11 Jun 2008

Genteng ajaib



Roda sepedaku melewati rumah-rumah penduduk yang sederhana tapi terkesan asri menuju kampus UTY. Waktu tempuhnya tidak main-main, membutuhkan 1 jam perjalanan. Kalau diperkiraan jarak antara Panti Bina Insani ke UTY sekitar 30 Km pulang pergi. Hampir semua rumah menggunakan genteng sebagai atap. Uniknya, genteng ini dibuat dan diproduksi di sepanjang jalan yang ku lewati.

Saya kemudian berpikir, gimana kalau ini dikembangkan di kampung halaman “Enrekang”. Soalnya, di Enrekang sangat potensial sebagai penghasil genteng, tanah litanya lumayan banyak, terutama di desa tempat tinggalku dulu “Maroangin. Tapi sayang, penduduknya belum berpikir sampai ke sana. Padahal, tanah yang sejenis itu sulit untuk dikelola sebagai lahan pertanian. Tanah tersebut biasanya dibiarkan begitu saja, tidak dikelola dan hanya ditumbuhi ilalang.

Dilihat dari manfaatnya, genteng lumayan baik sebagai alternative atap pada rumah. Genteng yang kualitas bagus bisa tahan sampai berpuluh-puluh tahun, anti karat bila dibandingkan dengan atap seng. Bila cuaca panas, genteng dapat meresap panas sehingga ruang rumah terasa adem. Tapi jika malam tiba, udaranya hangat karena genteng melepas panas dan kondisi seperti ini sangat cocok di daerah Enrekang sebagai daerah dingin. Lagian, biaya dan tenaga yang dikeluarkan tidak terlalu banyak. Ya…semacam kerja sampingan di ladang atau sawah.

Gimana? Ada/tidak yang berminat jadi partner untuk mengajukan proposal penelitian “Pemanfaatan Tanah Liat Enrekang guna Pembuatan Genteng sebagai Pendapatan Masyarakat di Daerah Tanah Tandus”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: