10 Des 2008

JOGJA BANJIR BUAH


Kurang lebih sebulan terakhir,Jogja mengalami perubahan musim, bukan hanya musim hujan tapi ditambah dengan musim buah. Para pedagang menjajakan dagangannya tak kenal tempat, ada di trotoar jalan, pinggir jalan poros, warung-warung dll. Ada pula yang unik, simbah-simbah (nenek-nenek) mengendong bakul berisi buah dan dijajakan dengan berjalan kaki. Buahnya bukan yang ringan-ringan, tapi durian, wah… demi cari uang, umur atau usia tak jadi soal.


Tidak jauh berbeda dengan kondisi di kampung, mungkin sekarang sudah musim buah. Buah yang dijajakan pun tidak jauh berbeda, ada durian, rambutan, Mangga, papaya, salak pondoh, dukuh. Dari segi harga, jangan main-main, harganya mahal tapi ada juga yang murah. Durian misalnya, yang paling kecil dijual Rp. 10.000 per buah, yang mungkin kalau di kampong harganya hanya 1000 atau 2000. Tapi agak miring, seperti salak pondoh yang terkenal manis walau bijinya gede’-gede’.

Hampir tiap hari saya melewati buah-buah yang dijual. Memang banyak pedagang yang menjajakan buahnya, tapi yang paling saya pilih adalah yang ada tulisan harganya. Soalnya, selain malu bertanya, sedikit banyaknya ada bayangan cukup ngaknya kemampuan keuangan. Nah… mungkin ini salah satu cara berbisnis yang baik untuk menyakinkan konsumen. Cara tersebut adalah pasang harga pada setiap produk yang dijual. Tapi harga tersebut harus konsisten, soalnya kalau harga jualnya lebih tinggi ketimbang yang terterah, konsumen akan jerah dan enggan membeli yang kedua kalinya.

Paling tidak, saya 3 kali membeli buah dalam seminggu, itu pun kalau kiriman baru datang, tapi kalau tanggal-tanggal tua, ya...gitulah hanya bisa menelan liur. Jadi ingat di kampung. Gimana kondisi di kampong…...?, kiriman berita donk…, kirim ke emailku ya… agus_riandi@yahoo.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: