18 Agt 2008

Kemerdekaan, Renungan dan Syukuri

Suasana hari ini berbeda dengan hari biasanya, tiap rumah memasang bendera, di lapangan penuh sorak gempita berbagai irama, ada dream bank, teriak yel-yel, sampai dengan suara "hormat grak... ." Mungkin sebagian masyarakat, ah... ini sudah lazim, udah biasa, apasih artinya peringatan ini? hanya membuang tenaga, uang dan waktu aja???
Berbeda, inilah yang tampak di daerah ini, sebut saja daerah x. Pada malam puncak peringatan 17 Agustus ini, semua masyarakat satu dukuh berkumpul, awalnya kami penasaran, soalnya di daerah kami (Enrekang) hanya ada perlombaan-perlombaan antar sekolah, itupun kalau masih ada. Kami memberanikan diri untuk berpartisipasi, bukan sekedar penasaran tapi katanya ada acara makan-makannya... wah asyik...! kesempatan emas bagi mahasiswa kere seperti kami.
Kami pun dipersilahkan duduk, kami mengambil tempat di dekat sebuah meja kecil. Dilihat sepintas acara ini sangat sederhana, di atas aspal jalan. Agar kelihatan hajatnya di pasangi tenda tarpal warna hitam. Sangat sederhana... Namun di sini kami megambil beberapa pelajaran berharga; Kami menemukan suatu harmoni, hubungan silaturrahim masyarakat jawa yang begitu kuat, kental dalam keserhanaan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah penghargaan terhadap para pejuang.
Acara malam ini ternyata Tasyakuran 17-san, itulah nama yang kudengar dari moderator setelah membuka acara. Dan ternyata, seluruh pekerjaannya dilakukan oleh masyarakat sekitar dukuh, baik peralatan, perlengkapan, makanan, dll. Selanjutnya yang paling mengesankan, semua dukuh (dusun) mengadakan Tasyakuran seperti ini, wah... hebat... gimana dengan Enrekang...! Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: