26 Sep 2008

Menjalin Silaturrahim : Potret Masyarakat Yogyakarta

Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai kota pendidikan dan parawisata disebabkan konsistensi pemerintah setempat mempertahankan budaya lokal. Ketika berjalan disekitar keraton, maka kita dapat merasakan kentalnya budaya yang tertanam pada masyarakat Yogyakarta. Hubungan antara individu yang satu dengan yang lain terjalin erat, beda halnya dengan kota-kota besar lain yang ada di Indonesia. Jalinan silaturrahim begitu dijunjung tinggi dengan adanya pengajian, dan kegiatan kemasyarakatan lain.

Pertama kali tiba di Yogyakarta, saya dibigungkan dengan berbagai istilah, diantaranya takmir yang terdiri dari ketua, sekretaris dan perangkat lainnya, setahuku di kampong namanya imam atau penjaga masjid. Adanya pengajian bulanan, pengajian ibu-ibu, pengajian remaja sebagai sarana menimba ilmu agama dan menjalin silaturrahim yang setahuku di kampung adanya acara mualimah atau mapabotting yang ramainya bukan main. Adanya syawalan yang diadakan selepas shalat idul fitri, yang setahuku di kampung dinamakan sipadampangang (saling memaafkan), tapi caranya beda, saat syawalan seluruh warga dalam 1 RW atau dusun dikumpulkan di lapangan atau tempat yang luas, kemudian berbaris dan antara satu dengan yang lain saling memaafkan.
Dengan adaya kegiatan takmir, pegajian, dan syawalan hubungan manusia satu dengan yang lain begitu akrab, kental dan saling tolong menolong, ketika ada jamaah yang sakit misal, maka dengan spontan seluruh jamaah akan menjeguk dan memberikan support agar cepat pulih. Ketika ada hajatan atau berita duka, maka dengan sukarela masyarakat turut membantu baik berupa tenaga dan uang yang dikumpulkan khusus ketika ada anggota keluarga yang meninggal. Sehingga keluarga yang ditinggal tidak terbebani. Tidak adanya acara 7 hari, 40 hari, 100 hari yang biasa kita jumpai di kampong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: