinya.

*Kemanakah Belajar Islam?*

Pendidikan dalam Islam bertujuan untuk melahirkan manusia-manusia unggul
yang mempunyai ketaqwaan yang tinggi. Ketaqwaan tentu dimaksudkan sebagai
pemegangan teguh kepada aqidah, syariah dan akhlak Islam. Jadi niyat dan
tujuan (antara dua hal ini saling berkaitan) menjadi peranan penting dalam
proses belajar. Dalam ilmu manajemen modern ada ungkapan,"Start of The End."
Sabda Rasulullah saw yang penting,"Sesungguhn ya amal itu tergantung
niyatnya." (HR Bukhari). Jadi ketika seseorang belajar S1, S2 dan S3 apa
tujuan yang ingin diraihnya? Menjadi ilmuwan yang hebat, pengamat yang hebat
atau apa?

Di sinilah pernyataan Prof. Busken guru besar Anthropologi ini perlu
dikritisi. Ketika ia menyatakan bahwa "Mata kuliah saya tidak berpretensi
menjadikan Anda sebagai *alim* (jamak *Ulama*). Karena saya tidak akan
mengajarkan Anda tentang ilmu-ilmu Keislaman/keagamaan *(uluum ad-diin)." *
Di
sini jelas Busken tidak akan menyampaikan ilmu-ilmu yang yang menjadikan
mahasiswanya semakin alim/bertaqwa. Mungkin Prof. Busken sendiri tidak
terlalu percaya kepada Keilmuan Islam dan Peradabannya. Maka dengan sistem
metodologi yang diajarkan di Leiden itu, maka kita bisa memprediksi
bagaimana alumni-alumninya setelah lulus nanti. Bukan hanya Busken, banyak
profesor-profesor lain di Barat yang berpendapat senada.

Kita ambil kasus misalnya yang terjadi pada Prof. William Liddle, guru besar
ilmu politik di Universitas Ohio. Lulusan-lulusan dari bimbingan Liddle
memang menjadi orang 'hebat' atau berpengaruh di Indonesia. Misalnya Dr.
Saiful Mujani dan Dr. Denny JA menjadi ahli survai yang 'presisi' dengan
metode Quick Count-nya untuk pemilihan-pemilihan bupati, gubernur atau
presiden sekalipun. Tapi apakah ahli survai itu peduli terhadap akhlak
kandidat-kandidat yang terpilih? Kita melihatnya selama ini tidak. Karena
dua orang itu bukan seorang alim, karena mereka dibimbing oleh profesor non
Muslim yang tidak peduli terhadap pembinaan aqidah mahasiswa-mahasiswa nya.

Jadi dalam pendidikan, bukan hanya kapasitas intelektualnya yang
dikembangkan tapi juga kapasitas aqidah dan akhlaknya perlu dibina. Dalam
teori modern tentang kecerdasan, ada delapan kecerdasan manusia yang perlu
dikembangkan. Kecerdasan Linguistik, Kecerdasan Matematis Logis, Kecerdasan
Spasial, Kecerdasan Kinestetis Jasmani, Kecerdasan Musikal, Kecerdasan
Musikal, Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Inrapersonal dan Kecerdasan
Naturalis (Thomas Armstrong, 2002:232-233) . Tentu dalam Islam konsep
kecerdasan ini mesti dibingkai dengan kecerdasan aqidah/spiritual.
Kecerdasan manusia dalam memahami dirinya, dari mana, mau kemana dan tujuan
apa hidup di dunia ini? Sabda Rasulullah saw yang sangat terkenal:
"Barangsiapa dikehendaki Allah dengan kebaikan, maka Allah akan memberikan
kefaqihan dalam agama." (HR Ahmad).

Maka dalam Islam bukan hanya tujuan pendidikan melahirkan orang-orang hebat
yang dikembangkan semua potensi kecerdasannya, tapi mereka juga mempunyai
aqidah yang kuat, pemahaman Keislaman yang faqih dan akhlak yang mulia. Dan
mungkinkah ini terwujud bila tiap hari mahasiswa itu berdialog, konsultasi
dan dibimbing dengan profesor-profesor non Muslim? Tentu sulit, meski kaum
Muslimin faham, bahwa mengambil pengetahuan dari orang-orang non Muslim
diperbolehkan. Tapi mereka tidak diperbolehkan pembimbing, konsultan,
mentor, rujukan (tempat bertanya berbagai masalah) tiap hari bagi mahasiswa
Muslim. Dan itulah yang selama ini terjadi di Islamic-islamic Studies di
Barat, yang menjadi pembimbing dan rujukan mahasiswa adalah
profesor-profesor non Muslim. Yang tentu saja profesor ini tidak merasakan
situasi kejiwaan (kecerdasan emosional), ketika seorang Muslim shalat malam,
berbuka puasa, membaca dan memahami makna-makna Al-Qur'an, berzakat,
berjihad dan lain-lain.

*Kasuistik*

* *

Mengajak ramai-ramai orang belajar studi Islam di Barat dengan mengambil
contoh-contoh kasuistik yang terjadi pada beberapa tokoh Islam, tentu
merupakan pengambilan kesimpulan yang kacau. Sebagaimana menyuruh anak-anak
Muslim belajar di sekolah-sekolah Kristen dengan mengambil kesimpulan bahwa
beberapa orang dari anak yang lulus disitu justru Islamnya lebih kuat.

Dalam mengambil sebuah kesimpulan, maka harus ada uji statistik (meski
sederhana). Misalnya dari 1000 orang yang studi Islam di Barat, berapa
persen orang yang lulus aqidah Islamnya menjadi kacau dan berapa persen yang
semakin kuat. Bila didapati mayoritas (misalnya lebih dari 50%) kacau, maka
bisa dibuat kesimpulan bahwa studi Islam di Barat, banyak menghasilkan
intelektual- intelektual yang kacau aqidahnya. Maka kesimpulannya Sayid Qutb,
Prof. Rasjidi dan Prof. Mustafa Azami adalah contoh-contoh kasuistik.
Dimana
bisa diprediksi bahwa dari awal mereka belajar studi/studi Islam di Barat
niyatnya adalah untuk menjayakan Islam. Di samping mereka sebelum berangkat
telah mempunyai bekal yang kuat dalam hal ilmu-ilmu Islam, ilmu-ilmu umum
dan berbagai metodologinya. Sehingga ketika berhadapan dengan intelektual
Barat mereka tidak minder dan bisa berargumen yang ilmiah kepada mereka.

Bila tidak, maka yang terjadi adalah menjadi 'pak turut' kepada Barat.
Keunggulan Barat dengan metode ilmiah dan teknologinya menjadikan
santri-santri kita terkagum-kagum, seolah-olah jalan hidup mereka benar. Dan
para santri-santri yang belajar di Barat itu setapak demi setapak mengikuti
jalan mereka. Lupa kepada kejayaan dan kehebatan pemikiran dan peradaban
sendiri. Lupa terhadap 'peta' yang mesti ditempuh untuk meraih kembali
kejayaan itu kembali.

Padahal tradisi keilmuan universitas adalah dari Peradaban Islam. Prof. Wan
Daud, Guru Besar ATMA-UKM mengutip Makdisi (1998:237) menyatakan, "Islam
klasik telah menghasilkan sebah budaya intelektual yang memengaruhi Barat
Kristen dalam tradisi keilmuan universitas. Ia telah menyumbangkan faktor
yang melahirkan universitas, yaitu metode keilmuan, bersamaan ide kebebasan
akademik...Kebebasa n akademik dalam Islam klasik, pada level ahli hukum dan
orang awam memiliki batasan-batasan yang sama dengan konsep modern dalam
kebebasan bagi profesor dan mahasiswa di universitas. " Kebebasan manusia
bermakna dan akan diperoleh setelah melalui penyerahan dan kepatuhan dengan
penuh kesadaran terhadap segala kewajiban Islam. **

Tentu, belajar di dunia Islam tidak sepenuhnya sempurna.
Universitas- universitas di dunia Islam banyak yang mesti disempurnakan.
Metodologi pengajarannya, intelektualitas dosennya, pembinaan mahasiswanya,
perpustakaannya dan lain-lain. Tapi itulah rumah kita. Dan dari situlah
kita membangun pemikiran dan peradaban Islam. Bukan dari rumah orang lain
yang kita tidak memilikinya. *Wallahu aliimun hakiim. *

[Non-text portions of this message have been removed]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: