31 Okt 2008

SELAMAT..BANG...!

Hari yang paling ditunggu-tunggu akhirnya datang. Apalagi
bagi seorang mahasiswa yang sehari-harinya bergelut dengan kuliah,
dengan seongkok buku, dengan berbagai tumpukan tugas, dengan penelitian,
dengan seminar, dengan.... ah.. pokoknya ketika hari yang satu ini semuanya
sirnah, bak siang ditelan bulan.

Hari ini bertepan dengan tanggal 29 Oktober 2008, salah satu anggota KPMM,
menyelesaikan studinya di Universitas Gadjah Mada pada program studi
Megister kenotariatan. Bang Taju panggilan akrab yang juga menjadi senior
kami di KPMM Jogjakarta. Beliau menyelesaikan studi tepat pada waktunya dan
berhak mendapat tambahan embel-embel di belakang namanya, Tajuddin, SH, M.Kn. lengkapnya.

Selamat bang, mudah-mudahan kelak dapat bermanfaat bagi agama, bangsa dan negara. Amiin. Pesan terakhir dari beliau adalah mudah-mudahan kami-kami yang masih di sini, cepat selesai dalam stduinya.
Amin...semoga,,










SELAMAT..BANG...!

Hari yang paling ditunggu-tunggu akhirnya datang. Apalagi
bagi seorang mahasiswa yang sehari-harinya bergelut dengan kuliah,
dengan seongkok buku, dengan berbagai tumpukan tugas, dengan penelitian,
dengan seminar, dengan.... ah.. pokoknya ketika hari yang satu ini semuanya
sirnah, bak siang ditelan bulan.

Hari ini bertepan dengan tanggal 29 Oktober 2008, salah satu anggota KPMM,
menyelesaikan studinya di Universitas Gadjah Mada pada program studi
Megister kenotariatan. Bang Taju panggilan akrab yang juga menjadi senior
kami di KPMM Jogjakarta. Beliau menyelesaikan studi tepat pada waktunya dan
berhak mendapat tambahan embel-embel di belakang namanya, Tajuddin, SH, M.Kn. lengkapnya.

Selamat bang, mudah-mudahan kelak dapat bermanfaat bagi agama, bangsa dan negara. Amiin. Pesan terakhir dari beliau adalah mudah-mudahan kami-kami yang masih di sini, cepat selesai dalam stduinya.
Amin...semoga,,





27 Okt 2008

TAMBANG BATU BARA KALSEL SEMBAHKAN SURGA ATAU NERAKA

Artikel ini ditulis Oleh Pak Hasan Zainuddin. Menarik untuk disimak dikaitkan dengan surat izin yang dikeluarkan oleh PEMDA Enrekang untuk melakukan explorasi Batu bara dan Emas di Enrekang. Sumber: milis massenrempulu-tondekan@yahoogroups.com. dengan sedikit perubahan.
Penulis saat berada di lokasi tambang batubara bawah tanah di Kalsel
Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 25/1 (ANTARA) -Kawasan Propinsi Kalimantan Selatan yang dikenal memiki cadangan bahan tambang melimpah, khususnya batu bara telah menggairahkan berbagai kalangan mengeksploitir bahan galian yang disebut pula sebagai “emas hitam” tersebut.
Bukan saja perusahaan pertambangan skala besar yang berlomba mengeruk bahan tambang yang tak bisa diperbarui tersebut, juga ratusan perusahaan kecil serta individu yang ikut berebut mengambil untung dari usaha “emas hitam” itu.

Perusahaan skala besar yang mengelola tambang batu bara di Kalsel berdasarkan Perjanjian Kerjasama Pengembangan Pertambangan Batu Bara (PKP2KB) ada beberapa buah diantaranya PT. Adaro Indonesia, PT. Arutmin Indonesia, PT. Bantala Coal Mining, dan beberapa lagi.
Sementara perusahaan kecil melalui izin Kuasa Pertambangan (KP) yang diberikan oleh kabupaten/kota menyusul adanya era otonomi daerah yang jumlah perizinnanya ratusan buah. Belum termasuk ratusan perusahaan penambangan tanpa ijin (Peti) yang dilakukan secara kelompok atau perorangan yang sangat menyemarakkan usaha pertambangan batu bara di Kalsel tersebut.
Merebaknya tambang batu bara di “bumi Pangeran Antasari” Kalsel tersebut menimbulkan gairah di bidang ekonomi, dimana devisa terus saja mengalir dari hasil ekspor tambang itu dengan tujuan berbagai negara di dunia.
Catatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalsel sekitar 60 persen nilai ekspor non migas asal propinsi tersebut atau sekitar 1,5 miliar Dolar AS per tahun berasal dari ekspor tambang batu bara. Bukan saja untuk ekspor, ternyata hasil tambang batu bara Kalsel tersebut kini diperebutkan pula untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT. PLN (Persero) seperti PLTU Suryalaya Jawa Barat, PLTU Paiton Jawa Timur, dan PLTU Asam-Asam Kalsel sendiri, disamping untuk kebutuhan industri lainnya di tanah air.
Banyak warga yang tadinya hanya sebagai petani atau buruh atau pedagang kecilan serta pegawai negeri sipil (pns) rendahan sekarang berubah menjadi “saudagar kaya”. Tadinya hanya memanggul cangkul sekarang sudah bergaya, memakai mobil mewah Land Cruser, Ford Ranger, BMW, Mercides Bend dan mobil mewah lainnya.
Bahkan sebagian rakyat yang selama ini miskin juga terkena imbasnya dengan meningkatkan perekonomian masyarakat tersebut.


Mengalirnya uang hasil tambang di tengah masyarakat tersebut, masyarakat yang berusaha kecil-kecilan juga ikut berkembang. Begitu banyak buruh tambang serta pengusaha tambang yang tidak pelit berbelanja. Akibatnya dagangan beras. ikan, sayur mayur, serta hasil pertanian milik masyarakat menjadi laku.

Begitu banyaknya perusahaan tambang besar dan kecil serta individu di Kalsel telah memberikan lapangan kerja yang sangat besar, dimana ribuan orang terserap untuk menjadi buruh tambang, seperti pengemudi alat berat, mekanis, sopir truk, pekerja kantor, serta buruh tambang kasar lainnya.
Sementara rakyat yang memiliki lahan juga banyak yang kaya mendadak, dimana lahan-lahan yang terkena proyek tambang diganti rugi dengan nilai yang mahal.
Di balik gemerlapnya hasil yang diperoleh dari pertambangan tersebut ternyata telah melahirkan tingkat kerisauan yang mendalam di benak banyak orang, terutama kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan dan pecinta lingkungan itu sendiri.
Dari hasil diskusi Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Lingkungan Hidup (PWLH) Banjarmasin yang menghadirkan LSM dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Kompas Borneo, dan LSM lainnya itu banyak menyoroti mengenai pertambangan batu bara tersebut, bahkan muncul kekhawatiran akan dampak dahsyat bencana alam akibat maraknya pertambangan itu.
Menurut diskusi tersebut perubahan alam Kalsel kini sudah terasa dampaknya akibat tambang batu bara. Bagaimana tidak, di kawasan daratan Kalsel yang dikenal dengan bentuk Rumah Bubungan Tinggi itu telah hancur, selain hutan gundul karena penebangan kayu secara membabi buta, sekarang ditambang pertambangan batu bara yang tak terkendali.
Bahkan terungkap ternyata wilayah resapan air berupa hutan tropis basah di Pegunungan Meratus kini telah tercabik-cabik oleh pertambangan batu bara baik yang legal atau ilegal yang dikelola pihak preman-preman.
Di kawasan pertambangan PT. Adaro Indonesia saja terdapat beberapa buah tandon raksasa atau kawah besar bekas tambang yang menyebabkan bumi menganga tak mungkin bisa direklamasi, akhirnya dibiarkan begitu saja.
Begitu juga di kawasan Satui dimana PT. Arutmin beroperasi terdapat lubang-lubang pula namun agak sedikit baik karena perusahaan ini berhasil mereklamasinya sebab tambang di sini tak dalam, tetapi telah menyebabkan alam berganti menjadi hutan buatan hasil reboisasi perusahaan tetapi telah menghilangkan hutan alam penjaga lingkungan.
Yang paling parah terlihat di ratusan bahkan ribuan hektare lahan bekas tambang Peti yang dikelola masyarakat baik perusahaan kecil atau individu. Lahan-lahan mereka tersebut digali, kemudian diambil batu baranya lalu bekas tambang itu dibiarkan rusak parah begitu saja tanpa adanya reklamasi seperti terlihat di berbagai wilayah.
Dampak yang terasa dari lahan yang rusak demikian adalah bila hujan sedikit saja maka air di atas gunung begitu deras turun tanpa bisa ditahan, dan air yang turun bukan lagi air hujan jernih melainkan telah bercampur dengan lumpur dan debu batu bara.
Bahkan sekarang ini Sungai Martapura yang berhulu di Pegunungan Meratus yang dulunya biru telah berubah tingkat warna dan kekeruhan akibat pertikel lumpur dan material lainnya.
Sampai-sampai alat pengukur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin yang mengambil air sungai tersebut sebagai bahan baku tak bisa lagi mengukurnya, lantaran tingginya tingkat kekeruhan dan warna itu.
Hasil sebuah penelitian begitu tingginya tingkat kekeruhan dan warna air Sungai Martapura tersebut ternyata air itu telah mengandung sejenis kaolin yakni bahan kimia yang berasal dari tambang batu bara. Bukan hanya itu tambang batu bara di Kalsel telah mengubah tingkat polusi udara dan debu di berbagai wilayah Kalsel.
Kota Banjarmasin saja yang jauh dari lokasi tambang telah mewaspadai pencemaran udara akibat debu dari tambang batu bara tersebut. Ada beberapa titik yang tingkat pencemaran debu batu bara di atas ambang normal seperti diakui Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Kota Banjarmasin, Hesly Junianto,SH.
Kawasan dimaksud seperti di Pelambuan dimana terdapat stockpile (lapangan penumpukan batu bara) serta simpang empat Jalan Lambung Mangkurat depan kantor Pos Besar Banjarmasin.
Kota Banjarmasin ternyata terkena dampak lingkungan yang sangat dahsyat akibat tambang itu karena ribuan mobil truk pengangkutnya menuju pelabuhan di Banjarmasin melalui jalan-jalan umum di dalam kota ini.
Dampak lain penambangan marak tersebut, adalah banyak jalan negara yang sebenarnya dalam peraturan tak dibolehkan dilewati truk pengangkut batu bara kini tetap menjadi jalur pengangkutan sehingga jalan tersebut rusak parah.
Contoh saja jalan trans Kalimantan antara Kabupaten Tapin hingga Banjarmasin yang yang mengalami kerusakan parah seperti degradasi, berlubang, longsor, becek, bergelombang, akibat tak mampu menahan beban berat pengangkutan batu bara tersebut. Karena ribuan truk besar setiap hari melalui jalan nasional (negara) itu.
Kerisauan kerusakan jalan tersebut telah menimbulkan gelombang unjukrasa di masyarakat, termasuk penutupan jalan nasional oleh masyarakat yang tak ingin jalan itu dilalui truk pengangkut batu bara, seperti terjadi di Tapin, Tanah Bumbu dan Kabupaten Balangan.
gambar batubara
Kerusakan jalan yang parah di mana-mana itu telah mengusik hati Gubernur Kalsel, H.M.Sjachriel Darham untuk memanggil bupati/walikota se propinsi tersebut untuk membahasnya serta mencari solusi terbaik agar jalan tidak mengalami kerusakan lagi.
Belum lagi keluhan ahli pertanian yang disebutkan banyak lahan subur potensi pertanian kini berubah menjadi lahan gersang, lantaran lapisan atas tanah yang mengandung humus dan tercipta ribuan tahun telah rusak akibat pertambangan tersebut.
Konon pula akibat tambang telah melahirkan semacam gas yang bisa meningkatkan tingkat keasaman tanah di sekitar tambang sehingga kawasan tambang tidak subur dan cendrung gersang.
Keluhan lain yang merisaukan akibat kegiatan tambang yaitu terjadinya tingkat pendangkalan sungai, pencemaran air limbah batu bara ke danau, sawah, serta ke pemukiman hingga menyiksa penduduk.
Kasus demontrasi warga akibat pencemaran itu telah terjadi di Sungai Satui, Desa Pulau Ku’u Kabupaten Hulu Sungai Utara, pinggiran kota Paringin, Senakin Kotabaru dan lainnya.
Kekhawatiran lain habisnya bahan tambang batu bara tersebut tidak terlalu banyak dinikmati warga setempat, sebab puluhan miliar dolar AS devisa dari tambang itu lari keluar negeri dan mengendap di bank-bank asing karena banyak pemilik perusahaan besar itu “saudagar kaya” dari luar negeri sebagai pemilik saham di perusahaan tersebut.
Apalagi tambang itu adalah jenis kekayaan alam yang tak bisa diperbarui, bila habis maka habislah kekayaan tersebut tinggal generasi muda atau generasi mendatang hanya bisa gigit jari.
Melihat begitu banyak persoalan buruk akibat tambang batu bara tersebut, boleh saja sekarang sebagian masyarakat mendapat angin surga tetapi diyakini di masa mendatang angin surga itu akan musnah dan muncul berbagai mala petaka bagaikan di neraka.
Untuk itu pula, akankah Kalsel nanti mempersembahkan surga atau neraka, karena seiring kerusakan alam malapetaka juga akan mengikutinya dan hal tersebut merupakan peringatan Allah SWT sebagaimana dalam Al Qur’an bahwa “kerusakan di bumi dan di laur karena ulah tangan manusia, sehingga tunggulah akibatnya”.
7 Okt 2008

Tips Mudik Di Hari Lebaran

hari ini udara sangat cerah, matahari belum tinggi seberapa, tapi udaranya sudah terasa panas, berbeda dengan kondisi semalam, dimana kota Sragen dan sekitarnya dikujur hujan. Motor melaju dengan cepat, masih sangat terasa suasana lebaran, mobil dan motor melaju tanpa putus dan dengan kecepatan tinggi, di belakang di pasang kayu sebagai penyangga tas atau kardus berisi barang.

Sekitar 15 menit dari Tempelrejo, akhirnya kami sampai di stasiun sragen, kota sragen. Di depan stasiun dipajang jadwal kedatangan dan keberangkatan kereta api, kami pun melihat jadwal keberangkatan menuju Yogyakarta. sayang, jadwalnya jam sebelas, sedangkan sekarang baru jam 8.30 menit. Akhirnya dengan pertimbangan, kami pun memtuskan untuk naik bis.

Bis yang melaju dengan kecepatan sedang singgah tepat di hadapan saya, aku pun langsung pamitan sama teman yang mengantar dan bergegas naik ke bis. Hampir saja aku terjatuh, sebelum naik secara benar, mobil sudah nancap gas, memang awalnya sudah saya pikirkan, rata-rata mobil di Jawa seperti ini, terlalu buru-buru atau nafsu. Tips pertama: Kalau naik bis angkut arus ancang-ancang (siap-siap) melompat dengan tepat, soalnya singgahnya singkat sekali. Hati-hati jangan sampai kepeleset.

Di atas mobil, aku mengambil kursi agak belakang, hampir tepat di depan pintu keluar masuk. Beberapa lama, kondektur datang dan seperti biasa, dia datang meminta sewa (bayaran) mobil. Aku pun mengambil uang pecahan 20 ribu, uang yang terakhir, di dalam dompetku sisa seribu rupiah. Dengan cepat uang sepuluh ribu di depan mukaku, kuambil dengan tangan kanan, kuharap masih ada pecahan yang lebih kecil, namun sang kondektur sudah melangkah, "ah...mungkin ngak ada uang kecilnya" kataku dalam hati. Namun kulihat tumpukan uang di tangannya ada pecahan seribuan, di tambah lagi dengan "10 ribu pak...!" Aku tahu para sopir dan kondektur main mata dan memanfaatkan waktu lebaran ini untuk melipatkan ongkos. Tips kedua: Bayar ongkos (sewa) angkot dengan uang pas, kalau kebetulan belum tahu, tanya sama orang di samping anda. Jangan tanya sama kondektur atau sopir.

Aku beruntung masih bisa duduk, dan kulihat kiri dan kanan masih banyak yang kosong. Beberapa saat kemudian, angkot telah sesak dipenuhi penumpang, bahkan saking banyaknya sampai-sampai berdiri di lorong angkot. "Ayo mas, masih kosong, masih kosong" panggil kondektur dari atas mobil yang masih melaju, kulihat seorang bapak bersama keluarganya geleng kepala tanda tak mau. Di dalam mobil seorang ibu dengan agak gemis, "wes keba', kok di bilang kosong." Beberapa penumpang pun meiyakan dengan suara gemis. Sindiran pertama: Mobil yang idealnya mengangkut 40 penumang, kini sudah terisi kira-kira 60 s.d 70 penumpang, lorong-lorong sudah sesak, depan dan belakang sudah penuh, hampir semua tempat sudah penuh oleh penumpang, bisa di bayangkan kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka sebagian besar penumpang tidak dapat menyelamatkan diri, gimana bisa! bergerak saja susahnya minta ampun. Suatu ironi yang mungkin susah di hilangkan karena telah menjadi budaya yang disponsori oleh kebutuhan menyedor uang sebanyak-banyaknya. Sudah bayarnya mahal, sesaknya minta ampun, jalannya pelan, tidak dapat kursi lagi.

walau demikian, aku begitu menikmati pengalaman ini, gorden saya buka dan mengarahkan pandangan keluar lepas, pandanganku tertuju pada PABRIK JAMU MANJUR, aku baru tahu, ternyata jamu yang selama ini beradar banyak dan hampir diseluruh Indonesia dibuatnya disini, di kota solo. namun dengan pertimbangan lain, yang rencana awalnya turun di termainal, akhirnya tidak jadi, aku memutuskan turun di tengah jalan yang menuju stasiun Solobalapan. Dengan bertanya sama orang disebelah kursi, akhirnya aku turun pas di traffic light. Aku pun berjalan kurang lebih 10 menit untuk sampai ke stasiun.

Di atas kereta, penuh sesak oleh punumbang yang ingin mudik ke Jogja, Ruang xxx. 70 Penumpang, namun sekarang : Kritikan kedua: sekarang penumpangnya lipat 3 kalinya, sekitar lebih dari 100 penumpang pada gerbong ini, sangat sesak, lorong-lorong penuh, ada yang berdiri dan ada yang duduk.


2 Okt 2008

INDAHNYA KEBERSAMAAN SAAT LEBARAN

Indahnya kebersamaan di rantau orang seindah di kampung halaman, itulah yang terasa di asrama Mahasiswa Massenrempulu Yogyakarta. Walaupun kami tidak mudik, namun rasa kebersamaan sangat kental. Ini terlihat dengan antusiasme teman-teman kumpul di malam yang fitrah ini. Adanya makanan khas Sulawesi Selatan yaitu "Burasa' " dan oper ayam menjadi "kewajiban" tiap hari raya tiba tak terkecuali idul fitri kali ini.
Momen seperti ini sangat dinanti-nanti oleh seluruh teman-teman, kalau bukan waktu ini kapan lagi...? masalahnya ketika waktu kuliah tiba, seluruh warga Massenrempulu mengembara ke seantero Perguruan Tinggi yang ada di Yogyakarta ini. Tentunya dengan jurusan yang beragam dan jenjang yang berbeda-beda pula. Sebagian besar dari kami menempuh pendidikan Strata satu, Diploma, SMA, SMP, program magister, dan beberapa yang menempuh program doktor.

Allahuakbar...Allahuakbar...Allahuakbar, akhirnya bunyi takbir, tahlil dan tahmid terdengar dari seluruh penjuru kota Yogyakarta, kami pun berbondong-bondong melaksanakan sholat Ied. Sebagai mana muslim pada umumnya, hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu, saat berbuka melaksanakan puasa sebulan lamanya, saling memaafkan antara sesama, dan tidak ketinggalan menikmat burasa yang semalam dibuat dengan susah dan payah. Susahnya karena semua bahan-bahannya serba dibeli, termasuk daun pisang. Yang mana, kalau di kampung tinggal nyodok di kebun atau minta sama tetangga. Payahnya, karena harus menunggu matangnya selama berjam-jam. Namun..., Alhamdulillah... semuanya sirna, musnah, dan habis saat do'a makan telah menyahut dari mulut masing-masing.

Akhir tulisan, ada ucapan seorang pendidik yang bijak, saat menyemangati anak didiknya, dia berkata: "pada awal mata kuliah ini, kalian semua saya beri nilai "A", tugas kalian adalah mempertahankan nilai "A" tersebut agar tidak berubah jadi "B","C", "D", atau "E". Semakna dengan itu, maknai sabda Rasul SAW ...maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya. (HR. Ahmad). Baik yang benar-benar berpuasa maupun yang baru-baru puasa dapat dikatakan bahwa mereka mengharapkan hasil yang sama yaitu kembali ke fitrah manusia yang suci. Kita asalnya adalah suci dan mungkin saja sekarang kita telah suci lagi, tapi mampukah kita mempertahankan kesucian atau grade "A" tersebut! Insya Allah.