7 Okt 2008

Tips Mudik Di Hari Lebaran

hari ini udara sangat cerah, matahari belum tinggi seberapa, tapi udaranya sudah terasa panas, berbeda dengan kondisi semalam, dimana kota Sragen dan sekitarnya dikujur hujan. Motor melaju dengan cepat, masih sangat terasa suasana lebaran, mobil dan motor melaju tanpa putus dan dengan kecepatan tinggi, di belakang di pasang kayu sebagai penyangga tas atau kardus berisi barang.

Sekitar 15 menit dari Tempelrejo, akhirnya kami sampai di stasiun sragen, kota sragen. Di depan stasiun dipajang jadwal kedatangan dan keberangkatan kereta api, kami pun melihat jadwal keberangkatan menuju Yogyakarta. sayang, jadwalnya jam sebelas, sedangkan sekarang baru jam 8.30 menit. Akhirnya dengan pertimbangan, kami pun memtuskan untuk naik bis.

Bis yang melaju dengan kecepatan sedang singgah tepat di hadapan saya, aku pun langsung pamitan sama teman yang mengantar dan bergegas naik ke bis. Hampir saja aku terjatuh, sebelum naik secara benar, mobil sudah nancap gas, memang awalnya sudah saya pikirkan, rata-rata mobil di Jawa seperti ini, terlalu buru-buru atau nafsu. Tips pertama: Kalau naik bis angkut arus ancang-ancang (siap-siap) melompat dengan tepat, soalnya singgahnya singkat sekali. Hati-hati jangan sampai kepeleset.

Di atas mobil, aku mengambil kursi agak belakang, hampir tepat di depan pintu keluar masuk. Beberapa lama, kondektur datang dan seperti biasa, dia datang meminta sewa (bayaran) mobil. Aku pun mengambil uang pecahan 20 ribu, uang yang terakhir, di dalam dompetku sisa seribu rupiah. Dengan cepat uang sepuluh ribu di depan mukaku, kuambil dengan tangan kanan, kuharap masih ada pecahan yang lebih kecil, namun sang kondektur sudah melangkah, "ah...mungkin ngak ada uang kecilnya" kataku dalam hati. Namun kulihat tumpukan uang di tangannya ada pecahan seribuan, di tambah lagi dengan "10 ribu pak...!" Aku tahu para sopir dan kondektur main mata dan memanfaatkan waktu lebaran ini untuk melipatkan ongkos. Tips kedua: Bayar ongkos (sewa) angkot dengan uang pas, kalau kebetulan belum tahu, tanya sama orang di samping anda. Jangan tanya sama kondektur atau sopir.

Aku beruntung masih bisa duduk, dan kulihat kiri dan kanan masih banyak yang kosong. Beberapa saat kemudian, angkot telah sesak dipenuhi penumpang, bahkan saking banyaknya sampai-sampai berdiri di lorong angkot. "Ayo mas, masih kosong, masih kosong" panggil kondektur dari atas mobil yang masih melaju, kulihat seorang bapak bersama keluarganya geleng kepala tanda tak mau. Di dalam mobil seorang ibu dengan agak gemis, "wes keba', kok di bilang kosong." Beberapa penumpang pun meiyakan dengan suara gemis. Sindiran pertama: Mobil yang idealnya mengangkut 40 penumang, kini sudah terisi kira-kira 60 s.d 70 penumpang, lorong-lorong sudah sesak, depan dan belakang sudah penuh, hampir semua tempat sudah penuh oleh penumpang, bisa di bayangkan kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka sebagian besar penumpang tidak dapat menyelamatkan diri, gimana bisa! bergerak saja susahnya minta ampun. Suatu ironi yang mungkin susah di hilangkan karena telah menjadi budaya yang disponsori oleh kebutuhan menyedor uang sebanyak-banyaknya. Sudah bayarnya mahal, sesaknya minta ampun, jalannya pelan, tidak dapat kursi lagi.

walau demikian, aku begitu menikmati pengalaman ini, gorden saya buka dan mengarahkan pandangan keluar lepas, pandanganku tertuju pada PABRIK JAMU MANJUR, aku baru tahu, ternyata jamu yang selama ini beradar banyak dan hampir diseluruh Indonesia dibuatnya disini, di kota solo. namun dengan pertimbangan lain, yang rencana awalnya turun di termainal, akhirnya tidak jadi, aku memutuskan turun di tengah jalan yang menuju stasiun Solobalapan. Dengan bertanya sama orang disebelah kursi, akhirnya aku turun pas di traffic light. Aku pun berjalan kurang lebih 10 menit untuk sampai ke stasiun.

Di atas kereta, penuh sesak oleh punumbang yang ingin mudik ke Jogja, Ruang xxx. 70 Penumpang, namun sekarang : Kritikan kedua: sekarang penumpangnya lipat 3 kalinya, sekitar lebih dari 100 penumpang pada gerbong ini, sangat sesak, lorong-lorong penuh, ada yang berdiri dan ada yang duduk.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: