11 Jun 2008

Pilkada Enrekang (Bagian 1).

Belakangan ini, pilkada menjadi isu yang hangat bagi para politisi dan isu yang memprihatinkan bagi kalangan “Intelektual”. Hamper setiap perhelatan pilkada diwarnai dengan kecurangan, penyimpangan, pelanggaran dan berbagai hal negative. Tentu hal ini, sama sekali tidak diharapkan oleh masyarakat sebagai pemilih. Berapa banyak masyarakat yang kecewa kepada pemimpinnya karena tujuan pokok dari seorang pemimpin tidak dijalani sebagaimana mestinya. Pemimpin yang dipilih melakukan justifikasi untuk melakukan hal-hal yang menyimpang guna kepentingan pribadi dan golongan di atas kepentingan masyarakat umum. Sungguh sebuah penghianatan.

Hal di atas mudah-mudahan tidak terjadi di daerah yang kita cintai, Kabupaten Enrekang. Mudah-mudahan kita tidak terpecah belah karena persoalan sepele, hanya karena persoalan perbedaan memilih, hanya karena perbedaan bendara partai. Dan inilah sebenarnya tujuan dari gerakan pemecah belah persatuan agar kita terpecah pecah menjadi kelompok-kelompok, menjadi partai-partai yang saling menjagokan kelompoknya masing-masing dan merendahkan kelompok lain. Kalau sudah terpecah belah maka senanglah mereka dan tinggallah kita yang menderita… Masya Allah… Allahuakbar.

Bagaimana seharusnya kita menyikapi pilkada? Seharusnya kita bercermin kepada kepemimpinan Rasulullah dan para sahabat. Dimana mereka memimpin dengan penuh amanah, kejujuran, dan penuh kewibawaan. Mereka tidak mengganggap kekuasaan sebagai ladang usaha memperkaya diri, tidak mengganggap kekuasaan untuk meninggikan pamor. Tetapi mereka memimpin sebagai seorang yang sedang menanti surga.

Karena kami ada di luar Enrekang, maka kami tidak akan memilih dari ketiga calon Bupati Enrekang. Dan pada prinsipnya segala sesuatu yang baik akan kami dukung. Bentuk dukungan kami adalah doa dan segala yang berkaitan dengan peningkatan Kabupaten Enrekang ke depan. Sebaliknya, kami tidak mendukung kepemimpinan yang diktator, tidak peduli kepada pendidikan, tidak memperhatikan masyarakatnya, tidak mempunyai solusi pengentasan kemisikinan.

Genteng ajaib



Roda sepedaku melewati rumah-rumah penduduk yang sederhana tapi terkesan asri menuju kampus UTY. Waktu tempuhnya tidak main-main, membutuhkan 1 jam perjalanan. Kalau diperkiraan jarak antara Panti Bina Insani ke UTY sekitar 30 Km pulang pergi. Hampir semua rumah menggunakan genteng sebagai atap. Uniknya, genteng ini dibuat dan diproduksi di sepanjang jalan yang ku lewati.

Saya kemudian berpikir, gimana kalau ini dikembangkan di kampung halaman “Enrekang”. Soalnya, di Enrekang sangat potensial sebagai penghasil genteng, tanah litanya lumayan banyak, terutama di desa tempat tinggalku dulu “Maroangin. Tapi sayang, penduduknya belum berpikir sampai ke sana. Padahal, tanah yang sejenis itu sulit untuk dikelola sebagai lahan pertanian. Tanah tersebut biasanya dibiarkan begitu saja, tidak dikelola dan hanya ditumbuhi ilalang.

Dilihat dari manfaatnya, genteng lumayan baik sebagai alternative atap pada rumah. Genteng yang kualitas bagus bisa tahan sampai berpuluh-puluh tahun, anti karat bila dibandingkan dengan atap seng. Bila cuaca panas, genteng dapat meresap panas sehingga ruang rumah terasa adem. Tapi jika malam tiba, udaranya hangat karena genteng melepas panas dan kondisi seperti ini sangat cocok di daerah Enrekang sebagai daerah dingin. Lagian, biaya dan tenaga yang dikeluarkan tidak terlalu banyak. Ya…semacam kerja sampingan di ladang atau sawah.

Gimana? Ada/tidak yang berminat jadi partner untuk mengajukan proposal penelitian “Pemanfaatan Tanah Liat Enrekang guna Pembuatan Genteng sebagai Pendapatan Masyarakat di Daerah Tanah Tandus”