24 Des 2008

Lomba Resensi A Cat in My Eyes


deskripsi gambar
Dulu, saya lebih mengenal Abdul Kadir, Siapa Abdul Kadir? Dia adalah penulis yang membuat hati saya jadi iri, sebab aku tidak mampu berbuat seperti dia. Dia adalah seorang penulis yang banyak mentransformasi ide-idenya ke dalam kepalaku. Buku-buku IT tepatnya.

Dulu, saya mengenal siapa Habiburrahman El Shirazy Saya mengenalnya lewat sebuah novel yang menjadi best seller asia tenggara. Kala itu, pertama kalinya aku membaca yang namanya novel.

Kini, berawal dari iseng-iseng, saya mengambil sebuah buku berwarna hijau terang yang dipajang di perpustakaan tempat kami, panti asuhan bina insani lengkapnya. Sembari membuka helai demi helai, akhirnya dapat kutangkap bahwa buku ini adalah yang selama ini kucari. Gairah menulisku kembali muncul ketika membaca bagian depan halaman buku ini. Maka mulailah kugarap dan kuisi berbagai tulisan di blog yang belakangan terlantar. Hampir tiap hari ku post berbagai tulisan walau tanpa ada yang membacanya. Ah… tak peduli jadi populerkan butuh proses. Buku yang saya maksud adalah writing is amazing.


Dan kemarin, karena berawal dari iseng-iseng membaca biblografi penulis, kami pun berinisiatif mengundang saudara Fahd untuk mengisi pelatihan jurnalistik. Wah… hebat, Fahd vokalnya menyentuh…., berapa lama belajarnya??? Kapan-kapan ta undang lagi ya… mudah-mudahan masih bersedia.

Pada sesi kedua acara pelatihan jurnalistik tersebut, sebelum ditutup Fahd membuka buku yang berjudul “A Cat’s In My Eyes” ditulis Fahd mulai tahun 2004 dan tahun 2008 diterbitkan oleh penerbit GagasMedia dan editornya Gita Romadhona. Diambilnya beberapa undangan, “ini undangan bagi teman-teman yang mau mengikuti talk show buku baru saya. Dan saya kasih ke Agus, biar Agus yang bagi-bagi ke teman-teman.”



Hatiku bertanya-tanya, apa pula isi buku ini, belakangan ku ketahui bahwa buku ini merupakan kumpulan sketsa, prosa, dan cerita. Atau apa lah namanya. Saya juga tak mengerti. Meski sekilas tampak seperti cerita yang tercerai-berai dan terserak tak beraturan, sesungguhnya keseluruhan sketsa, prosa, dan cerita dalam buku ini memiliki kesatuan tema dan gaya. Seperti sebuah puzzle yang harus disusun ulang agar ketahuan bergambar apa, bermakna apa, buku ini berniat mengajak pembacanya menyusun puzzle-puzzle itu untuk menemukan makna dari sejumlah pertanyaan yang - mungkin klise, tetapi sangat - penting.

Haa… malu… ada kucing di mataku atau “A Cat In My Eyes”…. He…he…, Ah… masa sih..! ngak mau ah. Aku harus berubah, berubah…! Dengan membaca 176 halaman buku ini. Dan dengan terus membacanya sampai akhir InsyaAllah kita akan di bawah pada cerita dan metaforanya yang memukau. Fahd Djibran, sang penulis tidak banyak memaksakan atau memastikan tentang area ketidakpastian, ia sangat bijak untuk menghormati area tersebut dengan kerap kali membubuhkan "barangkali" atau "tidak tahu" saat berada diujung kesimpulan. Harapan yang ada adalah pembacanya mengalami loncatan yang dahsyat. Loncatan dimana bertanya bukan merupakan suatu yang memalukan atau dianggap dosa, tapi dari bertanya akan memunculkan sesuatu yang dahsyat. Bayangkan kalau bertanya itu tidak ada? Apakah kita bisa mengetahui siapa moyang kita? Yang jelasnya bukan monyet. Siapa diri kita? Yang pastinya bukan keturunan monyet. Setidaknya, kita menjadi tahu karena adanya bisikan pertanyaan dalam hati kemudian menjadi rasa ingin tahu. Jadilah kita tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: