28 Des 2008

MUSIK MERACUNI ANAK BANGSA

Ketika dahsyatnya bencana alam di aceh yang menewaskan ratusan ribu manusia, selang beberapa tahun kemudian, gempa bumi mengguncang Yogyakarta. Dahsyatnya bencana alam tersebut tentu belum seberapa bila dibandingkan dengan guncangan globalisasi yang mengakibatkan dekandensi moral anak bangsa.

Keterburukan dan keterbelakangan bangsa indonesia tentu berawal dari pemuda yang tidak mengerti tentang perjuangan, bagaimana mempertahankan diri agar tetap dihormati sebagai manusia, membuat kreativitas agar dapat memberi manfaat bagi manusia hanya ditujukan untuk mendapatkan suatu nobel atau penghargaan. Hakekat dari pencapaian yang diharapkan orientasinya bukan kepada Allah, tapi justru kepada dunia yang nyata fananya.


Sebagai bukti kreativitas yang muncul mencuak dan memberi andil dalam proses dekandensi moral anak bangsa adalah nyanyian atau musik. kata sebagaian orang bahwa diri kita adalah apa yang kita sering ulangi, kalau demikian, maka apa jadinya ketika yang didengar adalah lagu-lagu yang lebih banyak mudoratnya ketimbang manfaatnya. Betapa prihatinnya kita di masa sekarang, dimana para remaja berlomba-lomba menjadi rocker, menjadi penyanyi yang tenar, dan menjadi musisi yang didambakan oleh fans-nya. Waktunya hanya dihabiskan untuk mempelajari lirik-lirik lagu, olah vokal, belajar memainkan alat musik. Kegiatan ini semakin mendapat justifikasi atau pembenaran dengan memasukkan pelajaran musik ke dalam kurikulum SMP.

Apa manfaat dari mempelajari musik? Kalau kita melihat dari kaca mata agama, maka hal ini lebih banyak mudoratnya ketimbang manfaat yang akan diperoleh, sebagai contoh betapa banyak penyanyi kita yang rambutnya pirang, pakaiannya kayak suku asmak di Irian, sungguh memprihatinkan. Bukankah sudah nyata, bahwa apa yang mereka dapatkan dan lakukan jelas-jelas melanggar dan nyata-nyata membuat pemiliknya merasa tidak memiliki suatu pandangan pencerahan, sehingga akibatnya narkoba, minuman keras menjadi solusi untuk menenagkan goncangan jiwa yang dialaminya.

Dan yang lebih aneh lagi, para anak-anak kita yang sudah terbius oleh musik-musik dan lirik-lirik setan. Bahkan lebih parah lagi, bukan hanya anak yang tidak memiliki pendidikan islam sejak dini, anak TPA yang nyata-nyata telah dibekali dan diajari dengan berbagai ilmu agama juga telah terbawa arus. Tentu tidak semuanya, tapi pada umumnya dapat kita jumpai. Hal ini di perparah dari kecenderungan para pengajar untuk memberikan pelajarannya dengan metode lelucon, atau materi yang diselingi dengan tawa-tawa dan lagu-lagu. Secara tidak langsung, perbuatan ini memberikan pembenaran kepada TPA bahwa musik itu boleh dan tidak apa-apa di dengarkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: